
Luke memanggil nama Embun, "Mbun, kamu beneran sudah tidur?"
Embun yang masih bingung harus bersikap bagaimana setelah suami tampannya itu mencumbunya beberapa menit yang lalu, memilih untuk tetap memejamkan mata dan tidak menyahut panggilannya Luke.
Luke kembali menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, kenapa dia bisa semudah itu tertidur lelap setelah aku menciumnya? Apa ciumanku tidak berarti apa-apa baginya?
Luke tidur miring dan ia terus memandangi wajah Embun yang juga tidur miring dan memeluk tubuh mungilnya Dino. Seketika Kejadian dia memagut dan menghimpit tubuh ramping Embun beberapa detik yang lalu kembali terbayang di benak Luke. Wangi tubuh Embun dan lembutnya rambut indah bergelombangnya Embun membuat dada Luke tidak bisa berhenti bergemuruh dan membuat panas sekujur tubuh Luke. Di saat Luke mulai merasakan sesak napas, pria tampan itu langsung melompat turun dari ranjang dan membuka pintu balkon. Luke mengambil rokok yang ada di meja balkon sisa pagi tadi, ia segera menyalakan rokok itu dan ia hisap dalam-dalam untuk mengusir rasa sesak di dadanya.
Luke merokok sembari menatap jauh ke depan. Lalu, pia tampan itu bergumam, "Aku seharusnya membenci Embun. Aku seharusnya bersikap kejam padanya untuk membalas perlakuannya padaku. Dia sudah pergi dariku tiga tahun yang lalu dengan membawa anakku yang saat itu ada di dalam kandungannya. Tapi, kenapa hatiku selalu menggerakkan aku untuk memperlakukan Embun dengan sebaliknya. Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak menyentuh dan menciumnya. Padahal kalau sama Chika aku tidak pernah merasa seperti itu"
Setelah menghabiskan lima batang rokok, pria tampan itu masuk dan menutup pintu balkon, lalu melangkah ke ranjang. Dia merapikan selimut di atas tubuh Dino dan mencium kening Dino. Di saat ia merapikan selimut di atas tubuh Embun, dia mendengar Embun mengigau memanggil-manggil namanya., "Mas Luke, Mas, Mas Luke"
Luke seketika tertegun dan bergumam lirih, "Apa yang kau impikan, Mbun? Kenapa kau memanggil-manggil namaku?"
Di saat Embun berhenti mengigau, Luke mendaratkan ciuman di kening Embun dan berkata di sana, "Makasih udah mimpiin aku"
Keesokan harinya, Luke terbangun saat ia mendapatkan ciuman hangat di pipinya. Luke sontak tersenyum senang dan berkata dengan masih memejamkan mata, "Kau mau lagi, ya? Masih kurang yang kemarin?"
"Iya, masih kurang. Dino mau dinyanyikan lagi lagu Nina Bobo yang panjang"
Luke sontak membuka kedua matanya dan langsung meringis canggung di depan Dino.
"Ayo nyanyi lagi, Yah"
Luke langsung mendekap Dino dan menggendong Dino turun dari atas ranjang sambil berkata, "Papa harus mandikan kamu dulu. Bau asem anak Papa, nih" Luke menciumi ketiaknya Dino dan Dino sontak tertawa terpingkal-pingkal.
Di tengah-tengah kegiatannya menggosok pelan tubuh Dino dengan memakai sabun, Luke bertanya, "Bunda kamu ke mana? Kok udah nggak ada pas Ayah buka mata"
"Pas Dino buka mata, Bunda juga udah nggak ada. Jadi, Dino nggak tahu Bunda ada di mana"
"Bunda kamu suka bangun pagi, ya?"
"Iya"
"Terus ngapain?"
"Masak"
"Bunda kamu suka masak, ya?"
__ADS_1
Dino mengangguk riang dan berkata, "Bukan hanya suka masak, tapi Bunda sangat pandai memasak. Semua masakannya Bunda enak. The best pokoknya" Dino menunjukkan ibu jarinya di depan Luke.
"Iya. Ayah kemarin makan nasi goreng bikinannya Bunda kamu. Emang enak banget"
"Hmm! Masakan Bunda memang juara"
Luke tersenyum di depan Dino dan berkata di dalam hatinya, dia istri yang sempurna. Tapi, kenapa kata Chika aku tidak pernah mencintainya?
Setelah selesai memandikan dan mendandani Dino, Luke mencium kedua pipi gembulnya Dino, lalu berkata, "Ayah akan mandi dulu dan kamu cari dulu Bunda kamu ada di mana saat ini. Lalu, minta Bunda kamu ke sini secepatnya. Bilang kalau Ayah butuh bantuan. Nanti, Ayah akan kasih kamu hadiah kalau kamu berhasil menjalankan misi dari Ayah"
"Siap Ayah" Dino memberikan high five ke Luke, lalu berlari riang keluar dari dalam kamar dan Luke bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
Dino berlari ke ruang makan dan menemukan nenek buyut dan bundanya tengah menata makanan di meja makan.
