
Luke tersenyum bahagia dan langsung mengusap pipi Embun sambil berkata, "Syukurlah kamu akhirnya membuka mata kamu, Sayang"
Embun menyusuri wajah tampan suaminya dengan ekspresi bingung. lalu, gadis cantik itu mengeluarkan suara, "Mas?"
"Hmm" Luke masih mengusap lembut pipi Embun
"Mas barusan bilang Sayang?"
"Iya" Luke mencium pipi Embun.
"Untuk siapa, Mas?"
"Yang ada di depanku saat ini hanya kamu. Iya, tentu saja kata sayang yang aku ucapkan barusan itu untuk kamu"
"Apa Mas udah ingat akan cinta kita?"
Luke menunduk untuk kembali mencium pipi Embun lalu ia menarik wajahnya untuk menatap kedua bola mata Embun dan berkata, "Aku belum ingat semuanya. Tapi, aku akan menuruti nasehat kamu. Aku akan ikuti kata hatiku mulai dari sekarang dan hatiku tidak bisa jauh dari kamu, Sayang" Luke mencubit mesra pipi Embun.
Embun langsung semringah dan berkata, "Benarkah?"
"Tentu saja benar"
"Lalu, perjanjian kita?"
"Aku sudah suruh Rendy untuk merobak surat perjanjian itu"
"Lalu, Chika?"
Luke langsung diam membisu dan hanya menatap lekat kedua bola mata Embun.
"Mas, mencintai Chika, ya? Mas, masih sangat memercayai Chika, ya?"
"Aku tidak mencintainya. Sudahlah! "Jangan pikirkan Chika! Yang penting kamu sembuh dulu. Sekarang kamu pengen apa? Minum atau makan?"
Embun menggelengkan kepala dan langsung tidur miring membelakangi Luke. Hatinya tersayat cemburu.
Luke menarik pelan bahu Embun dan menemukan titik-titik air mata di pipi Embun, "Kamu menangis?"
Embun hanya menatap kedua bola mata suaminya dalam kebisuan
"Kenapa kamu menangis? Kamu cemburu sama Chika? Kamu tidak percaya kalau aku tidak mencintai Chika?"
Embun terisak dan menganggukkan kepala.
Luke terkejut geli dan dia langsung berkata, "Aku akan berikan kamu bukti kalau aku tidak mencintai Chika" Luke langsung memagut bibir Embun.
Telapak tangan kanan Luke mengusap lembut pipi Embun dan mulai mencium bibir ranum istri cantiknya itu dengan lembut. Ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Sewaktu Embun melenguh pelan, lidah Luke menyusup masuk. Jantung Luke dan Embun beradu kencang saat lidah mereka saling membelit dan menari-nari liar di dalam mulut Embun. Setelah cukup lama memagut mengulum bibir dan bermain lidah, Luke melepas ciumannya. Ia kemudian mencium kening Embun dan bertanya di sana, "Sudah percaya sekarang kalau aku tidak mencintai Chika?"
Embun mengangguk dan Luke tersenyum. Kemudian, pria tampan itu mencium hidung istrinya yang muncul dan lancip semourna. Lalu bibir Luke mendarat di telinga Embun untuk membisikkan kata, "Sayang" Dan menciumi cuping telinga Embun. Sewaktu pria berparas tampan itu menyusupkan wajahnya ke leher Embun dan menghirup wanginya...............
"Ayah!"
__ADS_1
Luke langsung menarik.wajahnya dari leher Embun dan langsung menoleh ke pintu masuk, "Hei! Dino udah pulang sekolah. Lho, Nenek mana?"
Dino berlari kecil ke ayahnya dan saat Luke berdiri untuk menggendong Dino, anak kecil nan tampan itu berkata, "Nenek menemui Om dokter yang bernama Theo di depan pintu. Ayah tadi cari apa? Kok, wajah Ayah sembunyi di leher Bunda?"
Embu langsung mengulum bibir menahan geli saat Luke menjawab dengan cepat dan asal-asalan pertanyaan itu, "Mencari nyamuk"
"Kok, nyamuk dicari?"
