Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Manis


__ADS_3

"Hasilnya adalah.........." Dokter Leon menatap Luke dengan wajah sedih.


Luke langsung menggenggam erat tangannya Embun dan bertanya, "Sial! Katakan saja! Jangan berlama-lama kayak gitu"


Dokter Leon menghela napas sangat berat kemudian berkata, "Hasilnya, lutut kamu terkena kanker stadium satu dan......."


"Nggak mungkin!" Luke dan Embun langsung menyemburkan kata itu secara bersamaan.


"Saya juga tidak mengharapkannya. Tapi, kenyataan berbicara lain"


Luke langsung menyusupkan wajhanya di dada Embun untuk menyembunyikan rasa takutnya akan penyakit ganas itu.


Embun mengelus kepala suaminya sambil bertanya ke dokter Leon, "Lalu, apa yang harus kita lakukan, Dok?"


"Tuan Luke harus opname saat ini juga. Menjalani serangkaian tes lagi untuk persiapan operasi pengangkatan sel kanker itu. Setelah operasi, Tuan Luke masih harus melakukan kemoterapi seminggu sekali dan menjalani tes lab setiap hari setelah kemoterapi. Jadi, saya sarankan untuk satu tahun ke depan, Tuan Luke tidak diijinkan untuk bekerja"


"Mas, mau, ya, menjalani serangkaian tes itu?! Demi Mas sendiri, Nenek, aku dan Dino"


Luke yang masih merangkul pinggang Embun dan menyusupkan wajahnya di dada Embun, menganggukkan kepalanya.


Embun mencium kepala suami tampannya kemudian berkata, "Baiklah. Saya akan mendampingi Mas Luke untuk melakukan rangkaian pengobatan medis itu"


Sejak hari itu, Luke Donovan tidur di ruang rawat inap VVIP rumah sakit milik neneknya untuk mulai menjalani serangkaian tes sebelum dioperasi.


Dino dan Maria Donovan muncul di kamar rawat inap itu. Dino langsung berlari dan melompat ke atas ranjang. Lalu, anak kecil tampan itu memeluk apanya dan berkata, "Aku mau tidur di sini malam ini. Aku mau tidur sama Ayah"


Luke memeluk tubuh Dino dan sambil menciumi pucuk kepalanya Dino, pria tampan itu tertawa bahagia dan berkata, "Tentu saja boleh. Dino akan tidur di sini malam ini sama Ayah"


"Tapi, Mas........"


Luke langsung meletakkan jari telunjuk kirinya di bibir sebagai bahasa isyarat untuk diam dan tidak melakukan protes.


Maria Donovan menyentuh pundak Embun dan berbisik di telinga Embun, "Biarkan saja Dino di sini sampai ia tidur. Setelah Dino tidur, Nenek akan bawa Dino pulang"


Embun langsung memeluk Maria Donovan dan berkata, "Terima kasih, Nek"


Maria membalas pelukannya Embun dan berkata, "Selama kamu mendampingi Luke di rumah sakit, Nenek yang akan menjaga Dino. Tenang saja dan jangan khawatirkan Dino. Dino pasti aman sama Nenek"


Embun menganggukkan kepala di dalam pelukannya Maria Donovan.


"Ayah" Dino mendongak untuk melihat wajah ayahnya.


"Hmm?" Luke mengecup kening Dino.


"Ayah bisa ceritakan dongeng, kan?"


Embun langsung mengelus kepala putra kesayangannya dan berkata, "Sayang, Ayah harus istirahat. Ayah besok harus.........."


"Bisa. Ayah tahu dongeng tentang siput yang jatuh cinta sama Singa"

__ADS_1


"Jatuh cinta?"


"Mas, Dino masih kecil, kok, cerita tentang jatuh cinta" Embun menatap Luke dengan helaan napas panjang.


"Nggak papa dong. Aku akan kasih pelajaran tentang cinta ke Dino mulai sekarang. Dino dengarkan Ayah, ya, cinta itu adalah kasih sayang. Seperti Bunda mencintai Ayah dan Ayah mencintai Dino"


"Oooooo"


"Ayah bilang kalau Bunda mencintai Ayah dan Ayah mencintai Dino. Terus siapa yang mencintai Bunda? Nggak ada, nih, yang mencintai Bunda?"


"Aku mencintai Bunda" Luke dan Dino menatap Embun secara bersamaan dan mengucapkan kata itu dengan kompak. Lalu, kedua laki-laki tampan itu meringis di depan Embun.


Embun langsung tergelak geli dan berkata, "Bunda seperti melihat orang kembar kali lihat kalian berdekatan kayak gitu"


Luke dan Dino beristatap lalu kedua laki-laki tampan tergelak bahagia dan berucap secara bersaman lagi, "Kita memang kembar" Dan keduanya kembali tergelak bahagia.


Embun tertawa riang di depan Luke dan Dino, namun jauh di dalam hatinya ia merasa was-was. Besok Luke harus menjalani operasi pengangkatan kanker stadium satu yang bersarang di lututnya Luke.


Embun menyiapkan obatnya Luke yang harus diseduh saat Luke mulai bercerita tentang siput yang jatuh cinta pada Singa.


Embun langsung menoleh untuk protes, "Mas! Dino masih kecil" Saat ia mendengar Luke berkata, "Siput itu mencium bi........."


"Mencium bi......apa, Yah?"


