
"Ooooo, begitu ceritanya" Sahut Rendy sambil terus fokus mengemudikan mobil dalam kecepatan di atas rata-rata.
"Iya" Sahut Mona, "Dan di saat aku melihat cewek yang bernama Alice mengambil ponsel, aku juga ikutan mengambil ponsel. Cuma bedanya, si Alice merekam dan mengirimkan rekaman itu ke Tuan Luke hanya sepenggal sedangkan aku merekam semuanya secara penuh"
"Dari mana kau tahu kalau Alice Norman mengirimkan rekaman itu ke Tuan Luke?"
"Aku berdiri tidak jauh di belakangnya si Alice Norman itu dan aku melihat juga mendengar semua yang dia lakukan berikut yang dia gumamkan"
"Sial! Ternyata kelakuan si Alice itu sangat menjijikkan"
Alex memasukkan lembaran cek ke dalam saku kaos bermerk-nya Luke dan segera berkata, "Lihatlah ini!" Alex menarik tangan Luke hingga Luke berdiri di depan laptopnya.
Luke menarik lengannya dari cekalan tangan Alex dan seketika itu tertegun di depan layar laptopnya Alex
"Cek itu gajinya Embun. Embun Sanjaya adalah gadis yang sangat hebat. Dia berhasil menyelesaikan pemotretan dan syuting hanya dalam waktu dua hari. Padahal model-model di luaran sana membutuhkan waktu selama satu Minggu. Embun membantu kita menghemat uang dan waktu"
Luke menoleh tajam ke Alex dan langsung mendorong dada Alex dengan sangat keras sembari berteriak, "Hapus semuanya!" sambil melemparkan kembali cek senilai seratus juta rupiah ke wajah Alex Norman.
"Nggak bisa. Semuanya sudah terlanjur aku share di jagat maya sebagai soft promosi Parfum Pure Heart. Dan kau lihat sendiri,kan, hanya dalam waktu beberapa jam saja, sudah dapat satu juta like dan terus bertambah, tuh. Semua menyukai foto-fotonya Embun dan penampilannya Embun. Embun Sanjaya memang sangat sempurna. Dia bukan saja mewakili kata cantik dari seorang wanita. Tapi, dia juga anggun"
Luke sontak mendengus kesal dan menghunus tatapan tajamnya ke Alex Norman, "Aku ingin memukul wajahmu saat ini juga. Tapi, kau tahu, kan, aku pantang memukul orang begitu saja. Ayo kita duel!"
"Kenapa kita harus duel?" Alex Norman menatap Luke Donovan dengan wajah santai dan nada bicara yang lembut.
"Karena kau sudah memeluk Embun dan berkata kalau kau mencintainya!!!! Luke berteriak sangat kencang dengan kedua tangan mengepal erat, wajah memerah dan napas menderu.
"Bagaimana kau bisa tahu soal itu?"
"Sial!!!!! Jadi, itu benar?" Luke melotot tajam ke Alex Norman.
"Iya, itu benar. Tapi, Embun tidak........."
"Maju lawan aku sekarang juga! Kalau nggak, aku yang akan maju melawan kamu.Kau bahkan berani memuji-muji Istriku di depanku. Dasar brengsek!!!! Maju sekarang juga!!!!" Luke berteriak lebih kencang dengan wajah yang semakin memerah dan napas terengah-engah tidak stabil.
Alex melangkah maju dan menyerahkan wajahnya ke Luke sambil berkata, "Kalau mau pukul, pukul aja! Tapi, setelah mukul, dengarkan penjelasanku!"
Bug! Luke langsung mendaratkan bogem mentah terbaiknya di wajah tampannya Alex Norman hingga membuat pria tampan berambut gondrong itu, terjengkang beberapa langkah ke belakang dengan sudut bibir robek dan mengeluarkan darah segar.
Luke langsung berkata, "Mulai hari ini, jangan pernah menghubungiku lagi!"
Alex Norman bangkit berdiri sambil mengusap sudut bibirnya dan langsung mengejar Luke saat ia melihat Luke melangkah lebar meninggalkannya.
Alex berhasil meraih pundak Luke dan menarik pundak itu sambil berkata, "Jangan pergi dulu! Dengarkan dulu penjelasanku!"
Luke menepis kasar tangan Alex dan meneruskan langkah lebarnya.
Alex langsung membungkukkan badan untuk memegang kedua lututnya sambil berteriak sekencang-kencangnya untuk menahan laju langkah lebarnya Luke Donovan, "Embun tidak menerima cintaku!!! Embun bahkan berkata kalau dia sangat mencintai suaminya!!!!"
