
Luke mengunyah pelan potongan kecil ayam goreng di dalam mulutnya sambil terus menatap Embun sangat dalam.
"Enak, kan?" Embun bertanya dengan mata berkilau riang.
Luke hanya diam dan terus menatap Embun dengan sangat dalam. Lalu, ia mengangkat tangannya untuk melepas topi Embun dan mencium belahan rambutnya Embun.
Embun tersenyum dan berkata, "Aku suka ayam goreng tepung kayak gini, Mas. Kriuknya pas, asyik dikunyah dan gurih rasanya. Mas mau lagi? Aaaaaaa!" Embun mendongak sembari mengarahkan tangan yang berisi sayap ayam goreng ke Luke.
Luke sontak menutup mulut dengan tangan kanan dan menggeleng. Ia kemudian memasang topi ke kepalanya Embun dan bergegas berputar setengah badan sambil berkata, "Habiskan kalau kamu menyukainya"
Melihat suaminya berjalan pelan meninggalkannya, Embun sontak berlari kecil untuk menyusul langkah pelan suaminya. Saat ia berhasil mensejajari suaminya, ia menoleh untuk bertanya, "Kalau gitu, Mas pengen jajan apa? Aku traktir"
Luke yang belum pernah ditraktir oleh makhluk yang bernama wanita, sontak mengentikan langkahnya dan berputar setengah badan untuk menatap Embun.
Embun ikutan berputar setengah badan untuk berhadapan dengan suaminya.
"Kamu beneran mau nraktir aku?"
Embun menatap Luke dengan wajah semringah dan berkata, "Iya Mas. Beneran. Mas, pengen apa? Bilang aja!"
Luke tersenyum lebar. Lalu dengan mata berkilat penuh semangat, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Namun, akhirnya ia kembali menatap Embun dengan kerucut di bibir.
"Kok malah cemberut, Mas? Mas bingung, ya?"
Luke mengangguk pelan dan dengan masih mengerucutkan bibirnya, ia berucap, "Aku belum pernah jajan dan semua makanan yang ada di sini yang aku kenal cuma Siomay. Tapi, aku nggak suka Siomay"
Embun lalu tersenyum dan langsung menggandeng lengan Luke untuk kembali mengajak Luke berjalan sambil berkata, "Ada pisang kipas, ada cireng goreng, ada batagor kalau nggak suka Siomay, ada crepes, ada aneka minuman kekinian dan jus buah, ada Penmo. Semuanya enak"
"Apa itu Penmo?" Luke menoleh ke Embun dengan menautkan kedua alisnya.
Embun berucap riang dengan masih menggandeng lengan suaminya, "Penmo itu singkatan dari Penthol Monster"
"Apa itu Penthol dan kenapa ada Monster di sini?" Luke semakin menautkan kedua alisnya.
"Penthol itu bulatan daging sapi dicampur tepung dan ada kata Monster di belakangnya karena rasanya, super pedas" Sahut Embun dengan senyum geli.
Melihat senyum geli di wajah Embun yang tampak sangat menggemaskan di mata Luke, Luke langsung menarik pinggang Embun dan saat ia ingin menarik masker Embun karena ia ingin mencium bibir Embun, seseorang menyapanya, "Tuan Luke Donovan, kenapa Anda bisa berada di sini?"
Luke menggeram kesal dan dengan terpaksa ia melepaskan Embun dari pelukannya untuk menoleh ke asal suara.
Luke menautkan alisnya sambil bertanya, "Aku pakai topi dan masker saat ini. Kenapa kau masih bisa mengenali aku?"
"Outfit Anda bermerk semua, postur tubuh Anda juga sangat khas, selalu mencolok di mana pun Anda berada. Tentu saja saya bisa dengan mudah mengenali Anda, Tuan Luke Donovan" Sahut pria muda yang berdiri di depan Luke dan Embun dengan senyum ramah.
Sewaktu pria itu melirik Embun, Luke sontak memeluk bahu Embun dan berkata, "Ini Istriku. Ibu dari anakku"
"Ooooo, lalu di mana Putra Anda?" Pria itu berucap sembari mengedarkan pandangannya. Lalu, ia kembali menatap Luke dengan senyum yang menyimpan tanya di saat ia tidak menemukan satu anak kecil pun berlarian di sekitar mereka.
Luke mengusap perut rata Embun sambil berkata, "Anakku masih ada di dalam sini. Ngapain kamu celingukan barusan?"
