Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Gigitan


__ADS_3

"Ibu bilang apa, Mas?"


Luke mengusap kedua pipi Embun dengan penuh kasih sayang sembari berkata, "Ibu akan berjuang melawan penyakitnya. Ibu juga bilang kalau Ibu bangga memiliki anak seperti kamu dan Beliau meminta maaf sama.kamu kalau beliau belum bisa menjadi Ibu yang baik buat kamu"


Air mata semakin deras membahasi kedua pipi Embun. Kemudian, Embun berkata di dalam isak tangisnya, "Aku juga bangga punya Ibu sehat Beliau, Mas. Aku mencintai Ibu"


Luke langsung memeluk istri mungilnya dan berkata, "Ibu juga mencintaimu dan selalu mencintaimu"


Embun semakin terisak di dalam pelukan hangat suaminya.


Luke mengelus lembut punggung istrinya dan berkata, "Jangan nangis terus! Kalau kamu nangis terus kayak gini, aku jadi sedih"


Embun semakin erat memeluk pinggang suaminya dan semakin terisak.


"Kalian pulang saja! Aku akan jaga Ibu Lastri. Kasihan Istri kamu. Dia hamil. Kamu juga perlu istirahat Luke. Besok kamu harus kerja, kan?" Sahut Theo.


"Baiklah. Aku nggak tega kalau Istriku nangis terus kayak gini" Luke berucap sembari membopong tubuh Embun.


Theo menoleh ke Rendy, "Bos kamu udah kasmaran saat ini. Beda banget dia memperlakukan Istrinya dan Chika"


"Anda benar, Dok" Sahut Rendy.


"Ren!" Suara Luke menggelegar memanggil Rendy dan Rendy langsung pamit ke Theo sambil berlari mengekor tuan mudanya. Theo sontak terkekeh geli dan kemudian bergumam, "Syukurlah kalau kamu sudah benar-benar merasakan apa itu cinta yang sesungguhnya, Luke


"Kamu laper nggak? Orang hamil, kan, biasanya suka makan dan bentar-bentar merasa laper"


"Aku nggak pengen makan apa-apa. Aku kenyang, Mas"


"Kalau buah? Kamu mau buah?"


"Boleh" Embun berkata masih dengan wajah sedih dan nada melemah


"Ren, kamu beli buah mangga yang kemarin di mana?"


"Di minimarket depan, Tuan" Sahut Rendy.


"Mampir ke sana lagi. Kita beli mangga dulu"


"Hah?! Mangga lagi?" Rendy tersentak kaget.


"Hmm"


"Tuan kemarin nggak sakit perut, kan?"


"Nggak. Aku suka makan mangga mulai kemarin"


"Baik, Tuan" Sahut Rendy.


Sesampainya di depan minimarket, Embun menoleh ke Luke, "Mas, aku pengen turun boleh?"


"Oke. Aku akan temani" Sahut Luke.


Rendy menoleh ke belakang dan langsung berbalik badan saat ia melihat tuan muda dan nyonya mudanya turun dari dalam mobil. Rendy sontak bertanya, "Tuan, kenapa turun? Apalagi yang Tuan butuhkan? Saya akan belikan dan Tuan tunggu saja di mobil"


"Embun pengen turun. Jadi, ya, aku temani"


"Oooo" Sahut Rendy sambil berbalik badan dan melangkah maju ke depan lagi untuk masuk ke dalam minimarket.


Embun terus menggandeng tangan Embun dan mulai ngedumel, "Kenapa kamu tadi nggak pakai topi dan masker?"


"Memangnya kenapa, Mas?"


"Banyak yang ngeliatin kamu dan aku nggak suka itu. Sama sekali nggak suka dan........"


Luke mengentikan ucapannya saat jari telunjuk Embun parkir di depan mulutnya yang tengah monyong. Embun tersenyum dan berkata, "Mereka nggak melihat kira Mas. Tapi, mereka melihat kemesraan kira Jadi, kita biarkan saja mereka melihat kemesraan kita, Mas"


Luke meraih tangan Embun untuk berkata, "Ke.......kemesraan? Kau bilang kemesraan barusan?"


"Iya" Embun menatap Luke dengan senyum lembut.


"Okelah. Kalau kau bilang kemesraan, aku akan biarkan mereka".Sahut Like dengan wajah semringah dan dengan penuh kebanggaan dia terus berjalan menggandeng tangan Embun.


