
"Halo?"
"Ini aku. Teman lama kamu. Alex"
"Ada apa nelpon aku?"
"Wah, kok gitu tanggapan kamu. Kita teman lama dan sudah bertahun-tahun nggak ketemu, lho, kok ketus gitu jawabnya?"
"Itu karena kamu, selalu nolak job yang kau kasih demi tawaran job di Jepang"
"Buahahahaha. Kau masih pendendam juga ternyata" Alex Norman berkata dengan nada geli.
"Sial! Aku serius kau malah ketawa. Ada apa kau menelepon aku?" Luke mendengus kesal.
"Aku batalkan pertemuan kita hari ini. Aku sudah dapatkan model yang cocok untuk produk parfum kita dan Papaku menyetujui pilihanku"
"Oke. Nggak papa Aku ngikut aja soal modelnya. Kapan kau balik dari Jepang?"
"Baru beberapa jam yang lalu. Aku akan mengunjungi kamu nanti setelah pemotretan selesai. Aku akan kasih oleh-oleh secara langsung ke kamu"
"Wah! Maaf banget. Jadwalku padat. "Maaf, tapi aku sibuk banget saat ini. Aku akan usahakan mampir ke studio untuk ......."
"Aku tidak melakukan pemotretan di studio kamu"
"Sial! Kau masih suka semau Gue, ya, ternyata"
"Produk parfum ini adalah produk perdananya Grup Norman dan Grup Donovan, jadi harus digarap dengan sepesial, dong" Sahut Alex Norman dengan nada serius.
"Oke lah, aku ngikut juga soal Lokasinya. Aku akan garap untuk kemasan dan promosinya saja"
"Kalau sudah kelar dan oke, aku akan minta kamu mentraktirku makan malam"
"Entahlah. Aku sibuk banget. Nenek mengurusi urusan bisnis di luar kora dan aku harus mengurusi semua bisnis di sini sendirian. Kapan kamu balik ke Jepang?"
"Aku nggak akan balik ke Jepang kali ini. Aku akan menetap di sini untuk mengejar Bidadari yang turun dari kahyangan"
"What?! Kau sudah bisa menyukai cewek lagi setelah kematian Liza?"
"Hmm dan cewek ini sangat menarik"
"Syukurlah. Aku ikut senang kalau kau sudah mulai bisa membuka hati kamu lagi untuk seorang cewek"
"Lalu, kamu gimana? Kamu masih berhubungan dengan model centil itu? Emm, siapa namanya, ya, kok aku lu........"
Klik. Luke langsung mematikan telepon genggamnya dengan kesal dan bergumam, "Sial! Kenapa dia malah membahas masa laluku. Siapa juga yang masih peduli sama Chika. Tentu saja aku lebih peduli dengan Istri dan anakku. Dasar Alex brengsek! Seenak jidatnya aja dia nanya-nanya soal Chika dan........"
"Tuan, Anda mau permen karet?" Rendy yang risih mendengar tuan mudanya ngedumel, langsung menawarkan permen karet ke Luke.
Luke menyahut, "Nggak" Sambil merebahkan kepala ke jok, bersedekap, dan memejamkan kedua matanya masih dengan raut wajah super kesal.
Alex menatap layar telepon genggamnya yang menggelap dengan mengerutkan kening dan bergumam, "Kenapa dia matikan begitu saja telponnya? Aku, kan, belum selesai bicara? Dasar gila Si Luke"
"Hai! Senang bertemu lagi denganmu" Alex mengulas senyum saat ia menatap wanita mungil berparas cantik alami yang tengah duduk di depan meja kerjanya. Alex Norman kemudian menoleh ke pria yang duduk di sebelahnya, "Bagaimana menurut Papa?"
Abram Norman mengangguk-angguk dan setelah menentukan senyum lebarnya ke putranya, ia kembali menatap Embun untuk berkata, "Aku juga senang berjumpa denganmu. Kenalkan, aku adalah Papanya anak ini. Anakku sangat profesional di bidang ini. Jadi, jangan mengkhawatirkan apapun!. Lalu, siapa wanita yang berdiri di sebelah kamu itu?"
Mona menganggukan kepala dan sontak membuka suara, "Saya adalah......."
Embun dengan cepat menyahut, "Dia adalah Mbak Mona. Saudara saya"
"Oooooo" Sahut Alex dan Abram secara bersamaan.
