Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Pilihan


__ADS_3

Embun terbangun dan saat ia menunduk, ia melihat jas suaminya masih menutupi pahanya. Embun tersenyum dan sambil duduk, ia meraih jas itu. Gadis yang masih berumur dua puluh tahun itu, menghela napas panjang dan tersenyum lebar saat ia memeluk jas itu.


Setelah ia hirup dalam-dalam aroma suaminya yang tertinggal di jas itu, Embun melipat jas itu dan sambil bangkit berdiri, ia letakkan lipatan jas itu di atas kasur, kemudian ia melangkah keluar.


"Nyonya muda, silakan duduk di sofa! Saya akan minta chef membuatkan susu strawberry pakai es batu yang banyak"


Embun langsung menahan lengan Mona dan sambil menggeleng ia berkata, "Tolong, jangan susu! Saya nggak suka minum susu"


"Maaf, Nyonya muda. Saya tidak berani melawan perintah Tuan muda" Mona menepis pelan tangan Embun dari lengan bawahnya, lalu ia melangkah ke dapur kini yang ada di pojok timur ruang kerjanya Luke Donovan.


Mona menunggu sampai susu strawberry dengan es batu yang banyak, selesai dibuat.


Saat Mona kembali, ia langsung meletakkan gelas yang berembun dan berisi cairan berwarna pink itu di atas meja, persis di depannya Embun.


Embun menatap cukup lama gelas berembun itu dan saat ia mendongak untuk memasang wajah memelas di depan Mona, Mona langsung berucap, "Mohon segera diminum susunya. Saya harus merekam pas Anda minum susu itu dan mengirimkannya ke Pak Rendy secepatnya"


Embun menghela napas berat, lalu ia memencet hidungnya, dan meminum sampai habis susu itu.


Mona mengirim rekaman video Embun minum susu ke telepon genggamnya Rendy. Karena, nomer pribadinya Luke hanya Luke dan orang terpercayanya Luke yang tahu.


Embun bergumam kesal di dalam hatinya, minum susu aja kenapa harus direkam?


Mona kemudian berkata ke Embun, "Untuk makan siang, Chef pribadinya Tuan Luke masih menyiapkannya. Anda juga harus menunggu Tuan Luke pulang"


Embun hanya bisa menghela napas panjang, lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mona tersentak kaget saat ia melihat ada memar merah keunguan di leher Embun. Dia langsung bertanya, "Nyonya muda, leher sebelah kiri Anda kenapa?"


Embun kebingungan dan sontak meraba leher di sebelah kiri sambil bertanya, "Emangnya ada apa di leherku, Mbak?"


"Ada memar merah keunguan. Apa Nyonya muda dipukul seseorang atau terbentur sesuatu? Aduh bagaimana ini? Kalau Tuan muda tahu ada memar di leher kiri Anda, saya bisa kena hukuman dan .........."


"Mbak, tenang dulu. Aku nggak kena pukul dan nggak terbentur apapun, kok" Embun berkata sembari menyentuh lengannya Mona.


"Lalu, memar di leher kiri Nyonya muda, memar apa?"


Embun meraba kembali lehernya dan sambil menggelengkan kepala, ia berucap polos, "Aku juga nggak tahu kenapa bisa ada tanda memar. Emm, tadi suamiku mencium bagian ini" Embun masih meraba lehernya dan kembali berucap dengan wajah penuh tanda tanya, "Lalu, suamiku bilang telah mendaratkan tanda kepemilikan. Emangnya tanda kepemilikan itu apa, sih, Mbak? Mbak Mona tahu?"


Mona langsung berdeham cukup keras, lalu berucap, "Maaf, saya nggak tahu" Dan bergegas berbalik badan untuk melangkah lebar menuju ke dapur sambil bergumam di dalam hati, aduh! Aku kok bodoh banget. Aku sudah menikah dan punya anak satu, tapi kenapa nggak ngeh kalau itu tanda kepemilikan. Dan Nyonya muda, kenapa Anda polos banget, Anda bahkan nggak tahu apa itu tanda kepemilikan.


Embun menatap punggung Mona dan dengan masih mengelus lehernya, dia bergumam, "Aku akan cari tahu di internet aja apa itu tanda kepemilikan"

__ADS_1


Gilang langsung dikelilingi kelima anak buahnya Luke yang ikut masuk ke kamar dan Rendy langsung berdiri di depan Luke untuk memeriksa wajah berharga tuan mudanya.


