
Luke duduk di sebelahnya pria berseragam dokter dengan nametag Dokter Theodore Prist, Sp. PD.
Theo, nama panggilan dari dokter muda nan tampan itu sontak menoleh ke Luke untuk bertanya, "Kau baik-baik saja?"
Rendy juga ikutan melemparkan tanya, "Anda tidak merasakan ada yang aneh di dari Anda, kan, Tuan?"
Luke menggerakkan kedua bola matanya ke kanan lalu ke kiri untuk melihat Rendy dan Theo sambil berkata, "Aku baik-baik saja. Nggak sakit perut, nggak mual, nggak pusing, dan nggak berkeringat, kalau itu yang ingin kalian tanyakan"
"Ah! Syukurlah" Theo dan Rendy langsung bernapas lega secara bersamaan.
Rendy kemudian pamit untuk pergi makan sebentar dan Luke mengijinkannya.
Sepeninggalnya Rendy, Theo berkata, "Kamu pulang aja Luke! Kalau ada apa-apa dengan Ibu mertua kamu, akan aku kabari secepatnya. Lagian apa kau tidak ingin berduaan dengan Istri kamu malam ini? Kalian, kan pengantin baru" Theo tersenyum geli sambil menyenggol bahu Luke dengan bahunya.
"Yeeeaahhh, walaupun cuma bisa berciuman dan memeluknya, aku ingin malam ini pulang dan tidur berduaan dengan Istriku"
"Lho! Sejak insiden mengerikan itu, Kamu belum melakukan itu pada Istri kamu?"
"Tentu saja belum. Kandungan Istriku belum ada empat bulan"
"Oh! Benar itu. Setelah usia kandungan empat bulan baru boleh melakukan itu"
"Tapi, kayaknya aku akan terus menahan diri sampai anakku lahir nanti. Aku nggak tega mengganggu anakku kalau aku melakukan itu"
"Buahahahahaha! Kau itu Luke Donovan. Mana mungkin Singa kamu nggak mengamuk sampai anak kamu lahir nanti. Apalagi kata kamu, Istri kamu itu cantik, imut, dan menggemaskan"
"Tapi, kalau nanti udah masuk empat bulan kandungannya Istriku, apa anakku nggak akan terganggu kalau aku melakukan itu?"
"Tentu saja nggak. Justru setelah usia kandungan Istri kamu empat bulan, kamu harus sering nengok anak kamu, untuk membantu kelancaran persalinan nanti. Tapi, nggak bisa pakai gaya seenaknya. Harus pakai gaya woman on top"
Luke sontak meraup wajah tampannya sambil bergumam, "Siap! Kau membuatku ingin segera melakukan itu. Huffftttt! Sekarang aku baru bisa merasakan ujian kesabaran yang paling berat"
"Buahahahahaha" Theo kembali membahanakan tawa renyahnya.
Sebuah mobil mewah melintasi jalan sepi yang lebar. Di kedua sisi jalan besar itu terdapat hutan kayu jati. Empat orang di dalam mobil itu, mulai mendengungkan protes mereka ke orang yang mengendarai mobil mewah tersebut perkara si pengendara mobil merah itu, memilih jalan besar yang sangat sepi itu.
Pengendara mobil yang sekaligus pemilik mobil mewah tersebut, sontak berteriak kesal, "Kalian bisa diam nggak?! Kalau nggak bisa diam dan berdengung terus kayak gitu, aku akan turunkan kalian semua di tengah jalan"
"kau memang Bosnya di sini. Tapi, jangan seenaknya juga dong. Aku sudah bilang dari tadi, kalau kita sepertinya nyasar. Mana ini udah jam setengah dua belas malam. Kita berhenti dulu aja! Kita gunakan fasilitas GPS"
"Aku setuju dengan Mikhael"
Pria yang dipanggil Mikhael menoleh ke temannya untuk berkata "Thank you, Rom"
"Aku juga setuju dengan Mikhael dan Romi"
Mikhael dan Romi menoleh ke temannya itu untuk berkata, "Thank you Gab!"
"Nggak ada sinyal di sini. GPS nggak berfungsi"
"Alex nggak bodoh. Kalau dia milih jalan ini, dia pasti akan bertanggung jawab" Sahut pria yang duduk di jok sebelah supir.
