Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Kenapa?


__ADS_3

Embun menangis sendirian di dalam lift dan terus bergumam, "Katanya sangat mencintai aku dan nggak akan bosan menatapku kalau aku gendut. Tapi, nyatanya apa, Mas? Kamu tega berselingkuh. Kamu tega memangku dan mencium wanita lain, hu,hu,hu,hu" Embun terus menangis dengan hati pilu.


Luke masih berdiri di depan pintu lift pribadinya dengan terus memencet tombol lift.


Saat Chika nekat memeluk tubuh Luke dari belakang, Luke langsung mengurai gelungan tangan Chika itu dan berlari keluar dari dalam ruang kerjanya. Rendy sontak mengekor laju lari tuan mudanya dan Chika mengekor laju larinya Rendy.


Embun nekat menghubungi nomer telepon genggamnya Alex Norman yang masih dia hapal, "Halo? Apakah tawaran pekerjaan di Jepang masih berlaku untukku?"


Alex tertegun sepersekian detik dan setelah berhasil menelan air liurnya, Alex langsung menjawab, "Iya. Tentu saja masih berlaku. Aku ada di Jepang saat ini. Kenapa? Kau mau ke Jepang?"


"Tapi, aku hamil dan perutku sudah buncit sekarang ini. Apa masih bisa laku kalau aku jadi model di sana?"


"Masih laku, dong. Kamu bisa jadi model pakaian ibu hamil"


"Baiklah. Aku mau ke sana" Sahut Embun.


"Oke. Aku tunggu. kasih tahu kalau sudah sampai di Jepang. Aku akan menjemput kamu di bandara" Sahut Alex dengan wajah semringah.


Luke menuruni anak tangga dengan berlari. Dia ingin segera mengejar Embun dan memberikan penjelasan ke Embun.


Saat pria tampan itu menjejakkan kakinya di lantai satu, dia melesat ke lift pribadinya dan melihat lampu di atas pintu lift tersebut menyala merah. Itu berarti, lift tidak aktif dan orang yang berada di dalam lift sudah keluar.


"Tuan muda, Nyonya muda sudah masuk ke mobil. Ayo kita kejar, Tuan!"


Luke sontak berbalik badan dan dia bertabrakan dengan tubuhnya Chika. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Chika langsung memeluk erat tubuh Luke.


"Jangan tinggalkan aku, Luke! Aku sangat mencintaimu. Aku rela meninggalkan apa pun di dunia ini untuk kamu"


"Tapi, aku tidak mau lagi bersama denganmu, Chika!" Luke menggertakkan gerahamnya dan mendorong tubuh Chika dengan kasar sambil berucap, "Jangan halangi langkahku! Pergilah dariku!" Luke kemudian berlari meninggalkan Chika menuju ke parkiran mobil khusus untuk para Direktur dan Presdir.


Rendy langsung melajukan mobilnya begitu Luke menutup pintu. Luke memasang sabuk pengaman di tengah laju mobil sport kesayangannya yang dikemudikan dengan sangat cepat oleh Rendy.


Tanpa sepengetahuannya Rendy dan Luke, Chika nekat mengikuti mobil sport itu. Chika bergumam sambil terus menyetir, "Aku akan terus mengejar kamu sampai kamu kembali lagi ke dalam pelukanku, Luke. Karena, kamu adalah tambang emasku. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu"


"Nyonya muda, mobil Tuan muda mengikuti kita dari tadi. Saya akan minggir sebentar dan........"


"Jangan berhenti, Mbak! Terus saja! Kalau bisa tambah lagi kecepatannya. Aku malas ketemu dengan Mas Luke"


Tanpa banyak bertanya, Mona menekan lebih dalam pedal gas mobil yang ia kendarai sambil bertanya, "Kita menuju ke mana, nih, Nyonya? Ke rumah?"


"Nggak! Tolong antar aku ke bandara saja, Mbak?!" Sahut Embun.


"Hah?! Bandara? Ngapain? Nyonya muda mau ke mana?"


"Ke Jepang. Aku akan menyendiri sementara waktu di Jepang"


"Apa Tuan muda sudah tahu kalau Nyonya muda akan pergi ke Jepang"


Embun diam membisu.


