Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Semangat!


__ADS_3

"Kenapa kau melukis lagi? Dasar anak nggak berguna!" Soraya Donovan berteriak kesal sambil melemparkan peralatan lukis putra tunggalnya ke lantai.


Daniel Donovan yang tengah melukis, menoleh kaget dan pria tampan itu sontak bangkit berdiri dan melotot ke mamanya sambil menyemburkan, "Ma! Apa yang Mama lakukan?"


Soraya Donovan mendelik ke putra tunggalnya, "Kau! Berani benar kau membentak Mama dan melotot ke Mama?!"


"Itu karena Mama membuang semua peralatan lukisku ke lantai" Daniel berucap sembari memunguti peralatan lukisnya yang berserakan di lantai.


Maria Donovan terhenyak duduk di tepi ranjang dan dia menghela napas panjang, "Kenapa kamu persis sama dengan Papa kamu"


Daniel meletakkan palet lukisnya di meja dan menoleh kaget ke mamanya lalu bertanya, "Apa maksud Mama? Papa juga suka melukis? Tapi, kenapa di rumah Nenek, nggak ada satu pun lukisan karya Papa dan aku nggak pernah lihat Papa melukis sejak aku masih kecil"


Soraya Donovan tersentak kaget dengan ucapan yang tanpa ia sadari terlontar keluar dari mulutnya sendiri. Lalu, wanita berumur empat puluh tiga tahun itu, bangkit berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan kamar anaknya.


Danial Donovan menatap punggung mamanya dengan bergumam, "Apa maksud Mama? Datang marah-marah dan ngamuk. Tapi, terus pergi begitu aja meninggalkan kamarku? Aneh banget"


Soraya Donovan duduk di tepi ranjangnya dan sambil mengacak-acak rambutnya ia berucap kesal, "Kenapa Daniel tidak seperti Luke. Kenapa Daniel malah mewarisi hobi melukis seperti Papa kandungnya alih-alih tertarik pada bisnis keluarga Donovan? Sial! Dasar sial!!!!!!" Soraya meraih guling dan melemparkan guling itu ke tembok kamarnya dengan penuh amarah.


Luke meletakkan Embun dengan prlahan di kursi makan. Dia menarik wajahnya dan saat ia melihat istri mungilnya masih memejamkan mata dengan bibir merekah, Luke mengumpat, "Sial! Kenapa pesona kamu luar biasa seperti ini, Mbun" Luke kembali menunduk dan kembali memagut bibir istri mungilnya.


Luke kembali menarik wajahnya dan mendaratkan beberapa kecupan di kening Embun sembari berucap, "Aku ingin makan kamu saat ini juga, Mbun. Tapi, anakku pasti laper banget saat ini. Kita makan, yuk!" Luke duduk di depan Embun dan mulai meraih piring berisi steak iga sapi berbumbu saos barbeque, lalu pria tampan itu, menyuapi Embun dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang.


Luke mengecek tangan Embun dan mencium punggung tangan istri mungilnya itu dengan senyum lega dan bahagia saat ia melihat cincin pernikahan mereka berdua masih melingkar cantik di jari manis tangan kanan Embun.


Embun menatap suaminya dengan senyum di wajah dan bergumam di dalam hati, untung aku nggak lupa memakai lagi cincinnya.


"Jangan pernah lepaskan cincin pernikahan kita, ya?!" Pinta Luke sambil menciumi punggung tangan kanannya Embun.


"Iya, Mas" Sahut Embun.


"Cincin pernikahan kita sudah diberkati dan kata Nenek, kalau dilepas-lepas akan mendatangkan hal yang buruk di pernikahan kita"


Embun menganggukkan kepala dan kembali bergumam di dalam hatinya, semoga nggak akan pernah ada hal buruk yang menimpa pernikahanku dengan Mas Luke. Karena untuk satu Minggu ke depan, selama pemotretan aku harus melepas cincin ini. Amin!


"Aku sudah menebus sertifikat tanah perkebunan Kakek kamu. Aku juga udah selesaikan masalah hutang judi Kakek kamu. Walaupun dia jahat sama kamu selama ini, tapi, melihat kamu sayang banget sama Kakek kamu, aku langsung turun tangan membantunya"


"Maaf, Mas. Mas kembali terbebani dengan masalah yang ada di keluargaku. Aku akan mencicil biaya yang Kakek..........."


