Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Siapa Dia?


__ADS_3

"Serahkan telepon genggam kamu dan ikut aku ke kantorku!"


Karyawati Grup Donovan itu langsung menyerahkan telepon genggamnya dan mengikuti langkah lebarnya Rendy.


Sementara itu, model cantik dan seksi yang sedari awal terus mengekor Rendy dan Luke, berdiri mematung di tempatnya. Dia kebingungan sendiri akan mengikuti langkahnya Rendy atau mengikuti langkah Luke.


Luke melihat dan mendengar Embun berkata diiringi isak tangisnya, "Kak, tolong bersihkan nama Ibu dan kembalikan kalungnya" Embun memegang lengan bawahnya Mentari.


Mentari mendelik dan berteriak kencang, "Lepaskan aku dan pergilah!!!!?? Dasar anak benalu tidak tahu malu!!!!!!"


"Jangan hina ibukku!!!!" Embun mendelik ke Mentari.


Melihat Embun mendelik dan berteriak ke arahnya, Mentari merasa tersinggung dan ia menampar pipi Embun dengan sangat keras. Saat Embun melepaskan lengan Mentari, wanita yang bermarga sana dengan Embun itu, langsung mendorong Embun.


Luke dengan wajah dan hati meradang penuh amarah, pria tampan itu berlari kencang dan berhasil menangkap tubuh Embun sebelum Embun jatuh tergeletak di atas lantai yang dingin dan keras.


Mentari sontak menarik kedua alisnya ke atas dan ternganga saat ia melihat pria pujaan hatinya berdiri di depannya dan memeluk Embun.


Luke menyipitkan kedua kelopak matanya dan dengan napas menderu ia berteriak kencang, "Berani benar kau menamparnya dan mendorongnya!!!!!!!!" Luke seketika itu menghunus tatapan tajam ke Mentari.


Mentari terlonjak kaget dan sekujur tubuhnya gemetar ketakutan.


Embun membeku di dalam pelukan suaminya.


"Kalau kau bukan wanita aku sudah hajar kau habis-habisan! Aku akan pecat kamu!"


Mentari langsung bersimpuh di atas lantai dengan wajah kaget bercampur takut.


Mendengar kata pecat keluar dari mulut suaminya, Embun sontak menarik diri dari pelukan suaminya dan mengatupkan kedua tangan di depan suaminya sembari berkata, "Jangan pecat Kakak saya, Tuan"


Luke sontak menautkan kedua alisnya di depan Embun dan melemparkan tanya, "Kakak? Dia.........." Luke menunjukkan jari ke Mentari tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Embun.


"I.....iya, Tuan. Tolong jangan pecat saya" Mentari memohon dengan masih bersimpuh di atas lantai. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuhnya yang masih gemetar ketakutan.


Luke berteriak, "Diam kamu!!!!!" tanpa memandang Mentari. Tatapannya masih menatap lembut wajah Embun.


Embun masih mengatupkan tangan di depan Luke dan memberanikan diri untuk memohon, "Iya, Tuan. Kak Mentari adalah Kakak saya beda Ibu. Tolong jangan pecat Kak Mentari, Tuan! Saya yang salah. Saya yang mencarinya, menemuinya dan bikin keributan di sini. Maafkan saya, Tuan"

__ADS_1


Luke menangkup wajah Embun dan Embun langsung terlonjak kaget begitu pula Mentari. Mentari bahkan sampai ternganga melihat pria pujaan hatinya menangkup wajah adik tirinya. Dia ingin menyemburkan panas api kecemburuannya, tapi dia tidak berani.


Luke menghela napas panjang dan berkata dengan masih menangkup wajah Embun, "Kenapa kau bisa memiliki hati sebaik ini? Dia udah jahatin kamu dan hampir membuatmu celaka, tapi kamu masih membelanya"


Embun menurunkan pandangannya sambil berucap, "Karena, dia Kakak saya"


Luke melepaskan wajah Embun sambil berkata, "Dia bahkan tidak menganggapmu sebagai adiknya"


Luke langsung menoleh ke Mentari, "Berdiri kau!"


Mentari berdiri dan saat ia hampir jatuh, karena kakinya masih terasa lemas, Embun langsung melangkah hendak menolong Mentari. Namun, dengan sigap Luke menarik Embun ke dalam pelukannya sambil berkata, "Jangan tolong dia lagi! Cukup sudah kau baik sama dia!"


Mentari berhasil menempelkan tangan ke tembok dan dia berhasil berdiri tegak di depan Luke.


Luke menghela napas panjang dan berkata, "Aku menuruti permintaannya Embun. Aku tidak akan memecat kamu. Tapi, aku tidak mau melihat muka kamu lagi di dekatku. Aku akan suruh Rendy memindahkan kamu ke bagian administrasi dengan begitu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi"


Mentari terlonjak kaget. Dia tidak ingin impiannya menjadi nyonya Luke Donovan sirna. Dia langsung memegang lengan bawahnya Luke yang Luke pakai untuk memeluk Embun sambil berucap dengan derai air mata, "Saya masih ingin berkerja melayani Anda, Tuan. Saya masih ingin menjadi sekretaris pribadi Anda. Jangan pindahkan saya ke .........."