Luke melihat Embun dan sambil meringis ke Embun dia kemudian berkata, "Bihun. Siput itu mencium aroma bihun yang sedang dimasak oleh si Singa"


Embun sontak tergelak geli mendengar cerita Luke yang ngawur dan sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya Embun kembali fokus menunggu air masak untuk menyeduh obat.


Luke langsung melihat Embun dan berkata, "Bunda tolong Ayah, hiks, hiks, hiks, anak kamu banyak nanya, nih"


Embun terkekeh geli dan menoleh ke Luke untuk berkata, "Salah sendiri bikin cerita yang aneh kayak gitu"


Dino ikutan tekekeh geli kemudian berkata, "Oke. Dino nggak akan banyak nanya lagi. Ayah jangan mewek lagi, ya?!" Dino mengusap pipi ayahnya.


Luke tersenyum dan berkata, "Oke. Berarti ceritanya lanjut, nih?"


"Iya, dong" Sahut Dino.


"Oke, dong" Sahut Luke.


Cerita Like terpaksa berhenti di bagian Siput memberi kado ke Singa, saat Embun berkata, "Ayah minum obat dulu, ya?!"


Dino langsung menarik diri dari pelukan Papanya dan memberikan tempat untuk bundanya agar bisa duduk di tepi ranjang dan menyuapkan obat seduhan ke ayahnya.


Dino kemudian menutup hidungnya dan merosot turun sambil berkata, "Ayah, maafkan Dino. Dino menjauhi Ayah dulu, karena obat Ayah itu baunya sangat aneh"


"Ayah tahu. Ayah, kan, lebih dulu menutup hidung Ayah sebelum kamu menutup hidung kamu"


"Hmm. Anak dan Ayah, kok, sama persis kayak gini. Ayo buka mulut, Mas! Aaaaaaaa!"

__ADS_1


Luke masih menutup hidungnya dan tidak mau membuka mulutnya.


"Mas, buka mulut!"


Luke merapatkan bibir dan dengan masih menutup hidungnya, Pria tampan itu menggelengkan kepalanya dengan sangat kencang.


Dino langsung berteriak dari tempat ia duduk, "Ayah harus minum obat biar cepat sembuh. Ayah janji mau ajak Dino ke Jepang, kan?"


"Tuh, dengar nggak kata anak kamu. Ayo, Aaaaaaa!"


Luke masih menggelengkan kepala, menutup hidung dan merapatkan bibirnya.


"Masak Ayah kalah sama Dino" Dino kembali berteriak dari tempat ia duduk. "Dino kalau minum obat gampang, lho. Tanya sama Bunda"


"Tuh, nggak malu sama anak kamu? Anak kamu gampang banget kalau minum obat"


"Soal itu berarti Dino nurun dari kamu. Aku nggak suka minum obat kalau nggak dibikin kapsul. Aku benci obat seduhan. Aku nggak mau minum dan......"


"Sebentar!" Embun meletakkan cangkir berisi obat seduhan di atas nakas dan Luke langsung bertanya dengan wajah heran, "Kau mau apa?"


Embun mengelus pipi suaminya dengan cepat sambil berkata, "Sebentar!"


Luke menatap gerak-gerik Embun itu dengan heran


Embun berlari untuk menggendong Dino sambil berkata, "Dino ikut Tante Mona jalan-jalan ke taman dulu, ya?! Biar Ayah minum obat dulu"


"Hmm"


Embun membawa Dino keluar dan Mona yang tengah duduk di kursi tunggu di depan kamar, langsung menghampiri Embun, "Ada apa Nyonya?"


"Mbak, tolong bawa Dino jalan-jalan di taman atau beli es krim dulu. Ayahnya mau minum obat"


"Baik Nyonya"


Setelah menyerahkan Dino ke Mona, Embun kembali masuk ke dalam kamar.


Melihat istrinya melangkah ke arahnya dengan senyum penuh arti, Luke langsung bertanya, "Sial! Apa yang kau pikirkan saat ini, Sayang?"


Embun mengambil kembali cangkir berisi obat seduhan itu dan bertanya, "Kalau minumnya dari mulutku, mau?"


"Wah! Mau dong. Tapi, kamu juga akan ikut merasakan rasa nggak enak dari obat itu, Sayang"


"Nggak papa, Mas. Yang penting kamu mau minum obat ini. Aku,kan, Istri kamu. Susah dan senang kita tanggung bersama. Kalau kamu harus merasakan obat yang nggak enak ini, aku juga nggak keberatan untuk ikut merasakannya. Sekarang aku suapi Mas minum obat ini pakai mulutku, ya?!"


Luke langsung mengangguk penuh antusias.


Embun tersenyum dan menyeruput satu sendok obat seduhan itu, menahannya di dalam mulutnya, dan dia tempelkan bibirnya untuk memasukkan obat itu ke mulut Luke. Begitu seterusnya sampai obat itu habis tak bersisa.


Embun meletakkan cangkir yang telah kosong di atas nakas, lalu menatap suaminya, "Nggak begitu pahit, kan, obatnya"

__ADS_1


Luke kemudian mengusap bibir Embun dan sambil mengangguk ia berkata, "Itu karena bibir kamu manis, jadi obatnya ikutan terasa manis"


Embun langsung memberikan senyum penuh cinta ke suaminya.


__ADS_2