
Monalisa mendekati Rendy yang tengah lukisan wanita yang sedang menangis. Lalu, wanita cantik berprofesi pengacara itu bertanya ke Rendy, "Kamu sudah menikah?"
Rendy menoleh kaget ke samping kanannya dan langsung menjawab, "Belum" Lalu, pria itu kembali menatap lukisan.
"Pacar?"
Rendy menjawab tanpa menoleh kali ini, "Belum"
"Apa pekerjaan kamu? Aku lihat dari ujung kepala sampai ujung kaki kamu, yang nempel barang bermerk dan berkelas semua"
Rendy melangkah pergi meninggalkan wanita itu dan Monalisa langsung mengekor dan berteriak, "Hei! Kenapa nggak dijawab?"
Rendy mengentikan langkahnya di depan lukisan induk kucing tengah bercanda dengan anak-anaknya. Lalu, menoleh ke wanita itu, "Aku asisten pribadinya Tuan Luke Donovan"
"Hah?! Apa?! Wah! Pantas saja kamu keren dan......."
Rendy kembali melangkah dan Monalisa kembali mengekor pria itu dengan pertanyaan, "Apa aku boleh......."
"Nggak boleh!" Rendy sontak menoleh tajam ke Monalisa.
"Hei! Aku belum nanya. Kenapa kau. ......"
"Apapun pertanyannya, jawabannya tetap nggak boleh. Aku sibuk. Maaf aku harus terima telepon" Rendy kemudian menempelkan telepon genggam ke telinganya sambil berlari kencang meninggalkan Monalisa.
"Dia keren banget. Aku suka banget sama dia" Monalisa menatap punggung Rendy dengan kagum
"Maaf, aku sudah naksir sama seseorang" Monalisa menoleh pernyataan cintanya Daniel Donovan dengan senyum.
"Apa aku boleh tahu siapa pria itu? Apa aku mengenalnya?"
"Kamu nggak perlu tahu. Maaf aku menolak kamu. Aku harap kita masih bisa tetap berteman" Setelah mengucapkan kata itu, Monalisa pergi meninggalkan Daniel begitu saja.
Luke berkata ke Dokter Theo, "Tolong urus semua keperluan Ibu mertuaku di sini. Aku akan bawa Embun pulang. Rendy menuju ke sini"
"Baiklah" Sahut Dokter Theo.
Daniel Donovan sampai di rumah sakit dan langsung bertanya ke Rendy, "Di mana Kakak dan Kakak ipar? Apa masih ada di ruang tunggu operasi? Kenapa kamu malah ada di sini?"
Rendy tengah berada di depan kamar jenazah yang berada di ujung timur parkiran mobil.
"Ibu mertuanya Tuan Luke Donovan sudah meninggal dunia" Sahut Rendy dengan wajah dan nada sedih.
"Aku ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya
Sesampainya di rumah, Luke membaringkan istri mungilnya di ranjang dan langsung menelepon neneknya.
"Ada apa?" Maria Donovan kaget mendapatkan telepon dari Luke di jam sebelas malam.
"Ibu Lastri meninggal dunia, Nek"
"Rest In Peace. Nenek pulang sekarang juga" Sahut Mari Donovan
__ADS_1
Luke kemudian naik ke ranjang. Pria itu membetulkan letak selimut dan merapikan rambut istrinya sambil bergumam, "Kasihan sekali kamu. Masih muda sudah menanggung beban seberat ini. Aku akan selalu ada buat kamu, jangan khawatirkan apapun mulai sekarang. Kamu tidak sendirian. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu"
Keesokan harinya, Embun terbangun dengan tergagap dan Luke langsung memeluk Embun sambil berkata, "Aku ada di sini, jangan takut, Sayang"
Embun lalu mendorong pelan dada Luke untuk bertanya, "Apa Mas masih menyimpan kucir rambut itu?"
Luke sontak menautkan kedua alisnya, "Kucir rambut apa? Kamu baik-baik saja, kan?" Luke menempelkan punggung tangannya di kening Embun.
Embun mengabaikan tangan Luke yang ada di keningnya dan berkata dengan wajah serius, "Mas, aku anak kecil itu. Aku ingat semuanya. Aku memberikan kucir rambut ke Mas saat kita berada di dalam mobil ambulans pas aku sadar sejenak dari pingsanku. Aku ingat akan Nenek Maria dan aku ingat siapa yang membunuh ........"Tubuh Embun bergetar hebat.
Luke langsung memeluk Embun dan berkata, "Syukurlah gadis kecil itu adalah kamu. Kita abaikan sejenak masalah itu. Kita sekarang fokus ke pemakaman Ibu kamu dulu, ya?"
Embun mendorong tubuh Luke untuk bertanya dengan ekspresi wajah bingung bercampur kaget, "Ibukku? Kenapa dengan Ibu? Ibu di mana, Mas?" Embun menggoyang kencang kedua bahu Luke.
Luke kembali mendekap tubuh mungilnya Embun dan berkat sambil mengelus lembut punggung Embun, "Kamu harus tenang. Ingat, ada anak di dalam kandungan kamu. Sayangku, kamu harus tenang, sabar, dan kuat, ya"
Embun kemudian teringat kembali gal mengejutkan yang dia alami semalam. Ibunya sudah meninggal semalam dan wanita itu sontak menangis histeris di dalam pelukan suaminya.
