
"Ren, semua bukti sudah terkumpul?" Tanya Luke.
"Sudah, Tuan Sahut Rendy.
"Sudah siap kau tayangkan di layar nanti?" Luke masih menatap Rendy dengan menarik ke dalam kedua alisnya.
"Sudah siap, Tuan" Rendy tersenyum bangga untuk menghargai hasil kerja kerasnya sendiri.
"Bagus. Terima kasih, Ren"
"Sama-sama Tuan"
"Kalau wanita brengsek itu datang ajak dia ke sini" Ucap Luke sembari menyesap cola dingin di pinggir kolam renang.
Beberapa menit berikutnya, Chika melangkah gemulai dengan senyum seksi dan balutan gaun yang mampu membuat semua mata lelaki berfantasi liar.
Luke bahkan seketika mengumpat kesal saat ia melihat Chika mengenakan gaun super seksi, sial! Kenapa dia memakai gaun seminim itu? Iman kuat, nih. Tapi, Imron gimana, nih?
Di saat Chika ingin memeluk pinggang Luke, dengan sigap Luke melangkah mundur menghindar.
Chika langsung mengerutkan keningnya, "Kenapa kau menghindar, Sayangku?"
"Tetaplah di situ! Jangan mendekat!"
"Kenapa?" Chika mematung di tempatnya.
"Aku sedang flu berat. Jangan mendekat! Aku nggak ingin kamu ketularan. jadi, tetaplah di situ!"
"Ooooo begitu ternyata. Kamu so sweet banget, sih, Sayang. Peduli sama aku dan khawatir akan kesehatanku" Chika mengulas senyum seksi di wajah cantiknya.
Di saat Chika berucap sambil berjalan mendekati bibir kolam renang dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu,, "Ada kolam renang cukup besar juga di klub pribadi kamu ini, Sayang" Luke langsung memberikan bahasa isyarat ke pelayan klub pribadinya dan pelayan itu langsung tanggap apa yang diperintahkan oleh Luke melalui bahasa isyarat itu.
Pelayan tersebut berjalan ke arah Chika dan mendorong punggung Chika cukup keras dengan kedua telapak tangannya sampai Chika terjungkal masuk ke tengah kolam renang yang sangat dalam itu.
Karena sangat pandai berenang, Chika refleks berenang ke tepi dan langsung naik ke bibir kolam renang. Saat ia ingin mendamprat orang yang berani mendorongnya sampai ia jatuh ke kolam renang, orang itu telah menghilang.
"Kau cari siapa?" Luke bertanya dengan wajah dingin.
Dengan polosnya Chika berdiri di depan Luke sambil berkata, "Aku mencari handuk ini. Emm, air di kolam renang ternyata hangat"
"Kau bisa berenang ternyata? Kenapa kau pura-pura tidak bisa berenang waktu Embun jatuh ke kolam renang bersama denganmu? Untung aku mengikuti kata hatiku untuk menolong Embun dan bukan kamu"
Chika tersentak kaget dan langsung berkata, "A......aku tidak bisa berenang dan........"
"Semua sudah jelas nampak di depan mata. Tapi, kau masih saja berbohong dan mengelak. Lalu, bagaimana dengan semua yang nampak di video berikut ini. Kita lihat apakah kau masih berani berbohong dan mengelak Chika" Luke menjentikkan jari dan layar besar di seberang kolam renang langsung menyala dan menampakan rekaman saat Luke memutuskan Chika tiga tahun yang lalu dan Chika nekat melompat ke pangkuan Luke dan mencium Luke. Lalu, video kedua menampakkan mobil Chika mengejar mobil Luke di sebuah jalan besar sampai Luke mengalami kecelakaan dan yang terakhir layar besar itu menampilkan rekaman video saat Chika mendorong Embun ke kolam renang.
"Kau masih mau berbohong dan mengelak?" Suara Luke membuat Chika sontak berlari dan memeluk pinggang Luke sambil berkata, "Itu semua aku lakukan karena aku, sangat mencintai kamu, Luke"
Luke mendorong kasar kedua bahu Chika dan sambil melangkah mundur, Luke merogoh saku celananya lalu melemparkan beberapa lembar foto ke lantai.
Chika ternganga saat ia melihat foto dirinya yang tengah bericuman dengan pria lain dan foto lainnya adalah foto dirinya tidur dengan pria lain berserakan di atas lantai. Chika langsung memunguti foto-foto itu dan langsung menatap Luke dengan mendekap foto-foto itu.
"Cinta kau bilang tadi? Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau berganti-ganti cowok di belakangku, cih!"
__ADS_1
"Ini masa lalu, Luke. Aku kesepian di luar negeri dan aku ........."
"Cukup! Aku sudah muak dengan semua kebohongan dan kejahatan kamu Chika. Mulai hari ini kita putus. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi mulai detik ini" Luke kemudian memutar badan dan pergi meninggalkan Chika begitu saja.
