
"Halo, kamu sedang apa?" Luke langsung bertanya dengan wajah semringah.
"Sedang sarapan sama Ibu saya, Mas"
"Anakku mau makan?"
"Mau, Mas. Ibu masak nasi goreng Jawa kesukaan saya dan anak kita makan dengan lahap. Saya nggak mual dan nggak muntah sama sekali"
"Jadi, aku bakalan pensiun nyuapin anakku dong kalau gitu? Aku kok jadi benci sama nasi goreng Jawa itu"
"Nggak Mas, ini pas anak kita nggak rewel aja. Anak-anak, kan, moodnya sering berubah-ubah"
"Jadi, anakku masih ingin disuapin sama Papanya?"
"Tentu saja masih ingin"
"Baguslah. Lega aku sekarang"
"Mas pasti juga tengah sarapan, kan?"
"Aku nggak doyan makan. Aku pengen makan sama anakku"
"Kalau gitu saya temani Mas sarapan lewat telepon. Mas bisa makan sambil telponan sama saya dan sama anak kita"
"Wah! Ide bagus" Luke langsung memakan semua makanan yang sudah tersaji di depannya dengan lahap.
Rendy sontak ternganga dan langsung berkata di dalam hatinya, Nyonya muda memang sangat hebat bisa bikin Tuan makan selahap itu.
"Sudah habis nasi goreng Jawa kamu?"
"Sudah, Mas. Kalau Mas? Zuppa soup sama pudingnya sudah habis?"
"Sudah. Bahkan aku nambah makannya"
"Wah! Hebat" Sahut Embun.
Wajah Luke langsung merona malu mendapatkan pujian dari Embun.
Rendy mengulum bibir menahan senyum dan langsung berkata di dalam hatinya, wajah Tuan ternyata lucu banget kalau malu-malu meong kayak gitu.
Luke kemudian berdeham untuk menyembunyikan rasa malunya, lalu bertanya, "Kamu mau ngapain lagi setelah ini?"
"Baca cerita lagi untuk anak kita"
Luke langsung bangkit berdiri dan pergi berlari ke kamarnya, sambil berkata, "Tunggu aku!"
Rendy mengikuti arah laju larinya Luke sembari bergumam, "Lho, aku kok ditinggalin nih? Eh, tapi, malah asyik dong. Aku juga mau ke kamar,ah, mau rebahan dan nonton TV kabel sepuasnya, hidup hari cuti, yes!"
"Aku sudah di kamar sekarang. Aku juga mau dengar dongeng dari kamu. Cepat bacakan dongengnya!" Sahut Luke.
"Baik, Mas" Sahut Embun.
Dan seperti semalam, belum selesai Embun membacakan dongeng, sudah terdengar suara halus ngoroknya Luke. Embun mengulum bibir menahan geli, lalu berucap, "Selamat bobok, Mas. Mimpi indah, ya"
Luke terbangun di jam setengah tiga dan dengan langkah malas, dia keluar dari dalam kamar tidur dan langsung menuju ke tepi kolam renang. Luke duduk di sofa yang menghadap ke kolam renang dan berkali-kali menghela napas berat
Rendy yang lebih dulu duduk di sana langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang membuat Tuan gelisah banget hari ini? Tuan, kan udah dengar suara Nyonya Embun tadi" Tanya Rendy.
"Hanya suaranya saja. Hufftt! Masih berasa kurang mantap bagiku. Kenapa nggak Video Call?"
"Telepon genggamnya Bu Lastri masih kuno, Tuan. Hanya bisa buat nelpon sama kirim pesan text. Ponselnya Bu Lastri nggak bisa dipakai Video Call" Sahut Rendy.
"Kenapa nggak kamu belikan yang baru?"
"Lha, kan, pingitannya dadakan. Saya nggak sempat belikan telepon genggam baru untuk Bu Lastri"
Luke menyesap cangkir kopinya lalu berkata, "Aku rindu momen-momen sewaktu Embun mengelus perutnya.dan berucap dengan senyum polosnya kalau dia sayang sama anakku. Aku pengen lihat ketika hidung Embun sedikit berkerut saat ia tertawa. Aku juga pengen merasakan saat Embun memukul kecil pundakku waktu aku melempar guyonan, atau saat Embun memainkan rambut pas ia gugup. Aku kangen semuanya itu" Luke mengerucutkan bibirnya.
"Ini latihan untuk bersabar, Tuan. Anda sebagai laki-laki hebat dan cerdas, harus kuat menghadapi ujian kali ini"
Dengan masih mengerucutkan bibirnya, Luke kembali berkata, "Aku juga kangen banget sama kedua bola matanya Embun. Aku pengen berlama-lama menatap bola mata indah itu. Bola mata yang jernih dan penuh keluguan"
"Tapi, Tuan, menatap mata orang lain bisa jadi sedikit canggung, kan?"
