
Luke terperangah. Pria yang tidak pernah bisa berekspresi dengan tepat itu, langsung mendelik dan menyeringai aneh setelah ia mengelus kasar pipinya. Sebab, baru pertama kalinya bagi seorang Luke Donovan ditampar. Tidak ada yang pernah berani menampar Luke Donovan selain Maria Donovan.
Embun seketika itu menyesali perbuatan impulsifnya. Namun, penyesalan itu justru membuat Embun mengambil tindakan bodoh. Dia mendelik dan menyemburkan, "Itu karena Anda sudah kurang ajar menggeledah saya! Kenapa Anda melakukan itu?" Air mata menetes di pipi Embun dan Embun langsung mengusapnya kasar.
Luke masih mengamati wajah gadis yang sudah berani menamparnya. Kemudian ia berucap dengan wajah dan nada datar, "Karena kata buku yang pernah aku baca, geledahlah orang asing yang akan kamu ajak pergi! Karena, bisa saja orang asing itu membawa senjata tersembunyi untuk mencelakai kamu. Itulah kenapa aku selalu menggeledah orang asing, siapa pun itu, sebelum ia, aku ajak pergi atau sebelum ia menemuiku dan berada di dekatku seperti ini"
Embun kembali mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya sembari menyemburkan, "Kenapa Anda memanggul saya dan membawa saya ke sini?" Tanpa bisa Embun bendung lagi, air mata mengucur deras membasahi kedua pipinya.
Luke yang tidak menyukai air mata dan selalu merasa tidak tega setiap kali ia diperhadapkan dengan adegan seorang wanita menangis di depannya, alih-alih menjawab pertanyaannya Embun, dia justru mendelik dan berteriak lantang, "Jangan menangis!!!!!"
Kedua bahu Embun terlonjak ke atas, karena kaget dan makin makin deraslah air matanya.
Luke mengumpat kesal di saat hati nuraninya merasa tersentuh dengan kerapuhan Embun. Pria tampan itu kembali bertindak impulsif. Ia menunduk dan langsung menyambar bibir Embun. Dia menekan bibirnya ke bibir Embun.
Tanpa berpikir panjang, Embun menggigit keras bibir pria arogan itu.
Luke mengaduh lirih dan tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Embun, dia mengusap sudut bibirnya yang mengalirkan setitik darah. Sebelum Luke menyemburkan emosinya, Embun terlebih dahulu menyemburkan, "Kenapa Anda mencium saya?!" Embun mendelik sambil mengusap bibirnya dengan kasar.
Masih lekat menatap wajah Embun, Luke berkata dengan wajah datar, "Karena kata buku yang pernah aku baca, mencium bibir seorang gadis adalah cara paling jitu untuk menenangkan tangisan seorang gadis"
Embun memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan seketika itu menyuruh dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Ia kemudian menghela napas panjang berkali-kali untuk berteriak kencang di saat ketakutannya berubah menjadi emosi yang sudah memanas di ubun-ubun, "Sebenarnya buku apa yang Anda baca?! Kenapa otak Anda, jadi konslet?!"
Luke terkejut dan sontak mundur ke belakang saat ia mendapati Embun memejamkan kedua mata rapat-rapat dan berteriak sangat kencang.
__ADS_1
"Hei! Kau tahu siapa aku?!"
Embun membuka kedua matanya dan dengan dada yang naik turun cepat karena emosinya masih memuncak, Embun berkata, "Tahu. Anda cucu pemilik kampus ini"
"Kau tahu namaku? Cucu pemilik kampus ini ada dua" Luke kembali mengungkung tubuh Embun yang masih menempel di pohon besar.
"Saya nggak peduli! Saya hanya ingin Anda melepaskan saya! Saya mohon, Tuan?!"
"Kau pikir aku akan melepaskan kamu dengan mudah? Kau sudah menamparku, ngatain otakku konslet, menggigitku, dan berteriak kencang di depanku. Selama aku hidup, belum pernah ada satu orang pun yang berani melakukan semua itu ke aku. Yeeaahh, kecuali Nenekku. Kau dengar itu?!" Luke menggeram kesal dengan wajah mengerikan.
Kemarahan Embun yang sudah memuncak justru membuat Embun tidak mengenal lagi apa itu kata takut. Ia mendelik dan menyemburkan, "Dan selama saya hidup, belum pernah ada satu orang pun yang berani merenggut kegadisan saya. Anda dengar itu?!"
Luke sontak melangkah mundur sambil merogoh saku kemejanya. Ia menjejalkan selembar kertas berbentuk persegi panjang yang ia lipat ke dalam saku blusnya Embun.
Embun menunduk dan saat ia kembali menatap pria arogan itu, ia bertanya, "Apa yang Anda masukkan ke saku saya?"
