Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Apa?!


__ADS_3

Begitu sampai di kursi kerjanya, alih-alih membuka berkas yang menunjuk di meja, Like memilih untuk membayangkan wajah cantik bak bidadari hinggap di atas tubuhnya tadi pagi.


"Eh! Perasaan dia tadi manggil aku, Mas Luke. Apa dia bidadari pencabut nyawa yang aku lihat di film horor kemarin malam? Bidadari pencabut nyawa punya daftar nama orang yang akan dicabut nyawanya. Hiihhhh! Cantik begitu, kok, jadi bidadari pencabut nyawa. Tapi, apa benar dia bidadari pencabut nyawa?"


"Nggak ada bidadari pencabut nyawa, Tuan" Sahut Rendy.


Luke tersentak kaget dari lamunannya dan langsung melotot ke Rendy, "Kenapa kau masih berdiri di situ? Kenapa nggak ke ruangan kamu sendiri?"


"Saya menunggu berkas-berkas itu ditandatangani oleh Anda karena saya harus segera mendistribusikan berkas-berkas itu ke semua departemen untuk ditindaklanjuti, Tuan" Sahut Rendy dengan wajah tanpa dosa.


"Sial! Hobi kamu, tuh, emang gangguin aku mulu. Dasar! Oke, tunggu bentar!" Luke langsung membuka berkas yang ada di tumpukan paling atas dan mulai asyik berkutat dengan berkas-berkas.


Maria Donovan duduk berhadapan dengan Daniel, "Apa kabarmu, Nak?"


"Baik, Nek. Ada apa Nenek menyuruh saya pulang? Apakah Mama saya melakukan kesalahan lagi atau saya yang telah melakukan kesalahan?"


"Mama kamu dan kamu, tidak melakukan kesalahan apa pun. Nenek memanggil kamu ke sini, karena Nenek ingin meminta bantuan darimu. Apa kamu mau?"


"Mau, Nek" Daniel menyahut cepat.


Maria sontak tersenyum geli dan berkata, "Kamu belum tahu bantuan apa yang hendak Nenek mint, kok, langsung nyahut mau"


"Apa pun yang Nenek minta, saya pasti akan wujudkan. Saya banyak berhutang budi sama Nenek. Begitu juga bila Kak Luke yang minta bantuan pasti juga akan langsung saya sanggupi"


"Bantuan yang Nenek minta, berkaitan dengan Kakak Luke kamu"


"Ada apa dengan Kak Luke, Nek? Maaf, sejak saya tinggal di Jerman, saya tidak pernah mengikuti perkembangan dunia bisnis dan perkembangan di sini. Saya sibuk mengurus galeri seni saya. Sibuk menata hidup saya"


"Kakak Luke kamu mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia tiga tahun yang lalu dan sampai sekarang, amnesianya belum sembuh"


"Hah?! Kenapa Nenek tidak memberitahu saya dari dulu?"


"Aku nggak ingin kamu stabilkan dulu kehidupan kamu. Nah, barulah di tahun ketiga ini, Nenek memanggil kamu pulang karena Nenek lihat hidup kamu sudah mulai stabil. Selamat untuk galeri seni kamu yang maju pesat di Jerman"


"Terima kasih, Nek. Lalu, saya mesti ngapain sekarang terkait dengan amnesia yang dialami oleh Kak Luke?"


"Ada wanita licik di samping Kakak Luke kamu. Dia Chika mantan pacar Kakak kamu. Wanita itu juga yang membuat Luke mengalami kecelakaan dan membuat Kakak ipar kamu hidup di Jepang selama tiga tahun ini"


"Huffttt! Saya sungguh prihatin mendengarnya? Lalu, anaknya Kak Luke?"


"Embun berhasil melahirkan, membesarkan dan mendidik anaknya Luke dengan sangat baik. Anaknya Luke cowok. Anak itu diberi nama Geraldino Donovan. Dino panggilannya. Dia anak yang sangat tampan, sangat sehat, dan sangat cerdas"


"Syukurlah. Saya jadi pengen cepet-cepet ketemu sama Dino" Sahut Daniel.


"Nanti habis makan siang, kamu ikut Nenek ke kantor Kakak Luke kamu. Kamu akan bertemu dengan Dino"

__ADS_1


"Lalu, apa peran saya nanti, Nek?" Tanya Daniel.


"Kamu ikut untuk mengenali situasinya dan untuk melihat kondisi Kakak kamu. Sekalian melihat Chika dan......"


"Saya tahu siapa Chika, Nek. Lalu, bagaimana selanjutnya? Maaf kalau saya memotong ucapan Nenek"


"Kalau kamu sudah tahu siapa Chika, maka misi Nenek akan semakin mudah"


"Misi?" Daniel sontak mengerutkan dahi.


"Iya. Nenek ingin minta bantuan kamu menjauhkan wanita itu dari Luke. Karena, Embun dan anaknya akan mulai aku bawa masuk ke kehidupan Luke hari ini"


"Itu, sih, gampang, Nek. Saya mau" Sahut Dani tanpa berpikir panjang"


"Kamu langsung mau?"


"Hmm. Demi Nenek dan Kak Luke, saya bersedia melakukan apa pun"


"Terima kasih banyak, Nak"


"Sama-sama, Nek. Bantuan kecil dari saya ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan kebaikan Nenek dan Kak Luke selama ini"


Maria Donovan menatap Daniel dengan sorot mata teduh dan senyum tulus penuh kasih sayang.


