
Gilang masih terus berusaha menghubungi nomer telepon genggamnya Embun walaupun tidak pernah tersambung. Gilang mulai panik dan bergumam, "Semoga kamu baik-baik saja, Mbun"
Luke langsung menggamit pinggang ramping istrinya dan keluar dari dalam ruangan tersebut tanpa pamit.
Maria Donovan tersenyum senang, kemudian berkata, "Maklum lah, pasangan muda. Pengennya berduaan terus"
Semua yang hadir di ruangan itu sontak menggemakan tawa mereka, kecuali Soraya Donovan, Soraya Danuro, dan Daniel Donovan.
Soraya Danuro bangkit berdiri dan pergi keluar ruangan dari pintu samping tanpa pamit.
Luke melepaskan pinggang ramping istrinya untuk mengangkat panggilan masuk di telepon genggamnya.
Luke, "Halo? Tunggu sebentar" Luke menoleh ke istri mungilnya untuk berkata, "Aku tinggal sebentar, ya? Aku akan angkat telepon dulu"
Embun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Luke kemudian memanggil salah satu anak buahnya dengan ayunan tangan. Saat anak buahnya itu berdiri di depannya, Luke langsung berkata, "Jaga Istriku dengan baik! Jangan pernah meninggalkannya sampai aku datang! Aku akan terima telepon dulu. Kalau sampai Istri dan anakku kenapa-kenapa aku akan mengirim kamu ke UGD"
"Baik, Tuan" Anak buahnya Luke itu mengambil tempat untuk berdiri di samping kanannya Embun dan langsung memasang sikap waspada.
Embun berdiri di tempatnya dengan canggung. Lalu, ia menoleh ke wanita yang berdiri di sampingnya untuk bertanya, "Mbak, namanya siapa?"
Wanita yang memakai celana hitam dan jas wanita berwarna hitam pula, menyahut tanpa menoleh ke Embun, "Nama saya Mona, Nyonya muda"
"Saya Embun. Senang berkenalan dengan Anda, Mbak Mona"
"Saya juga" Sahut wanita yang mengaku bernama Mona itu tanpa menoleh ke Embun. Sikapnya masih sangat waspada.
"Mbak, saya ke toilet sebentar, ya. Pas hamil, tuh, bawaannya pengen ke belakang terus"
"Saya akan temani Anda masuk, Nyonya muda"
Embun mengangguk dan tersenyum.
Mona menunggu di depan bilik tempat Embun masuk. Saat Embun keluar dari dalam bilik itu, ada teriakan kencang dari arah kanannya, "Dasar wanita murahan! Berani benar kamu menggoda Luke dan........"
Mona langsung memasang badan di depan Embun sambil berkata, "Jangan mendekat! Kalau nekat mendekat, saya akan bertindak kasar pada Anda"
"Minggir kamu! Jangan ikut campur! Aku akan beri wanita murahan itu pelajaran, karena ia sudah berani merebut Luke dariku dan..........."
Plak! Tamparan keras mendarat di pipinya Soraya Danuro.
"Kau! Kenapa kau menamparku?" Soraya Danuro melotot ke Mona.
"Karena Anda, sudah menghina Nyonya muda"
Embun melangkah keluar dari balik badan Mona dan berdiri di sampingnya Mona untuk berkata, "Anda, kan, Istrinya Tuan Daniel Donovan? Kenapa Anda katakan kalau saya merebut Tuan Luke Donovan dari Anda?"
__ADS_1
"Dasar wanita sok suci! Luke adalah mantan pacarku. Aku dan Luke berpacaran saat kami masih sekolah dulu. Aku masih sangat mencintai Luke dan........."
"Bagaimana dengan Tuan Luke? Saya lihat kalau Suami saya sama sekali tidak peduli dengan Anda, tadi. Lalu, siapa wanita murahan yang seharusnya pantas mendapat julukan wanita murahan di sini?"
"Kau!!!!!!" Soraya Danuro melangkah maju hendak menjambak rambut Embun dan Embun dengan sigap menampar pipi Soraya sembari berucap, "Itu untuk menyadarkan Anda dari kehaluan Anda. Anda sudah memiliki suami, jadi berhentilah memikirkan Suami orang lain! Ayo kita pergi dari sini Mbak Mona"
Mona berjalan mundur untuk melindungi Embun. Saat Mona dan Embun sampai di luar toilet, Mona langsung mengajak Embun ke tempat semula, sebelum Luke Donovan kembali.