Maria langsung menggendong Dino dan menciumi wajah Dino sambil bertanya, "Wangi banget cucu Nenek, pagi ini. Siapa yang mandiin kamu dan mendadani kamu?"
"Ayah, dong" Sahut Dino dengan wajah bangga.
"Bunda, Ayah menyuruh Bunda masuk ke kamar. Ayah butuh bantuan secepatnya" Ucap Dino di dalam gendongan nenek buyutnya.
Maria tersenyum dan langsung bilang ke Embun, "Lihat dulu suami kamu kenapa. Tinggal aja urusan meja makan. Biar pelayan yang menyelesaikannya"
Dino langsung berbisik ke nenek buyutnya, "Itu tadi misi dari Ayah, Nek. Kalau Dino berhasil menjalankan misi, Ayah akan kasih hadiah ke Dino"
Maria Donovan sontak tergelak geli lalu berkata, "Kalau gitu kita tunggu Ayah dan Bunda kamu di meja makan"
"Hmm" Sahut Dino sambil menganggukkan kepalanya.
"Mas, kamu di mana? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Aku di sini" Sahut Luke di depan kaca rias"
Embun menautkan aslinya saat ia melihat Luke berdiri di depan kaca rias dan terlihat tidak membutuhkan bantuan secepatnya.
Luke menoleh dan langsung berkata, "kenapa diam saja di situ. Tolong bantu aku pakai dasi ini"
Di saat Embun menunduk dan membantu Luke memakai dasi, pria tampan itu kembali tergoda menyentuh rambut Embun. Dia menyentuh rambut indah itu dan menjumput rambut itu saat ia melihat Embun membiarkannya.
Luke kemudian membawa beberapa helai rambut Embun yang tersangkut di jari jemarinya, lalu ia cium.
__ADS_1
Embun mendongak dan bertanya, "Apa Mas sudah ingat akan cinta kita?"
Luke menggeleng dengan masih mencium rambutnya Embun.
Embun sontak melangkah mundur sambil menarik rambutnya hingga helaian rambut yang ada di ujung jemarinya Luke menghilang. Luke menatap lekat wajah Embun dan bertanya, "Kenapa kau tarik rambut kamu? Aku masih ingin berlama-lama menciumnya"
Embun mendelik dan berkata tegas, "Tapi, aku nggak mau kamu menciumi rambutku tanpa adanya rasa cinta. Maaf, Mas, aku harus menyiapkan sarapan untuk Dito"
Sewaktu Embun memutar badan hendak meninggalkan dirinya, Luke langsung menarik lengan Embun dan memeluk Embun.
Embun meronta dan berhasil melepaskan diri dari pelukan Luke, lalu wanita itu bergegas berlari meninggalkan Luke.
Aku seharusnya membenci kamu. Tapi, kenapa setiap kali kamu berada di dekatku aku nggak bisa mengendalikan diriku untuk tidak menyentuhmu. Dan aku ingin selalu melihat wajah kamu di setiap detik napasku Lalu, di saat kamu berlalu dari hadapanku, aku selalu merasa nggak rela, Mbun, kenapa? Luke membatin sembari menatap punggung Embun yang menjauh.
Setelah Luke duduk bergabung di meja makan, Maria langsung berkata dengan wajah semringah, "Dino hari ini mulai sekolah. Nenek yang akan mengantar dan menunggui Dino sampai Dino pulang sekolah. Lalu, Embun akan berada di satu ruangan dengan dirimu dan......."
"Hah?!" Embun dan Luke tersentak kaget secara bersamaan.
"Iya dan itu harus"
"Tapi, kenapa harus?"
"Karena Embun adalah Brand Ambassador perusahaan kita dan kamu adalah Presdir" Sahut Maria Donovan dengan senyum riang.
"Tapi, sebelumnya nggak seperti itu. Brand Ambassador nggak harus berada satu ruangan denganku"
"Itu karena Embun juga memiliki status sebagai Istri kamu. Jadi, kalian harus selaku berdekatan"
Embun dan Luke hanya bisa menghela napas panjang dan mengiyakan perintah Maria Donovan.
Beberapa jam kemudian, Rendy mengantarkan Luke dan Embun ke ruang kerjanya Luke.
Saat pintu lift terbuka, mereka bertiga dikejutkan dengan keberadaannya Chika.
Chika sontak bangkit berdiri di sofa dan memekik kaget, "Kenapa wanita itu bisa satu lift dengan kamu, Luke"
"Karena aku adalah Istrinya Luke" Sahut Embun.
"Apa?!" Chika sontak berteriak dan mendelik kaget.
__ADS_1