"Biar nggak ganggu Bunda lagi"
"Ooooo. Kok, Bunda masuk rumah sakit lagi?"
"Iya, Sayang. Bunda nggak hati-hati jatuh ke ke kolam renang"
Luke duduk di tepi ranjang dan sambil memangku Dino ia menautkan alisnya untuk bertanya, "Lho? Bunda kamu pernah masuk rumah sakit sebelumnya?"
"Iya"
"Kenapa?"
"Cuma karena kecelakaan kecil.kok, Mas" Sahut Embun.
"Bukan kecelakaan kecil. Kejadiannya pas kita masih tinggal di Jepang. Bunda dirampok pas Bunda pulang kerja malam-malam dan terpaksa naik bus. Di dalam bus itu, Bunda dirampok dan kena tusuk di perut. Tante Mona repot menjaga Dino yang tengah demam di rumah. Jadi, nggak bisa jemput Bunda sedangkan Om Alex Norman tengah ada tugas di luar kota"
Embun mengusap pipi gembulnya Dino sambil berkata, "Sayang, itu udah lama berlalu dan......Mas!" Embun tersentak kaget saat Luke membuka baju seragam pasien rumah sakit untuk melihat perutnya Embun.
Luke mengusap bekas luka di perut sebelah kanannya Embun dan berkata, "Maafkan aku" Dan Embun langung menepis tangan Luke dan menarik turun baju seragam pasien rumah sakit dengan rona merah di wajah.
"Yang salah perampok itu Ayah. Kenapa Ayah meminta maaf?"
"Lalu, kenapa wajah Bunda memerah?"
Luke sontak menoleh ke Embun dan saat dia melihat rona merah di kedua pipi Embun, pria tampan itu langsung tersenyum penuh arti. Lalu, Luke menutup mata Dino dengan telapak tangan kiri dan bibirnya melesat untuk memagut bibir Embun. Wanita cantik itu terkejut bukan main dan Hati Embun semakin berdesir, wajahnya semakin memerah dan jantungnya berdetak lebih kencang.
Saat Luke menarik telapak tangan kirinya dari kedua mata Dino, Dino langsung protes, "Kenapa mata Dino ditutup barusan?"
Embun langsung menarik selimut untuk menutup wajahnya dan Dino menatap Bundanya dengan ekspresi heran. Luke sontak tergelak geli dan berkata, "Bunda kamu. Lihat, tuh, dia sembunyikan wajahnya di balik selimut"
"Kenapa malu?"
"Karena, Bunda kamu tidak menjaga diri dengan baik dan jatuh sakit"
"Dino akan panggilkan Dokter kalau Bunda masih sakit"
Luke langsung mendekap Dino dan dengan menahan tawa ia berucap, "Nggak usah. Ayah udah kasih pertolongan pertama tadi. Pas Ayah tutup mata kamu, Ayah kasih pertolongan pertama dan Bunda kamu sudah membaik"
"Ayah kasih apa ke Bunda kok sampai harus menutup mata Dino"
"Kasih pil pahit dan sangat bau"
Embun menahan tawa di balik selimut.
__ADS_1
"Kalau bau kenapa mata Dino yang ditutup bukannya hidung Dino?"
Embun menyembulkan sedikit wajahnya dari balik selimut untuk melihat anak dan suaminya. Lalu, wanita itu terkekeh geli.
Luke langsung menciumi wajah Dino karena ia sudah kehabisan kata dan ide untuk menjawab pertanyaannya Dino yang tak ada habisnya. Dan untuk mengalihkan perhatiannya Dino, ia langsung berkata, "Kenapa anak Bunda dan Ayah pinter banget kayak gini? Kenapa bisa punya segudang pertanyaan? Ayah perlu kasih hadiah ke kamu, nih, untuk misi tadi pagi dan untuk kepintaran kamu ini"
"Apa hadiahnya?" Pekik Dino dengan wajah antusias dan senyum semringah.
"Kata Om Rendy, kamu suka banget sama pesawat terbang. Saat ini Om Rendy baru keluar untuk beli mainan pesawat terbang terbaru dan tercanggih"
"Benarkah?!" Kedua bola mata Dino langsung membulat sempurna dan bibirnya tertarik membentuk senyum riang gembira.
