
Luke menutup kembali mulutnya untuk bertanya, "Kok malah diam? Ayo suapi aku! Aaaaaa" Pria yang berparas tampan di atas rata-rata orang pada umumnya itu, kembali membuka mulutnya.
Embun menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, baiklah. Anggap aja sebagai balas budi karena ia, sudah menolongku.
Embun memasukkan potongan empek-empek ke dalam mulutnya Luke.
Luke mengunyah dan langsung mengernyit.
"Ada apa, Tuan? Nggak enak atau potongan empek-empek yang saya masukkan terlalu besar?"
Luke menggeleng, lalu berkata, "Jajanan yang biasa ada di kaki lima ternyata banyak kejutannya, ya?"
"Maksudnya?" Embun langsung menautkan kedua alisnya.
Luke menunjuk mulutnya yang masih mengunyah, sembari berucap, "Yang kamu masukkan barusan, ada telur puyuh di dalamnya. Aku nggak suka sama telur puyuh. Kalau makan telur puyuh, wajahku langsung berjerawat. Jerawatnya besar, merah, sakit, dan.........."
"Hahahahahaha" Embun sontak tertawa tanpa ia sadari.
Luke tertegun menatap tawa Embun.
Embun tersentak kaget saat ia melihat ekspresi kaku di wajah Luke. Wanita itu langsung mengatupkan mulutnya untuk berkata, "Maaf. Saya tertawa tanpa permisi dulu, Tuan. Apa Tuan marah?"
Luke menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Pria tampan itu kemudian berkata, "Aku nggak marah kalau kamu kasih tahu ke aku, apa yang membuatmu tertawa barusan?"
Embun menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil berkata, "Saya takut Tuan marah"
"Aku nggak akan marah. Aku janji"
"Sa.......saya membayangkan ada jerawat besar di pucuk hidung Anda dan saya membayangkan Anda mirip Badut di luar sana. Dan........"
"Dan itu lucu buat kamu?"
Embun langsung menurunkan matanya sambil berkata, "Maafkan saya, Tuan"
"Kenapa kamu sering banget bilang maaf? Ngga usah minta maaf. Aku nggak marah, kok. Aku malah berharap beneran ada jerawat merah yang besar di ujung pucuk hidungku, agar aku bisa lihat kamu tertawa lagi"
Embun langsung menatap Luke untuk bertanya, "Kenapa, Tuan? Maafkan saya kalau ketawa saya terdengar mengerikan dan ........"
"Tawa kamu cantik dan terdengar merdu. Aku rasa kalau kamu diberi kesempatan bernyanyi di depan umum, suara kamu pasti terdengar sangat merdu dan bagus" Luke tersenyum.
Embun seketika merasakan panas di wajahnya dan ia langsung menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya sambil memotong empek-empek menjadi bagian kecil-kecil untuk ia siapkan lagi ke suaminya.
Luke menunduk untuk mengecek wajah Embun, "Aku sempat melihat wajah kamu merah. Kamu kenapa? Kamu alergi kacang atau apa, kok wajah kamu merah?"
Embun memalingkan muka sambil berkata, "Saya kepedesan, Tuan" Ia mengambil selembar tissue dari kotak tissue yang tersedia di sisi kanannya.
"Apa tidak apa-apa kalau kamu kepedesan? Anakku nggak akan kegerahan, kan, di dalam perut kamu kalau kamu kepedesan?" Luke berkata sembari mengibaskan tangannya di depan perut Embun yang masih terlihat rata.
Embun berdeham dan sambil berkata, "Saya rasa anak kita baik-baik saja, Tuan. Tuan nggak perlu mengipasinya kayak gini! Anak kita tangguh, Tuan. Dia nggak akan kegerahan kalau Ibunya kepedesan" Embun mengarahkan sendok berisi potongan kecil empek-empek ke mulut Luke dan Luke langsung membuka mulutnya dan berkata, "Benarkah? Anakku anak yang tangguh?"
"Iya" Embun menganggukkan kepala sembari mengulas senyum senang.