Luke langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Embun dan berkata, "Ssssttt! Aku melakukannya karena kamu adalah Istriku dan otomatis, masalah yang ada di keluarga kamu adalah masalahku juga. Aku melakukannya karena aku mau dan aku mampu. Kamu nggak perlu mencicilnya. Aku adalah suami kamu. Lain kali jangan sembunyikan masalah apapun dari suami kamu. Jangan sungkan minta pertolongan apapun sama aku, oke?"


Embun meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat dan sambil menatap dalam kedua bola mata suaminya, ia berkata, "Terima kasih banyak, Mas"


Luke memeluk Embun sambil bertanya,"Besok kamu ada acara tidak? Aku ingin ajak kamu pergi ke tempat favoritku. Kemarin, aku udah temani kamu lihat bazar. Jadi, besok gantian kamu yang menemaniku jalan-jalan ke tempat favoritku"


"Besok? Jam berapa, Mas?"


"Habis makan siang" Luke melepaskan pelukannya untuk menatap wajah imut istri mungilnya.


Ah! itu, kan, jam di mana aku harus melakukan pemotretan dan syuting. Batin Embun.


Luke mengecup sudut bibir Embun yang terkena saos steak lalu menarik wajahnya untuk melihat istri mungilnya dan langsung bertanya, "Kenapa malah diam?"


Embun masih diam membisu.


Luke menyentuh pipi Embun dan bertanya, "Mbun, ada apa? Kok melamun?"


"Ah!" Embun tersentak kaget dari lamunannya.


"Ada apa? Kok melamun?" Luke mengelus pipi Embun lalu mengecup pipi itu dengan penuh kasih sayang.


Embun tersenyum lalu menggeleng dan bergegas mengeluarkan suara, "Nggak, Mas. Aku nggak melamun. Aku hanya bingung"


"Bingung kenapa?" Luke mengelus perut Embun lalu menunduk untuk menciumi perut itu.


"Besok aku ada janji dengan teman-teman untuk mengerjakan proyek kamu, Mas"


Luke kemudian menegakkan badannya kembali untuk menangkup wajah istrinya dan berkata, "Ooooo, gitu aja, kok, bingung. Aku akan jemput kamu di kampus kalau gitu. Jam berapa selesainya?"

__ADS_1


"Ah! Nggak usah, Mas. Kalau teman-temanku heboh lagi pas mereka lihat Mas, bisa repot dan ........"


Luke mengecup bibir Embun dan berkata, "Ah! Senangnya lihat kamu cemburu"


Embun langsung mengulas senyum lebar di depan Luke.


"Lalu, gimana dong? Aku hanya punya waktu longgar besok setelah makan siang dan aku ingin segera menunjukkan tempat favoritku ke kamu"


"Kita langsung ketemuan di tempat itu, aja, Mas"


"Nggak boleh"


"Kenapa nggak boleh?"


"Aku pengen kita memasuki tempat itu dengan bergandengan tangan. Konon katanya, kalau pasangan bergandengan tangan memasuki tempat itu, hubungan mereka akan langgeng"


"Aku nggak nyangka, Mas percaya hal begituan?" Embun mengernyit geli.


Luke berucap, "Nggak percaya juga, sebenarnya. Tapi, aku tergelitik pengen mencoba masuk ke tempat itu sama kamu dengan bergandengan tangan. Untuk asyik-asyikan aja, sih"


"Kalau gitu, Mas tunggu aja di sini. Aku akan ke sini setelah mengerjakan proyek dengan teman-teman dan kita bisa berangkat bareng.ke sana dari sini. Jam empat aku udah sampai ke sini, Mas"


"Baiklah" Luke memekik senang dan langsung memeluk erat tubuh istri mungilnya.


Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa berbohong. karena aku ingin membiayai sendiri biaya pengobatan Ibukku. Aku nggak enak harus membebani kamu terus menerus dengan kondisi dan masalah yang ada di keluargaku. Batin Embun.


Luke kemudian mengajak Embun bangkit berdiri sambil berucap, "Kita ke rumah sakit sekarang. Kita jenguk Ibu"


"Terima kasih, Mas"


"Untuk apa?" Luke menoleh ke Embun yang ia gandeng.


"Untuk semuanya"


Luke langsung membopong Embun sambil berkata, "Nggak perlu berterima kasih. Kamu adalah Istriku dan Ibu dari anakku"


Sesampainya Luke dan Embun di rumah sakit, Dokter Theo menghampiri Luke dan sontak melemparkan tanya, "Siapa wanita cantik dan imut yang kamu gandeng itu, Luke?"