Pria yang dipanggil Alex menoleh sekilas ke jok sebelah kirinya untuk berkata, "Thanks Ray"
"Maksudku bukan GPS yang ada di ponsel. Tapi, GPS, Gunakan Penduduk Sekitar" Sahut pria yang bernama Mikhael.
"Aish! Mana ada penduduk di sekitar sini. Kau tidak lihat kalau kanan kiri kita hutan jati semua?" Sahut pria yang dipanggil Ray.
"Aku akan bawa kalian keluar dari sini sebentar lagi. Jangan khawatir!"
Pria yang bernama Romi, Gabriel, dan Mikhael, langsung mendengungkan kata, "Baiklah" Secara bersamaan.
Ckiiiitttt!!!!!! Mona terpaksa mengerem mobilnya secara dadakan ketika sebuah mobil Van hitam memotong jalan dan berhenti mendadak di depan. Sedangkan dari arah belakang, mobil mewah miliknya Luke Donovan dipepet sebuah mobil Van berwarna hitam yang lainnya.
Mona menoleh ke istri kesayangannya Tuan Luke Donovan untuk berkata, "Nyonya muda, jangan takut! Saya akan melindungi Anda. Saya nggak akan biarkan satu orang pun menyentuh Anda. Sekarang saya akan turun dan langsung kunci pintunya!"
Embun tampak ketakutan, tapi dia masih bisa mengangguk.
Begitu Mona melompat keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya, Embun langsung memencet tombol central locked. Embun menunggu di dalam mobil dengan harap-harap cemas. Dia melongok ke layar telepon genggamnya dan mencabut kabel charger saat ia melihat ada angka 25% di layar telepon genggamnya. "Batere dua puluh lima persen cukup untuk menelpon Mas Luke" Embun langsung menghidupkan telepon genggamnya. Namun, ia harus menelan kekecewaan saat ia menemukan tanda tidak ada sinyal di layar telepon genggamnya "Kenapa tidak ada sinyal? Adu! Gimana, nih? Mas Luke, tolong aku!"
Luke tiba-tiba memegang dadanya dan berkata, "Kenapa aku tiba-tiba merasa nggak enak, nih. Aku akan coba nelpon Nenek"
Beberapa detik kemudian, Theo bertanya, "Nenek baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
"Nenek baik-baik saja" Sahut Luke sembari memencet kembali layar ponselnya dan berkata, "Aku akan nelpon Istriku sekarang. Semoga Istriku juga baik-baik saja"
Beberapa detik kemudian, Luke dan Theo bersitatap. Theo sontak bertanya, "Ada apa?" saat ia melihat wajah Luke panik.
"Telepon genggam Istriku tidak bisa aku hubungi" Luke bangkit berdiri dan dengan wajah panik ia terus mencoba menghubungi telepon genggamnya Embun.
"Lacak keberadaan Istri kamu dan susul dia! Serahkan Ibu mertua kamu ke aku. Aku akan menjaga dengan sangat baik Ibu mertua kamu"
"Thank you Bro!" Luke berucap sembari berlari dan terus menempelkan telepon genggam di telinganya.
Luke berlari ke pelataran parkir sambil berteriak memanggil Rendy, "Ren! Lacak keberadaan Nyonya muda kamu"
Rendy yang baru keluar dari sebuah warung tenda bertuliskan nasi goreng, langsung berlari menyusul tuan mudanya sambil mencari keberadaan Embun melalui ponsel pintarnya.
Rendy bertanya setelah ia menjalankan mobil sport milik tuan mudanya, "Emangnya Nyonya muda kenapa Tuan?"
"Di mana dia? Embun sudah kau temukan?"
"Sudah. Ini saya menuju ke lokasinya Nyonya muda. Emangnya ada apa, Tuan?"
"Perasaanku nggak enak dan Embun tidak bisa aku telpon. Ponselnya Embun tidak aktif.
Rendy sontak menekan lebih dalam pedal gas saat ia mendengar perasaan tuan kudanya tidak enak dan nyonya mudanya tidak bisa dihubungi. Karena, ia tahu kalau lokasi keberadaan mobil mewah yang dipakai oleh Mona untuk mengantarkan nyonya mudanya pulang, berada di jalan sepi di tengah hutan. Jalan itu memang jalan pintas menuju ke kediaman Luke Donovan, namun jalan itu sepi.