Embun menggenggam tangan Mona dan kembali membuka suara, "Saya percaya dengan Tuan Alex Norman, tapi........."
"Panggil saja Alex! Tapi, apa?"
"Emm, Maaf saya belum mengatakan sebelumnya kalau saya sama sekali tidak mengerti dunia pemotretan dan syuting. Saya belum pernah melakukan pemotretan dan syuting sebelumnya. Maaf kalau kemarin saya mengiyakan tawaran Anda tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu"
"Nggak usah pakai bahasa formal mulai sekarang. Lagian pertemuan kita sangat singkat dan menegangkan kemarin, jadi........"
"Singkat dan menegangkan?" Abram Norman sontak menoleh ke putra kebanggannya dengan mengerutkan kening.
"Dalam arti yang positif, Pa. Jangan mikir yang nggak-nggak, deh" Norman melirik Papanya dan Abram Norman sontak terkekeh geli dan berkata, "Iya, Papa tahu"
Alex Norman kembali fokus ke Embun dan berkata, "Nggak dibutuhkan pengalaman di bidang ini. Aku telah banyak menerbitkan bakat baru di bidang ini dan aku akan mengajari kamu dengan sangat sabar. Aku akan menjadikan kamu model pendatang baru yang bersinar. Jadi, kamu hanya perlu menandatangani kontrak kerja ini dan kita bisa mulai pemotretannya"
"Tapi, saya........"
"Nggak usah pakai bahasa formal. Kita saling membantu kemarin malam, jadi, kita udah berteman, kan? Sesama teman tidak perlu memakai bahasa formal, kan?"
__ADS_1
"Baiklah. Emm, aku tidak ingin menjadi model yang bersinar dan aku tidak mau memakai baju yang terlalu terbuka dan tidak mau memakai makeup yang terlalu tebal"
"Oke. Coret aja yang tidak kamu inginkan lalu bubuhkan tanda tangan kamu di kertas itu . Aku akan penuhi semua permintaan kamu" Alex Norman berbicara dengan terus mengulas senyum terbaiknya.
Beberapa rekan kerjanya Alex Norman sontak berbisik satu sama lain saat mereka melihat senyuman di wajah tampannya Alex Norman, "Tumben Bos senyum setampan itu?"
"Iya. Biasanya kalau Bos balik dari luar negeri dan datang pagi kayak tadi, sepanjang hari dia akan cemberut dan ketus. Eh, ini kok senyum terus"
"Bahkan tadi pagi juga ada keanehan"
"Apa keanehannya?"
"Bos tidak memarahiku pas aku salah kasih kopi ke dia. Bos, kan, suka kopi kental tanpa krim, lha aku kasih dia kopi krim. Dia minum aja kopi itu tanpa protes"
"Kok aneh banget?"
"Iya, kan, aneh"
"Wah! Ada apa dengan Bos kita hari ini, ya?"
Di saat semua teman keja dan anak buahnya Alex Norman masih berkumpul di meja bundar dan masih asyik memperbincangkan dirinya, Alex Norman mengajak Embun ke ruang ganti pakaian.
"Kalau pakai Wig panjang, kamu oke, kan? Karena, tema kita kali ini wanita lugu yang berhati murni sesuai nama produk parfumnya. Wanita lugu, kan identik dengan rambut panjang sedangkan rambu kamu pendek" Alex Norman bertanya dengan nada sangat lembut dan ekspresi wajah penuh dengan perhatian.
Embun mengangguk lalu berkata, "Kalau pakai Wig panjang, sih, nggak masalah bagiku"
"Bagus. Anak buahku akan membantu kamu bersiap. Aku tunggu kamu di depan" Alex Norman tersenyum lebar dengan ekspresi penuh semangat.
"Baiklah. Terima kasih" Sahut Embun dengan senyum sopan.
Tiga orang wanita yang berada di ruang ganti sekaligus ruang makeup langsung mengelilingi Embun untuk melakukan transformasi di diri Embun.
Setelah selesai merubah Embun menjadi sosok wanita yang sesuai dengan tema pemotretan di hari itu, tiba-tiba salah satu dari tim wanita yang bertugas mendandani Embun berkata, "Maaf, semua perhiasan harus dilepas"
"Termasuk cincin nikah saya?" Tanya Embun.
"Iya"
Embun kemudian melepas kalung dan cincinnya, lalu ia serahkan semuanya ke Mina sambil berkata, "Mbak Mona, tolong simpan baik-baik, ya?"