Seketika itu Embun merasa terhina dan ia mengambil cek itu dari sakunya dan ia jejalkan cek itu di saku jasnya Luke sambil berkata, "Saya nggak butuh uang dari Anda. Lepaskan saja saya dan jangan ganggu saya lagi!"
Luke menunduk dan ia kembali terperangah. Wanita itu berani menyentuh jas mahalnya. Luke sontak mengambil kembali cek yang ada di dalam saku jasnya dan sambil menggeram kesal ia tarik tangan Embun, ia letakkan cek itu di tangan Embun dan berkata, "Terima cek ini! Jangan sok suci! Aku bisa lihat dari baju konyol kamu kalau kamu itu miskin. Strata sosial kamu jauh di bawahku. Jadi, terima cek ini! Pakailah untuk kebutuhan kamu! Dan jangan ganggu aku lagi!"
"Siapa yang mengganggu di sini? Anda yang menggangu saya dan saya nggak mau cek ini. Saya memang miskin, tapi saya punya harga diri dan saya masih bisa cari duit sendiri!" Embun mengulurkan tangannya yang menggenggam cek ke Luke. Embun menatap Luke dengan wajah memerah penuh amarah
"Terima cek itu kalau nggak aku akan terus datang kasih cek lagi sampai kamu mau menerimanya"
Seketika itu Embun mematung dengan tangan yang masih menggenggam selembar cek dan menggantung di udara.
__ADS_1
"Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke resortku dan sambil makan bareng di sana kita bisa mengobrol santai. Tapi, karena kamu menjengkelkan aku nggak jadi mengajakmu ke sana.
"Hei! Bukankah Anda yang menjengkelkan!!!" Embun kembali merapatkan kedua matanya dan berteriak kencang.
Luke menyeringai santai lalu berkata, "Aku pergi dan jangan ganggu aku lagi! Aku udah bayar kamu sangat banyak. Jadi, aku rasa aku udah nggak perlu lagi bertanggung jawab" Luke berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Embun.
Tubuh Embun seketika merosot dan ia terduduk di atas rumput. Ia selonjorkan kedua kakinya sambil berteriak kesal, " Anda jangan ganggu saya lagi! Jangan datang ke sini lagi! Jangan muncul di depan saya secara dadakan lagi!!!!!"
Luke tetap melangkah maju dengan santainya dan mengabaikan semua teriakannya Embun.
Dada Embun masih naik turun cepat karena emosinya masih belum stabil. Embun kembali berteriak, "Dasar pria brengsek! Kau bahkan tidak meminta maaf atas semua yang sudah kau lakukan ke aku! Dasar brengsek!!!!!"
Luke kembali ke ruang dosen dan dengan santainya ia membuka pintu dan melangkah keluar begitu saja dari dalam ruang dosen tanpa sapaan ramah dan tanpa mengatakan apapun.
Semua dosen masuk ke dalam dan sang rektor yang bernama Reyhan menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan, lalu ia bergegas menyusul Luke Donovan yang telah melangkah pergi untuk bertanya, "Di mana mahasiswi saya yang bernama Embun, Tuan? Kenapa Anda keluar sendiri tadi dan Embun tidak ada di dalam ruangan"
"Kamu cewek apa cowok?"
"Cowok Tuan" Reyhan menyahut sembari menautkan kedua alisnya dan mensejajari langkahnya Luke Donovan.
Luke terus melangkah ke depan dan tanpa menoleh ke Rektor itu, ia berucap, "Kalau cowok,kok, berisik banget. Kalau bukan urusan kamu, maka diam saja dan nggak usah banyak tanya!"
"Tapi, maaf Tuan. Bukankah hilangnya Embun adalah urusan saya. Dia mahasiswi saya, Tuan. Maaf, saya cuma mengingatkan dan........."
Luke menghentikan langkahnya secara dadakan dan Reyhan langsung menghentikan langkahnya dan menunduk.
__ADS_1
Luke menoleh untuk berkata, "Kau itu bodoh, tapi kenapa Nenek bisa merekrutmu menjadi Rektor di sini. Embun itu orang bukan hantu. Jadi, dia tidak mungkin hilang, cih! Bodoh banget jadi Rektor" Luke lalu menatap ke depan kembali dan melangkah meninggalkan Reyhan yang masih kebingungan.
Luke kembali ke mobilnya dan tersenyum lega. Ia kemudian bergumam, "Sekarang aku bisa tidur nyenyak. Bayangan gadis itu tidak akan menggangguku lagi. Aku sudah bayar gadis itu sangat banyak. Aku sudah bertanggung jawab. Jadi, aku rasa aku akan tidur dengan sangat nyenyak malam ini"