Luke mencium tangan Embun yang ia genggam. Lalu, ia menahan tangan itu di dadanya sembari berkata, "Ini Istriku"


"Hah?! Tapi, kok, beda banget dengan penggambaran yang diberikan oleh Felix dan ........"


"Kau mau aku bikin perkedel di sini, ya?!" Luke mendelik ke Theo dan Theo sontak melompat mundur sambil berkata, "Ampun, Bro!"


Theo kemudian mengangguk dan tersenyum ke Embun lalu berkata, "Maaf untuk intermezo nggak jelasnya tadi, hehehehe. Senang bertemu dengan Anda. Saya adalah Theo. Salah satu dari sekian banyak dokter yang mengawasi perkembangan kesehatannya Ibu Lastri, Ibu Anda"


Embun tersenyum dan mengangguk sambil berkata, "Senang berkenalan dengan Anda, Dokter Theo. Saya Embun Sanjaya. Terima kasih sudah menangani dan menjaga Ibu saya dengan sangat baik"


Ibunya Embun melambai lemas di dalam dan Embun menbalas lambaian ibunya dari luar dengan senyuman yang menahan air mata.


Luke melirik Embun dan langsung menatap Theo untuk bertanya, "Apa Embun sudah boleh masuk ke dalam? Embun pengen memegang tangan Ibunya dan ngobrol dengan Ibunya"


"Maaf. Belum boleh. Istri kamu tengah hamil saat ini dan kondisi Ibu Lastri belum stabil. Ibu Lastri baru saja menjalani kemoterapi kemarin dan siang tadi" Sahut Theo.


Embun menoleh ke Dokter Theo untuk berkata, "Saya ingin sekali bisa menggenggam tangan Ibu saya dan menyemangati beliau"


Luke langsung memeluk Embun saat ia melihat air mata menetes di kedua pipi Embun.


"Apakah benar-benar tidak bisa diusahakan agar Embun bisa menemui Ibunya. Paling nggak sekali saja?" Luke menatap Theo dengan sorot mata memohon.


"Aku nggak mau membahayakan janin di kandungan Embun. Tapi, aku akan coba diskusikan masalah ini dengan teman-teman Dokterku" Sahut Theo.


"Tolong usahakan, ya?! Aku mohon"


Seketika itu, Theo tertegun mendengar seorang Luke Donovan memohon.


"Mas, Ibu melambaikan tangannya ke kita. Ibu ingin kita, Mas" Embun berkata dengan terisak di dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Luke mengusap kedua pipi Embun, lalu ia menoleh ke Theo untuk bertanya, "Kalau aku yang masuk boleh?"


Theo hanya diam mematung. Dokter muda nan tampan itu tampak meragu.


"Kenapa kau diam saja?! Aku nggak tega melihat Ibu terus melambaikan tangan kayak gitu. Cepat jawab!"


"Bentar. Aku konsultasikan dulu ke Profesor" Sahut Theo sambil berbalik badan dan langsung berlari.


"Mas, aku pengen masuk dan memeluk Ibu. Aku kangen banget sama pelukan hangatnya Ibu, Mas"


Luke mengelus punggung Embun dan sambil menciumi belahan rambut Embun, ia berkata, "Kalau aku boleh masuk, aku akan memeluk Ibu sebagai gantinya kamu"


"Hah?!" Rendy sontak ternganga dan langsung bertanya, "Anda, kan, tidak pernah mau memeluk wanita asing,Tuan?"


Luke menoleh ke Rendy, "Ibu mertuaku bukan wanita asing dan aku nggak keberatan memeluk Beliau menggantikan Embun"


"Mas beneran mau meluk Ibu sebagai gantinya aku?" Embun menengadah untuk menatap wajah suami tampannya.


Luke mencium kening Embun dan berkata di sana, "Hmm. Aku mau meluk Ibu kamu"


"Terima kasih, Mas" Sahut Embun dengan Isak tangis haru.


"Nggak perlu berterima kasih" Sahut Luke sembari mengelus lembut punggungnya Embun.


"Tolong katakan juga kalau Embun kangen dan Embun sangat mencintai Ibu. Katakan juga kalau Ibu harus berjuang melawan penyakitnya"


"Hmm" Sahut Luke.


Theo berlari mendekat dan dengan napas menderu, Theo berucap, "Kamu diijinkan masuk. Tapi, cuma sepuluh menit. Aku akan antar kamu masuk ke dalam untuk membantumu memakai baju khusus ICU


Luke mencium pipi Embun dan berkata, "Aku masuk dulu"


"Iya, Mas. Terima kasih" Ucap Embun dengan masih terisak haru.


