
Rendy mengirim pesan text ke Luke, masalah Gilang sudah beres, Tuan.
Gilang menatap sertifikat rumah beserta kuncinya, kunci mobil, kartu ATM dan buku tabungan uang masih tergeletak di atas meja sofa.dengan senyum getir. Lalu, setelah menghela napas panjang berulangkali, ia bergumam, "Lusa, aku akan putuskan hubunganku dengan Embun. Lalu, apa yang harus aku katakan?"
Luke tersenyum senang setelah ia membaca pesan text dari Rendy dan saat ia hendak memasukkan kembali telepon genggam ke saku kemeja, ia justru menahan langkah neneknya dengan cara menarik tangan kanannya yang masih berada di dalam genggaman tangan neneknya, ketika bunyi dering telepon terdengar sangat nyaring di antara mereka.
Maria melepaskan tangan Luke dan menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan berbarengan dengan Embun untuk menatap Luke.
Luke tersenyum dan berkata, "Maaf aku angkat telepon dulu"
Maria dan Embun menganggukkan kepala mereka dengan senyuman manis mereka.
Luke berlari kecil menuju ke halaman samping gedung pencakar langit milik Grup Donovan, untuk mengangkat panggilan telepon itu dan berkata, "Halo?"
"Halo Sayang. Bagaimana kabar kamu? Aku sangat merindukan kamu, Sayangku. Maaf aku baru sempat telpon kamu, aku............" Suara Chika menggema ceria di telinganya Luke.
"Ada apa?" Luke menyahut dengan suara ketus.
"Lho, kok ada apa? Kamu nggak rindu sama aku?"
"Maaf, aku masih ada urusan penting" Klik! Luke mematikan telepon genggamnya.
Chika menatap layar telepon genggamnya yang menggelap sambil tersenyum geli dan bergumam, "Kamu lucu kalau ngambek"
"Siapa yang ngambek?" Sorang pria memeluk Chika dari arah belakang dan mencium lehernya Chika.
Chika menoleh untuk mencium bibir pria itu, lalu berucap, "Teman lamaku yang ngambek"
"Nek, maaf. Embun perlu menemui Ibu dan keluarga Embun dulu untuk memberitahukan soal ini terlebih dahulu. Kalau kita dadakan datang bersamaan, takutnya Ibu dan Nenek Embun tidak siap dan kaget. Apa Embun boleh, duluan pulang ke rumah Nenek Embun?"
Maria Donovan yang masih berdiri di depan mobilnya melirik jam tangan bermerk-nya. Lalu, sambil tersenyum penuh kasih ia berkata, "Boleh. Ini masih sore jam tiga. Nenek dan Suami kamu bisa belanja dulu sementara kamu pulang untuk memberitahukan kedatangan kami ke keluarga kamu" Maria Donovan mengusap lembut rambutnya Embun.
Embun meraih tangan neneknya Luke untuk ia cium punggung tangan itu lalu berkata, "Terima kasih, Nek. Embun pamit dulu"
"Mona, temani dan jaga Nyonya muda kamu dengan baik"
"Siap, Nyonya besar" Mona langsung berlari kecil menyusul Embun.
Embun dan Mona naik mobilnya Maria Donovan dan Maria Donovan menunggu Luke di depan mobil sportnya Luke.
Luke melangkah dengan santai menuju ke mobilnya dan saat ia menghentikan langkahnya di depan neneknya, ia sontak bertanya, "Embun sudah masuk ke dalam mobil?"
__ADS_1
"Embun pulang duluan. Dia butuh memberitahukan kedatangan kita ke keluarganya dulu" Ucap Maria Donovan sembari melangkah masuk ke dalam mobil.
"Kok Nenek ijinkan? Nenek tahu, kan, kalau Neneknya Embun itu jahat banget sama Embun. Kalau Embun.........."
"Sssttt! Makanya buruan masuk dan lajukan mobilnya biar kita bisa cepet nyusul Embun"
Luke masuk ke dalam mobil dan sambil melajukan mobil ia berucap, "Kita langsung ke rumahnya Embun, kan? Nenek tahu rumahnya Embun?"
"Dona akan menuntun kita ke sana. Dona ada di mobil depan, tuh, sama Rendy. Tapi, kita mampir belanja dulu. Kita perlu beli kue, buah, dan........"Sahut Maria Donovan.
"Kelamaan dong, Nek. Aku mengkhawatirkan Embun, nih" Sahut Luke dengan mengerucutkan bibirnya.
Maria Donovan tersenyum lalu menepuk bahu Luke pelan sambil berkata, "Embun akan baik-baik saja. Mona dan kelima anak buah kamu, menemani Embun pulang"
Luke menghela napas panjang dan dengan berat hati, ia akhirnya menuruti permintaan neneknya berbelanja.
"Siapa yang nelpon? Kok kamu Nerima teleponnya lama banget tadi" Tanya Maria Donovan di depan kasir.
"Teman lama, Nek"
"Ooooo, pantes kok lama banget nerima telponnya"
Luke hanya mengulas senyum tampannya dan berucap di dalam hatinya, bukan nerima telponnya yang lama, Nek. Tapi, ngerokoknya yang lama.
Embun berjalan masuk ke pekarangan rumah neneknya. Mona berjalan di belakang Embun dengan sikap penuh dengan kewaspadaan.
Embun tersentak kaget saat neneknya menoleh dan berkata sembari berlari kecil ke arahnya, "Nah! Ini anaknya. Kebetulan dia pulang. Baru saja kita bicarakan, ya, Jeng" Neneknya Embun memeluk bahunya Embun dengan senyum lebar.
