Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Cantik


__ADS_3

Tiba-tiba, Luke memegang pergelangan tangan Embun. Embun sontak menarik pergelangan tangannya dan mendelik, "Kenapa Anda kurang ajar? Anda megang pergelangan tangan saya tanpa permisi"


"Cih! Siapa juga yang ingin megang kamu. Lalu, kau bilang apa aku barusan? Kurang ajar? Hei! Kamu itu Istriku. Aku berhak atas kamu. Berhak atas seluruh tubuh kamu"


Embun langsung mendekap tubuhnya dan berkata dengan wajah panik, "A.....apa maksud Anda dengan berhak atas tubuh saya?"


"Cih! Sebenarnya apa isi kepala kamu yang mungil itu. Aku berhak mengubah kamu dan aku ingin bawa kamu ke salon sekarang juga"


"Ke salon? Un.....untuk apa?"


"Aku silau lihat rambut merah kamu. Aku juga kliyengan lihat rambut bergelombang kamu"


"La....lalu?!" Embun seketika tersinggung mendengar ucapan Luke. Dia sontak bangkit berdiri dan berkacak pinggang.


Luke menautkan alisnya dan berkata, "Kau berani berkacak pinggang di depan suami kamu? Kau mau berubah jadi jambu monyet? Kepala kamu ada di bawah, karena kualat? Aku ini lebih tua dari kamu dan aku ini suami kamu"


Embun langsung menurunkan tangannya dan berkata, "Maaf" Lalu ia menundukkan kepala.


"Kenapa kau menundukkan kepala? Kau takut sama aku atau benci melihatku?"


Embun diam membisu dan hanya berani berucap di dalam hati, saya benci sekaligus takut sama Anda. Dasar pria aneh.


"Ayo ke salon!"


Embun mundur selangkah sembari berkata, "Nggak mau!"


"Mau aku gendong, aku panggul atau aku bopong?"


"A......apa maksud Anda?"


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap membawamu ke salon sekarang. Mau nurut atau aku paksa? Mau aku gendong, aku panggul, atau aku bopong?"


Embun langsung menggeleng dan berucap, "Baiklah. Saya nurut"


"Nah! Gitu kan, enak"


Embun yang berjalan di belakang Luke, mendelik dan bergumam di dalam hatinya, enak gundulmu.


Beberapa jam kemudian, Luke menyuruh Embun duduk di kursi salon mewah dan berkata ke pemilik salon, "Aku ingin rambutnya dikembalikan ke warna hitam alami rambutnya dan dibuat lurus. Tapi, dia hamil. Apa tidak berbahaya kalau ia melakukan semua treatment itu?"


"Tidak berbahaya, Tuan. Kami akan pakai bahan super aman, tapi harganya sangat mahal, Tuan"


"Aku akan bayar berapa pun harganya kalau itu bagus untuk dia dan aman untuk anakku"


"Ini siapanya Tuan? Imut sekali cewek ini"


"Dia Istriku"


"Wah, Anda pandai memilih Istri, Tuan"


Spontan Embun dan Luke bersitatap lewat kaca.


Embun langsung menunduk canggung, karena kata istri masih terdengar aneh di telinganya.


Sedangkan Luke sontak memerah malu dan sambil berdeham dia langsung berputar badan untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Setelah ia duduk di kursi penunggu yang berada tidak jauh di belakang kursi yang dipakai duduk oleh Embun, dia menyilangkan kaki dan langsung berkata, "Cepat kerjakan! Aku tunggu di sini sampai selesai"

__ADS_1


Embun tersentak kaget dan menoleh ke belakang, Luke langsung berucap, "Apa?! Jangan nengok-nengok dan jangan protes! Pokoknya aku akan tunggu di sini sampai selesai"


Embun kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan memutuskan untuk diam seribu bahasa. Embun memilih untuk mengalah daripada kena imbas kemarahan suaminya yang suka seenak hati itu.


"Anda akan menunggunya?" Pemilik salon yang memiliki wajah tampan, berjakun, namun lemah gemulai itu, menautkan alisnya ke Luke


"Iya. Aku akan tunggu di sini. Aku akan awasi kamu. Kalau sampai anak dan Istriku kenapa-kenapa, aku akan langsung tutup salon ini untuk selamanya"


"Ah! Baiklah. Terserah Anda saja Tuan. Tapi, jangan rewel, lho, ya, proses treatment pengembalian warna alami rambut dan smoothing butuh waktu selama empat jam"


"Aish! Kenapa masih ceriwis terus?! Cepat kerjakan!"