__ADS_1
"Tapi anehnya, aku nggak merasa canggung saat aku menatap mata Embun secara langsung. Aku justru merasa bahagia"
"Sabar, Tuan. Tinggal beberapa jam lagi Anda bisa bertemu dengan Nyonya muda"
"Beberapa jam gundulmu! Ini masih jam tiga sore. Acara resepsinya masih besok jam sembilan pagi. Masih lama!"
"Iya benar, masih lama" Rendy ikutan mengerucutkan bibir.
"Makanya, jangan suruh aku bersabar terus! Coba saja kamu, kamu suka banget sama gorengan dan es teh, kan? Coba kalau nggak makan gorengan dan es teh sehari aja, gimana rasanya?"
"Jangan samakan rasa rindu Tuan dengan gorengan dan es teh dong"
"Kenapa nggak boleh sama?"
"Karena saya yakin sama diri saya seratus persen kalau saya bakalan kuat menahan rindu tapi saya nggak bakalan kuat menahan godaan gorengan dan es teh, hehehehe"
"Dasar gila!" Luke terkekeh geli, namun hanya sebentar saja.
"Mau saya hubungkan lagi dengan Nyonya muda?"
Luke menggeleng cepat sambil berucap, "Jangan!"
"Lho, kenapa jangan, Tuan?"
"Aku barusan nelpon dia. Kalau nelpon lagi, aku sungkan sama Ibunya Embun"
"Ngapain sungkan, Tuan? Kangen itu nggak kenal kata sungkan"
"Nggak. Aku tunggu Embun yang nelpon aku. Bukankah seharusnya ini gilirannya Embun nelpon aku. Tapi, kenapa dari tadi Embun belum juga nelpon balik aku?"
"Ah, hehehehehe, iya. Kenapa Nyonya belum nelpon balik Anda, ya?" Sahut Rendy dengan senyum lebar.
Sepertinya Nyonya Embun nggak lebay kayak Anda, deh, Tuan. Dan sepertinya Nyonya Embun baik-baik aja tanpa Anda. Nyonya Embun, roman-romannya juga nggak akan nelpon Anda. Wong kemarin aja, yang nelpon Nyonya Embun juga saya. Batin Rendy.
"Ren, pertemuan Gilang dan Embun jangan besok berarti. Kan, aku dan Embun dipingit. Aku dan Embun nggak bisa keluar sampai acara resepsi pernikahan digelar"
"Ah! Iya benar, Tuan. Lalu, kapan enaknya?"
"Baik, Tuan" Sahut Rendy sembari menerima ponselnya dan tanpa menunggu perintah dari tuannya, Rendy langsung mengirimkan pesan text ke Gilang perihal pertemuannya Gilang dengan Embun.
"Telepon genggam kamu nggak rusak, kan?"
"Mana mungkin rusak. Saya baru beli seminggu ponsel ini, Tuan"
"Kenapa nggak bunyi-bunyi ponsel kamu?"
"Anda masih nunggu telpon dari Nyonya muda, ya?"
"Hmm"
"Tunggu sebentar lagi, Tuan. Nyonya muda mungkin masih tidur. Orang hamil, kan, suka ngantuk"
"Tapi, kok lama banget tidurnya? Apa dia sakit? Apa dia marah, karena lagi-lagi aku ketiduran pas dia ceritain dongeng. Jangan-jangan dia........."
"Aduh! Perut saya tiba-tiba bermasalah. Saya ke toilet dulu, Tuan" Rendy langsung berlari meninggalkan tuan mudanya.
Luke mengikuti arah laju larinya Rendy dengan mengerutkan dahi.
Tiga detik kemudian, Rendy muncul kembali dan berkata, "Tuan, ini ada telpon dari Nyonya muda. Pas saya mau masuk ke toilet, telepon genggamnya bunyi. Saya permisi ke toilet lagi, Tuan"
Luke dengan semringah menerima telepon genggam itu dan langsung menempelkannya ke telinga untuk berkata, "Halo? Aku nunggu telpon kamu dari tadi. Kenapa kamu baru nelpon sekarang"
"Ah, iya. Maafkan saya, Mas. Saya baru saja bangun tidur" Embun tersenyum dan sontak berkata di dalam hatinya, perasaan yang nelpon Pak Rendy terus, deh, dari semalam.
"Ooooo. Syukurlah kalau kamu dan anakku baik-baik saja"
"Tentu saja kami baik-baik saja"
"Maafkan aku"
"Kenapa Mas?"
