
Dua jam sebelum Luke pulang, Embun makan di meja makan bersama dengan Maria dan Maria langsung berkata, "Nak, Nenek tahu semuanya. Kamu diusir dari rumah karena insiden di private room yang melibatkan cucu Nenek. Kamu juga hamil saat ini. Nenek ingin bertanggung jawab atas kamu. Nenek akan nikahkan kamu dengan Luke agar anak kalian punya status. Dengan begitu, kamu akan tinggal di rumah ini dengan aman. Tanpa perlu mencari kost-kostan. Dona juga udah ijin ke Ibu kamu. Dona bilang kalau kamu sementara tinggal di rumah dinas keluarga Donovan"
Melihat Embun masih mematung, Maria menyentuh tangan Embun dan kembali berkata, "Kamu nggak ingin anak kamu lahir di luar sana, menderita dan tanpa tahu siapa ayahnya, kan?"
Embun menggeleng cepat.
Maria tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, kamu mau menikah dengan Luke Donovan, Kan?"
Embun yang masih syok hanya bisa mengangguk pasrah.
Mentari menenteng paper bag berisi oleh-oleh yang dia beli untuk neneknya Luke. Dia bertekad untuk menemui neneknya Luke dan menjadi dekat dengan neneknya Luke lewat oleh-oleh yang dia beli dengan merogoh koceknya dalam-dalam.
Namun, Menteri harus menelan rasa kecewa saat anak buahnya Maria Donovan yang berjaga di depan pintu, tidak mengijinkannya masuk.
"Saya perlu bertemu dengan Nyonya Maria Donovan. Saya perlu menyerahkan oleh-oleh ini ke beliau secara langsung. Tuan Luke dan Pak Rendy baru saja masuk dan saya adalah sekretarisnya Tuan Luke. Kenapa saya tidak diijinkan masuk?" Mentari masih bersikeras untuk masuk ke dalam kediaman mewahnya Maria Donovan.
"Maaf. Nyonya melarang siapa pun masuk ke dalam saat ini. Ada meeting keluarga saat ini dan Nyonya nggak ingin diganggu barang sedetik pun"
Mentari akhirnya mengalah dan dengan langkah kecewa ia pergi meninggalkan kediaman mewah Maria Donovan dengan masih menenteng buah tangan.
Maria menoleh ke Luke dan langsung berkata, "Duduk!"
Luke sontak menggeleng kencang sambil berkata, "Nggak mau" Lalu, ia memejamkan kedua mata dan merapalkan rangkaian kata andalannya yang selalu ia ucapkan saat ia diserang panik dan cemas. Rangkaian kata itu adalah, "Kingkong badannya besar, tapi aneh kakinya pendek, lebih aneh binatang bebek, lehernya panjang, eh, kakinya kok pendek" Luke mengucapkan rangkaian kata itu dengan cepat dan sewaktu ia ingin mengulanginya lagi, ia merasakan pergelangan tangannya ditarik. Luke langsung membuka mata dan melihat neneknya yang menarik pergelangan tangannya.
Maria mendudukkan Luke di kursi dan ia langsung duduk di kursi yang berada di sebelahnya Luke. Dengan wajah kesal ia menyemburkan, "Kenapa kau malah memejamkan mata dan merapalkan kata aneh itu lagi?"
Luke berkata lirih sambil menunjukkan jari ke arah Embun, " Karena, ada bayangan aneh di situ dan jika aku merapalkan kata-kata andalanku tadi, bayangan itu akan hilang"
Embun merasa tersinggung dan sontak menyemburkan, "Kau......."
__ADS_1
Luke berteriak kaget, "Dia bisa bicara sekarang, Nek. Kenapa bayangannya belum hilang, malah bisa bicara sekarang, hiks, hiks, hiks?"
Plak! Maria menepuk keras punggungnya Luke sambil menggeram kesal, "Dia bukan bayangan. Embun tamu kita dan kamu harus menghormatinya"
Luke menarik tangannya dan sontak menoleh ke neneknya dengan wajah kebingungan. Lalu, ia bergegas bertanya, "Nenek bisa melihatnya? Nenek bisa melihat bayangan kucing liar itu?"
Plak! Maria kembali memukul punggungnya Luke dan masih dengan menggeram kesal ia berkata, "Jaga ucapan kamu! Ada pengacara Adam Baron di sini dan ada pejabat dari kantor pencatatan sipil di sini"
Luke menoleh ke samping kanan dan sontak bertanya, "Kalian juga bisa melihatnya?"
Adam Baron dan pejabat dari kantor pencatatan sipil mengangguk pelan.
"Sial! Dia bukan bayangan berati. Tapi, kenapa ia ada di sini? Lalu, kenapa ada kalian juga di sini?" Luke menatap Adam Baron dan pejabat dari kantor pencatatan sipil.
"Mereka ada di sini untuk menikahkan kamu dengan Embun dan......."
