
Luke kembali duduk di kursi kerjanya dan dia tiba-tiba berdecak kesal, "Tzk! Dasar obat sialan. Gara-gara obat yang dimasukkan Douglas ke dalam minumanku, aku jadi nggak ingat apakah aku pakai alat pengaman atau tidak? Sia! Aku tadi lupa nanya sama gadis liar itu"
Luke meraih cangkir minumannya dan langsung mendesis, "Ais! Bibirku perih, nih. Dasar gadis liar, berani benar dia menggigitku" Luke meletakkan cangkir kopinya dengan kasar di atas meja, lalu ia memencet intern phone, "Ren, ke sini cepat!"
Rendy sontak menautkan alisnya, "Ke sini, ke mana, Tuan?"
"Tzk!" Luke mulai berdecak kesal. Dia memijit keningnya sambil berkata, "Kenapa semua orang di hari ini mendadak bodoh semua, tzk! Ke sini, ya, tentu saja ke ruanganku"
"Lho, Anda sudah sampai di........"
Klak! Luke membanting gagang telepon dan langsung memasang muka kesal.
Rendy segera meletakkan gagang telepon pada tempatnya, lalu bangkit berdiri dan langsung berlari keluar dari dalam ruangannya menuju ke ruangannya Luke Donovan.
Rendy mengetuk tiga kali dan setelah ada sahutan,"Masuk!" dari dalam, Rendy membuka pintu, melangkah masuk, dan menutup kembali pintunya sambil bertanya, "Ada apa, Tuan?"
"Antar aku ke rumah sakit"
"Anda sakit apa? Tadi Anda baik-baik saja, kan?" Rendy langsung panik.
Luke bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya mendahului Rendy sambil berkata, "Bibirku digigit kucing liar, tadi. Aku takut kena penyakit menular dari kucing liar itu"
"Hah?!" Rendy ternganga kaget sembari menutup dan mengunci pintu ruang kerjanya Luke.
Saat ia berhasil mensejajari langkah bosnya, ia langsung bertanya, "Anda ke mana saja tadi? Kenapa Anda tidak mengajak saya?"
"Aku mencari kucing liar tadi"
"Hah?! Untuk apa Anda mencari kucing liar? Anda, kan, bisa beli kucing terpercaya, higienis dan jinak di pet shop kalau Anda ingin memelihara seekor kucing. Kenapa Anda malah mencari kucing liar, Tuan? Kena gigit, kan, jadinya. Kena gigit di mana, Tuan?"
Luke menunjuk bibirnya di bagian bawah depan.
Rendy sontak menautkan kedua alisnya, "Hah?! Kok bisa digigit di bibir? Emang kucingnya Anda gendong dengan gaya apa, Tuan? Lagian, kucing liar biasanya tuh mencakar bukannya menggigit. Kenapa bisa sampai menggigit dan di bagian bibir depan? Kok aneh, ya, Tuan?"
Luke menghentikan langkahnya secara dadakan. Rendy sontak ikutan menghentikan langkahnya dan menunduk.
"Aneh kau bilang? Kamu yang aneh. Bisa-bisanya seorang cowok nyerocos terus tanpa henti. Kamu habis makan peyek jangkrik, ya?"
Rendy menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Saya alergi peyek jangkrik, kacang, dan teri, Tuan. Saya alergi peyek dan nggak pernah makan peyek"
Mendengar jawabannya Rendy, Luke sontak menggeram kesal, lalu sambil bergumam, "Lebih baik aku bergegas ke mobil daripada lanjut debat sama kamu. Bisa meninggi tensiku" Luke melangkahkan Kembali kakinya.
Rendy sontak mengikuti langkah bosnya sambil bergumam di dalam hati, yang seharusnya meninggi tensinya, tuh, saya, Tuan bukannya Anda. Huuuffttt! Sabar, Ren!
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Rendy masih bertanya-tanya soal gigitan kucing liar di bibir Luke, namun ia tidak berani mengungkapkannya. Ia hanya berani bertanya-tanya di dalam benaknya.
Sesampainya ia di rumah sakit milik Neneknya, Luke langsung duduk di depan dokter muda dan ia memilih dokter muda yang enak dipandang mata. Dan di ruang IGD itu, dengan santainya ia berkata, ""Bibirku luka. Kena gigit kucing liar. Lakukan tes darah secara menyeluruh. Aku takut kena penyakit menular dari kucing liar itu"
Dokter muda nan cantik itu langsung menautkan kedua alisnya dan menyemburkan, "Hah?! Kok bisa digigit dan digigitnya di bibir?"
__ADS_1
Rendy sontak menunduk dan berkata di dalam hatinya, tuh, kan, orang yang masih normal pasti nanya kayak gitu. Aku nggak salah, kan?
Luke langsung menyipitkan kedua matanya dan mulai menggeram.
"Emangnya Anda memegang kucing liarnya kayak gimana? Biasanya kucing liar itu mencakar. Baru kali ini saya temui kasus kucing liar menggigit bibir. Bisakah Anda ceritakan kronologis kejadiannya? Saya perlu tahu dan ........."