Embun menautkan kedua alisnya dan bertanya, "Apa maksud Nenek?"
"Ini Nyonya Rosa dan itu putra tunggalnya bernama John. John berumur tiga puluh tahun dan dia pria yang sangat mapan"
Embun tersenyum canggung sembari meraih tangan wanita itu untuk ia cium punggung tangannya, lalu berucap, "Senang bertemu dengan Anda, Nyonya"
"Aku suka, Ma. Dia cantik dan sopan. Aku setuju dan mau" Sahut pria yang berdiri di depan wanita yang bernama Rosa itu.
Embun semakin menautkan kedua alisnya dan menyemburkan tanya ke pria itu, " Maaf, apa maksud ucapan Anda?"
Neneknya Embun langsung menggemakan tawa riangnya, lalu berucap, "Saya senang, Jeng Rosa, kalau Putra Anda suka sama Embun. Ayo kita masuk ke dalam dulu untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut"
Wanita yang bernama Rosa mengikuti langkah neneknya Embun sembari berucap ke putranya, "Iya, Mama juga cocok"
__ADS_1
Mona mengikuti langkahnya Embun. Neneknya Embun menoleh ke belakang dan sontak bertanya ke Embun, "Siapa yang mengikuti kamu, Mbun?"
"Teman Embun, Nek" Sahut Embun.
"Ooooo, ikut masuk aja, Nak" Neneknya Embun tersenyum ke Mona.
Mona mengangguk sopan dan terus mengikuti Embun dari belakang sampai mereka duduk di sofa.
Neneknya Embun berbisik di telinga Embun, "Kamu harus terima lamaran Nyonya Rosa. Dia kasih uang lamaran seratus juta rupiah dan sebuah rumah mewah untuk kamu. Kalau kamu menikah dengan John, kamu bakalan hidup mewah. John udah mapan dan kaya raya. Dia juga satu kantor dengan kamu, jadi udah jodoh, kan? Kalian sama-sama bekerja di Grup Donovan. Minggu besok kamu rencana akan mengunjungi rumah dinas kamu, eh, kamu malah udah nongol di sini. Berarti emang udah jodoh, hihihihi"
Embun menoleh kaget ke neneknya dan sontak menyemburkan protes, "Saya menolak. Saya sudah ada yang punya"
Wanita yang bernama Rosa dan pria yang bernama John langsung tersentak kaget.
"Kamu nggak punya hak untuk menolak!" Neneknya Embun mendelik ke Embun tepat di saat Luke dan Maria Donovan muncul di depan pintu.
"Ada apa ini?" Luke yang berdiri di depan pintu rumah neneknya Embun, menatap neneknya Embun dengan wajah dingin. "Siapa kamu?" Pandangan Luke kemudian terhunus tajam ke pria yang duduk di depannya Embun.
Neneknya Embun sontak bangkit berdiri dan berteriak kencang, "Harusnya kami yang bertanya siapa kamu?! Masuk ke rumah orang tanpa permisi dan berlagak kayak jagoan"
Maria Donovan hendak membuka mulut, namun ia urungkan saat ia melihat pria yang duduk di depan Embun, bangkit berdiri dan berlari kecil ke arah Luke Donovan. Pria yang bernama John itu, kemudian menghentikan kakinya di depan Luke, membungkukkan badan sambil berucap "Selamat datang, Tuan Luke dan Nyonya Maria. Maafkan saya kalau saya terlambat mengenali kalian berdua"
Neneknya Embun tampak kebingungan dan Embun langsung bangkit berdiri untuk mempersilakan Luke dan Maria untuk duduk.
Pria yang bernama John tidak berani duduk kembali. Dia memilih berdiri di depan pintu dengan wajah kebingungan. Dia sungguh merasa heran, kenapa Bos dan Nyonya besar Grup Donovan datang berkunjung ke rumah kecilnya keluarga Sanjaya.
Neneknya Embun semakin kebingungan dan tersentak kaget saat ia melihat ada banyak orang masuk ke dalam rumahnya untuk meletakkan banyak sekali hantaran di atas meja.
"A......apa maksud ini semua?" Neneknya Embun berteriak keheranan.
Luke menoleh ke Embun, menggenggam tangan Embun untuk bertanya, "Mana Ibu kamu?"
"Untuk apa mencari Ibunya Embun? Embun adalah tanggung jawabku. Nggak perlu cari Ibunya. Lagian, Ibunya Embun masih repot di belakang" Neneknya Embun langsung menyahut dengan wajah ketus.
Luke mulai menggertakkan giginya dan langsung menggelegarkan suaranya, "Kalau aku ingin bertemu dengan Ibunya Embun, maka kau harus hadirkan Ibunya Embun di sini!"
"Dan siapa kau?! Berani benar membentak dan memberiku perintah, hah?! Dasar bocah nggak tahu sopan santun dan........."
Dada Luke mulai naik turun dan wajahnya memerah penuh amarah, sewaktu pria tampan itu hendak bangkit berdiri, Maria langsung menahan pahanya Luke dan langsung bergumam lirih, "Jangan lawan kekerasan dengan kekerasan, Luke!"
Pria yang bernama John langsung menoleh ke Neneknya Embun dan berucap dengan wajah ketakutan, "Nyonya Sanjaya, Beliau adalah Bos besar saya dan yang duduk di sebelah Beliau adalah Nyonya besar saya. Mereka pemilik Grup Donovan. Mereka adalah Tuan Luke Donovan dan Nyonya Maria Donovan"
__ADS_1
"Apa?!" Neneknya Embun seketika jatuh pingsan di dalam pelukannya pria yang bernama John.