"Baik, Nyonya" Sahut Mona.
Kedua pria bermarga Norman itu sontak ternganga dan menggumamkan kata, "Sempurna" Dengan kompak.
Alex langsung berkata, "Oke! Naiklah ke panggung dan ikuti instruksi dariku! Rileks aja jangan tegang!"
Embun menganggukkan kepala dan Alex langsung berteriak ke semua kru, "Semuanya siap!"
"Baik, Bos!" Sahut semua kru dengan kompak.
Lima belas menit pemotretan berjalan lancar, namun saat Embun diharuskan untuk memegang pinggang rampingnya dengan tangan kanan, Alex langsung berteriak, "Stop!"
Semua kru tersnrtka kaget dan menghentikan gerakan mereka saat itu juga, termasuk Embun.
Alex lalu melompat ke panggung dan memegang tangan kanan Embun.
Embun sontak menarik tangan kanannya sambil berkata, "Kamu mau ngapain?!"
Alex menahan tangan Embun sambil berkata, "Maaf aku pegang tangan kamu tanpa ijin lebih dulu. Aku hanya ingin membetulkan letak tangan kamu. Maaf sekali lagi, maaf" Alex berkata sembari membetulkan letak tangan Embun.
Alex kemudian menatap Embun dan berkata, "Oke! Pertahankan seperti itu! Aku akan memotret kamu. Tahan! Sip! Sekali lagi! Sip! Oke, selesai. Silakan ganti baju dulu dan kita ketemu lagi di ruanganku tadi"
"Baiklah. Terima kasih" Sahut Embun.
Saat Embun melangkah masuk ke ruang ganti Mona memberikan telepon genggam ke Embun sambil berkata, "Nyonya, Tuan muda mencari Anda"
Embun tersentak kaget dan sontak bertanya ke Mona, "Aku harus bilang apa, Mbak?"
"Jawab saja dulu, Nyonya. Tuan muda tidak suka menunggu terlalu lama. Jawabannya ngalir aja nanti" Sahut Mona.
Embun mengangguk dan langsung mengangkat telepon masuk dari suami tampannya itu, "Halo, Mas?"
"Aku dalam perjalanan balik ke kantor. Anakku udah laper belum. Rendy tak suruh ngebut, nih. Udah jam setengah empat dan anakku belum makan"
"Nggak papa, Mas. Nggak usah ngebut. Anak kita belum laper, kok"
"Oke. Aku akan cepat sampai di kantor dan........"
__ADS_1
"Cepat itu berapa menit lagi, Mas?" Embun bertanya sambil menatap Mona dengan wajah panik.
"Satu jam lagi. Kenapa, anakku sudah lapar?" Luke bertanya dengan panik.
"Nggak bukan begitu. Emm, aku akan bangun dan menunggu Mas di sofa"
"Nggak usah buruan bangun. Aku justru suka melihat kamu rebahan di kasur"
"Mas, ada Pak Rendy lho" Sahut Embun dengan merona malu.
"Ah! Rendy udah biasa mendengar ucapanku"
Biasa, ya, biasa, Tuan. Tapi, cobalah mengerti hidup Rendy bukan biasa-biasa aja. Batin Rendy.
"Oke. Aku tutup dulu telponnya"
"Baik, Mas. Ati-ati di jalan"
Embun lalu menyerahkan telepon genggamnya ke Mona dan bergegas melepas wig dan berganti baju. Lalu, Embun menggandeng tangan Mona dengan setengah berlari keluar dari dalam ruang ganti itu. Embun lupa menghapus makeup di wajahnya.
Alex sontak bangkit berdiri dan berlari keluar saat ia melihat Embun berlari kecil melintasi ruangannya dari jendela besar transparan yang mengelilingi ruang kerjanya.
Alex berhasil mengejar Embun dan menahan lengan Embun saat Embun hendak masuk ke dalam mobil untuk bertanya, "Kenapa tidak ke ruanganku dulu? Kenapa malah berlari keluar dan terburu-buru masuk ke dalam mobil? Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu ketakutan seperti ini?"
Embun menarik lengannya dan berkata, "Maaf, aku harus segera pulang" Lalu, ia masuk ke dalam mobil dan saat Embun menutup pintu mobil, Mona langsung tancap gas.
