
Alih-alih menghentikan aksinya, Luke justru menarik istri mungilnya ke atas pangkuannya lalu menatap mata Embun dengan dalam dan penuh arti. Lalu, pria tampan itu berkata "kesempatan yang ada tidak boleh dilewatkan begitu saja Mbun, aku kan pebisnis."
Embun tanpa sadar menepuk pelan dada bidang suaminya, dan Luke tersenyum senang sambil mencium tangan Embun.
Lalu, pria tampan itu memulai kembali aksinya dengan diawali mencium kening Embun, kemudian beralih ke kedua mata Embun, dan menyusurkan bibirnya ke kedua pipi Embun sambil tangannya membuka satu persatu kancing blus yang Embun kenakan di siang itu.
Dengan tidak sabar, Luke kemudian menyusupkan wajah tampannya ke leher Embun. Sewaktu Luke melukis beberapa tanda kepemilikan di sana, Embun hanya bisa melenguh dan menengadah sambil memejamkan kedua matanya dan meremas kuat kedua pundak Luke.
Beberapa detik kemudian terdengar rintihan pelan yang membuat Luke semakin hilang kendali dan langsung mencari bibir Embun untuk ia pagut lagi, lagi, dan lagi. Luke terus mengajak Embun berciuman dengan melibatkan lidah sambil terus meremas kedua gundukan kenyal dengan telapak tangan kanan, sedangkan telapak tangan kiri mencengkeram lembut tengkuk Embun.
Lalu, Luke membantu Embun bangkit berdiri dari atas pangkuannya sembari menatap Embun dengan sorot mata frustasi dan berkata, "Astaga! Pesona kamu sangat kuat. Aku tidak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku harus segera ke kamar mandi untuk bermain solo. Aku nggak boleh menyatu lagi denganmu. Aku takut kehamilan kamu akan bermasalah kalau aku memaksa menyatu denganmu saat ini"
Sewaktu Luke hendak melangkah menuju ke kamar mandi, Embun langsung menahan lengan Luke sambil berkata, "Sebagai permintaan maafku, aku akan membuatmu puas dengan caraku, Mas"
Luke tersentak kaget dan langsung menoleh ke Embun untuk bertanya, "Kau pernah melakukan itu?"
"Mas, ngerti apa yang aku maksud?"
"Tentu saja ngerti. Aku pria dewasa dan berotak cerdas. Lalu, dari mana kamu tahu soal cara itu?"
"Dari teman-teman kuliah yang satu kelompok denganku. Setelah mengerjakan proyek dari kamu, mereka mengajak aku menonton film dewasa dan dari film itu, aku tahu cara itu" Embun berucap dengan rona malu di wajahnya.
"Berarti, aku yang pertama bagimu kalau kamu mencoba cara itu?"
Embun mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengangguk malu
"Nggak! Kamu nggak boleh melakukan cara itu! Kamu belum berpengalaman dan........"
"Aku ingin mencobanya. Katanya itu bisa membahagiakan suami dan sebagai permintaan maafku, aku ingin membahagiakan kamu, Mas"
"Tapi, itu........Hei! Mbun, jangan!" Luke sontak menahan tangan Embun saat Embun memegang ikat pinggangnya dan langsung membuka ikat pinggang itu
Embun nekat menarik turun ritsleting celana Luke, lalu ia bersimpuh di atas lantai dan memulai aksinya.
Luke berusaha tenang, tidak mencengkeramkan jemarinya ke rambut Embun. Namun, tepat saat ia merasakan napas Embun, dia bagaikan sekarat. Lidah Embun menyentuhnya perlahan, menjelajah, dan Luke merasakan desakan panas. "Mbun, jangan lakukan lagi! Aku akan ke kamar mandi dan bermain solo saja"
Embun hanya menyahut, "Mmm" kemudian mulutnya terbuka, bergerak maju, dan mengatup dengan panas. Luke merasa kaku dari kepala sampai ke ujung kaki.
Sambil menggenggam, Embun terus bergerak , dan membuat Luke kehilangan kendali. Embun memang masih polos dan sangat lugu. tapi itu justru lebih menggairahkan daripada saat ia bersama dengan Chika, wanita yang lebih berpengalaman.
Luke merasa bangga seketika itu, karena dia selalu menjadi yang pertama bagi Embun.