Mona berhasil melumpuhkan lima orang pria bertubuh kekar dan berwajah garang. Namun, saat ia melawan lawan yang berikutnya, Mona terkena tendangan di perut dan saat Mona menunduk kesakitan, Mona kembali dihujani tendangan dan bogem mentah hingga akhirnya Mona jatuh tersungkur tak sadarkan diri di atas aspal.
Embun sontak mengangkat kedua alisnya ke atas saat ia melihat Mona jatuh pingsan di atas aspal dan beberapa pria berjalan pelan ke arahnya.
Embun terus berusaha menghubungi suaminya dengan ponsel pintarnya, namun tetap saja tidak bisa tersambung.
Salah seorang pria yang berdiri di depan mobil mewahnya Luke Donovan itu, berkata, "Istri Tuan Luke Donovan cantik juga ternyata. Sayang banget kalau harus kita bunuh sebelum kita nikmati"
"Iya benar. Kita sekap dulu aja dia di suatu tempat dan kita nikmati bergiliran sampai dia mati lemas dengan sendirinya"
"Setuju"
Embun bergidik ngeri mendengar semua ucapan itu. Dan dia menutup wajahnya saat dia melihat banyak pria menyeringai menjijikan di depannya.
"Ada mobil dikeroyok lima pria dan kalian lihat, tuh, ada seorang wanita terkapar tak berdaya di atas aspal. Kita harus menolong siapa pun yang ada di dalam mobil itu" Alex Norman berucap sambil melepas sabuk pengaman lalu melompat turun dari dalam mobil.
Semua teman satu mobilnya langsung mengumpat kesal dan dengan terpaksa mengikuti Alex Norman keluar dari dalam mobil.
Alex Norman dan teman-temannya langsung menyerang kelima orang berbadan kekar dan berwajah garang. Setelah bertarung dengan cukup alot, Alex Norman dan teman-temannya berhasil melumpuhkan kelima orang berbadan kekar dan berwajah garang itu.
Alex Norman kemudian mengetuk pelan kaca mobil saat ia melihat ada seorang wanita tengah menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Embun tersentak kaget dan saat ia mendengar suara, "Kita teman. Kita nggak akan menyakiti kamu. Keluarlah! Kita perlu menolong teman kamu"
Embun langsung menarik kedua telapak tangan dari wajahnya dan dia menoleh ke kaca jendela.
Kedua bola mata Embun bersitatap dengan kedua bola mata Alex Norman.
Seketika itu, Alex Norman terpesona akan kecantikan alami wanita yang masih berada di dalam mobil. Alex Norman kemudian mengambil dompet dan memperlihatkan kartu identitasnya di depan kaca mobil.
Embun membaca kartu identitas itu dari dalam mobil, "Alex Norman, usia dua puluh tujuh tahun, pekerjaan fotografer"
"Kita teman. Keluarlah! Kamu udah aman sekarang. Kita perlu menolong teman kamu" Teriak Alex Norman dari luar.
Embun akhirnya membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
"Aku Alex Norman. Itu adalah teman-temanku. Mulai dari kanan akan aku perkenalkan nama mereka satu per satu, Romi, Gabriel, Mikhael, dan Ray"
Embun menganggukan kepala ke semuanya dan setelah mengulas senyum ramah, ia berkata, "Terima kasih sudah menolong saya"
Dia bukan hanya cantik dan imut. Dia juga ramah dan sangat sopan. Dia cocok untuk aku jadikan model parfum Pure Heart. Papa pasti setuju kalau wanita ini aku jadikan model parfum Pure Heart . Batin Alex Norman sambil terus memandangi wajah Embun.
Lalu, Embun bergegas membuka pintu mobil saat pria yang bernama Mikhael berkata, "Teman kamu sebaiknya masuk ke mobil dulu. Kami cukup capek memapahnya,nih. Kalau dia sadar mungkin nggak akan seberat ini"
Mikhael dan Romi memasukkan Mona dengan hati-hati ke jok belakang mobil. Setelah Embun menutup kembali pintu mobil, Alex bergegas bertanya, "Apa kamu sudah bekerja?"
"Apa Mbak Mona baik-baik saja?" Tanya Embun ke keempat pria yang berdiri berjejer di depannya.
"Aku adalah mahasiswa kedokteran. Aku lihat teman kamu baik-baik saja. Nggak ada luka dalam yang serius. Makanya aku berani memapahnya tadi" Sahut pria yang bernama Romi.
__ADS_1
"Syukurlah" Embun bernapas lega dan Alex kembali bertanya, "Apa kau sudah bekerja saat ini?"