Embun berjalan sambil berkata, "Terima kasih, Mbak Mona, Anda sudah melindungi saya"
"Sama-sama Nyonya muda. Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya menjaga keselamatan Anda. Anda juga pemberani ternyata"
"Itu karena Anda, Mbak Mona. Saya berani karena Anda mengajak saya untuk berani"
"Terima kasih atas sanjungannya" Sahut Mona.
Soraya Danuro berteriak histeris di dalam toilet
Beberapa menit kemudian, Luke kembali ke tempat Embun menunggunya. Dia langsung menggandeng tangan Embun dan berjalan menuju ke mobil.
"Tuan, kenapa ada banyak orang mengikuti kita?"
Luke membantu Embun naik ke mobil sambil berkata, "Kamu udah aku umumkan sebagai Istriku. Mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi, akan selalu dikawal. Bahkan aku udah suruh Rendy merekrut supir pribadi untuk kamu dan supir itu sekaligus akan menjadi bodyguard kamu, jadi dia harus pandai beladiri. Kayak Dona"
"Tapi, saya tidak terbiasa dikawal, Tuan" Ucap Embun sembari menggeser pantatnya untuk memberi Luke tempat duduk.
Luke masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya Embun sembari berkata, "Kau harus terbiasa. Kau sekarang bukan lagi Embun Sanjaya. Kau sekarang ini adalah Embun Sanjaya Donovan. Istriku dan ibu dari anakku"
"Siapa Mona?"
"Yang tadi menjaga saya pas Anda pergi menerima telepon, Tuan. Namanya Mbak Mona. Mbak Mona menjaga saya dengan sangat baik, tadi"
"Oke. Kalau kamu suka sama pengawal yang tadi menjagamu, aku akan suruh Rendy menyuruh wanita itu untuk menjadi supir pribadi kamu"
"Terima kasih, Tuan" Sahut Embun.
Luke kemudian melepas jasnya dan dia memakai jasnya untuk menutupi paha Embun.
Embun tersentak kaget dan sontak menoleh ke kanan. Dia melemparkan tanya lewat tatapan matanya.
Luke berdeham lalu berucap, "Tadi yang nyetir Dona dan ada Nenek. Sebentar lagi yang masuk ke dalam mobil, bukan Dona melainkan Si Rendy. Aku nggak mau Rendy melihat paha kamu"
Embun tersenyum lalu berkata, "Terima kasih, Tuan. Tuan selalu menjaga saya dengan baik"
"Tentu saja aku akan selalu menjaga kamu. Aku ini Suami kamu" Luke berkata sembari merangkul bahunya Embun.
Embun mengulas senyum. Dia membiarkan Luke merangkul bahunya, karena ia selalu merasa tenang, setiap kali Luke merangkul bahunya.
__ADS_1
Rendy masuk ke dalam mobil dan sontak tertegun menatap Embun saat ia menoleh ke jok belakang.
"Ren! Jangan lama-lama menatap Istriku!"
"Maaf, Tuan. Saya pangling. Nyonya muda tampak cantik banget hari ini tanpa kacamata besar dan tebal"
"Terima kasih Pak Rendy" Sahut Embun dan Luke sontak menggertakkan giginya lalu berucap, "Dan jangan pernah memuji Istriku! Hanya aku yang boleh memuji Embun"
Embun menoleh ke suaminya untuk melemparkan tanya kenapa, namun sebelum dia berhasil melemparkan tanya, Luke menunduk mencium keningnya. Embun seketika menurunkan wajahnya, membeku dengan rona malu, dan lupa untuk melemparkan tanya.
Embun kemudian bertanya-tanya di dalam hati, kenapa dia sekarang ini suka banget menciumku? Bahkan mulai suka seenak hati menciumku di depan orang lain?
Rendy langsung meringis kemudian berkata, "Maafkan saya, Tuan Emm, ini barang yang Anda minta, Tuan. Saya udah berhasil dapatkan semuanya" Rendy menyerahkan kotak besar berwarna putih dan di atas kotak besar itu ada kotak kecil berwana merah.
Luke menerima dua kotak itu sambil berkata, "Thank you, Ren" Lalu, ia menyerah kedua kotak yang ia terima dari Rendy itu ke Embun.