Dengan kedua tangan menggenggam rambut Embun, Luke memegangi Embun untuk memandu dan menunjukkan di mana Embun harus bergerak. Erangan liar menguasai ruang kerjanya Luke, lengan dan kakinya Luke
gemetar, kenikmatan membuncah, dan Luke mencapai puncak sambil menggeramkan kepuasan hingga ke sumsum tulang belakang.
Luke kemudian menarik Embun untuk ia peluk dan ia benamkan banyak ciuman di wajah cantiknya Embun sembari berucap, "Terima kasih, Sayang"
"Mas, memanggilku Sa.....Sayang?" Embun menatap mata Luke dalam dengan ekspresi kaget
Luke mencium keningnya Embun dan berkata di sana, "Iya! Aku akan memanggilmu Sayang mulai detik ini"
Embun merona malu dan langsung menempelkan wajahnya di dada suami tampannya.
__ADS_1
Tok,tok,tok, Embun langung melepaskan diri dari pelukannya Luke dan Luke langsung menarik ritsleting celana kainnya.
Setelah merapikan dressnya, Embun bergegas membantu suaminya merapikan celana kemeja, dasi yang berantakan tidak karuan.
Setelah dirasa dia dan istrinya sudah cukup rapi, Luke meraih remote dan sambil membuka kunci pintu, ia berteriak, "Masuk" Lalu pria tampan itu menggelungkan lengannya di pinggang istrinya yang masih ramping.
Rendy melangkah masuk dan asisten tampan itu sontak menautkan kedua alisnya dan spontan bertanya, "Apa ada badai lokal barusan di sini barusan, Tuan?"
"Kenapa kau bertanya begitu?" Tanya Luke sambil mempererat pelukannya di pinggang Embun sampai tubuh istri mungilnya itu menempel erat di tubuhnya.
"Karena Anda dan Nyonya muda, bajunya lusuh dan berantakan"
Di saat tuan mudanya mulai melotot dan menggeram kesal sedangkan nyonya mudanya merona malu, Rendy langsung berdeham dan segera berkata, "Dokter Theo meminta Anda dan Nyonya muda ke rumah sakit sekarang"
"Ada apa dengan Ibu?" Luke dan Embun bertanya secara bersamaan.
"Entahlah, Tuan. Dokter Theo cuma bilang begitu dan langsung menutup teleponnya"
Luke dan Embun langsung berlari kecil meninggalkan ruang kerjanya Luke dengan ekspresi was-was. Mereka berdua bahkan melupakan makan siang mereka. Rendy langsung mengekor langkah tuan dan nyonya mudanya.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Luke menoleh ke Embun untuk berkata, "Aku lupa belum mencicipi masakan yang kamu masak perdana buat aku"
"Aku akan masak lagi nanti di rumah, Mas"
"Itu salah kamu, sih, kamu telah membuatku melupakan segalanya, tadi" Bisik Luke dan Embun langsung mencubit pinggang Luke dengan gemas.
"Semoga Ibu baik-baik saja" Ucap Luke kemudian.
"Ren, kamu sudah makan siang?" Tanya Luke.
"Belum, Tuan"
"Nanti, kalau kamu makan siang, sekalian belikan makan siang untuk aku dan Embun, ya?! Embun dan anakku belum makan siang"
"Baik, Tuan" Sahut Rendy.
Sesampainya di rumah sakit, Luke dan Embun langsung berlari kecil menuju ke ruang ICU. Dan saat kedua pengantin baru itu sampai di depan kaca transparan, mereka bersitatap dan dengan mengerutkan kening, mereka bertanya satu sama lain, "Kenapa Ibu tidur pulas banget?"
Luke dan Embun berbalik badan saat mereka merasakan seseorang menepuk pundak mereka.
Dokter Theo menatap dalam kedua mata Like dan Embun secara bergantian, lalu berkata, "Tolong segera tandatangani persetujuan operasi. Jantung Ibu Lastri bermasalah"
Tanpa berpikir panjang, Embun membubuhkan tanda tangannya, lalu berkata, "Tolong selamatkan Ibu saya, Dok"
"Kami akan berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan Ibu Lastri" Sahut Dokter Theo .
Luke dan Embun menunggu di ruang tunggu operasi. Rendy datang tergopoh-gopoh dengan membawa dua bungkus Steak daging sapi dan dua cup berisi jus mangga Luke memaksa Embun untuk makan di saat operasi Ibu Lastri masih berlangsung.