"Ah, maafkan saya! Hehehehe. Saya pikir Putra Anda sudah besar. Senang berkenalan dengan Anda Nyonya........."
Luke yang menyambut uluran tangan pria itu sambil berkata, "Embun Sanjaya. Nama Istriku, Embun Sanjaya. Istriku tangannya penuh dengan ayam goreng. Jadi, nggak bisa salaman"
Embun mengangguk ke pria yang berdiri di depan suami dan dirinya sambil berucap, "Senang berkenalan dengan Anda"
"Ah, baiklah. Mari mampir di kedai saya"
"Kamu punya kedai apa?" Luke berucap sembari mendaratkan ciuman di puncak topinya Embun.
"Mari ke sana dulu" Pria muda itu mengajak Luke dan Embun mengikutinya.
"Cireng?" Luke menautkan kedua alisnya.
"Iya. Ini cireng bukan sembarang cireng. Ini cireng spesial. Lain dari yang lain dan......."
"Kenapa namanya aneh?" Luke bertanya sembari menarik Embun duduk di atas pangkuannya.
Embun menoleh kaget Ke Luke dan langsung bertanya, "Kenapa harus dipangku begini, Mas? Aku malu"
"Kursinya bersih atau nggak, kan, kita nggak tahu" Luke berbisik di telinga Embun dan setelah mencium cuping telinga Embun, ia menarik wajahnya untuk bertanya ke pemilik kedai itu, "Apa itu cireng?"
"Anda akan tahu sebentar lagi. Saya akan sajikan di depan Anda dan........"
"Bau apa ini? Kenapa baunya aneh? Makanan apa itu?"
__ADS_1
"Enak kok baunya. Sedap" Sahut Embun.
"Iya, lezat, kan, bau cireng ini, Nyonya?" Pemilik kedai itu menoleh ke Embun dan Embun mengangguk penuh semangat tanda setuju.
Luke langsung menyusupkan wajahnya di dada Embun dan berkata di sana, "Baunya aneh. Aku nggak mau makan makanan itu"
Embun terkekeh geli dan sambil mengusap-usap rambut suaminya, ia berkata, "Iya, Mas, iya. Karena sudah terlanjur digoreng, aku yang akan memakannya"
Luke sontak menegakkan kepalanya untuk bertanya ke pemilik kedai, "Minyak kamu bagus dan jernih, kan? Wajannya juga baru?"
"Iya, Tuan. Saya sudah masak untuk Anda cukup lama. Saya kenal betul dengan Anda. Saya pakai minyak goreng baru dan wajan khusus, nih"
"Pria itu dulunya chef pribadi kamu, ya, Mas?"
"Hmm" Luke kembali menyusupkan wajahnya di dada Embun, karena ia tidak tahan dengan bau cireng yang menurut dia baunya aneh.
Embun lalu berkata ke si pemilik kedai, "Pak, saya akan ajak Suami saya lihat-lihat buku sebentar, ya?! Nanti kita pasti ke sini lagi untuk ambil cirengnya"
"Baik Nyonya"
Embun lalu bangkit berdiri dan sambil menggandeng tangan Luke, ia berkata, "Kalau Mas nggak tahan dengan bau cireng, Kita lihat-lihat buku dulu, yuk! Kita balik lagi ke sini pas cirengnya udah matang"
"Hmm" Luke mengikuti Embun bejalan masuk ke dalam untuk melihat-lihat buku.
"Aku suka baca buku, Mas. Aku sering pinjam buku di perpustakaan, karena nggak ada uang untuk beli buku. Aku juga sering mendekam lama di perpustakaan, pas aku sedih" Embun berucap sembari memilih beberapa buku dongeng anak.
Luke mencium punggung tangan Embun dan berkata, "Kalau gitu, ambil aja semua buku yang kamu suka"
"Mas, kan, nggak bawa uang tunai. Aku hanya akan beli tiga buku dongeng anak ini aja untuk aku bacakan ke anak kita dan satu buku novel untuk aku baca pas nunggu Mas rapat"
"Kenapa cuma ambil empat buku?"
"Uangku cuma tersisa dua ratus dua puluh lima ribu rupiah plus uang recehan. Tiga buku dongeng dan satu buku novel ini aja totalnya udah seratus lima puluh ribu rupiah. Kita, kan, masih harus ambil cireng. Jadi, nggak boleh ambil buku lagi"
"Mana bisa begitu?" Luke sontak menyipitkan mata.