Chika jatuh bersimpuh di atas lantai dan dengan isak tangis ia berteriak, "Luke!!!!!! Jangan tinggalkan aku!!!!!! Aku sungguh-sungguh mencintai kamu sekarang ini!!!!"
Namun, Luke mengabaikan teriakan itu.
Chika langsung menelepon Daniel, "Kau mau menolongku? Kamu baik sama aku selama ini dan kamu adalah teman SMA-ku. Aku hanya percaya sama kamu dan hanya memiliki kamu sekarang ini"
Daniel sontak menautkan kedua alisnya, "Ada apa? Bantuan apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin menjebak Luke tidur denganku. Aku akan menggiring Luke ke sebuah kamar hotel dan aku akan pasang alat semprot otomatis yang berisi cairan obat perangsang. Lalu, aku masuk ke dalam kamar itu dan kau tahu sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya"
Daniel sontak menyemburkan, "Hah?! Kau sudah gila, ya?"
"Iya. Aku sudah gila dan itu karena Luke. Aku masih belum ikhlas dia memutuskan pertunangan dan aku tidak rela Luke meninggalkan aku begitu saja. Aku sangat mencintai Luke"
"Itu bukan cinta tapi obsesi" Sahut Daniel.
"Jangan ceramah dan kasih aku nasehat! Aku lagi super bad mood, nih Sekarang tinggal kau mau membantuku atau tidak? Kalau tidak aku akan cari orang lain untuk ........"
"Mau! Aku mau membantu kamu!" Sahut Daniel dengan sangat cepat.
"Oke, thanks! Kita ketemu sekarang di kafe langganan kita dulu untuk membahas rencana kita bisa?"
"Besok pagi saja. Ini sudah sangat malam" Sahut Daniel dengan sangat cepat.
"Oke" Sahut Chika.
Jam sembilan pagi di keesokan harinya, Daniel bergegas mengambil jaketnya dan meluncur ke kafe yang ditunjuk oleh Chika.
Chika membeberkan rencananya dan rencana jahat itu dan saat Daniel bertanya, "Kapan kau akan eksekusi rencana kamu itu?"
"Malam ini. Semakin cepat semakin baik. Aku sudah booking kamar VVIP di hotel The Rain.
"Oke. Kamu siapkan alatnya dan aku akan beli cairan obat itu di........"
"Nggak usah. Aku sudah siapkan semuanya" Sahut Chika.
Daniel tersentak kaget dan langsung bertanya, "Tapi, obat itu aman, kan? Kak Luke nggak akan kenapa-kenapa?"
"Aman. Luke hanya akan menggelepar cantik di dalam pelukan hangatku nanti malam. Tenang saja! Luke aman. Aku juga nggak ingin Luke celaka. Aku hanya ingin dia menjadi milikku seutuhnya malam ini dan dia mau menikahiku besok" Sahut Chika dengan senyum lebar.
Daniel berpura-pura ikut tersenyum lebar.
Setelah pertemuannya dengan Chika, Daniel pulang ke rumahnya karena ia menemukan mobil Chika mengikuti mobilnya. Daniel bergumam lirih sambil melangkah masuk ke rumahnya, "Dia bilang percaya sama aku. Tapi, dia masih saja mengikuti mobilku. Tapi, aku tidak bodoh Chika"
Setelah Daniel mengabari rencananya Chika, Maria Donovan segera menemui Luke dan berkata ,"Kau akan dijebak oleh Chika. Tapi, kau harus ikuti permainannya Chika. Bilang oke kalau Chika mengajak kamu ketemuan di hotel The Rain"
"Tapi, Nek........"
"Halo?" Luke menghentikan ucapannya untuk menerima telepon dari Chika.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan kamu untuk yang terakhir kalinya, Luke. Untuk meminta maaf dan mengembalikan semua barang yang pernah kamu berikan ke aku. Temui aku di hotel The Rain sore ini"
"Oke"
Setelah terdengar suara klik, tanda sambungan telepon berakhir, Luke menoleh ke neneknya.
"Bagus kamu nurut sama Nenek. Nenek akan atur semuanya. Sekarang berangkatlah dan Nenek akan jemput Embun"
Luke diantarkan oleh seorang pria masuk ke dalam kamar VVIP. Pria berseragam hotel itu mempersilakan Luke masuk ke dalam sambil berucap, "Nona Chika akan segera ke sini, Tuan" Saat pria itu menutup pintu, ada cairan tersemprot ke wajah Luke dan seketika itu dia merasa pusing dan mendadak kepanasan.
Luke terkejut saat pintu kamar kembali terbuka. Dia bersiap melawan jika itu Chika. Namun, pria tampan itu justru mengulas senyum lega.
Embun langsung membelakangi Luke untuk segera mengunci pintu kamar itu.