Rendy mengabaikan Gilang yang terus meneriakkan kata brengsek. Rendy memilih fokus ke tuan mudanya dan bertanya, "Tuan, pipi Anda lebam. Wah, wajah tampan Anda berkurang sepuluh persen lagi, nih. Kenapa Anda langsung bilang begitu tadi dan kenapa Anda biarkan pria itu memukul Anda?"


"Aku masih marah sama diriku sendiri. Aku tak bisa menghentikan penyesalanku, aku marah karena tak ada yang bisa membujukku untuk tenang" Luke berdiri di depan Rendy dengan dada naik turun dan pandangan kosong. Lalu, ia menggeram, "Minggir! Suruh semuanya minggir! Aku ingin berbicara berhadapan dengan pria itu"


Gilang mendelik dan berteriak, "Berani benar kau lakukan itu pada gadis sepolos dan sebaik Embun?! Aku akan membunuhmu!"


Rendy tampak ragu untuk minggir. Rendy berucap, "Nggak Tuan! Saya nggak akan biarkan pria itu memukul Anda lagi dan........"


"Aku bilang minggir! Semuanya minggir! Biarkan aku hadapi pria itu sendirian!" Luke berteriak dengan ekspresi wajah mengerikan.


Rendy sontak menggeser langkahnya beberapa langkah ke samping sambil memerintahkan semua anak buahnya untuk membebaskan Gilang dari kungkungan mereka.


Dari jarak dua meter, Gilang menatap Luke dengan tajam. Dadanya naik turun dan kedua tangannya mengepal. Wajahnya merah padam terbakar amarah.


"Aku adalah suaminya Embun"


Rendy menggelengkan-gelengkan kepalanya dan sontak bergumam di dalam hatinya, kenapa aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran orang cerdas dan tampan seperti Tuan Luke Donovan? Aku yang bodoh ini pasti akan berkata begitu sejak awal tadi alih-alih membiarkan pipiku lebam kena bogem mentah.


Gilang langsung menarik kedua alisnya ke atas sembari menyemburkan, "Apa kau bilang?"


"Bohong?! Embun nggak mungkin mau menikah dengan pria yang sudah merenggut paksa segelnya. Embun benci pria kasar. Dia pasti membencimu sama seperti diriku saat ini. Aku sangat membencimu!" Gilang berucap sembari melesat maju untuk kembali menyarangkan bogem mentah di wajah Luke. Namun, dengan sigap Luke menghindar, menangkis dan mendorong tubuh Gilang menjauh darinya tanpa menyarangkan satu bogem mentah pun di wajah Gilang.


"Kau pandai beladiri ternyata" Sahut Gilang.


Luke tersenyum tipis dan berkata, "Aku udah ijinkan kamu menyarangkan satu bogem mentah di wajahku, karena aku ingin mendapatkan hukuman atas perbuatan bejatku pada Embun di masa lalu. Tapi, aku kemudian ingat kalau aku udah punya Embun. Walaupun hatiku masih belum sepenuhnya terbebas dari rasa penyesalan, aku nggak ingin wajahku bonyok parah dan pas pulang nanti, Embun khawatir. Aku nggak ingin melihat Embun khawatir dan bersedih lagi. Dia Ibu dari anakku. Kalau Embun sedih, anakku pasti ikutan sedih"


Kenapa nggak dari tadi ia berpikiran begitu? Kenapa harus ijinkan satu bogem mentah mendarat di pipinya? Aduh, Tuan! Pening kepala Rendy memikirkan Anda. Batin Rendy.


"Anak? Em.....Embun hamil?" Gilang bertanya dengan ekspresi gamang.


"Hmm" Sahut Luke.


Gilang kembali melesat maju untuk menyerang Luke. Luke berhasil menghindar dan Gilang langsung jatuh tersungkur ke lantai saat ia gagal menyerang Luke.


Luke melangkah maju dan langsung berputar badan untuk melihat Gilang yang masih berusaha bangkit berdiri.


Luke berkata saat ia melihat Gilang telah berhasil berdiri tegak di depannya, "Aku udah bilang, kan, tadi. Aku nggak akan biarkan wajahku bonyok. Aku nggak ingin membuat Embun khawatir, bingung, dan sedih"


"Embun nggak mungkin hamil. Nggak mungkin dia hamil" Gilang bergumam sendiri. Lalu ia menatap Luke sangat tajam untuk berkata, "Embun nggak mungkin memaafkanmu. Kamu udah bikin dia hamil secara paksa, embun nggak mungkin........." Gilang meraup kasar wajah tampannya dan menjambak rambutnya sambil berteriak untuk melepaskan rasa sesak di dalam dadanya saat ia tahu, satu-satunya wanita yang sangat ia cintai, hamil lewat paksaan.