Luke seketika mengerem langkah lebarnya dan dengan perlahan berbalik badan untuk menghadap ke Alex Norman.
Alex Norman menegakkan badannya dan langsung berhadapan dengan Luke Donovan.
Kedua pria super tampan itu bersitatap dalam diam untuk sepersekian detik.
Kemudian Alex Norman berkata, "Itu benar. Aku nekat memeluk Istri kamu dan menyatakan perasaanku. Tapi, aku kena tampar juga kena patah hati saat Embun bilang kalau dia sudah menikah dan Embun bilang kalau dia sangat mencintai suaminya"
Luke kembali berbalik badan dan melangkah lebar meninggalkan Alex Norman begitu saja.
Alex Norman menatap heran punggung Luke dan langsung berteriak kencang, "Hei! Aku sudah telanjur membooking semua tempat ini! Paling nggak kita ngopi dulu sebentar, hei!"
Namun, Luke mengabaikan teriakannya Alex Norman dan dia tetap melangkah lebar menuju ke parkiran mobil dengan pikiran dan perasaan campur aduk.
Luke kembali mengerem langkah lebarnya saat ia mendengar suara teriakannya Rendy, "Tuan! Tunggu!"
Luke memutar badan dan langsung menghunus tatapan tajamnya ke Mona.
__ADS_1
Mona langsung berdiri di depan Luke dan menundukkan wajahnya sambil berkata, "Saya tahu, saya salah Tuan. Saya mengiyakan permintaan Nyonya muda untuk merahasiakan pemotretan dan syuting yang Nyonya muda jalani selama dua hari ini. Saya juga sudah siap kalau Anda ingin memecat Saya. Tapi, tolong lihat dulu rekaman ini, Tuan" Dengan masih menunduk, Mona menyerahkan telepon genggamnya ke Luke.
Luke mengambil telepon genggamnya Mona. Saat telepon genggamnya sudah berpindah tangan, Mona menegakkan kepalanya.
Luke menatap layar telepon genggamnya Mona tanpa ekspresi. Setelah selesai melihat keseluruhan rekaman video tersebut, perasaannya Luke semakin campur aduk. Dia mengembalikan telepon genggamnya Mona sembari berkata, "Embun sangat menyukaimu. Aku nggak akan memecat kamu. Tapi, jangan ulangi lagi! Aku paling benci dibohongi"
"Terima kasih, Tuan" Sahut Mona dengan wajah semringah.
Luke kemudian menoleh ke Rendy dan sambil melemparkan kunci mobilnya, ia berkata, "Kamu antar aku pulang"
Rendy berkata, "Baik, Tuan" Lalu asisten tampan itu menyerahkan kunci mobil yang biasa dipakai Mona mengantarkan Embun ke mana-mana ke tangan Mona sembari berkata, "Kau pulang sendiri"
"Siap" Sahut Mona.
Di dalam perjalanan pulang, Luke diam seribu bahasa dan Rendy tidak berani mengusik tuan mudanya.
Sesampainya di kediaman mewahnya, Luke melangkah lebar menuju ke kamar tamu dan Rendy belok ke kamarnya.
Luke merapikan selimut dan merapikan rambut yang menutupi wajah cantik istri mungilnya. Luke berdiri cukup lama di samping ranjang dalam kebisuan. Lalu, pria tampan itu bergumam lirih, "Aku lega kamu ternyata tidak selingkuh. Aku juga senang banget mengetahui kalau kamu ternyata sangat mencintai suami kamu ini. Tapi, aku benci dibohongi" Luke kemudian pergi meninggalkan Embun setelah ia mendaratkan kecupan di kening Embun.
Luke melompat ke ranjangnya tanpa ganti baju dan langsung membuka mengecek buku-buku kuliahnya Embun yang masih berserakan di atas kasurnya.
Luke memunguti buku-buku tersebut, menumpuknya tapi dan meletakkannya di atas meja. Lalu, pria tampan itu duduk di depan meja itu, untuk bergumam, "Aku nggak akan ijinkan kamu kuliah besok dan nggak akan aku ijinkan keluar rumah seharian penuh" Luke ngedumel sembari membuka buku yang di sampulnya bertuliskan Catatan Tugas.
Luke membuka buku itu dan menghela napas panjang, lalu berkata, "Kamu ada tugas yang harus dikumpulkan besok, ya? Tugas pertama adalah merangkum buku paket I. Yang mana buku paket I?" Luke berucap sembari mencari buku paket I di antara tumpukan buku yang sudah ia tata rapi.