"Iya, harus begitu, Mas. Kita harus cermat di tengah keterbatasan. Kalau aku sudah terbiasa berhitung cermat kayak gini" Sahut Embun sembari melangkah menuju ke kasir.
Luke sontak menoleh tajam ke keberadaannya Rendy.
"Ambil semua buku dongeng anak dan buku novel yang ada di sini"
"Baik, Tuan" Rendy.
"Lalu, persiapan di restoran gimana? Aku nggak mau acara pernyataan cintaku berantakan"
"Semua udah perfect, Tuan" Sahut Rendy.
"Bagus"
Rendy tersenyum lebar dan segera berputar badan untuk menjalankan perintah tuan mudanya.
Luke menggamit pinggang Embun setelah Embun menyelesaikan transaksinya di meja kasir.
"Aku beli ini, Mas"
"Mug? Untuk apa? Di rumah banyak mug yang lebih bagus dari ini"
"Ini mug couple, Mas. Satu untuk aku dan satu untuk kamu. Ini benda couple pertama kita. Kita pakai minum bareng mulai besok, ya?"
Luke seketika itu menghentikan langkahnya dan langsung memeluk erat Embun. Ia segera melepas topi juga masker Embun.Tanpa melihat kanan dan kiri, Luke kemudian menarik tengkuk Embun untuk mencium bibir Embun.
Embun tersentak kaget dan langsung mendorong pelan dada Luke sembari berkata, "Nggak boleh mencium bibir di area kampus, Mas"
Luke memasang kembali topi dan maskernya Embun. Dan sembari melepaskan pelukannya ia berkata, "Aku hanya ingin berterima kasih dengan benar karena kamu udah belikan aku barang couple. Aku sangat suka. Terima kasih, ya"
Embun berucap, "Sama-sama, Mas"
Menenangkan cewek nangis pakai ciuman lalu berterima kasih yang benar juga pakai ciuman. Kira-kira apalagi, ya, yang pakai ciuman? Batin Embun.
Setelah mengambil cireng, Luke mengajak Embun pulang dengan alasan capek. Padahal sebenarnya ia ingin segera menyatakan perasaan cintanya ke Embun di sebuah restoran.
"Ini bukan jalan menuju ke rumah, Mas. Kita mau ke mana?" Embun menoleh ke Luke dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Aku akan mengajakmu ke makam Mamaku sebentar
__ADS_1
Embun tersentak kaget, namun memilih untuk tidak mengeluarkan kata apapun.
"Aku belum pernah mengajak satu wanita pun ke makam Mamaku. Kamu yang pertama" Luke menoleh sekilas ke Istri mungilnya yang masih asyik mencuil cireng goreng.
"Aku nggak nanya" Embun mengunyah cireng sembari menoleh ke Luke.
"Semua tanya tersirat di mata kamu kamu tadi" Luke berucap sambil melirik cireng yang ada di atas pangkuannya Embun
Embun menangkap lirikan suaminya dan dengan wajah semringah ia bertanya, "Mas, mau? Akhirnya Mas pengen juga, kan? Enak banget ini. Aku suapi, ya? Aaaaaaa!"
Luke sontak menutup mulut dengan tangan kiri dan tangan kanan mencengkeram erat kemudi mobil.
"Kok tutup mulut? Enak, kok ini. Enak banget malah"
"Aku nggak mau. Cepat habiskan!" Luke menggeleng sambil berucap dengan mulut yang masih tertutup tangan kiri.
"Kalau nggak mau kenapa melirik ke sini terus tadi?" Embun bergumam dengan mengerucutkan bibirnya dan menatap ke depan.
Luke tiba-tiba meminggirkan mobilnya dan dengan mesin yang ia biarkan menyala, pria tampan itu membuka sabuk pengamannya dan langsung menoleh ke istri mungilnya untuk berkata, "Aaaaaaa, aku mau mencicipi makanan yang bentuk dan baunya sangat aneh itu"
Embun menoleh ke Luke dengan wajah semringah dan langsung berkata, "Beneran mau mencicipi cireng ini?"
"Hmm. Aaaaaa" Luke membuka mulut, tapi menutup erat kedua mata dan memencet hidungnya.
"Aku akan suapi Mas kayak gini aja biar Mas buka mata"
Luke spontan membuka matanya dan langsung tersenyum penuh arti saat ia melihat Embun menggigit sebuah cireng dan mengarahkannya ke Luke.