Tanpa menunggu detik berlalu, pria tampan itu mencium seluruh jengkal tubuh bagian belakangnya istri mungilnya itu. Lalu, ia berjalan pelan memutari tubuh Embun tanpa menarik bibirnya dari kulit manisnya wanita cantik berambut panjang bergelombang itu sampai bibirnya menemukan bibir ranum yang sudah membuatnya kecanduan.
Luke meneruskan aksinya menciumi setiap sudut tubuh polos Embun di bagian depan dan bermain cukup lama di lembah kenikmatan. Seketika wanita cantik itu tersentak kaget lalu memekik kencang, merintih indah di saat ia merasakan kenikmatan bertubi-tubi yang suaminya berikan di malam itu.
Napas Embun menderu menahan gairah, melenguh menikmati setiap sentuhan bibir hangat dan telapak tangan lembut suaminya Pada kenyataan ia tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali karena kedua tangannya terikat di atas kepalanya justru memberikan sensasi unik dan membuatnya tanpa sadar mengulas senyum bahagia.
Luke bergerak pelan ke atas dengan bibirnya dan menghentikan ciumannya dengan menempelkan keningnya di atas keningnya Embun untuk berkata, "Buka mata kamu dan lihat wajah tampan suami kamu ini"
Embun membuka pelan kedua kelopak matanya dengan napas terengah-engah dia menatap lekat wajah tampan suaminya yang sangat yang ia cintai
Pria tampan itu menatap istri imutnya dengan sorot mata sendu dan berkata, "Kau ingin aku teruskan atau sampai di sini saja? Kau pasti lelah harus berlarian ke sini tadi" Luke mengusap bibir Embun dengan ibu jarinya.
"Teruskan Mas! Jangan berhenti!" Embun mengucapkan pinta itu dengan sorot mata sendu, napas menderu, dan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya.
Luke tersenyum bahagia dan langsung menggendong tubuh ranking istri kecilnya itu. Embun refleks mengaitkan kedua kakinya di pinggang Luke bak seekor anak monyet yang menempel pada sebatang pohon yang kokoh.
Luke membenturkan pelan punggung Embun di tembok kamar hotel itu dan melakukan penyatuan raga dengan posisi menggendong tubuhnya Embun.
Dan di saat gema kepuasaan dari sepasang suami istri itu melengking tajam di udara secara bersamaan, Luke yang masih menggendong Embun melangkah ke ranjang. Merebahkan wanita itu di atas ranjang dan kembali melesak masuk untuk memulai ronde kedua penyatuan raga dengan istri yang sangat ia sayangi dan cintai itu. Hingga pada akhirnya keduanya saling memekik puas dengan saling memeluk erat dan terkulai lemas.
Keesokan harinya, Embun membuka mata dengan dikejutkan senyum tampan suaminya yang berkata, "Sayangnya di sebuah private room klub hotel, aku merenggut segel kamu tanpa sadar waktu itu. Kalau aku tahu menikmati kamu dengan penuh kesadaran itu sangat manis dan indah, aku akan memilih menikahimu saat itu. Maafkan aku, Sayang. Aku sudah banyak membuatmu menderita sejak kejadian di private room itu"
Embun langsung bangun dan menatap lekat wajah suaminya sambil bertanya dengan wajah heran, "Kau sudah ingat semuanya, Mas?"
Luke memijit pelipisnya dengan tangan kiri dan tangan kanan menarik Embun untuk ia jatuhkan di atas dadanya. Sambil memeluk erat tubuh Embun yang masih polos, Luke berkata, 'Ternyata obat perangsang yang Chika berikan malah bisa membuatku sembuh dari amnesiaku. ada baiknya juga dia kasih aku obat terlarang itu"
Embun langsung mendongak untuk menatap suaminya dan menepuk keras dada bidang suaminya sambil berkata kesal, "Ada baiknya apa?! Kalau aku terlambat datang, kau dan Chika pasti sudah ........."
Luke langsung mencium bibir Embun dan mengajak Embun bercinta kembali dengan penuh gairah untuk membebaskan Embun dari rasa cemburu dan membuat Embun merasakan kembali rasa cintanya yang sangat besar dan rasa cinta yang sangat besar itu hanya untuk Embun Sanjaya seorang. Pria tampan itu kemudian berkata, "Aku akan bikin anak kedua dengan penuh kesadaran kali ini"
Sementara itu Chika bangun di dalam pelukan pria asing yang gendut dan berkepala botak. Wanita cantik itu langsung berteriak histeris, "Aaaaaaa!!!!!!"
...❤️❤️❤️ The End❤️❤️❤️...
Terima kasih banyak atas dukungan yang Anda semua berikan di karya saya yang ini sehingga saya bisa menyelesaikan kisah ini dengan baik.
Saya mencoba membuat kisah termehek-mehek dan baru belajar untuk membuat kisah termehek-mehek di karya baru saya yang berjudul 'Memories Of Love'
Jika berkenan silakan singgah dan saya mohon dukungannya.
__ADS_1
Terima kasih banyak🙏 God Bless You all❤️🤗