"Baik, Tuan"


Di menit yang ke tujuh puluh dua, Luke ketiduran di atas sofa dalam posisi duduk dan kepala bersandar di sofa.


Banyak pelanggan salon menoleh ke Luke dan saat mereka bergumam, "Pria itu tampan sekali. Aku mau berkenalan dengan dia kalau dia bangun nanti"


Pemilik salon yang masih mengerjakan rambutnya Embun, langsung menoleh ke pelanggan-pelanggan itu dan berucap, "Jangan melirik pria tampan itu! Istrinya ada di sini. Nih, Istrinya. Eike baru lurusin rambutnya, nih"


Salah satu dari pelanggan-pelanggan itu langsung tersenyum ke Embun dengan canggung dan berkata, "Anda beruntung Mbak, suami Anda mau menemani Anda nyalon dan menunggu Anda sampai ketiduran kayak gitu. Dia nggak hanya tampan, tapi juga perhatian. Ah! So sweet banget"


Embun hanya tersenyum canggung dan langsung berkata di dalam hatinya, so sweet apa? Dia hanya mengkhawatirkan anaknya.


Pelanggan itu langsung duduk di kursi yang ada di sebelah kanannya Embun dan kembali berkata saat ia menemukan Embun mencuri pandang lewat cermin, "Anda pasti sangat mencintainya. Ah! Kalian so sweet banget"


Embun kembali mengulas senyum canggung dan langsung berkata di dalam hatinya, cinta apa? Yang ada, ku eneg sama sikap dominannya.


Pemilik salon menyentuh bahu Luke sambil berkata, "Tuan, sudah selesai. Bangun dan lihatlah! Istri Anda tambah cantik sekarang"


Luke membuka kedua kelopak mata, menegakkan kepala dan saat ia menatap Embun, dia sontak menoleh ke pemilik salon, "Mana Istriku? Kenapa dia hilang? Kau culik dia, ya?! Atau kau biarkan dia kabur bawa anakku?!" Luke langsung bangkit berdiri dan mencengkeram kerah baju pemilik salon itu.


Luke menoleh ke Embun dan seketika itu dia mematung. Embun tampak sangat cantik dengan rambut hitam lurus sebahu dan tanpa kacamata tebal.


"Saya ajari dia pakai kontak lensa, Tuan. Sangat cantik, kan? Saya buat Istri Anda secantik ini, kok, saya malah mau dikasih bogem mentah tadi"


"Ehem!" Luke langsung berdeham kencang dan berucap, "Biasa aja. Berapa total semuanya?"


"Mari ikut saya ke kasir, Tuan. Total semuanya, lima juta rupiah"


Embun memakai kembali kacamatanya dan berdiri di pintu masuk, menunggu luke selesai bertransaksi di meja kasir salon mewah itu.


Luke sontak menyemburkan protes, "Kenapa kamu pakai kacamata kamu lagi?"


"Kalau nggak pakai, saya nggak kelihatan apa-apa, Tuan"


"Oke. Kita pulang dulu. Besok aku akan ajak kamu ke optik untuk pasang kontak lensa"


Embun mengikuti langkah kaki Luke sembari berkata, "Nggak usah, Tuan. Saya nggak tahu cara pakai kontak lensa dan......"


Luke menoleh ke Embun yang tengah membuka pintu mobil dan langsung berkata, "Aku nggak mau dengar alasan kamu. Pokoknya mulai besok, kamu harus pakai kontak lensa"


Embun kembali menghela napas panjang dan memilih untuk diam membisu.


Luke menyetir mobil sembari sesekali melirik Embun dan dia berkata di dalam hatinya, gadis ini cantik juga kalau berambut lurus hitam dan tidak pakai kacamata tebal.

__ADS_1


Luke kaget saat ia melihat neneknya, "Lho, Nenek, kok, ke sini?"


"Nenek akan tidur di sini mulai malam ini?"


"Kok bisa begitu? Nenek, kan, punya rumah sendiri dan aku udah gede, nek. Ngapain ditemani di sini?"


"Nenek akan awasi kamu. Nenek akan tidur di kamar yang ada di sebelah kamar kalian dan mengawasi kalian. Kalian nggak boleh tidur di kamar terpisah!"


"Kok gitu? Aku dan dia, kan, nggak saling kenal, Nek. Mana bisa kami tidur satu kamar"


"Setuju" Sahut Embun tanpa ia sadari, karena baru pertama kalinya bagi Embun dia setuju dengan pemikiran pria aneh itu.