Luke menarik tangannya yang ia pakai untuk memencet hidungnya dan langsung memakai kedua tangan untuk menangkup wajah Embun, lalu ia menggigit cireng yang ada di bibir Embun. Luke menarik kembali wajahnya untuk mengunyah cireng yang masuk ke dalam mulutnya sambil menatap dalam wajah Embun.
Embun menarik cireng dari mulutnya untuk bertanya ke suaminya, "Gimana? Enak, kan?"
"Hmm" Sahut Like sembari mengusap bibir Embun dengan ibu jarinya.
"Semua jajanan itu enak, Mas. Aku suka semuanya. Kalau Mas, lebih suka mana? Ayam goreng ala cireng?"
"Aku lebih suka ini" Luke berucap sembari mengusap bibir Embun dengan ibu jarinya. Lalu, tanpa menunggu lama, Luke menyapu bibir istrinya secara perlahan, menangkupkan pipi pasangan, miringkan sedikit kepala Anda ke kiri atau ke kanan, membuka mulut, lalu memejamkan mata.
Embun menikmati ciuman itu dan mengikuti naluri dia selanjutnya.
Luke kemudian memeluk erat tubuh mungil istrinya seraya mengelus punggungnya Embun.
Di detik berikutnya, Embun membiarkan tangan Luke berada di atas dadanya. Tangan Luke bermain-main asyik di dada itu sambil terus mengajak istrinya berciuman.
Beberapa detik kemudian, Luke melepas ciuman dan pelukannya sambil berkata, "Dengan sangat terpaksa aku harus melepasmu" Luke kemudian merapikan rambut dan dressnya Embun sambil berkata, "kalau aku tidak hentikan, takutnya kita akan bermalam di sini"
Embun merona malu dan langsung menepuk pelan dada bidang suaminya.
Kenapa.dia suka kayak gini. Menyiksa aku dengan kenikmatan lalu melepaskan aku begitu saja? Batin Embun
Luke terbahak-bahak sembari memakai kembali sabuk pengamannya. Sewaktu ia melakukan kembali mobil mewahnya, Luke berkata, "Cireng itu enak kalau makannya kayak tadi"
Embun langsung mencubit mesra baju Luke.
Luke mengaduh sambil berkata, "Wah, sekarang udah berani cubit aku, ya?"
Embun tersentak kaget dan langsung berucap, "Maaf, refleks. Maafkan aku, Mas, aku nggak sadar nyubit, Mas"
Luke langsung menopangkan tangan kiri di atas kepala Embun sembari berkata, "Jangan minta maaf terus! Aku bersedia kamu cubitin terus, kok"
Embun menoleh ke Luke dengan senyum cantiknya. Luke langsung menggenggam tangan Embun dan menciumi tangan itu.
Beberapa jam kemudian, Luke dan Embun berdiri di depan pusara mamanya Luke.
Luke langsung berkata, "Ma, Ini Embun Sanjaya. Dia istri Luke. Calon Ibu dari anak Luke, Ma" Lalu, pria tampan itu meletakkan buket bunga mawar putih yang sangat besar di atas pusara mamanya.
"Senang berkenalan dengan Tante" Embun menangkupkan tangan di depan dadanya lalu mengangukkan kepala.
"Kok Tante? Mama dong manggilnya. Mamaku, kan, Mama mertua kamu" Luke menoleh ke Embun.
Embun langsung berkata, "Ah, iya, Ma"
Keduanya kemudian diam mematung, namun batin keduanya menggumamkan doa dan harapan mereka masing-masing.
Luke berkata di dalam hatinya, Ma, ini Istri Luke Ada anak Luke di dalam perut wanita mungil yang cantik ini. Aku nggak nyangka, Ma, aku bisa jatuh cinta dengannya secepat ini. Ma, sebentar lagi Luke akan menyatakan cinta Luke ke wanita mungil yang imut ini. Semoga pernyataan Luke lancar dan Embun juga mencintai Luke.
__ADS_1
Embun berkata di dalam hatinya, Ma, buat Embun untuk bisa lebih memahami Putra Tante yang aneh ini, hehehehehe. Tapi, Putra Tante adalah pia yang bertanggung jawab, baik dan lembur kok. Ajari Embun dari atas sana untuk bisa menjadi Istri dan Ibu yang baik.