"Ah! Ini dia. Emm, bab VII, oke! Akan aku rangkumkan" Luke langsung menyalakan laptop yang ada di meja itu dan mulai fokus mengetik.
Setelah selesai merangkum buku paket I di bab VII, Luke melihat ke buku tugas hariannya Embun kembali dan berkata, "Ada satu tugas lagi ternyata. Emm, membuat skenario drama pendek dan.....sial! Kenapa temanya percintaan? Huuffttt! ambil napas panjang dulu, Luke! Dan, oke, deh! Akan aku kerjakan sebisaku" Luke kembali mengetik di depan layar laptopnya.
Keesokan harinya, Embun membuka kedua kelopak matanya dengan malas sambil bergumam, "Kenapa badanku pegal semua?"
"Selamat pagi, Nyonya muda"
Embun tersentak kaget, "Astaga!" Dan langsung bangun untuk menoleh ke ketiga pelayan wanita yang berdiri di samping ranjang dengan senyum sopan. Embun sontak menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangannya dan saat selimut melorot dan menampakkan tubuh polosnya, istri imutnya Luke Donovan itu semakin ternganga lebar. Embun segera menarik ujung selimut dengan kedua tangannya dan menahannya dengan wajah merona malu.
"Nggak papa" Embun berucap sembari menoleh ke samping kirinya lalu menoleh ke ketiga pelayan wanita untuk bertanya, "Mas Luke tidur di sini semalam?"
"Tidak Nyonya muda. Tuan muda tidur di kamarnya sendiri"
"Lalu, Mas Luke di mana sekarang?"
"Masih belum keluar dari dalam kamarnya Tuan memerintahkan kami semua ke sini lewat internal phone"
"Lalu, Mbak-mbak semuanya ada di sini mau apa?"
"Memandikan Nyonya muda"
"Hah?! La.....lalu, se......setelah itu?" Embun langsung meremas kuat kedua ujung selimut dengan ekspresi wajah was-was.
"Setelah itu, Dokter Niken akan masuk ke sini dan memeriksa kandungan Anda"
Embun langsung menghela napas lega dan mau turun dari atas ranjang dengan berlilitkan selimut untuk berjalan ke kamar mandi.
Embun melamunkan kembali kejadian semalam saat dirinya tengah dimandikan oleh ketiga pelayan wanita. Embun berkata di dalam hatinya dengan wajah heran, Mas Luke kemarin sangat menyeramkan. Mas Luke terlihat sangat kecewa padaku. Tapi, Mas Luke melakukan itu dengan lembut dan manis. Bahkan seingatku, kemarin malam, Mas Luke mengusap air mata di pipiku dan mengelus bahuku untuk membuatku relaks. Kenapa dia selembut itu kalau dia sangat marah padaku? Sebenarnya apa yang telah membuat Mas Luke marah besar padaku?
Beberapa jam kemudian, Embun kembali rebahan di atas kasur dan seorang dokter muda nan cantik menyapa dia, "Selamat pagi Nyonya Donovan. Saya akan memeriksa kandungan Anda"
"Selamat pagi dan silakan, Dok" Embun tersenyum ramah ke dokter muda nan cantik yang bernama Niken itu.
Setelah memeriksa dengan sangat teliti selama satu jam lebih sedikit, akhirnya dokter muda nan cantik dengan nametag Niken itu berkata, "Syukurlah kandungan Anda baik-baik saja dan janin yang ada di dalam kandungan Anda sangat sehat dan sangat kuat. Anda pasti sangat bangga saat ini. Anda akan memiliki seorang anak yang sangat hebat"
Embun meneteskan air mata sembari berucap, "Amin. Terima kasih, Dok. Iya, benar. Saya sangat bangga sekaligus sangat bahagia sekarang ini. Sekali lagi terima kasih banyak, Dok"
"Saya ikut senang mendengarnya" Sahut Rendy. Lalu, asisten pribadinya Luke itu mengajak Dokter Niken keluar dan memerintahkan para pelayan untuk mengantar Embun ke meja makan.
__ADS_1
Rendy menyerahkan amplop ke dokter Niken sambil berkata, "Terima kasih banyak, Dok"
Sepeninggalnya dokter Niken, Rendy langsung berlari ke kamar tuan mudanya.
Tok, tok, tok, "Tuan ini saya"
Lima menit Rendy menunggu di depan pintu kamarnya Luke dengan was-was akhirnya bisa tersenyum lega saat pintu itu terbuka lebar dan Luke berkata, "Masuklah!"
Kalau mau nanya kenapa Embun tidak tidur di sini dan mau nanya apa aku masih marah? Mending nggak usah ngomong sekalian" Like berucap sambil menghenyakkan tubuhnya di sofa.