"Kau ingin aku pecat dari rumah sakit ini, ya?!" Luka menghunus tatapan tajam ke dokter muda nan cantik itu.
Dokter muda nan cantik yang baru bekerja beberapa bulan di rumah sakit miliknya Maria Donovan, langsung bangkit berdiri dan berkata, "Maafkan saya, Tuan. Mari ikut saya ke ruang lab untuk diambil darah dan melakukan. serangkaian tes"
Luke berjalan di belakang dokter tersebut masih dengan wajah kesal berbalut rona merah karena malu, saat ia teringat kembali akan kronologis kejadian ia kena gigit gadis liar itu. Dasar gadis kurang ajar bikin aku repot, aja, cih! Tapi, kok, aneh, ya? Kenapa aku bisa melepaskan dia begitu saja tadi. Apa karena, aku merasa bersalah telah merenggut paksa kegadisannya? Aish! Bodo amat! Yang penting aku sudah kasih cek ke dia dan aku nggak akan ketemu dengan dia lagi.
"Anda tunggu hasilnya atau pulang, Tuan?"
"Hah? Hasil apa?" Luke tergagap dari lamunannya.
"Hasil dari serangkaian tes yang baru saja Anda jalani, Tuan" Tanya dokter muda nan cantik itu.
"Berapa lama kalau aku tunggu?" Luke bertanya tanpa membuka kedua matanya.
"Satu jam, Tuan"
"Aku tunggu saja"
"Baiklah" Dokter muda nan cantik itu bangkit berdiri dan langsung bertanya ke Luke saat ia melihat Luke masih berbaring dan memejamkan mata di atas bed, "Anda akan menunggu di sini, Tuan?"
Saat dokter tersebut hendak menyemburkan protes, Rendy langsung berbisik ke dokter tersebut, "Jangan ucapkan apa-apa lagi! Kalau ada pasien, taruh aja di kamar yang lain dan jangan ganggu Tuan Luke kalau Anda tidak ingin kehilangan pekerjaan Anda"
Dokter muda nan cantik itu menganggukan kepala dan sambil menghela napas panjang berulangkali, ia keluar dari ruang lab nomer satu.
Rendy duduk di sofa sambil memeriksa pekerjaannya lewat telepon genggam. Sementara Luke, tidur dengan pulas di atas bed.
"Tuan Luke ada di ruang lab nomer satu. Jangan ganggu beliau!" Dokter muda nan cantik itu berkata ke semua tim medis yang ada di bagian laboratorium.
"Tapi, ruang lab bukan tempat untuk one day care, kan?" Sahut kepala laboratorium.
"Itu berlaku untuk pasien umum dan tidak berlaku untuk tuan Luke Donovan" Sahut dokter muda nan cantik itu dan semua tim medis yang berada di bagian laboratorium hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang.
Luke tiba-tiba terbangun dengan tergagap dan napasnya tersengal-sengal seperti orang yang terkena sesak napas.
Rendy sontak bangkit berdiri dan segera mendekati Luke untuk bertanya, "Ada apa Tuan? Kenapa Anda seperti terkena sesak napas?"
"Hasilnya udah keluar belum?"
"Sudah. Baru saja dokter keluar dari ruangan ini dan memberitahukan hasilnya ke saya dan semuanya normal. Anda tidak terkena penyakit menular apapun, Tuan. Fiuuhhh! Saya ikutan lega, Tuan"
"Syukurlah hasilnya normal dan aku aman dari segala penyakit. Tapi, aku masih belum aman dari bayang-bayang kucing liar itu, tzk!" Luke merosot turun dari bed dan berjalan mendahului Rendy.
Rendy berlari mensejajari dia menyimpan banyak tanya di benaknya soal kucing liar yang terus diucapkan oleh bosnya, namun dia tidak berani bertanya.
__ADS_1
Di kediaman Sanjaya terjadi keributan. Ibunya Embun dituduh oleh neneknya Embun mencuri satu set gelang, cincin, dan kalung berlian seharga seratus juta rupiah. Keluarga Sanjaya memiliki perkebunan cokelat dan teh dan keluarga Sanjaya memasok hasil kebun mereka ke perusahaan berbagai olahan makanan dan minuman dari cokelat dan teh milik keluarga Donovan. Dari situlah keluarga Sanjaya bisa kaya raya dan mampu membeli barang-barang mewah.
Neneknya Embun terus memukuli ibunya Embun dengan kemoceng sambil menghitung jumlah pukulan yang ia daratkan, neneknya Embun berteriak, "Ayo ngaku! Kau pencurinya, kan?"
Namun, ibunya Embun tetap membisu, karena dia tidak mencurinya.
Tepat di hitungan ke sepuluh, Embun pulang dari kampus dan saat ia melihat ibunya digebuki pakai kemoceng, Embun langsung berlari dan langsung memeluk ibunya. Otomatis, dirinya yang menggantikan ibunya kena gebukan kemoceng.