__ADS_1
Luke langsung semringah dan sambil mengunyah ia berkata, "Ini enak. Nggak ada telur puyuhnya. Aku suka. Kamu juga makan! Jangan suapi aku terus. Anakku juga pengen empek-empek kayaknya"
Embun tersenyum geli dan berkata, "Baik, Nak. Kamu pengen empek-empek, ya? Ibu akan kasih kamu empek-empek"
Luke tersenyum lebar melihat Embun berkata seperti itu sambil mengelus perut.
Beberapa jam kemudian, pasangan suami istri yang masih sangat baru itu, sampai di rumah. Mereka langsung disambut oleh dokter mata.
"Periksa dengan baik Istriku. Aku ingin dia pakai kontak lensa yang baik dan aman untuk dia dan untuk anak yang ada di kandungannya"
"Baik, Tuan"
"Harus yang bagus. Kemarin, ia pakai kontak lensa dari salon, dia masih tetap tidak bisa melihat dengan jelas"
"Itu karena kontak lensa yang ada di salon nggak ada minus atau silindernya, Tuan. Saya akan periksa dulu mata Nyonya muda"
"Oke. Periksa Istriku dengan benar. Aku akan mandi dulu"
Beberapa menit kemudian, Luke keluar dari dalam kamar dan setelah mencium pucuk kepalanya Embun, dia berkata,, "Aku ke rumah Nenek dulu. Ada pertemuan keluarga. Maaf, aku belum bisa mengajak kamu sebelum pemilihan Presdir periode baru digelar"
Embun membeku setelah Luke mencium pucuk kepalanya. Saat ia sadar dari kebekuannya dan menoleh ke belakang, Luke sudah menghilang.
Dona menghadap kembali ke Nyonya besarnya dan Maria Donovan langsung melemparkan tanya, "Kau sudah temukan pria yang bernama Gilang?"
"Tuan muda sudah mendapatkannya dan menahannya di hotel The Rainbow, Nyonya"
"Baguslah. Setelah tahu ia akan jadi Papa, dia makin ke sini makin dewasa. Syukurlah. Biarkan saja begitu. Biar Luke urus sendiri masalahnya dengan pria yang bernama Gilang itu" Sahut Maria sambil bangkit berdiri untuk pulang ke kediamannya
Beberapa jam kemudian, Luke sampai di halaman depan rumah neneknya. Dia turun dari dalam mobil sport keluaran terbaru dengan langkah pelan. Dia malas bertemu dengan Mama tirinya.
Seorang wanita cantik, bertubuh ramping, berpostur tinggi bak seorang model berdiri di depan Luke dengan mengerucutkan bibirnya, lalu berucap "Tega kau lupa sama aku, Luke Donovan"
Luke melangkah mundur dan menautkan alisnya.
"Aku Soraya Danuro"
Luke kembali melangkah mundur ke belakang saat wanita itu melangkah maju mendekatinya. Luke semakin dalam menarik masuk kedua alisnya.
"Aku mantan pacar kamu. Kita pacaran pas kamu kelas tiga SMA dan aku kelas tiga SMP"
"Aku nggak ingat" Luke berjalan maju melintasi wanita itu.
Grab! Soraya Danuro tanpa ragu, memeluk Luke dari arah belakang.
Luke sontak mengurai gelungan tangan Soraya Danuro di pinggangnya lalu berbalik badan untuk menyemburkan, "Kau gila, ya?! Berani benar kau memelukku dari belakang tanpa ijin dariku"
"Itu karena aku, sangat merindukanmu, Luke. Aku masuk ke keluarga ini karena aku, ingin bertemu lagi denganmu. Aku masih sangat mencintaimu. Cinta pertama tak pernah mati Luke dan aku.........."
Hai! Kak! Kamu udah kenalan sama Istriku?"
Luke seketika menoleh ke asal suara lalu dengan cepat ia menatap ke depan kembali untuk bertanya ke wanita yang masih berdiri di depannya, "Kau Istrinya Daniel? Dan kau........."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku udah berkenalan dengan Kakak kamu yang ramah ini" Soraya Danuro langsung berjalan melintasi Luke untuk menggelungkan tangan di lengannya Daniel.
Luke menggelengkan kepalanya dan berbalik badan meninggalkan Daniel dan wanita yang bernama Soraya Danuro begitu saja.