Rendy duduk di sofa single dan langsung berkata, "Saya cuma mau bilang kalau Dokter Heni sudah selesai memeriksa Nyonya muda dan kandungan Nyonya muda baik-baik saja. Janin yang ada di dalam kandungan Nyonya muda, sangat kuat dan sangat sehat, Tuan. Anda pasti akan bangga karena anak Anda nanti, akan terlahir sehat, kuat, dan hebat"
Luke tanpa sadar mengulas senyum lega bercampur bahagia dan bangga di wajah tampannya.
"Tuan tersenyum untuk apa? Untuk Nyonya muda yang baik-baik saja kondisinya atau untuk janin sehat, hebat dan kuat yang ada di dalam kandungan Nyonya muda?"
"Tentu saja untuk keduanya. Aku sangat lega dan bahagia mendengar semua itu"
"Kalau lega dan bahagia, kenapa Anda tidak menemui Nyonya muda dan mengatakannya sendiri di depan Nyonya muda. Nyonya muda tengah sarapan sekarang ini"
"Apa dia makan dengan baik? Tidak mual atau muntah?"
Rendy menyeringai usil, kemudian berkata, "Nyonya muda agak mual tadi dan ........."
Luke langsung bangkit berdiri dan berlari untuk keluar dari dalam kamar. Dia meninggalkan Rendy begitu saja.
Rendy tersenyum lebar dan berkata, "Maafkan saya berbohong sedikit demi kebaikan, Tuan. Semoga meja makan bisa menjadi meja perdamaian Suami Istri pagi ini" Lalu, asisten pribadinya Luke Donovan yang sangat setia itu melangkah pelan untuk keluar dari dalam kamar tuan mudanya.
Luke muncul di ruang makan dan membuat semua pelayan yang ada di sana kaget termasuk Embun.
Embun tersenyum senang dan langsung menyapa suaminya, "Selamat pagi, Mas. Aku senang Mas mau sarapan bareng pagi ini"
Luke diam membisu dan saat ia duduk di kursi di dekatnya Embun dia mengarahkan sendok yang berisi sup ikan ke Embun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Embun membuka mulutnya dan sambil mengunyah sup ikan yang ada di dalam mulutnya ia bertanya, "Mas sudah sarapan, ya? Kok, Mas nggak makan?"
Luke masih diam membisu dan kembali mengarahkan sendok ke Embun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan begitu seterusnya sampai semua makanan yang ada di epannya Embun, habis tak bersisa. Lalu, Luke bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Embun begitu saja tanpa pamit dan tanpa ciuman selamat pagi.
Rendy yang juga berada di meja makan ikutan bangkit berdiri dan mengekor tuan mudanya dengan bergumam di dalam hati, yeeeaahhh, kok, Tuan muda masih menggelar aksi diam seribu bahasa?
Embun menatap punggung suaminya dengan wajah sedih dan saat ia bangkit berdiri, Mona langsung mendekat dan berkata, "Tuan muda tidak mengijinkan Anda pergi kuliah dan pergi ke mana pun hari ini, Nyonya muda"
"Hah?! Tapi, aku banyak tugas di kampus dan deadline-nya harus hari ini"
"Saya nggak berani lagi melawan Tuan muda" Sahut Mona.
"Baiklah. Aku akan kembali ke kamar tamu kalau gitu"
"Nyonya, Anda diijinkan kembali ke kamar" Sahut kepala pelayan di kediamannya Luke Donovan.
"Benarkah?"
"Iya, Nyonya"
"Terima kasih sudah memberitahuku, Mbak" Lalu Embun menarik tangan Mona untuk mengikutinya masuk ke kamar dan saat melihat nyonya mudanya menarik Mona, kepala pelayan di kediamannya Luke, langsung mengekor.
"Kenapa Anda mengajak saya ke kamar Nyonya?" Mona tampak panik dan gelisah.
"Aku akan kerjakan tugasku dengan cepat dan setelah selesai, Mbak Mona tolong pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas-tugasku"
"Ooooo, begitu. Baiklah, Nyonya" Sahut Mona.
Embun seketika panik dan berteriak di depan meja, "Di mana tas kuliahku dan di mana buku-buku kuliahku?"
Kepala pelayan di kediamannya Luke langsung menyahut, "Tuan muda membawa tas kuliah Anda tadi"
__ADS_1
Embun sontak menoleh ke kepala pelayan tersebut untuk menyemburkan, "Hah?! Untuk apa Mas Luke membawa tas kuliahku?"