"Kamu pengen beli apa?" Tanya Luke.


"Aku pengen beli permen asem, permen kenyal dengan rasa buah, dan mie instan"


"Apa? Mie instan? Nggak! Nggak boleh!" Luke tiba-tiba berteriak cukup kencang dan membuat semua pengunjung minimarket tersebut menoleh ke Luke dan Embun.


Embun mengedarkan pandangan dengan senyum malu dan langsung berkata lirih ke Luke, "Mas! Jangan teriak-teriak! Banyak orang kaget mendengar teriakannya Mas"

__ADS_1


Luke kemudian mengedarkan pandangannya sambil berucap, "Maaf"


Rendy terkejut mendengar tuan mudanya bersedia meminta maaf ke banyak orang.


Semua pengunjung menganggukan kepala mereka dan berkata, "Nggak papa" Ke Luke lalu mereka semua berlalu meninggalkan Luke dan Embun untuk menuju ke meja kasir.


Luke kemudian menatap Embun kembali untuk berkata, "Semuanya boleh kamu ambil. Tapi, nggak kalau mie instan"


"Tapi, kenapa? Aku udah lama nggak makan mie instan, Mas. Boleh, ya? Satu saja deh. Yang rasa soto, ini. Boleh, ya?" Embun menatap Luke dengan sorot mata penuh harap.


Luke langsung merasa tidak tega saat ia melihat sorot mata penuh harap dan ekspresi imutnya Embun saat memohon.Luke akhirnya menghela napas panjang dan berkata, "Ambil dua bungkus kalau gitu"


"Boleh makan dua bungkus?"


"Yang satu kamu bikinkan buat aku nanti. Aku akan temani kamu makan mie itu"


"Baiklah" Embun langsung memasukkan dua bungkus mie instan ke dalam keranjang lalu bergegas membawa keranjang belanjaan itu ke meja kasir sebelum Luke berubah pikiran.


Rendy sontak ternganga lalu mengatupkan kembali mulutnya untuk bertanya ke tuan mudanya, "Tuan, Anda benci mie instan, kan? Anda nggak suka makan mie instan karena makanan itu yang selalu Anda makan pas Anda diculik. Tapi, kenapa sekarang........"


"Aku akan makan dengan Embun" Sahut Luke sembari melangkah lebar menyusul Embun.


Rendy akhirnya hanya bisa berkata, "Baiklah" Sambil mengekor Tuan mudanya.


Luke menyuapi Embun makan mangga dengan penuh cinta di dalam mobil dengan sesekali melempar candaan agar Embun untuk menghibur Embun yang masih tampak sedih.


Sesampainya di rumah, Luke langsung memandikan Embun"


"Mas, biar aku gosok punggung kamu dulu"


"Nggak usah. Aku bisa mandi sendiri nanti. Kamu harus cepat rebahan di kasur" Sahut Luke sembari menggosok tubuh Embun dengan penuh kasih sayang


Pria tampan itu lalu membopong Embun yang dibalut jubah mandi ke ruang ganti baju dan memakaikan baju tidur ke Embun. Setelah itu, Luke merebahkan Embun dengan pelan di kasur.


Embun tersenyum dan berucap, "Makasih, Mas"


"Hmm. Aku mandi dulu" Luke mencium kening Embun dan bergegas mandi.


Selesai mandi, Luke segera berganti baju dan menoleh ke Embun, "Sebentar, ya?! Aku akan ambilkan kejutan buat kamu"


"Apa kejutannya?"


"Tunggu sebentar!" Sahut Luke sembari bergegas keluar dari dalam kamar.


"Apa isi kardus itu, Mas?"


"Buku dongeng anak-anak dan buku novel. Aku suruh Rendy memborongnya pas kita lihat pameran buku di bazar kampus kami" Sahut Luke sembari meletakkan kardus itu di atas meja. Luke kemudian membuka kardus itu dan mengambil satu buku cerita anak-anak yang bertajuk, 'Gajah Sombong dan Kupu-kupu Bijak'


"Hah?! Kenapa.harus memborong buku sebanyak itu, Mas?"


"Karena kamu suka buku dan suka baca. Dan mulai besok, aku akan bikin perpustakaan mini khusus untuk kamu"


"Makasih, Mas" Ucap Embun sambil tersenyum hangat ke Luke.