Maria Donovan masuk berbarengan dengan Rendy dan keduanya sontak semringah saat mereka melihat Embun sudah sadar.
Rendy langsung mengajak Dino keluar ke halaman yang ada di samping kamar VVIP itu untuk bermain pesawat terbang dan Maria langsung berkata, "Syukurlah kau sudah sadar, Sayangku"
"Terima kasih, Nek" Sahut Embun dengan senyum tulus.
"Luke, kamu nggak pernah dikasih obat sama Chika?"
"Dikasih. Chika tiap pagi kasih satu kapsul dan tiap malam dia juga tidak pernah kasih kapsul ke aku. Aku minum terus obat dari Theo. Kenapa, Nek?"
"Kata.Theo, kalau kamu rutin minum obat kenapa hasil CT scan kamu tidak ada kemajuan sama sekali"
"Kok bisa?"
"Rendy aku suruh ambilkan obat kamu di rumah kamu dan untungnya Chika nggak ada di rumah. Lalu, aku kasihkan obat itu ke Theo untuk diperiksa. Sebentar lagi Theo akan........."
"Aku di sini. Hai! Apa kabar Kakak Ipar? Syukurlah Kakak ipar sudah sadar" Sahut Theo sembari melangkah dari pintu depan yang sudah tertutup rapat.
"Terima kasih" Sahut Embun.
"Kenapa cepat sekali kau periksa obat itu?" Luke menautkan kedua alisnya ke Theo.
"Karena, tidak perlu ke lab untuk memeriksanya" Sahut Theo dengan senyum tipis.
"Kenapa begitu?" Sahut Maria Donovan.
"Karena kapsul yang tersisa empat di wadah ini, kosong semua"
"Hah??" Embun dan Maria Donovan ternganga bersamaan.
Luke seketika tertegun lalu berkata dengan wajah kecewa berbalut amarah, "Jadi, selama ini Chika kasih kapsul kosong ke aku. Dia tidak ingin aku sembuh dari amnesiaku ternyata"
Maria mencari Luke dan ia menemukan Luke tengah duduk merenung di halaman belakang rumahnya.
Maria Donovan kemudian duduk dan menepuk pundak Luke dari samping sambil berkata, "Tidak perlu bukti yang bisa dilihat oleh mata dan dinalar oleh akal sehat untuk melihat apakah ada cinta di antara kamu dan Embun, Luke. Nenek aja bisa merasakan kalau kamu adalah seorang suami yang peduli dan perhatian terhadap Istrinya. Bahkan sebenarnya buktinya sudah terlihat di depan mata kamu. Kamu panik dan sibuk mencari usaha agar Embun cepat sembuh. Kamu bahkan merawat istri kamu dengan penuh kasih sayang. Kamu juga mau menjaga Dino dengan tulus ikhlas dan penuh kasih sayang. Lalu, Embun di tengah ketidaksadarannya terus memanggil-manggil nama kamu. Apa itu masih kurang untuk membuatmu yakin kalau kamu dan Embun saling mencintai"
Luke berucap tanpa menoleh ke neneknya, "Aku tidak meragukan hatiku, Nek. Aku sayang sama Embun dan jika aku tidak bisa dapatkan lagi ingatanku, aku akan menyayangi dan mencintai Embun dengan hatiku. Aku akan menyayangi dan mencintai Embun tanpa mengandalkan otakku, tanpa logika, karena cinta itu tidak perlu logika"
Maria mengusap kepala Luke sambil berkata, "Cucu Nenek memang cerdas. Lalu, kenapa kamu merenung di sini?"
__ADS_1
"Aku ingin menguji Chika besok, Nek. Dan kalau memang terbukti dia melajukan kebohongan sama aku selama ini, aku akan langsung memutuskan pertunanganku dengannya. Dengan begitu, dia nggak akan ganggu hidupku lagi dan meminta alasan. Aku juga akan beberkan semua bukti kebohongan-kebohongan dan kejahatan dia yang lain"
"Bagus!" Maria Donovan langsung memekik senang.