"Aku ketiduran lagi pas kamu dongengkan tadi. Nanti malam aku mau dengar dongeng kamu lagi dan aku janji nggak akan ketiduran"
__ADS_1
"Iya, Mas"
Namun, janji tinggalah janji. Luke kembali ketiduran di jam sepuluh malam saat Embun tengah menceritakan dongeng tentang Gajah dan Lebah. Embun tersenyum geli dan berucap, "Aku berasa punya dua anak, nih"
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Luke pun tiba. Luke berkata, "Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Embun dan anakku"
"Iya, Tuan. Saya ikutan lega" Sahut Rendy.
Embun dengan pengawalan ketat dibawa ke hotel untuk dirias di sana di jam enam pagi.
Sedangkan Luke dengan pengawalan ketat dibawa ke hotel untuk dirias di kamar yang berbeda dengan Embun di jam tujuh pagi.
Kamar riasnya Luke dan Embun dijaga ketat oleh pihak kepolisian dan pengawal pribadi kelas elitnya Grup Donovan.
Luke menoleh ke Neneknya, "Nek, ngintip bentar aja masak nggak boleh?"
"Hush! Mau bintitan kamu? Hobi kok ngintip"
"Mana ada hobi ngintip. Aku cuma pengen ngintip Istriku yang ada di kamar sebelah sebentar aja, eh, sedikit aja"
"Nggak boleh! Pamali! Kalau mempelai pria bertatap muka dengan mempelai wanita sebelum acara resepsi dimulai, akan membawa kesialan. Kau mau itu terjadi pada pernikahan kamu dan Embun?"
Luke langsung menggeleng dengan cepat.
"Sekarang kamu masuk dan tunggu Embun di altar"
"Huffttt!" Luke menghela napas berat dan masuk ke dalam acara resepsi untuk menunggu Embun di atas altar. Luke terus menatap pintu masuk dari atas altar dengan tidak sabar.
sepuluh menit kemudian, Embun berjalan anggun ke altar dan semua yang hadir di acara tersebut terpana melihat kecantikannya Embun. Luke pun ternganga.
"Air liur kamu jatuh, tuh" Bisik Maria Donovan.
Luke sontak mengatupkan mulutnya sambil mengusap mulutnya dan langsung menoleh tajam ke neneknya saat ia tidak menemukan air liurnya di sana.
Maria menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.
Luke merebut tangan Embun dari lengan kakeknya Embun dan langsung menggandeng tangan Embun untuk berbisik, "Kamu cantik banget. Aku sampai pangling"
"Terima kasih, Mas"
Setelah acara ikrar setia pernikahan, pemberkatan pernikahan dan tukar cincin selesai, Pendeta berkata, "Silakan pengantin pria mencium pengantin wanita"
Luke langsung semringah. Ia menunduk pelan untuk mencium penggantinya yang sangat cantik.
Luke menarik ciumannya saat ia mendengar bunyi riuh tepuk tangan dari para tamu undangan. Namun, tatapannya masih melekat di wajah cantik istri mungilnya. Embun tersenyum dan bertanya, "Mas, jangan menatapku seperti itu terus"
"Kenapa? Kamu adalah Istriku. Aku akan menatap kamu sebanyak yang aku mau"
Embun langsung menunduk malu.
Maria dan Lastri langsung berpelukan dengan wajah dan hati yang sangat bahagia.
Maria kemudian mempersilakan semua tamu undangan untuk menikmati jamuan mewah dari keluarga Donovan.
Bukannya bergabung makan dan menyapa para tamu undangan, Luke membopong Embun dan membawa Embun berlari menuju ke kamar pengantin yang ada di salah satu kamar di hotel itu.
"Mas, kenapa malah ke sini? Masih ada banyak tamu, Mas"
"Biarkan saja! Aku kangen banget sama anakku" Ucap Luke sembari menutup pintu kamar VVIP itu dengan tumit kakinya.
Lalu, ia merebahkan Embun di ranjang dan langsung tidur di sebelah Embun.
Pengantin baru itu tidur miring dan saling berhadapan.
Jantung Luke dan Embun berdebar abnormal secara bersamaan. Wajah mereka sama-sama terasa panas, perut mereka terasa aneh, dan hati mereka berdesir hebat secara bersamaan.
Luke mengusap pipi Embun sambil berkata, "Kamu cantik banget"
Embun menurunkan pandangannya.
Melihat tingkah menggemaskannya Embun itu, Luke tidak bisa.menahan diri lagi, ia langsung menarik tengkuk Embun dan memagut bibir Embun dengan lembut dan penuh damba.
__ADS_1