"Saya tidak berani melawan perintah Tuan muda Nyonya. Maafkan saya, saya akan ......"


"Mas Luke selingkuh, Mbak"


"Hah?!" Mona sontak menoleh sekilas ke Embun.


"Iya. Aku melihatnya memangku dan mencium wanita cantik di ruang kerjanya"

__ADS_1


"Nggak mungkin, Tuan muda selingkuh. Tuan muda itu tipe setia dan ......."


"Aku melihatnya sendiri, Mbak! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!" Embun mulai berteriak frustasi.


"Baiklah. Saya akan antarkan Anda ke bandara dan saya akan ikut Anda ke Jepang. Saya akan menjaga Anda dan putra Tuan Luke Donovan yang ada di dalam kandungan Anda, Nyonya"


"Terima kasih banyak, Mbak Mona. Saya tenang kalau ada Mbak Mona di samping saya"


"Sial! Kenapa kau bisa kehilangan jejak, Ren? Kenapa Embun bisa hilang?"


"Tenang Tuan. Nyonya muda pasti sudah sampai di rumah. Saya akan ngebut, Tuan" Rendy berucap sembari mengarahkan laju mobilnya ke jalan yang menuju ke kediaman mewahnya Luke Donovan.


Namun, sesampainya di rumah, mereka tidak menemukan keberadaannya Mona dan Embun.


"Sial! Embun itu masih muda dan labil. Anak remaja itu gampang emosi dan suka ambil keputusan yang ngawur pas emosi. Apalagi saat hamil, emosinya semakin tidak terkontrol. Sial! Di mana Embun saat ini?" Luke berulangkali menyugar kasar rambut lurus hitamnya.


Lalu pira tampan itu berkata, "Berikan kunci mobilnya!"


Rendy tampak ragu dan asisten pribadi yang sangat menyayangi tuan mudanya itu berkata, "Biar saya yang nyetir, Tuan. Anda sedang gelisah dan ........"


"Aku akan coba cari Embun. Kamu tunggu di rumah! Kalau Embun pulang, langsung kabari aku! Mana kuncinya!"


Dengan berat hati, akhirnya Rendy memberikan kunci mobil sport itu sambil berkata, "Hati-hati, Tuan!"


"Hmm" Sahut Luke sambil melangkah masuk ke dalam mobil sport kesayangannya.


Mobil Luke keluar dari pekarangan luas rumah mewahnya dan Chika langsung tersenyum lebar, "Kamu di situ ternyata, ya, Tampan. Apa itu rumah kamu? Kamu belum pernah mengajakku ke sini. Tapi, sebentar lagi, aku akan menjadi nyonya di rumah itu" Gumam Chika sembari terus fokus menyetir.


Rendy masih mematung di pekarangan depan kediaman mewahnya Luke Donovan dan sambil memegang dadanya ia bergumam lirih, "Kenapa perasaanku tidak enak, ya?"


Luke membelokkan mobilnya ke jalan protokol dan saat ia melihat ke rear-mirror vision, ia sontak mengumpat, "Sial! Sejak kapan Nenek sihir itu mengikuti aku?"


Chika sontak mengerem mobilnya dan wanita cantik itu langsung melompat turun dari dalam mobilnya sambil berteriak, "Tidaaaakkk!!!!! Luke!!!!!!!" Chika tidak kuasa lagi melangkah, dia jatuh bersimpuh di atas aspal dan menangis histeris di sana, tidak jauh dari mobil sportnya Luke yang sudah tidak penyok.


Embun sampai di Jepang dengan ditemani Oleh Mona. Alex Norman melambaikan tangan saat ia melihat Embun dan Mona.


"Lho, kamu tidak membawa koper atau apapun?"


Embun menggelengkan kepala.


"Oke, deh. Aku akan antarkan kamu berbelanja baju dulu sebelum kita ke apartemen yang sudah aku sediakan untuk kamu tempati selama kamu tinggal di Jepang"


"Terima kasih banyak, Lex" Sahut Embun.