Melihat anaknya kena gebukan kemoceng, Ibunya Embun tersentak kaget dan berani berteriak, "Jangan pukul lagi! Saya tidak mencurinya! Saya sudah katakan tadi kalau saya tidak mencurinya!"
Embun menoleh dan mengajak ibunya bangkit berdiri saat neneknya menghentikan pukulan kemocengnya.
Embun langsung bertanya sembari meringis menahan rasa perih di punggungnya, "Kenapa Nenek memukuli Ibu saya? Kenapa Ibu saya berteriak kalau Ibu saya tidak mencurinya? Ada apa ini?"
"Satu set perhiasan berlianku hilang. Ibu kamu yang selalu bersihkan seluruh rumah. Jadi, ia pasti yang mencurinya" Neneknya Embun menggeram kesal dan langsung mencekal lengan ibunya Embun untuk ia tarik keluar.
Embun berlari menyusul sambil berteriak, "Nenek mau bawa Ibu saya ke mana?"
"Ke kantor polisi. Biar polisi yang gebukin dia kalau aku gebukin di sini ia nggak mau ngaku" Neneknya Embun menggeram penuh amarah.
"Jangan! Saya ada cek. Walaupun saya yakin kalau Ibu saya bukan pencurinya, tapi sebelum ada buktinya, saya kasih cek ke Nenek untuk ganti berlian itu" Embun langung meletakkan cek bertuliskan dua ratus juta rupiah yang ia ambil dari kantong blusnya ke dalam genggaman tangan neneknya.
Neneknya langsung melepaskan lengan ibunya Embun dan Embun langsung menangkap tubuh ibunya yang limbung.
Neneknya Embun menatap Embun, "Dari mana kamu dapat cek sebesar ini? Ini cek dari Grup Donovan? Kenapa kau bisa dapatkan cek dari Grup Donovan?"
"Saya dapat proyek kemarin dari Grup Donovan dan itu bayarannya" Embun terpaksa berbohong.
"Oke. Aku lepaskan Ibu kamu. Tapi, mulai sekarang jangan bersih-bersih di kamarku lagi!"
Neneknya Embun masuk ke dalam rumah dan Embun langsung menuntun Ibunya masuk ke dalam rumah. Ia mengobati luka di punggung ibunya di dalam kamar sambil berkata, "Kenapa Ibu tidak melawan? Kalau Ibu nggak salah, lawan aja Bu!"
"Ibu nggak mau kualat kalau melawan orang tua. Gimana dengan punggungmu? Kamu juga kena beberapa gebukan, kan, tadi?"
"Nggak papa, kok Embun nggak papa. Ibu istirahat aja, ya. Biar Embun yang masak dan nyuci baju"
"Tapi, kamu harus kerja, kan?"
"Aku udah kelar dari klub mewah itu, Bu. Aku udah masukkan. lamaran di sebuah butik yang aku lewati pas aku pulang dari kampus tadi. Kebetulan butik itu butuh pegawai. Doakan Embun diterima bekerja di butik itu, ya, Bu"
"Pasti Ibu doakan. Ibu selaku doakan yang terbaik buat kamu, Sayang" Ibunya Embun mengelus pipi Embun dengan tetesan air mata.
Mentari membelanjakan uang hasil penjualan satu set perhiasan berlian milik neneknya yang ia curi, di sebuah butik mewah. Dia memang ingin tampil cantik melebihi semua karyawati di perusahaan Donovan, karena ia ingin menggaet hati Luke Donovan. Mentari jatuh cinta pada Luke Donovan sejak pandangan pertama dan ia menjadi terobsesi pada Luke Donovan.
Luke berdiri di depan kolam renang yang berada di sisi selatan kamarnya Dia mengumpat kesal saat ia melihat gadis liar itu kembali nampak di depannya. Luke melihat gadis itu bermain air di tepi kolam renang dan tersenyum manis ke Luke. "Itu hanya bayangan, kan? Nggak mungkin gadis itu ada di sini saat ini. Sial! Kenapa bayangannya masih menggangguku?"
Luke menggeram kesal dan untuk mengusir bayangan itu, ia memutuskan untuk berucap "Kingkong badannya besar, tapi aneh kakinya pendek. Lebih aneh binatang bebek, lehernya panjang, eh, kakinya kok pendek" Dia menggumamkan kata-kata aneh itu beberapa kali dan berhasil melenyapkan bayangan gadis itu.
Saat ia melihat bayangan gadis itu telah lenyap, ia bergegas masuk ke dalam kamar, berlari kencang ke ranjangnya, langsung melompat ke atas kasur, meringkuk di bawah selimut sembari bergumam, aku sudah bertanggung jawab kasih kucing liar itu cek, tapi kenapa ia masih menggangguku? Kenapa bayangannya masih wira-wiri seenak udelnya di depan mataku? Apalagi yang harus aku lakukan agar bayangan kucing liar itu tidak menggangguku lagi? Neneeekkk! Aku bakalan nggak bisa tidur nyenyak malam ini, hiks, hiks, hiks.
__ADS_1