Embun menggelengkan kepala.
"Kalau gitu, apakah kamu mau kalau aku menawari kamu sebuah pekerjaan?"
Embun langsung mengerjap senang dan berkata, "Kebetulan sekali saya butuh perkejaan saat ini. Tapi, katakan dulu apa pekerjaan yang ingin Anda tawarkan ke saya"
"Aku seorang fotografer dan aku butuh model untuk produk parfum yang tengah aku dan Papaku garap. Apa kau mau jadi model itu?"
"Kau harus mau. Karena, seorang Alex Norman tidak pernah menerima penolakan. Lagian rugi kalau kau tolak. Kau akan bekerja sama dengan fotografer tingkat Internasional" Sahut pria yang bernama Ray.
Embun masih tampan ragu untuk mengiyakan. Karena, ia belum meminta ijin ke suaminya.
"Aku akan bayar kamu seratus juta rupiah untuk pemotretan dan syuting selama satu Minggu" Ucap Alex Norman saat ia melihat Embun masih diam meragu.
Kenapa nominalnya sama persis dengan uang yang sedang aku butuhkan saat ini untuk membayar biaya pengobatannya Ibu. Apa aku ambil saja pekerjaan ini, ya? Batin Embun.
"Gimana?"
"Teman kamu sudah sadar" Sahut pria yang bernama Gabby.
Embun sontak membuka pintu untuk bertanya, "Mbak, apa yang Mbak rasakan saat ini?"
"Saya baik-baik saja, Nyonya. Ini hanya luka kecil" Sahut Mona.
Setelah berucap, "Syukurlah Mbak Mona baik-baik saja" Embun kembali menutup pintu mobil dan menoleh ke pria yang bernama Alex Norman untuk berkata, "Apa kira bisa bicarakan sambil jalan? Saya harus segera sampai di rumah dan mengobati Mbak Mona"
"Sambil jalan? Maksudnya?" Alex Norman sontak menautkan kedua alisnya.
Embun meringis dan berkata dengan hati-hati, "Maaf kalau saya meminta pertolongan lagi. Mbak Mona masih kesakitan dan baru bangun dari pingsannya. Saya tidak bisa menyetir mobil. Apa Anda bisa mengantarkan saya sampai ke rumah saya?"
"Dengan senang hati. Tapi, kamu harus janji dulu mau menerima tawaranku tadi"
"Baiklah" Sahut Embun.
Akhirnya Alex Norman menjadi supir dadakannya Embun sementara mobil Alex Norman mengikuti mobil mewahnya Luke Donovan dan Ray yang jadi supirnya.
"Cewek itu cantik alami dan imut. Seleranya Alex, tuh. Pantesan Alex langsung mau mengantarkan cewek itu pulang" Ucap Ray.
"Alex emang brengsek! Dia ajak kita lewat jalan sepi kayak gini, lalu ia ajak kita melawan lima orang berbadan kekar tadi, eh, dia yang dapat enaknya satu mobil dengan cewek cantik itu" Sahut Romi.
"Ya, dia, kan, bosnya" Sahut Mikhael.
"Iya. Di mana-mana yang namanya Bos itu, selalu terima enaknya" Sahut Gabby.
Ray sontak tertawa terbahak-bahak.
"Tuan, Anda bis bernapas lega sekarang" Ucap Rendy.
"Ada apa?" Luke spontan menoleh ke Rendy dengan wajah panik.
"Nyonya muda sudah berada di rumah sekarang ini"
"Benarkah?"
"Iya, Tuan"
"Ah! Syukurlah" Luke menghela napas lega berulang kali.
"Aku tunggu besok" Ucap Alex Norman sembari menyerahkan kunci ke Embun.
"Baiklah dan terima kasih banyak atas pertolongan Anda. Saya pasti datang ke lokasi pemotretan"
Alex Norman tersenyum ramah lalu ia pamit pulang.
Embun lalu duduk di samping Mona untuk mengobati luka Mona. Mona menatap Embun untuk bertanya, "Nyonya muda akan berkerja sebagai model mulai besok?"
"Iya, Mbak. Apa Mbak mau merahasiakan ini dari Suamiku? Soalnya aku belum bilang ke Suamiku dan aku sudah menyetujuinya Itu karena, aku butuh uang itu, Mbak"
'Saya akan diam, Nyonya" Sahut Mona.
"Terima kasih, Mbak"
__ADS_1