Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Bogem Mentah


__ADS_3

Soraya Danuro langsung menemui Soraya Donovan dan Daniel Donovan sembari menggandeng pengacaranya untuk berkata, "Aku ingin cerai dengan Daniel sekarang juga! Aku nggak mau nunggu sampai setahun. Lagian, Daniel udah gagal jadi Presdir"


Soraya Donovan yang masih meradang penuh amarah, langsung berteriak kesal, "Oke! Kalau mau cerai, cerai saja!"


Luke merebahkan kepala Embun dengan pelan di atas pangkuannya. Lalu pria berparas tampan itu, menepuk pelan bahu Rendy.


Rendy sontak melepas headset nirkabelnya dan berteriak, "Ada apa, Tuan?!"


"Kau mau mati, ya?! Jangan teriak! Embun tidur, nih"


Rendy sontak melirihkan volume suaranya, "ada apa, Tuan?"


"Kita ke kantor langsung aja. Embun nggak usah kuliah hari ini. Kasihan dia kelihatan sangat lelah" Luke berucap sembari merapikan rambut Embun yang menutupi wajah tirus istrinya.


"Lalu soal tamu kira yang ada di hotel?"


"Aku akan rebahkan Embun di kamar kantorku dan suruh anak buah kamu yang bernama Mona untuk menjaga Embun. Embun meminta Mona yang menjadi pengawalnya. Terus, kita temui tamu terhormat kira itu"


"Siap, Tuan. Emm, ngomong-ngomong, tumben Tuan jerawatan?"


"Hmm. Aku nggak sengaja makan telur puyuh kemarin"


"Jerawatnya di pucuk hidung"


"Aku tahu. Yang punya jerawat, kan, aku? Kenapa emangnya kalau di pucuk hidung?"


"Tuan keliatan lucu, mirip badut. Maaf, bukan maksud saya ingin mengejek Anda. Tapi, kenapa Anda tidak langsung mengoleskan salep atau pergi ke dokter kulit?"


"Embun menyukainya. Selama Embun masih menyukainya, aku nggak akan obati jerawat ini"


"Waahhhhh! Kalau Anda biarkan jerawat itu nangkring terus di hidung Anda, ketampanan Anda bisa turun sekitar sepuluh persen, lho, Tuan"


"Aku tidak peduli dengan ketampananku. Aku udah punya Istri dan akan menjadi seorang Ayah. Untuk apa aku peduli dengan ketampananku?"


Rendy hanya menganggukkan kepalanya.


Telepon genggamnya Luke tiba-tiba berdering dan tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Luke mematikan telepon genggamnya dan bergumam, "Ganggu aja! Nggak tahu kalau Istri dan anakku sedang tidur"


Beberapa menit kemudian, Luke merebahkan Embun dengan hati-hati di atas ranjang. Setelah mencium keningnya Embun, dia melangkah keluar dari kamar.


Luke langsung berkata ke pengawal wanita, salah satu dari anak buah terbaiknya Rendy, yang bernama Mona, "Jaga Istriku dengan baik! Kalau dia bangun, telepon pihak dapur untuk ke sini. Untuk membuatkan susu rasa strawberry pakai es yang banyak dan suruh Embun untuk meminumnya"


"Baik, Tuan"

__ADS_1


"Untuk makan siang, chef pribadiku akan masak di sini. Suruh Embun menungguku. Dia nggak bisa makan tanpa aku suapi. Aku akan segera pulang"


"Baik, Tuan"


Luke lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Sebelum menemui Gilang, aku ingin menemui Felix terlebih dulu"


"Untuk apa, Tuan?"


"Tentu saja untuk bikin perhitungan sama bocah tengik itu"


"Memangnya apa yang sudah Tuan Felix lakukan?"


"Kau akan lihat nanti"


Beberapa jam kemudian, Luke duduk berhadapan dengan Felix


Douglas dan Felix tersenyum senang melihat Luke mengunjungi mereka. Mereka yang terbiasa saling memeluk saat bertemu, membuat Douglas dan Felix spontan ingin memeluk Luke dan langsung didorong kasar oleh Luke.


"Kenapa kau menolak pelukan kami, Bro?" Felix menautkan kedua alisnya.


"Iya, Bro. Kenapa?" Sahut Douglas.


"Kenapa? Apa yang sudah aku lakukan?" Felix tampak kebingungan.


"Kau yang memasukkan obat ke minumanku waktu itu, kan?"


"Hei! Kau bilang kau memaafkan kami" Sahut Douglas dengan wajah kebingungan.