Alex menatap arah pergi mobilnya Embun dengan wajah kecewa dan bergumam lirih, "Padahal aku ingin mengajak kamu makan malam untuk hasil foto-foto kamu yang fantastis. Kamu bahkan nggak pengen lihat hasil foto kamu dan pergi begitu saja. Tzk! Kau memang gadis unik dan untuk itulah, aku makin menyukai kamu"
Embun keluar dari lift dan langsung masuk ke kamar untuk duduk di sofa saat jam menunjukkan detik-detik kedatangannya Luke Donovan.
"Ren, kamu dulu dapet SIM A nembak, ya?"
"Iya, Tuan" Sahut Rendy dengan polosnya.
"Sial! Pantes aja kamu parkir lama banget. Stop! Aku turun dulu aja!"
Rendy sontak mengerem dan Luke langsung membuka pintu mobil, turun dan langsung berlari menuju ke lift khusus untuk Presdir dan CEO.
"Duh! Segitunya yang kangen sama anak bininya. Nunggu ini gerobak diparkirkan aja nggak sabar" Rendy berucap sembari memarkirkan mobil mewahnya Luke.
Luke muncul di ruang kerjanya yang super mewah dan besar dengan napas terengah-engah dan langsung membungkukkan badan untuk memegang kedua lututnya.
Embun sontak bangkit berdiri dan bertanya, "Apa Mas ke sini dengan berlari?"
"Iya" Sahut Luke sembari menegakkan tubuh dan pria tampan itu seketika mematung di depan Embun.
Embun sontak menautkan kedua alisnya sambil bertanya, "Ada apa, Mas? Kenapa Mas tiba-tiba mematung kayak gitu? Ada yang salah di wajahku?"
Luke hanya bisa mengangguk karena dia masih merasa kesulitan menelan air liurnya sendiri ketika kedua bola matanya menangkap wajah Embun yang memakai makeup.
"Apa yang salah, Mas? Aku jelek, ya, kalau bangun tidur?"
Luke menggelengkan kepala, "Kamu sangat cantik saat ini," dan bertanya, "Kamu bangun tidur?"
Embun mengangguk mantap.
Luke melangkah lebar dan langsung memeluk pinggang ramping istri mungilnya dengan kedua lengannya untuk bertanya, "Kalau bangun tidur, kenapa memakai makeup?"
Embun tersentak kaget dan sontak menunduk untuk menyembunyikan wajah paniknya. Dia langsung menyesali kebodohannya lupa menghapus makeup sebelum pergi meninggalkan lokasi pemotretan.
Presdir muda Grup Donovan itu, kemudian mencubit dagu Embun untuk mengangkat wajah Embun seraya bertanya, "Kau ingin memberi kejutan manis untuk Suami kamu ini, ya? Ini kali keduanya aku melihat kamu pakai makeup. Pertama pas resepsi pernikahan kita dan kedua di hari ini"
"A......aku belajar makeup dari internet karena bosan menunggu sendirian di kamar, Mas. Lalu ketiduran dan ........ hmmmppppt"
Embun tak bisa meneruskan ucapannya saat suaminya memagut bibirnya. Luke mencium bibir Embun dengan penuh kelembutan dan berkata di sana, "Kau seribu kali lebih cantik kalau pakai makeup. Tapi, aku lebih menyukai wajah kamu yang alami tanpa makeup"
Embun mendorong pelan dada Luke untuk bertanya, "Kalau nggak suka aku pakai makeup, kenapa Mas menciumku?"
"Karena, wanita pakai makeup itu lebih menggairahkan. Tapi, wanita polos tanpa makeup itu lebih menarik"
"Lalu, Mas lebih suka yang mana?"
"Tergantung situasi dan kondisi. Tapi, saat ini aku sangat menyukai kejutan kamu ini" Luke meraih tangan Embun untuk ia letakkan di dadanya, kemudian pria super tampan itu berkata, "Kau bisa rasakan detak jantungku yang abnormal ini?"
Embun mengangguk dengan wajah memanas bergairah.
Luke lalu menyentuh dada Embun, meremasnya lembut, dan menyusupkan wajahnya di leher Embun sembari berkata, "Aku menyukai debaran jantung kamu yang sekencang ini dan menyukai wajah memerah kamu" Selesai berucap, Luke menghisap kulit leher Embun.
Embun sontak memekik lirih dan Luke langsung membopong Embun lalu mengajak Embun berciuman sembari melangkah menuju ke meja makan.
__ADS_1