Luke membalas senyumannya Embun sambil membawa buku cerita anak-anak pilihannya itu ke ranjang. Setelah ia melompat ke ranjang, ia merebahkan kepalanya di atas paha Embun dan menyerahkan buku itu sembari berkata, "Anakku pengen dibacakan cerita ini"


Embun mengulum. ibid menahan senyum, lalu bertanya, "Anak kita atau Papanya yang pengen dibacakan cerita ini?"


"Dua-duanya" Luke meringis ke Embun.


Embun sontak tertawa dan Luke langsung berkata sambil mengelus pipi Embun, "Aku lebih suka melihatmu tertawa seperti ini. Aku janji akan selalu mengganti tangisan kamu dengan tawa yang seperti ini"


Embun seketika itu merasakan jantungnya berdebar-debar dan tanpa ia sadari, ia mengecup bibir Luke.


Luke tersentak kaget dan Embun ikutan tersentak kaget dan wanita itu langsung berkata, "Maaf Mas, aku khilaf"


"Tapi, aku menyukai kekhilafan kamu, Mbun" Luke mengusap bibir Embun dengan jari jemarinya dan di saat Luke mengangkat kepalanya ingin mengecup Embun, Embun cepat-cepat menutup mulutnya sambil berkata, "Jadi dibacakan cerita, nggak?"


Luke terkekeh geli dan sambil merebahkan kembali kepalanya di atas pangkuannya Embun, di berkata, "Jadi, dong"


Embun membacakan cerita itu dan di tengah cerita, Luke tertidur pulas. Embun tersenyum. Lalu, ia meletakkan buku cerita di atas nakas. mengangkat papan kepala suaminya dari atas pangkuan, lalu merebahkan kepala suaminya di atas bantal dengan perlahan.


Embun kemudian mengusap wajah tampan suaminya sembari berkata, "Terima kasih untuk semuanya, Mas. Kau tahu, aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu" Embun kemudian mencium pipi Luke dan berbisik lirih, "Selamat tidur Pangeran tampanku"


Keesokan harinya, saat Luke ingin keluar dari dalam mobil, Embun langsung menahan dada Luke sembari berkata, "Mas jangan ikutan keluar! Di dalam mobil aja, Mas"


Luke terkekeh geli dan bertanya, "Kenapa aku nggak boleh ikutan keluar?"


"Kalau Mas keluar bisa bikin heboh nanti. Teman-temanku hampir semuanya terpesona sama kamu, Mas"

__ADS_1


Luke langsung tertawa senang. Lalu, ia mengecup bibir Embun dan berkata, "Oke. Aku nurut kata kamu. Aku nggak akan keluar dari mobil. Selamat belajar. Kita ketemuan nanti jam empat di kantor, ya?" Luke mengusap pucuk rambut Embun penuh kasih sayang.


"Iya, Mas. Mas juga hati-hati di jalan"


"Hmm" Luke menatap wajah imut istrinya dengan sorot mata penuh cinta.


Rendy masuk ke dalam mobil dan sambil memasang sabuk pengaman, Rendy bertanya, "Kita berangkat sekarang, Bos?"


Krik, krik,krik,krik, tidak ada sahutan dari jok belakang dan membuat Rendy sontak menoleh ke belakang dan asisten berparas tampan lokal itu langsung berteriak kaget, "Lho! Tuan Luke hilang ke mana?"


Rendy kemudian melepas sabuk pengaman dan bergegas turun dari dalam mobil untuk mencari keberadaan tuan mudanya.


Luke menahan tangan seorang wanita hang hendak memukul Embun dengan berteriak penuh amarah, "Siapa kamu?! Berani benar kamu mau memukul Istriku?!" Luke lalu menghempaskan tangan wanita itu ke udara dengan sangat kasar dan dia langsung memeluk pinggang Embun.


"Dia ikut campur urusanku. Dia.........."


"Dia.menolong saya, Tuan. Wanita ini suka memalak saya dan Embun pas.lewat. Embun menolong saya"


"Siapa namanya dan dari fakultas apa?"


"Bella Florence dari fakultas Ekonomi" Sahut wanita yang telah ditolong oleh Embun.


Wanita yang bernama Bella berdiri mematung di tempatnya dengan wajah kebingungan


Luke menatap tajam wanita yang hendak memukul Embun sambil menempelkan ponsel ke telinganya, "Reyhan, kasih sanksi yang sangat berat untuk mahasiswi yang bernama Bella Florence dari fakultas Ekonomi"


"Memangnya apa yang sudah dia lakukan, Tuan?"