Setelah memakai baju khusus ICU, Luke masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang dan langsung menggenggam tangan ibu mertuanya.


Embun hanya bisa menyaksikan suami dan ibunya di luar, dari balik kaca transparan.


"Tolong jaga Embun dengan baik, ya, Nak"


"Pasti, Bu. Saya sangat mencintai Embun. Saya akan jaga Embun dan anak saya dengan sangat baik" Luke menepuk-nepuk pelan punggung tangan ibu mertuanya.


"Embun sudah mengalami banyak kepahitan di masa kecilnya. Bahkan sejak ia masih di dalam kandungan, ia sudah mengalami penderitaan. Ibu bahagia akhirnya Embun bisa bertemu dengan kamu, Nak. Ibu lihat Embun bahagia banget sejak menikah dengan Nak Luke"


"Saya juga bahagia banget sejak menikah dengan Embun, Bu. Tapi, apa maksud Ibu, Embun banyak mengalami kepahitan semasa kecilnya?"


"Waktu Ibu hamil Embun trimester pertama, mamanya Mentari pernah hampir memberikan minuman beracun ke Ibu, tapi untungnya Papanya Embun memergokinya. Lalu, Embun pernah dibuang di sebuah hutan di pinggir luar kota oleh Ibu tirinya, Mamanya Mentari. Untungnya ia berhasil diselamatkan, namun Embun mengalami trauma dan lupa akan kejadian itu. Kalau Nak Luke menemukan Embun menyukai warna hijau itu karena, selama lima hari Embun berada di tengah hutan dan hanya berteman dengan pepohonan. Lalu, kalau Nak Luke menemukan Embun takut sama suara petir, itu karena, dia dibuang ke tengah hutan di musim penghujan"


"Benarkah? Waktu itu Embun umur berapa, Bu?"


"Umur lima tahun. Untungnya Embun berhasil ditemukan. Seorang polisi memberitahukan ke Ibu kalau Embun selamat dan Ibu lalu menjemput Embun di IGD sebuah rumah sakit"


Luke seketika tertegun dan berkata di dalam hatinya, kenapa Embun dan aku memiliki kisah masa lalu yang sama? Aku diculik dan disekap di pondok yang ada di tengah hutan dan Embun dibuang di sebuah hutan. Jangan-jangan anak kecil yang selama ini kau cari adalah Embun?


"Ibu ingin mengatakan semua ini sebelum Ibu menghadap Sang Pencipta. Katakan juga ke Embun, karena Ibu tahu dia hamil dan tidak boleh masuk ke sini, tolong katakan ke Embun kalau Ibu bangga memiliki anak sebaik dia. Ibu sangat mencintainya. Sampaikan maaf Ibu kalau Ibu belum bisa menjadi Ibu yang bisa ia banggakan"


Luke mengusap air mata di pipi ibu mertuanya sembari berkata, "Ibu cepat sehat dan Ibu bisa katakan semua itu secara langsung ke Embun"


Ibunya Embun menggeleng dan berkata, "Ibu bisa merasakan kalau umur Ibu tidak lama lagi, Nak"


Luke langsung memeluk ibu mertuanya dan berkata, "Ibu nggak boleh menyerah. Ibu harus berjuang melawan penyakit ini. Ini adalah pesan dari Embun dan pelukan ini juga pelukan dari Embun, Bu. Pelukan ini adalah kiriman semangat dari Embun, jadi, Anda harus semangat demi Embun. Embun masih ingin merasakan hangatnya pelukan Ibu dan Embun selalu bangga memiliki Ibu berhati lembut seperti Anda"


Tiba-tiba Theo masuk, "Sudah saatnya bagi Ibu Lastri beristirahat, Luke. Kau harus keluar sekarang!"


Luke melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipi ibu mertuanya sembari berkata, "Saya akan berjuang untuk kesembuhan Ibu. Ibu juga harus berjuang melawan penyakit Ibu, ya, Bu"


Ibu Lastri tersenyum dan mengangguk lemah sambil berucap lirih, "Terima kasih banyak untuk semua kasih sayangmu, Nak"

__ADS_1


Luke berkata, "Sama-sama" seraya bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Ibu mertuanya dengan mengacungkan ibu jarinya dan berkata, "Semangat selalu, Bu!"


__ADS_2