"Suami kamu nggak mengantarkan kamu ke sini?"


Embun menggelengkan kepala.


"Apa dia tahu kamu ada di sini saat ini?"


Embun kembali menggelengkan kepala.


"Oke. Aku tidak akan banyak tanya lagi" Alex berucap sembari memasang sabun pengaman.


Embun memilih duduk di jok belakang bersama dengan Mona dan sambil memegang dadanya, ia berucap, "Mbak, kenapa dadaku terasa sesak begini, ya?"


"Anda mual? Pengen muntah?"

__ADS_1


Embun menggelengkan kepala.


"Mungkin Anda mengalami mabuk setelah terbang, Nyonya"


"Iya, mungkin. Aku, kan, belum pernah naik pesawat terbang sebelumnya"


Maria Donovan langsung membatalkan penerbangannya ke Italia dan menyuruh Dona untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Ada apa Nyonya? Kenapa wajah Anda panik seperti itu?"


"Luke, mengalami kecelakaan"


"Hah?" Dona tersentak kaget dan tanpa sadar menekan pedal gas mobil lebih dalam.


"Apa Tuan muda bersama Nyonya muda saat kecelakaan itu terjadi?"


"Kata Rendy, sih, tidak. Luke sendiri di dalam mobil sportnya"


"Nyonya muda berarti bersama Rendy sekarang ini"


"Sepetinya begitu. Semoga Luke baik-baik saja. Embun kenapa tidak bisa aku hubungi?"


"Nyonya muda pasti syok saat ini, Nyonya. Lebih baik Anda menelepon Rendy lagi aja"


"Nggak usah telpon-telponan kalau gitu. Nanti aja bicaranya di rumah sakit"


Sesampainya di rumah sakit, Maria langsung dijemput oleh Rendy di lobi dan diantarkan ke ruang tunggu operasi.


"Siapkan duduk, Nyonya besar. Tuan muda tengah menjalani operasi saat ini"


"Bagaimana kondisinya?"


"Dokter berkata kalau Tuan muda Luke akan selamat. Tapi, apa yang akan terjadi pasca operasi, kita tidak tahu" Sahut Rendy.


"Syukurlah kalau begitu. Yang penting Luke akan selamat. Lho, Embun mana? Embun tidak bersama kamu?" Maria Donovan berucap sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


"Nyonya muda hilang" Sahut Rendy dengan nada lirih dan wajah was-was.


"Apa?! Hilang?! Kenapa Embun bisa sampai hilang?"


"Semuanya karena kejadian yang ada di dalam rekaman video ini, Nyonya" Rendy menyerahkan telepon genggamnya ke Maria Donovan.


"Itu yang namanya Maria Donovan. Neneknya Luke Donovan. Cantik, anggun, dan elegan banget wanita itu. Tapi, sekaligus tampak tegas dan menakutkan. Aku nggak akan muncul di depannya dulu. Lebih baik aku tetap di sini saja" Gumam Chika dari balik tembok.


"Kenapa kau tidak ikut Luke, tadi?"


"Tuan melarang saya, Nyonya. Tuan menyuruh saya menunggu di rumah kalau Nyonya muda pulang, saya bisa langsung menghubungi Tuan kalau saya menunggu di rumah" Sahut Rendy.


"Kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa kau bisa lengah?" Maria menyerahkan ponsel itu ke Rendy sambil memarahi Rendy.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya terlalu lunak sama wanita licik itu. Saya pantas mendapatkan hukuman"


Maria Donovan menghela napas panjang dan berkata ke Rendy, "Aku tidak akan menghukum kamu. Karena kamu, sudah banyak berjasa di kehidupannya Luke. Tapi, jangan kamu ulangi lagi kesalahan semacam ini!"


"Baik, Nyonya besar dan terima kasih banyak" Sahut Rendy sambil membungkukkan badannya.


Maria Donovan kembali menghela napas panjang dan menoleh ke Dona untuk berkata, "Cari Embun sampai dapat sekarang juga!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya. Saya pamit dulu" Sahut Dona.


"Hmm" Sahut Maria Donovan.


__ADS_2