"Dia hendak memukul Istriku. Kalau aku tidak melihatnya dan tidak menahannya, dia sudah memukul Istriku"


"Ah! Baiklah, Tuan. Saya akan segera memanggil Mahasiswi tersebut"


"Kau siapa, hah?! Berani benar mencampuri urusanku!" Wanita yang bernama Bella, yang hendak memukul Embun, melotot ke Luke.


"Aku pemilik kampus ini. Bahkan Reyhan sekalipun, tidak berani melawan perintahku. Mulai hari ini, nama kamu dicoret dari kampus ini" Luke kemudian menggandeng tangan Embun untuk pergi meninggalkan kedua wanita itu.


Wanita yang bernama Bella langsung lemas kakinya dan duduk bersimpuh di atas rumput dengan tangisan pilu.


Luke hendak mengantarkan Embun sampai ke depan kelas, tapi Embun langsung menahan dada Luke dan berkata, "Sampai sini saja, Mas"


"Tapi, kalau ada orang jahat lagi gimana?"


"Aku bisa mengatasinya, Mas. Aku, kan, hidup sendiri dan mandiri selama ini"


"Tapi, aku masih khawatir dan........"


Embun lalu menoleh ke pohon di sebelahnya dan sambil mengelus pohon itu, dia berkata, "Mas ingat tidak? Di pohon ini, pertama kalinya aku gigit bibir Mas?" Wajah Embun sontak merona malu saat ia mengatakan kata-kata itu.


Luke sontak tertawa dan langsung memeluk Embun sambil berkata, "Aku mau kau gigit lagi"


Deg, deg, deg, deg, detak jantung kedua sejoli itu kembali berdebar kencang saat mereka saling pandang.


Embun mendorong pelan tubuh Luke sampai punggung Luke membentur pohon itu, lalu Embun berjinjit untuk mengigit pelan bibir Luke.


Saat Luke ingin mendekap tubuh Embun, Embun langsung berbalik badan dan bergegas berlari kecil meninggalkan Luke sambil berkata, "Maaf Mas, aku harus segera masuk ke kelas"


"Hei! Jangan berlari!" Teriak Luke dengan senyum semringah.


Rendy masih kebingungan mencari keberadaan tuan mudanya. Saat Rendy berteriak kencang untuk uang kesepuluh kalinya, "Tuan! Anda di mana?!"


Ada sahutan lirih, "Aku di sini"


Rendy sontak menengok pohon yang ada di depannya dan langsung menghela napas panjang, "Huffttt! Akhirnya Anda bisa saya temukan, Tuan?"


Luke mengabaikan keberadaannya Rendy. Dia masih asyik bersandar di pohon itu sambil terus mengusap bibirnya dan senyum lebar menghiasi wajah super tampannya.


Rendy melangkah ke depan untuk berdiri di depan tuan mudanya dan bertanya, "Tuan kenapa.ada.di sini? Kenapa bersandar di pohon itu dan tersenyum terus seperti itu? Tuan nggak sedang kesurupan, kan?"


Luke mendelik ke Rendy dan sambil menegakkan badan dia berkata, "Ganggu aja! Aku gak kesurupan, tapi lihat setan iya"


"Hah?!" Rendy sontak melompat dan memeluk tubuh Luke sambil berteriak, "Mana setannya, Tuan?"


Luke mendorong tubuh Rendy dan berkata dengan kesal, "Kamu setannya" Lalu, pria super tampan itu berjalan melintasi Rendy begitu saja.


Rendy langsung berlari menyusul tuannya dengan ngedumel, "Dicariin susah payah, eh, ujung-ujungnya malah dikatain setan. Hmm! Sabar, Rendy, Sabaaaaarrrr!"


Di dalam perjalanan menuju ke kantor, Rendy melirik tuan mudanya dan bergumam di dalam hatinya, "Tuan kenapa mengusap bibirnya terus dan tersenyum semringah kayak gitu, ya?"


Alex Norman semangat berangkat ke lokasi pemotretan dan hal itu menggelitik Alice Norman untuk bertanya, "Secantik apa, sih, wanita itu? Kok bisa bikin Kakak laki-lakiku yang tampan ini jadi senyum-senyum terus kayak gini?"

__ADS_1


"Kalau kamu pengen tahu secantik apa wanita itu, maka ikutlah ke.lokasi pemotretan"


"Oke, deh, aku ikut" Sahut Alice Norman.


__ADS_2