Empat jam mereka menunggu di ruang tunggu operasi yang dingin. Luke membuka jasnya dan memakaikan jasnya ke tubuh mungilnya Embun saat ia melihat Embun kedinginan, lalu ia memeluk Embun sambil berkata, "Tidurlah kalau mau tidur! Aku akan bangunkan kalau operasinya sudah selesai"
"Aku tidak bisa tidur" Sahut Embun.
"Ren"
__ADS_1
"Iya, Tuan?"
"Datanglah ke pembukaan galeri seni lukisnya Daniel mewakili aku dan katakan ke Daniel kalau aku nggak bisa datang. Aku masih menunggu Ibu mertuaku operasi"
"Baik, Tuan"
Beberapa jam kemudian, Rendy sampai di acara pembukaan perdana galeri seni lukisnya Daniel Donovan dan asisten berparas tampan lokal itu, langsung menyalakan semua pesan dari tuan mudanya.
"Aku ikut prihatin mendengarnya Setelah acara ini selesai, aku juga akan ke rumah sakit untuk menemani Kak Luke dan Kakak ipar" Sahut Daniel.
"Saya akan menemani Anda ke rumah sakit, Tuan" Sahut Rendy.
Tiba-tiba terdengar suara cempreng, "Kamu?! Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Rendy dan Daniel menoleh ke asal suara secara bersamaan.
Rendy menatap wanita yang berdiri di depan dia dan Daniel dengan mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa kau juga bisa ada di sini? Mau nampar aku lagi, ya? Rendy sontak menutup kedua pipinya dengan kedua telapak tangan.
Wanita itu sontak tertawa dan berkata, "Kau lucu juga, ya? Aku nggak akan menampar kamu kali ini. Aku datang dengan damai" Wanita itu kemudian mengangkat dua jari ke atas dengan meringis.
"Kalian saling kenal?" Tanya Daniel.
"Nggak!" Sahut Rendy dengan cepat.
"Iya!" Sahut wanita itu.
"Dia teman kuliahku, Ren. Namanya Monalisa. Aku manggil dia Lisa"
"Ooooo" Rendy menyahut dengan wajah datar.
"Ayo kita berkeliling sambil ngobrol" Sahut Daniel.
Diam-diam wanita yang bernama Monalisa melirik Rendy dan berkata di dalam hatinya, cerdas juga orangnya. Lumayan tampan, pakai kacamata, cool, tapi kocak, dan lembut juga dalam memperlakukan wanita. Aku sudah terkesan di perjumpaan pertamaku sama dia, saat dia tidak membalas tamparanku waktu itu dengan ucapan kasar. Ah! Kenapa dia sesuai banget dengan kriteria cowok yang aku cari selama ini dan kenapa dadaku tiba-tiba berdebar-debar kayak gini?
Sedangkan Daniel diam-diam melirik Monalisa dan berkata di dalam hatinya, aku akan nembak kamu malam ini, Lis. Aku sudah lama menaruh hati padamu. Aku yakin kamu akan menerima cintaku malam ini.
"Kenapa lama banget operasinya, Mas? Udah enam jam lebih ini"
Luke mengelus bahu Embun dan berkata di atas pucuk kepalanya Embun, "Sabar, ya. Ibu sedang berjuang saa ini. Kita doakan operasinya lancar dan sukses"
"Tapi, aku merasa kalau doaku membentur tembok saat ini, Mas. Aku merasa Ibu akan ......." Embun memeluk erat tubuh suaminya dan menangis sesenggukkan di sana.
Luke mengelus-elus punggung istrinya dalam keheningan.
Dokter Theo dan salah satu rekannya tiba-tiba berdiri di depan Luke dan Embun.
Luke spontan membantu Embun berdiri dan Embun bertanya dengan was-was, "Bagaimana operasinya, Dok? Bagaimana Ibu saya?"
"Pasti lancar dan sukses, kan operasinya?" Luke bertanya dengan wajah penuh harap.
Dokter Theo menghela napas panjang dan berkata dengan suara pelan, "Maaf! Ibu Lastri kalah berjuang melawan maut saat beliau berada di meja operasi. Kami sudah berjuang sekuat tenaga, tapi Tuhan berkehendak lain"
Seketika, Embun jatuh pingsan di dalam pelukan suaminya.
__ADS_1