Luke duduk di sofa dan berucap, "Bukannya nggak boleh. Tapi, yang tahu passwordnya Rendy dan Rendy nggak mau kasih tahu aku"


"Kenapa kamu nggak ganti passwordnya biar aku bisa.lewat lift itu" Chika menunjuk pintu lift yang ada di depan tidak jauh dari sofa yang dia pakai untuk duduk di siang hari itu.


"Aku males ribet. Udah nggak usah ngomel entar cepat tua" Ucap Like sambil mengunyah gigitan burger yang sudah ia masukkan ke dalam mulutnya.


Chika merebahkan kepalanya di pangkuan Luke dan Luke membiarkannya. Pria tampan itu tetap asyik makan menu favoritnya.


Saat Luke membungkuk untuk mengambil cup jumbo berisi Copa dingin, Chika nekat memagut bibir Luke dan tidak ia lepaskan. Chika lalu menarik tengkuk Luke untuk memaksa Like membuka mulut karena ia ingin menelusupkan lidahnya dan mengajak lidah Like berdansa.


Luke langsung meletakkan cup jumbo berisi cola dingin di atas meja dan melemparkan burger ke meja, kemudian dia mendorong paksa kedua bahu Chika sampai bibir dan tengkuknya terbebas dari kuncian bibirnya Chika.


Luke kemudian mendelik ke Chika, "Apa yang kau lakukan?!"


Chika menunduk untuk melihat kedua bahunya dan wanita cantik itu langsung memekik, "Kau kotori baju putih yang baru aku beli dari Hongkong kemarin dengan saus burger, Luke!"


"Hei! Salah sendiri kenapa kau tiba-tiba menciumku" Luke berucap sambil.mengusap bibirnya dengan. punggung tangan kanan.


"Kau! Kenapa kau usap bibir kamu? Kau tidak menyukai ciumanku? Kau tidak merasakan apa pun?"


Tanpa menjawab pertanyannya Chika, Luke bangkit berdiri untuk berpindah tempat duduk karena dia mulai merasa tidak aman dan tidak nyaman duduk di sebelah Chika.

__ADS_1


Chika sontak memekik, "Hei! Aku ini tunangan kamu, Luke. Aku berhak meminta ciuman dari kamu. Aku berhak minta kau manjakan dan......."


"Aku udah manjakan kamu selama ini. Aku udah belikan dan turuti semua yang kamu mau dan........."


"Aku mau ciuman. Cium aku sekarang juga!" Chika mendelik ke Luke.


Luke menggeleng cepat dan sambil.mengunyah burger, dia berucap, "Aku sudah bilang kalau aku tidak mau mencium kamu sebelum aku mendapatkan kembali ingatan kamu"


"Kalau kamu tidak pernah mendapatkan ingatan kamu?"


"Iya, aku, nggak akan pernah mencium kamu, hehehehehe" Luke meringis dengan tampang tanpa polos tanpa dosa.


Chika langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Luke begitu saja dengan langkah dan wajah kesal.


Luke menyeruput cola dingin sambil.menatap punggung Chika. Pria tampan itu mengangkat kedua bahunya karena kaget saat Chika membanting pintu ruang kerjanya.


Presdir Grup Donovan yang masih mengalami amnesia itu, kemudian meletakan cup jumbo berisi cola dingin di atas meja sembari berucap, "Kenapa dia semarah itu? Ah! Bodo amat. Kalau dia butuh aku, dia juga akan cari aku dan tersenyum lagi" Luke kemudian melanjutkan makan siangnya dengan santai.


Di siang hari, di jam di mana akhirnya Luke Donovan untuk bebas merdeka duduk di depan layar televisi untuk bermain PS, pintu ruang kerjanya dibuka lebar.


Luke mengangkat kembali pantatnya dan sontak berdiri tegak menghadap ke pintu.


Pria tampan itu sontak menautkan kedua alisnya sewaktu ia melihat Maria Donovan membawa banyak orang masuk ke dalam ruangannya.


Luke sontak menghunus tatapan tajam ke Rendy dan menyemburkan, "Hei, Ren! Aku udah bilang kalau nggak ingin diganggu setelah jam makan siang, kan?!"


"Saya tidak berani melawan perintah Nyonya besar, Tuan" Sahut Rendy dengan wajah polos tanpa dosa.


"Duduklah, Luke! Ada yang ingin Nenek sampaikan ke kamu sekarang juga dan ini sangat penting"


Luke duduk di sofa single dan langsung membungkukkan badan dan meletakkan kedua siku di atas paha.


Maria Donovan, Rendy, Daniel, dan Mona duduk di sofa panjang yang berbentuk melingkar dan semuanya menghadap ke Luke.


Sementara itu, Embun menunggu di depan pintu lift pribadinya Luke sambil menggendong Dito dan ditemani Mona dengan dikelilingi puluhan bodyguard kelas kakap. Embun menunggu dijemput oleh Rendy, barulah ia naik ke ruang kerjanya Luke.


"Ada apa kalian semua datang ke sini di jam aku main game? Ganggu aja!"


"Baca surat ini dulu"


"Surat apa ini, Nek?"


"Bacalah"


"Geraldino Donovan, umur tiga tahun lebih tujuh bulan dua Minggu, sembilan puluh delapan koma dua puluh delapan persen, adalah putra kandungnya Luke Donovan..........." Luke tertegun sepersekian detik, lalu ia menatap Maria dan langsung menyemburkan, "Hah?! Apa maksud surat ini? Siapa Geraldino Donovan? A......aku masih dua puluh tahun dan sudah punya anak?"

__ADS_1


__ADS_2