Makan malam berlangsung seperti biasanya. Daniel yang paling ceriwis dan mendominasi percakapan di meja makan.
Luke tiba-tiba bangkit berdiri dan berkata, "Aku butuh es batu"
Luke kembali tersentak kaget saat ia merasakan pinggangnya dipeluk seseorang dari arah belakang.
Luke langsung mengurai tangan yang memeluk pinggangnya dan segera berbalik badan untuk berkata, "Dengar! Aku tidak tertarik padamu sama sekali! Berhentilah menggodaku dan pikirkan suami kamu! Dasar wanita gila!"
"Aku bukan wanita gila, Luke. Aku hanya tergila-gila padamu dan namaku Soraya. Kau dulu memanggilku Raya dan......."
"Bodo amat!" Luke melangkah maju dan berjalan melintasi Soraya Danuro begitu saja.
Soraya membeku di tempatnya berdiri dan bergumam lirih, "Lihat saja! Kita, kan, serumah, aku akan buat kamu mencintaiku lagi"
Namun, harapannya Soraya Danuro seketika lenyap saat ia kembali ke ruang makan dan tidak menemukan Luke di sana.
Melihat istrinya tampak kebingungan, Daniel langsung berucap, "Kakakku pulang ke rumahnya. Dia capek dan ingin menyendiri di rumahnya"
Soraya Danuro duduk di kursi dengan senyum kecewa.
Luke sampai di rumahnya dan langsung bertanya ke pelayan, "Istriku sudah tidur?"
"Nyonya muda sudah masuk ke kamar sejak jam delapan tadi, Tuan"
Luke langsung berlari kecil masuk ke kamarnya dan setelah melepas kemeja dan celana jinsnya, dia melompat masuk ke atas ranjang. Dia masuk ke selimut, memeluk perutnya Embun dari arah belakang dan berbisik, "Aku ingin tidur dekat anakku malam ini"
Di pagi hari, Luke bangun dan langsung berlari ke kaca besar yang ada di sisi selatan kamarnya. Luke tersenyum semringah menonton bayangan dirinya di cermin. Lalu, ia bergegas berbalik badan untuk berlari dan melompat di kasur sembari berteriak, "Mbun, bangun!" Dia menggoyang pelan kedua bahunya Embun.
Embun terbangun dengan wajah kebingungan. Wanita itu langsung mendorong pelan dadanya Luke sembari menutup mulutnya dan bertanya, "Kenapa Tuan berada sedekat ini dengan saya dan kenapa Anda ada di atas tubuh saya? Tuan mau a......apa?"
Luke langsung melompat pelan ke samping dan duduk bersila sembari berkata, "Buka mata kamu lebar-lebar dan duduklah dulu!"
Embun membuka lebar-lebar kedua matanya sambil duduk menghadap ke Luke.
"Lihat pucuk hidungku!" Luke tersenyum lebar.
Embun menatap pucuk hidungnya Luke dan dengan masih menutup mulutnya, ia bertanya, "Ada apa, Tuan?"
"Lihat! Ada jerawat di pucuk hidungku!" Luke menunjuk pucuk hidungnya dengan ekspresi riang, penuh semangat, dan tampak bangga.
Embun yang masih menutup mulutnya langsung melompat turun dari ranjang dan begitu kakinya menapak ke lantai, ia tidak bisa lagi menahan tawa saat ia melihat ekspresi lucu wajahnya Luke yang dengan bangganya menunjuk jerawat di pucuk hidung.
"Kenapa kamu tertawa harus turun dari ranjang dulu?"
"Saya belum sikat gigi, Tuan. Saya nggak berani tertawa lebar di dekat Anda"
"Aku senang kamu bisa tertawa selepas itu" Luke menatap Embun dengan semringah
__ADS_1
"Itu karena Anda sangat lucu. Baru kali ini saya melihat ada orang kasih tunjuk jerawatnya. Jerawat yang ada di pucuk hidungnya dengan ekspresi bangga, hahahahahaha"
Luke tersenyum lebar dan dia terus menatap wajah istrinya yang tertawa lepas. Jantung Luke kembali berdegup abnormal.