Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Dongeng


__ADS_3

Ibunya Embun mengusap rambut putri tercintanya sambil bertanya, "Apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu?"


"Entahlah. Tapi, Embun merasa nyaman berada di samping Mas Luke. Nenek Maria juga sangat baik sama Embun"


"Kamu mencintai Suami kamu?"


"Entahlah Bu. Embun hanya fokus sama anak yang ada di kandungannya Embun saat ini"


"Apa kamu merindukan Suami kamu saat ini?"


Embun menggeleng, lalu berkata, "Mungkin karena Embun tahu pisahnya cuma sehari, nggak lama. Jadi, Embun nggak merasa kangen. Atau mungkin belum, Bu. Emangnya kenapa?"


"Kalau nggak rindu, berarti kamu belum memiliki perasaan yang dalam sama Suami kamu. Kasihan, Suami kamu. Ibu lihat, Suami kamu sangat menyayangi kamu. Jangan lama-lama mengabaikan perasaan sayang Suami kamu itu! Kalau terus kau abaikan, bisa-bisa Suami kamu digaet cewek lain"


"Baik Bu"


Embun lalu bergumam di dalam hatinya, apa iya Mas Luke menyayangi aku? Mas Luke hanya sayang sama anak yang ada di dalam kandunganku ini.


"Kalo dipikir-pikir, mending nggak usah dipikirin, ya?" Luke berucap sembari mengangkat segitiga dari atas meja Billiard.


Rendy langsung semringah dan berkata, "Setuju, Tuan. Nggak usah dipikirin dan mari kita menuju kamar tidur untuk........"


"Tapi kenapa tetep kepikiran juga ya?" Luke berucap sembari menyodok bola Billiard.


"Ke.....kenapa tetep kepikiran?" Rendy mulai mewek.


"Aku yang jauh dari Embun kenapa kamu yang mewek?" Tatapan Luke tajam menusuk mata Rendy.


Rendy langsung menyahut, "Sa.....saya nggak mewek. Saya cuma mengajak wajah saya senam" Dan dengan terpaksa, Rendy mengubah mewek di wajahnya dengan senyum lebar yang terpaksa.


"Biar apa wajah kamu diajak senam?" Luke bertanya sembari mengitari meja Billiard.


"Biar, emm, biar bisa tampan kayak Anda, Tuan. Hehehehehe" Rendy meringis.


"Dasar aneh" Sahut Luke dengan acuh tak acuh.


Iya, saya jadi aneh karena Anda, Tuan. Batin Rendy.


"Tuan, sebentar. Saya ambil minum dulu. Tuan mau diambilkan minum apa?"


"Suruh Chef Juni bikin kopi kental" Sahut Luke sembari menyodok bola Billiard.


"Baik Tuan" Rendy langsung melesat ke dapur.


"Chef, tolong bikin kopi kenta untuk Tuan"


"Huufttt! Kenapa Tuan belum tidur juga? Aku udah sangat capek, nih" Sahut Chef Juni sembari mengambil cangkir kopi dan sendok teh.


"Tenang, aku sudah Nemu solusinya. Aku akan bikin kita terbebas dari insomnianya Tuan kita"


"Bagiamana caranya?" Tanya Chef Juni sembari mengaduk kopi.


"Ssstttt" Rendy menempelkan telepon genggamnya di telinga dan berkata, "Halo, Bu Lastri?"


"Iya. Ini siapa?"

__ADS_1


"Saya Rendy. Asisten pribadinya Tuan Luke Donovan"


"Oooo. Iya, Nak Rendy. Ada apa nelpon selarut ini?"


"Ini sudah nggak larut lagi, Bu, hehehehe. Ini sudah dini hari dan Tuan Luke belum bisa tidur. Apa Nyonya muda masih bangun?"


"Maksud Nak Rendy, Embun?"


"Iya"


"Masih, Embun masih bangun. Mbun! Nak Rendy ingin bicara sama kamu"


Embun yang tengah membacakan dongeng untuk janinnya, meraih telepon genggam itu dan berkata, "Halo, ada apa Pak Rendy?"


"Tolong bilang ke Tuan, kalau ini sudah dini hari dan Tuan harus segera tidur"


"Lho, emangnya boleh? Saya dan Mas Luke, kan, sedang dipingit"


"Kan, lewat telepon, Nyonya. Ini nggak ketemuan" Sahut Rendy dengan sedikit kesal.


"Baiklah" Sahut Embun.


"Dan satu lagi, Nyonya"


"Apa, Pak Rendy?"


"Jangan bilang kalau saya yang nelpon Anda duluan"


"Baiklah" Sahut Embun.


Rendy menoleh ke Chef Juni, "Kopinya nggak jadi" Lalu, ia melesat ke kolam renang dan langsung menyerahkan telepon genggamnya ke tuan mudanya.


"Itu telepon dari Nyonya muda, Tuan" Rendy mengulas senyum lebar di wajah tampan lokalnya.


Luke langsung melempar tongkat stiknya begitu saja ke meja Billiard dan berbalik badan meninggalkan Rendy sambil berkata, "Halo? Ada apa?"