"Itu sebelum aku kenal siapa Istriku dan ........"


"What?! Istri?! Kau menikahi gadis buruk rupa itu dan .........."


Buk! Bogem mentah Luke langsung mendarat di hidungnya Douglas.


Akibat pukulan dari Luke, Douglas mengalami pendarahan di hidungnya.


Douglas mendongakkan wajahnya sambil menjerit kesakitan dan Felix langsung melotot ke Luke untuk menyemburkan kemarahannya, "Kenapa kau pukul hidung saudaraku dengan sangat keras?"


Rendy yang menarik pinggang Luke berteriak, "Tuan, jangan diteruskan!"


Luke menggeram dan berkata, "Lepaskan aku Ren! Kalau kamu nggak ingin berakhir di IGD, lepaskan aku!"

__ADS_1


Douglas melompat kesakitan dan berteriak ke Luke, "Kau gila atau apa?! Kenapa tiba-tiba kau pukul hidungku sampai kayak gini?!"


"Itu karena kamu, menghina Istriku. Aku tidak akan tinggal diam jika ada orang menghina Istriku. Kau dengar itu, brengsek!" Luke melotot ke Douglas.


"Kenapa kau berubah seperti ini? Kenapa kau menjadi orang yang peduli sama orang lain? Kau nggak asyik lagi, Bro" Sahut Felix sambil menyingsingkan lengan kemejanya.


"Itu karena aku sadar, kalau aku sama brengseknya seperti kalian. Aku sadar aku telah membuat hidup seorang gadis baik-baik hancur berantakan. Untuk itulah aku ke sini. Aku ingin kita duel. Untuk menebus semua kesalahanku pada Istriku"


"Kenapa kau ingin duel denganku?" Felix mulai memasang sikap waspada dan mengarahkan kedua tinjunya ke Luke.


"Asal kalian tahu, setelah peristiwa itu, aku beberapa hari dihantui rasa bersalah. Aku sering bergidik ngeri membayangkan bagaimana jika Nenekku tidak datang. Padahal aku pingsan saat itu dan itu karena obat yang kamu masukkan ke minumanku" Luke menghunus tatapan tajamnya ke Felix. Lalu ia kembali berkata dengan wajah sedih, "Embun juga pingsan kala itu. Apa kalian akan masuk ke dalam untuk melakukan itu secara bergiliran pada Embun?"


Douglas dan Felix saling pandang dan tidak berani angkat bicara.


"Katakan brengsek! Apa itu yang akan kalian lakukan kalau Nenekku tidak datang?! kalian akan melakukan itu bergiliran pada Embun? Katakan!!!!!" Luke berteriak kencang dengan wajah merah padam penuh amarah.


Karena kaget, Douglas dan Felix berkata, "Iya" Secara bersamaan.


Rendy berkata, "Sabar, Tuan! Anda jangan........"


Luke mengabaikan ucapan Rendy. Dia melesat maju dan langsung menyerang Felix. Satu tendangan mendarat di perut Felix dan satu bogem mentah mendarat di wajah Felix. Felix terjengkang ke belakang dan jatuh tak sadarkan diri.


Douglas berlari untuk menolong saudaranya.


Luke berdiri di depan Douglas, "Kalau kalian ingin menuntutku atas ini semua aku rela. Tapi, jangan lupa! Jika aku dipanggil polisi, aku juga akan menyeret kalian semua. Aku rela jika harus dipenjara bersama kalian untuk menebus semua kesalahanku dan. ....."


"Nggak Luke. Kami nggak akan menuntut kamu. Maafkan kami!"


"Aku rasa kita nggak bisa berteman lagi. Jangan pernah menghubungiku lagi mulai dari sekarang sampai selamanya" Luke berkata sembari melangkah pergi meninggalkan Douglas dan Felix.


"Tuan, kenapa Tuan bertindak seperti itu? Bagaimana kalau mereka beneran menuntut dan Anda masuk penjara bersama mereka? Nama Anda dan jabatan Anda akan rusak"


"Hmm" Luke hanya menyahut singkat.


Beberapa jam berikutnya, Luke berdiri di depan pemuda tampan yang bernama Gilang. Pacarnya Embun dan Embun belum mengakhiri hubungan itu.


Sial! Kenapa pria ini tampan? Batin Luke.


"Anda siapa?" Tanya Gilang.


"Aku pria yang sudah merenggut paksa segelnya Embun Sanjaya dan........"


Buk! Bogem mentah Gilang seketika itu mendarat di pipi kanannya Luke.

__ADS_1


__ADS_2