Luke langsung menepis tangan Mentari dan saat ia melihat Embun hendak bersuara, Luke langsung berbisik di telinga Embun, "Kalau kau bela lagi Kakak kamu, aku akan cium bibir kamu sekarang juga"


Mentari menarik lengan Embun dan berteriak, "Kenapa kamu benamkan wajah kamu di dada Tuan Luke Donovan?! Dasar wanita menjijikkan. Kau sama seperti Ibu kamu. Wanita penggoda laki orang dan ........"


Plak! Embun menampar pipi Mentari


Mentari dan Luke seketika menatap Embun dan tertegun.


Embun menggeram ke Mentari, "Kakak boleh hina aku. Kakak boleh kasar dan jahat sama aku. Tapi, aku nggak pernah biarkan siapapun menghina dan jahat sama ibukku! Kakak dengar itu?!!!!!" Embun lalu berputar badan dan pergi begitu saja meninggalkan Luke dan Mentari


Luke mendelik ke Mentari yang masih mengelus pipi dan tertegun. Lalu, Luke berkata, "Kau dengar itu?! Aku juga nggak akan pernah biarkan siapapun menghina Embun dan Ibunya" Luke lalu berputar badan dan berlari kecil menyusul Embun sembari menelepon Rendy, "Ren, urus Kepindahan Mentari ke bagian administrasi umum, sekarang juga, nggak pakai lama, dan nggak usah nunggu sampai Belanda datang lagi ke sini!"


"Siap delapan enam laksanakan, Tuan" Sahut Rendy.


Model cantik dan seksi yang menyaksikan Luke sangat perhatian dan peduli dengan gadis muda berkacamata besar dan tebal, langsung bergumam, "Kenapa Tuan Luke sangat peduli sama gadis muda berkacamata tebal dan jelek itu? Ada hubungan apa Tuan Luke dengan gadis muda itu?"


Rendy mengembalikan telepon genggam ke Karyawati yang masih berdiri tegak di depannya sambil berucap, "Jangan beritahu siapapun soal kejadian ini. Aku udah hapus semua rekaman kejadian di depan ruangannya Mentari yang ada di telepon genggam kamu"


"Baik, Pak Rendy"

__ADS_1


"Kembalilah bekerja!"


"Baik, Pak Rendy"


Luke berjalan di samping Embun dan berkata, "Kamu hebat"


Embun menoleh ke Luke sambil melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya Luke yang pintunya dibukakan oleh Luke, sambil berkata, "Nggak ada yang bisa dibanggakan, Tuan. Nggak ada yang hebat. Saya udah berani menampar Kakak saya. Saya tidak merasa hebat sama sekali. Saya bahkan menyesalinya. Seharusnya saya bisa lebih menahan emosi saya. Saya takut kualat dan berubah jadi jambu monyet dan ......."


Luke langsung membungkam mulut Embun dengan telapak tangan kanannya sembari berkata, "Jangan ngomong yang nggak-nggak! Kamu nggak akan kualat dan nggak akan pernah jadi jambu monyet. Kau dengar itu?!"


Embun menganggukkan kepalanya dan Luke menarik pelan telapak tangannya dari mulut Embun.


Luke lalu memeluk Embun dan berkata, "Aku lega kamu dan anakku nggak celaka. Aku lega kalian baik-baik saja"


Dag, dig, dug, ser! Jantung dan hati Embun kembali berjumpalitan tidak karuan. Lalu, Embun berkata di dalam pelukannya Luke, "Terima kasih sudah menjaga anak kita dengan baik selama ini, Tuan"


Luke menyahut, "Hmm" Tanpa melepaskan pelukannya.


Mentari bertanya ke Rendy saat Rendy mengantarnya pindah ke ruang administrasi, "Kata Nenek saya, Embun ikut pelatihan dan tinggal di asrama Grup Donovan. Apa Embun karyawan di kantor ini juga, Pak?"


Rendy terus melangkah dan tidak menjawab pertanyannya Mentari.


"Apa jabatan Embun di sini? Kenapa Tuan Luke sangat peduli sama Embun, Pak?" Mentari berjalan sambil terus menoleh ke Rendy.


Rendy menghela napas panjang dan sambil terus berjalan, ia berkata, "Itu bukan urusan kamu! Jadi diamlah dan jangan banyak nanya!"


"Tepi, Embun adik saya dan........."


Rendy langsung menghentikan langkahnya dan Mentari sontak ikut mengentikan langkahnya


Rendy menoleh ke Mentari dan dengan wajah dingin ia berkata, "Cih! Adik? Kau bahkan tidak pernah menganggap Embun Sanjaya sebagai adik kamu selama ini. Kalau kau tetap ceriwis dan banyak tanya, jangan salahkan aku kalau kamu ditendang keluar dari kantor ini!"


Mentari langsung mengunci mulutnya.


Gilang dikawal oleh kelima anak buahnya Rendy ke salah satu hotel yang diakuisisi oleh Grup Donovan. Gilang bertanya saat ia masuk ke dalam kamar VVIP yang ada di hotel itu, "Kenapa saya dijemput pulang? Kenapa Bos saya mengijinkan saya pulang padahal sebelumnya saya tidak diijinkan pulang sebelum proyek saya selesai. Siapa Bos kalian? Kenapa Bos kalian bisa membuat Bos saya mengijinkan saya pulang ke sini? Lalu, kenapa saya langsung dibawa ke hotel ini?"


Salah satu anak buahnya Rendy langsung berkata, "Jangan banyak nanya! Tunggu saja Bos saya datang untuk menemui Anda, Pak Gilang"

__ADS_1


__ADS_2