"Saya cuma pengen ngecek ke Pak Rendy, apa Mas udah tidur?"


"Mana bisa aku tidur tanpa anakku. Aku pengen meluk anakku"


"Saya punya beberapa buku dongeng dan saya ingin bacakan buku dongeng ini untuk anak kita"


"Benarkah? Apa anakku suka mendengar dongeng itu?"


"Mas ada di kamar nggak saat ini?"


"Nggak. Aku main Billiard sama Rendy. Aku ada di samping kolam renang"


"Mas, masuk kamar dulu gih! Aku akan kasih jawabannya kalau Mas udah masuk ke kamar"


Luke langsung berlari menuju ke kamarnya sambil berkata, "Oke. Aku lari nih ke kamar"


Luke menutup pintu kamar dan langsung bertanya, "Gimana? Anakku suka nggak dengan dongengnya?"


Melihat tuan mudanya melesat masuk ke kamar, Rendy melompat riang lalu sambil bernyanyi, "Masukkan bola ke dalam keranjang, jangan terlalu lama dipermainkan! Hempaskan bola ke dalam keranjang, nggak jadi nombok nggak jadi nombok" Asisten berparas tampan lokalan itu, masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Melihat Rendy masuk ke kamar dengan bernyanyi riang, Chef Juni menenggak kopi buatannya dan segera berlari ke kamarnya juga.


Rendy melompat ke ranjang dan sambil memejamkan mata lelahnya, ia bergumam, "Kalau kerja bareng Tuan Luke, lama-lama bisa ketularan cerdas juga, ya? Pfftttt"


"Aku sudah ada di atas kasur, nih. Cepat bilang! Anakku suka nggak sama dongengnya?"


"Oke. Saya akan mulai bacakan ceritanya karena anak kita, ingin Papanya juga ikut mendengarkan cerita dongeng ini"


"Wah! Jadi, kamu belum ceritakan dongeng itu ke anakku?"


"Belum. Karena anak kita, ingin mendengarkan cerita dongeng ini sama Papanya. Anak kita ingin, Papanya ikut mendengarkan cerita yang dibacakan oleh Ibunya"


"Wah! So sweet banget anakku. Dia selalu ingat sama Papanya. Kalau gitu buruan bacakan!"


"Mas sudah siap?"


"Hmm"


Embun mulai menceritakan dongeng tentang kupu-kupu yang sombong. Di tengah cerita, Embun tersenyum dan bertanya di telepon genggamnya, "Mas? Kok ada suara dengkuran lembut, nih? Mas udah bobok, ya?"


Embun menunggu tiga detik dan saat ia tidak mendengar sahutan dari suami tampannya, Embun tersenyum dan sebelum menutup telepon genggam ibunya, ia berkata, "Selamat bobok, Mas. Mimpi indah"


Keesokan harinya, Luke bangun dengan tergagap dan langsung menatap jam dinding, "Hah?! Kok aku bisa ketiduran? Sial! Udah jam sembilan pagi"Luke langsung melompat turun dan melesat ke kamar mandi.


Rendy bangun dengan wajah segar dan sambil senyum-senyum ia menatap cermin dan sambil mengoleskan rangkaian skin care di wajah tampan lokalnya, ia berucap, "Yes! Nggak jadi kungfu panda, deh, Gue hari ini" Lalu ia bersenandung, "Kamu rindu itu derita Lu, masa Bodo, Gue nggak mau tahu, Hihihihihi"


"Nggak mau tahu soal apa?"


Rendy sontak bangkit berdiri dan berbalik badan, "Bu....bukan apa-apa Tuan. Tu.....tuan masuk ke sini, kok, nggak ketuk pintu?"


"Pintu kamu terbuka. Yang mau diketuk apanya?"


"Lho terbuka?! Waduh! Saya lupa nutup pintu semalam. Ada apa Tuan?"


"Aku nggak punya teman. Nggak punya kerjaan. Makanya aku cari kamu"


"Tuan sudah sarapan?"


Luke menggeleng dan hanya menghela napas panjang.


"Ayo kita sarapan kalau gitu"


Luke mengekor Rendy tanpa protes.


Dan sesampainya di meja makan, Luke hanya cemberut dan tidak makan sama sekali.


"Tuan, kenapa nggak makan?"


"Aku sudah terbiasa makan bareng anakku. Aku nggak punya selera makan kalau nggak ada anakku"


"Mau saya hubungkan dengan Nyonya muda, Tuan?"


Luke langsung semringah dan mengangguk penuh semangat. "Kemarin Embun yang nelpon aku, kan? Sekarang giliran aku yang nelpon dia, boleh, dong?"


"Iya! Boleh banget dong!" Sahut Rendy dengan senyum lebar khasnya.

__ADS_1


Nggak tahu aja, ya, Bos, kalau yang kemarin malam pun, saya yang menghubungi Nyonya Embun, hihihihi. Batin Rendy.


Soraya Donovan menggebrak meja dan berteriak kesal ke asisten pribadinya, "Kenapa ada pingitan segala?! Sial! Aku nggak bisa mencelakai Luke dan Istrinya kalau begini. Dasar brengsek semuanya!!!!!"


__ADS_2