Embun menoleh ke suaminya dan dengan ekspresi kaget, ia melontarkan tanya, "Ini apa Tuan?" Embun meletakkan. kedua kotak pemberiannya Luke di atas pangkuannya.
Saat Rendy sudah mulai menjalankan mobil, Luke berkata, "Bukalah!"
Embun membuka kotak kecil berwarna merah terlebih dahulu dengan wajah penuh tanda tanya.
Embun seketika mengangkat kedua alisnya ke atas dan menarik rahang bawahnya lebar-lebar saat kota kecil berwarna merah terbuka lebar. Embun menoleh ke suaminya, "I....ini kalung dari almarhum Papa saya, Tuan. Ini hadiah ulang tahun pertama dan terakhir dari Papa saya. Bagaimana Anda bisa mendapatkannya?"
"Nggak penting bagaimana cara aku mendapatkannya. Yang penting kamu bisa memakainya kembali" Luke berucap sembari memakaikan kalung itu ke leher cantiknya Embun.
Embun menoleh ke Luke untuk mengucapkan kata, "Terima kasih, Tuan. Lalu, kotak yang ini?" Embun menatap kotak besar yang belum ia buka"
"Kotak besar itu berisi satu set perhiasan berlian milik Nenek kamu. Besok kita bawa ke rumah Nenek kamu untuk membersihkan nama Ibu kamu"
Embun kembali berkata, "Terima kasih, Tuan" Dan ia berkata dengan tubuh bergetar, Embun tidak kuasa lagi membendung air mata harunya.
Luke sontak berdecak, "Tzk! Kenapa kamu harus menangis?" Luke berkata sembari menarik tengkuk Embun. Pria tampan itu kemudian memagut bibir istrinya dan berkata di sela ciumannya, "Aku senang kalau harus menenangkanmu pas nangis"
Embun mendorong pelan dada Luke sembari berbisik, "Tuan, kenapa Anda mencium saya di sini? Ada Pak Rendy"
Luke semakin menarik lebih dalam tengkuknya Embun sembari berkata, "Abaikan Rendy!"
Rendy tersentak kaget sewaktu ia mendengar bunyi aneh dan saat ia menoleh ke jok belakang, ia segera mengalihkan pandangannya ke depan sembari bergumam kesal di dalam hati, Tuan, kenapa Anda tega bermesraan di depan jomblo akut macam saya ini, hiks, hiks, hiks. Eh, tapi tunggu dulu, Tuan bahkan belum pernah mencium Chika secara dadakan seperti itu? Syukurlah kalau Tuan sudah melupakan Chika. Karena Chika, bukan wanita baik-baik"
Luke mencium istri mungilnya dengan ciuman sederhana di bibir secara perlahan dan intens. Ia menempelkan bibir dalam keadaan terbuka sedikit, ia lalu hembuskan napas secara perlahan hingga ia merasakan Embun bergetar di dalam pelukannya.
Luke kemudian menyusupkan wajahnya ke leher Embun. Pria berdarah Italia itu, kemudian mencium kulit lehernya Embun dan aroma tubuh Embun membuatnya semakin menggila. Pria tampan itu kemudian menghisap dengan kekuatan secukupnya. Dan kekuatan secukupnya itu membuat Embun tersentak kaget dan memekik cukup kencang.
Saat mendengar Embun memekik kencang, Rendy langsung memasang headset nirkabel untuk mendengarkan musik dari sana sembari bergumam, kenapa ada pekik kemerdekaan juga di jok belakang? Hiks, hiks, hiks, inilah nasib jadi asisten pribadi, harus tahan banting saat mendengar pekik kemerdekaan macam itu, huffttt! Sabaarrr!
Setelah selesai menghisap, Luke memberikan ciuman lembut di area kulit itu. Lalu ia menegakkan kepalanya, merangkul bahu Embun dan berkata dengan santai, "Aku sudah tempelkan tanda kepemilikanku. Kalau kamu pergi tanpa aku, aku udah tenang sekarang"
__ADS_1
Embun yang masih lugu, ingin bertanya apa itu tanda kepemilikan. Namun, jantungnya yang masih berdegup sangat kencang justru membuatnya memilih untuk menjatuhkan kepalanya di atas dada bidang suaminya dan diam melemas di sana.
Luke mengelus rambut Embun terus menerus sembari sesekali memainkannya di ujung jari jemarinya, untuk meredakan degup jantungnya.