Neneknya Luke menoleh ke Embun dan Embun langsung menunduk sambil berucap, "Maafkan kelancangan saya, Nek"


"Nggak papa" Neneknya Luke mengelus bahu Embun dan ia berkata, "Sana buruan masuk ke kamar sama suami kamu!" Neneknya Luke menautkan tangan Luke ke tangan Embun. Lalu dengan wajah semringah, Maria berkata ke Luke, "Ajak Istri kamu masuk ke kamar! Ini sudah malam. Sudah waktunya untuk kalian beristirahat"


Luke terpaksa masuk ke dalam kamar dengan bergandengan tangan.


Saat pintu tertutup, Luke dan Embun saling menarik tangan dengan canggung.


Mereka berdiri dalam diam tanpa saling menatap selama sepersekian detik.


Luke kemudian berdeham dan berkata, "Ganti baju dulu sana!"


"Kenapa harus ganti baju? Baju ini masih bersih"


"Kamu harus biasakan diri kamu tidur dengan baju tidur. Sana pergi ganti baju!"


Embun terpaksa menuruti perintah suaminya dan saat ia kembali menghadap suaminya dengan balutan selimut dan hanya menampakkan wajahnya saja, Luke menautkan alisnya, "Kenapa kamu kayak mumi gitu?"


"Ba.....baju tidurnya minim bahan semua dan saya nggak ingin Anda menatap saya dengan bahan seminim ini"


"Lalu kenapa kamu berdiri di depanku sekarang?"


"Sa....saya pengen nanya di mana letak sofanya? Saya tidur di sofa saja. Saya nggak ingin tidur satu ranjang dengan Anda"


"Cih! Aku juga nggak mau tidur satu ranjang denganmu. Kamu tidur aja di ranjang. Aku nggak ingin anakku tidur nggak nyaman. Aku akan tidur di sofa. Sofanya ada di balik tembok itu"


"Baik, Tuan" Embun langsung berbalik badan dan berlari kecil menuju ke ranjang.


Satu jam berlalu dan Embun terbangun dengan cucuran keringat. Dia menyibak selimut dan sambil melirik jam, ia bergumam, "Kenapa aku kegerahan? Dan ini masih jam dua belas malam"


Embun lalu menoleh ke nakas, di sana berjejer empat remote dengan warna biru, hijau, hitam, dan putih. Embun menatap keempat remote itu sambil bergumam, "Remote AC yang mana, ya? Ah! Aku coba aja satu-satu"


Embun mengambil remote berwarna biru dan dia terkejut saat ia memencet remote itu, semua gordyn kamar itu terbuka. Embun langsung memencet lagi remote itu dan semua gordyn kamar kembali tertutup.


Embun meletakkan remote biru, lalu mengambil remote berwarna hitam. Dia melonjak kaget saat ia memencet remote itu, ranjangnya berputar menghadap ke TV LED. Embun langsung memencet kembali remote itu dan ranjangnya kembali ke tempat semula.


Embun meletakkan remote hitam dan mengambil remote berwana hijau. Saat ia memencet remote itu, dia melihat semua lampu kamar menyala, karena panik dia justru memencet terus remote itu. Seketika itu juga terdengar suara Luke menggelegar kencang, "Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mainkan lampunya?! Ganggu aja!"


Embun langsung memencet kembali remote itu dan saat lampu kamar kembali redup, ia berkata, "Maafkan saya, Tuan. Saya mencari remote AC"


Luke kembali berteriak dari tempatnya, "Remote AC berwarna putih dan bentuknya paling kecil!"


"Baik, Tuan. Terima kasih" Embun lalu memencet terus tombol AC sampai ke suhu yang ia inginkan, lalu ia kembali tidur.

__ADS_1


Saat hamil, semua wanita akan selalu merasa kegerahan. Suhu AC yang sudah 14 derajat Celcius saja masih saja terasa panas. Tanpa Embun sadari ia menyibak selimutnya saat tidur.


Luke terbangun dengan menggigil kedinginan. Dia bangkit berdiri dan bergumam, "Kenapa dingin banget, nih?" Dia lalu melangkah ke ranjang untuk melihat remote AC. Namun, saat ia berjalan melintasi ranjang, Luke mendadak kesulitan menelan air liurnya sendiri sewaktu ia melihat istri sahnya yang baru ia nikahi beberapa jam yang lalu, tidur terlentang dengan balutan lingerie transparan. Pria tampan itu bergumam lirih, "Dia punya lekuk tubuh yang indah. Dia juga cantik ternyata"


__ADS_2