What!?" Luke sontak bangkit berdiri dan mendelik ke neneknya. Dia kemudian menggeleng cepat sembari berkata, "Nggak! Aku nggak mau menikah dengan kucing liar itu. Aku......"
Luke menatap wajah cantik neneknya dengan tautan alis, kemudian bertanya, "Ke ...kenapa wajah Nenek merah kayak tomat? Ne....nenek marah besar, ya, saat ini?"
Maria menghela napas panjang beberapa kali dan sambil memijit keningnya, ia menyemburkan kata, "Tentu saja Nenek marah besar. Kamu sudah merenggut kegadisannya Embun, sudah bikin Embun hamil dan kamu nggak mau bertanggung jawab? Nenek gagal mendidik kamu selama ini. Nenek malu sama almarhum Mama kamu dan.........."
Luke menatap Embun dan dengan pandangan tidak percaya dia kemudian bertanya, "Kamu hamil?"
Embun menghela napas panjang lalu mengangguk pelan.
"Tapi, kenapa bisa hamil? Aku sudah kasih cek untuk mengurus semua keperluan kamu. Seharusnya kamu minum sesuatu agar tidak hamil. Seharusnya kamu. ........"
Plak! Telapak tangan Maria kembali mendarat keras di punggung Luke. Maria kemudian menggeram, "Tega kau bilang begitu sama gadis yang sudah kau nodai? Tega kau bilang begitu hah?! Kau pria macam apa yang menyuruh seorang gadis untuk menggugurkan kandungannya? Kau ingin Nenek malu dan kena penyakit mati muda?"
__ADS_1
"Tenang, Nek. Aku tidak menyuruh dia untuk menggugurkan kandungan. Aku menyuruhnya mencegah agar dia nggak sampai hamil" Luke mengelus kedua bahu neneknya.
Maria menepis kedua tangan Luke dan dengan kesal ia berucap, "Lalu sekarang gimana? Kalau kamu nggak mau menikahi Embun, kau masih punya muka mengunjungi makam Mama kamu? Kau tega melihat Mama kamu kecewa melihat kamu dari Surga sana, hah!? Kau mau bikin Nenek sakit-sakitan karena rasa bersalah Nenek sama Embun? Ana! Maafkan Mama mertua kamu ini yang tidak bisa mendidik Luke dengan benar. Maafkan aku, Ana!"
Luke langsung menoleh ke Adam Baron dan petugas pencatatan sipil yang tengah menundukkan kepala, "Oke! Nikahkan aku dengan dia sekarang juga!"
Rendy dan Dona yang menunggu di depan bersitatap dalam diam saat mereka mendengar suara huru hara di dalam.
Setelah resmi menjadi suami sahnya Embun Sanjaya dan sepeninggalnya Adam Baron beserta pejabat dari kantor catatan sipil, Luke bangkit berdiri lalu berkata, "Aku akan keluar sebentar. Aku butuh menghirup udara segar sebentar"
"Jangan ke klub lagi! Jangan pulang dalam keadaan mabuk lagi! Ingat, kamu akan punya anak" Maria menepuk pundak Luke.
Seketika itu, Luke bisa merasakan kalau dia sekarang punya beban yang sangat berat, yakni menjadi seorang suami dan calon ayah. Luke mengangguk dan tanpa menoleh ke istrinya ia pergi. Rendy langsung mengikuti langkah bos besarnya.
Dona berkata ke Maria, "Nyonya besar, Nyonya muda harus kita bawa ke rumah pribadi Tuan Luke sekarang juga!"
"Lho, kenapa?"
"Karena lusa, Tuan muda Daniel, Istrinya dan Nyonya Lea, balik dari Jepang. Masa bulan madu Tuan Daniel udah habis"
"Ah, iya benar. Aku nggak ingin Lea tahu soal Embun sebelum hari H pemilihan Presdir periode baru, tiba. Oke, kita antarkan Embun ke rumah pribadinya Luke"
Maria membawa Embun ke rumah pribadinya Luke dengan diringi tiga buah mobil. Satu mobil berisi Maria, Dona, dan Embun, satu mobil berisi barang-barang keperluan pribadinya Embun, dan satu mobil yang berada di barisan terakhir adalah mini bus yang berisi dua puluh pelayan yang dibawa Maria untuk melayani Embun di rumah pribadinya Luke.
Luke mengajak Rendy ke rooftop kantornya. Dia tidak berani pergi ke klub untuk minum-minum, karena ia teringat akan mamanya. Dia tidak ingin mamanya kecewa melihatnya dari Surga.
Luke mengirup dalam-dalam rokoknya dan sesekali menghela napas panjang. Perasannya campur aduk saat itu..
Rendy berkata pelan, "Tuan, Nyonya besar membawa Nyonya muda ke rumah pribadi Anda. Nyonya besar tidak ingin Nyonya Lea tahu soal pernikahan Anda sebelum hari H pemilihan Presdir periode baru, tiba"
__ADS_1
Luke mengirup kembali rokoknya dalam-dalam dan hanya menyahut, "Hmm"