__ADS_1


"Iya. Mungkin jika Embun membenciku dan membalas kejahatanku dengan kejahatan, aku bisa lepas dari penyesalan ini. Tapi, Embun justru menerima aku, Embun bilang ia memaafkan aku, Embun menjadi Istri yang baik dan penurut, Embun bersikap lemah lembut padaku. Aku semakin tersiksa dengan rasa penyesalan ini" Luke menepuk keras dadanya sendiri.


"Bohong! Aku ingin bertemu dengan Embun saat ini juga. Aku ingin bertanya apa benar ia memaafkan kamu. Aku juga ingin bertanya apa dia bahagia menikah denganmu?Pertemukan aku dengan Embun sekarang juga!"


Luke menghela napas berat yang dibalut kecemburuan. Lalu, ia berkata, "Aku nggak akan ijinkan kamu bertemu dengan Embun sebelum aku tahu apa pilihan kamu"


"Sial! Apa kamu yang mengganti nomer ponselnya Embun? aku tidak bisa mengubungi Embun selama ini"


"Iya. Aku langsung mengganti telepon genggamnya Embun dengan yang baru.Aku suaminya. Aku harus menjaga Istriku dari segala macam godaan, kan?"


"Kau memang brengsek! Lalu, apa yang kau maksud dengan pilihan tadi?"


"Aku akan kasih kamu uang satu miliar, mobil sedan keluaran terbaru, dan sebuah rumah di Jepang. Kau bisa meneruskan pendidikan kamu dan mengembangkan diri kamu di sana dengan semua pemberianku itu. Atau kau memilih Embun"


Rendy sontak melotot mendengar penawaran fantastis itu, tapi ia tidak berani meluncurkan protes.


"Tentu saja aku memilih Embun. Aku dan dia berjanji akan hidup bersama dan mulai dari nol. Aku bersedia menganggap anak yang ada di kandungan Embun sebagai anakku dan.........."


Luke mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi dan kecemburannya, lalu ia berkata dengan suara sangat dalam, "Ingat! Kau tidak punya apa-apa saat ini dan kau bukan siapa-siapa saat ini. Kalau kau milih Embun, kau tega melihat Embun dan anaknya hidup susah. Kurang gizi dan kurus kering?"


Sekujur tubuh Gilang sontak melemas dan dia jatuh terduduk di atas lantai tanpa daya. Gilang kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan membungkukkan badan untuk menangis. Tubuh Gilang bergetar hebat di saat tangisannya semakin kencang terdengar.


Luke dari jarak dua meter, berjongkok di depan Gilang untuk bertanya, "Apa yang kau pilih? Aku tidak punya banyak waktu. Jawab sekarang juga!"


Gilang meraup wajahnya dan mengusap pipinya dengan kasar. Lalu, ia mengangkat wajah untuk berkata lirih, "Aku pilih penawaran awal kamu tadi"


"Aku tegaskan sekali lagi, kau pilih uang satu miliar, mobil sedan keluaran terbaru, dan rumah di Jepang?"


Gilang mengangguk dengan lemas. Pandangan pria itu kosong dan wajahnya bermuram durja.


Luke bangkit berdiri sambil berkata, "Berdirilah! Tanda tangani surat perjanjian kita! Asistenku sudah menunggumu"


Gilang bangkit berdiri dengan susah payah. Dua kali dia terjatuh kembali di lantai saat ia berusaha untuk bangkit berdiri. Di saat ia akhirnya berhasil berdiri tegak, ia melangkah ke sofa dengan gontai. Dia duduk di sofa dengan melengkungkan badan dan wajah tanpa harapan.


Luke duduk di samping Rendy dan menatap Gilang yang duduk depannya tanpa ekspresi apapun, lalu ia berkata, "Kau sudah tanda tangani surat kerja sama kita. Asistenku ini akan mengirim uang, mobil, dan sertifikat rumah sore ini. Lalu, aku akan ijinkan kamu bertemu dengan Embun untuk memutuskan hubungan kamu dengan Embun selamanya dan setelah itu, jangan pernah muncul lagi di hadapannya Embun!"


"Dan kapan itu?" Gilang bertanya dengan nada sedih dan memejamkan mata.


"Lusa. Aku akan menggelar resepsi pernikahan lusa. Temui Embun dua jam sebelum resepsi dimulai. Asistenku ini akan mengatur pertemuan kamu dan Embun. Putuskan Embun dan jangan temui Embun lagi. Menetaplah di Jepang dan hidup tenang di sana"


Gilang hanya diam mematung menatap Luke.

__ADS_1


__ADS_2