Luke langsung mendekap erat tubuh mungil Embun sambil menciumi pucuk kepalanya Embun tanpa mampu mengatakan sepatah kata pun. Di beberapa detik berikutnya, Luke ikutan menangis.
Pemakaman digelar dan Embun mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan pemakaman dengan wajah kecewa bercampur sedih dan seketika itu Luke menggeram kesal saat ia melihat wajah Embun yang muram dan sedih karena Nenek, kakek, dan kakak tirinya Embun tidak datang ke pemakaman.
Luke kemudian berbisik ke Rendy, "Beri mereka pelajaran yang berharga agar mereka ingat apa itu berbuat baik dan balas budi"
"Baik, Tuan" Bisik Rendy.
Luke mengelus bahu Embun dan berkata, "Jangan sedih kalau kerabat kamu tidak ada yang muncul di sini. Mereka yang tidak punya hati dan jahat tidak pantas menghantarkan Ibu kamu ke peristirahatan terakhir. Jadi, abaikan saja mereka"
"Aku sebenarnya sudah memprediksinya, Mas. Kakek, Nenek, dan Kak Mentari nggak mungkin datang ke pemakaman ini. Tapi, hari kecilku masih berharap mereka bersedia datang. Ternyata mereka benar-benar tidak datang" Sahut Embun.
Daniel Donovan datang sendirian tanpa mamanya dan dia langsung menyalami Embun, Luke, dan Maria Donovan sambil berkata, "Aku ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya"
.
Luke dan Maria Donovan mengucapkan, "Terima kasih" Sedangkan Embun tidak bisa mengatakan apapun karena isak tangisnya terus menghebat.
Setelah upacara pemakaman selesai, Embun kembali jatuh pingsan dan Luke sepanjang hari tidak keluar dari kamar dan tidak beranjak dari sisi istri tercintanya. Luke terus memeluk Embun tanpa berani memejamkan mata sama sekali sambil menggenggam kucir rambut yang diberikan oleh Embun kecil di lima belas tahun silam.
Maria Donovan ikut pulang ke rumahnya Luke karena ia mengkhawatirkan Embun. Wanita berumur kepala lima itu, duduk merenung di tepi ranjang dan menghela napas panjang beberapa kali. Walaupun dokter keluarga mengatakan kalau Embun dan kandungannya baik-baik saja, Maria Donovan masih merasa khawatir karena Embun masih belum sadarkan diri.
Embun terbangun di sore hari.Luke membantu Embun bangun dan langsung menyandarkan kepala Embun di bahunya sembari bertanya, "Apa yang kau rasakan saat ini?"
"Aku cuma merasa lemas dan pusing, Mas*
"Kamu harus makan. Dari jam sebelas siang tadi, kamu belum makan apapun. Sampai tangan kamu dipasang infus dan dikasih vitamin sama dokter, tadi"
Embun menoleh ke punggung tangan kanannya lalu menengadah dan melihat kantong berisi cairan berwarna merah muda. Wanita itu lalu menatap suaminya, "Aku malas makan, Mas. Agak nanti, ya, makannya"
"Oke. Kata dokter selama infus itu terpasang, kamu aman tidak makan sampai besok pagi. Tapi, tetap aja kamu harus makan sedikit. Ingat, ada anak di kandungan kamu"
"Iya, Mas. Sebentar lagi, ya"
__ADS_1
"Oke"
Embun lalu melihat benda yang ada di dalam genggaman tangan Luke dan sontak ia berkata, "Itu kucir rambut yang aku berikan waktu aku masih berumur lima tahun, kan, Mas?"
"Iya. Aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi dan jadi Suami Istri sekarang"
"Apa aku boleh bertemu dengan Nenek Maria ? Apa Nenek Maria tidur saat ini?"
"Nenek barusan dari sini. Tiap setengah jam sekali, Nenek masuk ke sini untuk ngecek kondisi kamu. Aku rasa Nenek tidak tidur saat ini"
"Aku pengen ketemu sama Nenek Maia. Ada hal sangat penting yang harus aku katakan ke Nenek Maria, Mas"
"Sekarang?"
"Iya"
"Oke. Sebentar aku panggilkan Nenek. Kamu jangan turun dari tempat tidur!"
" Baik, Mas"
Lima menit kemudian Maria Donovan masuk ke kamarnya Luke dengan tergopoh-gopoh dan bertanya, "Sayangku! Kamu udah bangun" Maria Donovan duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Embun untuk kembali bertanya, "Kamu baik-baik saja, kan? Nenek sangat mengkhawatirkan kamu dan kandungan kamu"
Embun meraih tangan Maria dan menggenggamnya sambil berkata, "Saya baik-baik saja, Nek. Kandungan saya juga baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya"
"Kenapa mencari Nenek? Kamu pengen minta apa sama Nenek? Kamu pengen apa? Nenek akan belikan sekarang juga" Maria Donovan mencium pipi Embun dengan penuh kasih.
Luke naik ke ranjang dan duduk bersila di atas ranjang dengan wajah sedih. Dia sedih melihat istri mungilnya terbaring lemas di tempat tidur dengan tangan diinfus.
"Nek, saya ingat semuanya. Saya mencari Nenek karena ingin segera mengatakan semua kejadian di lima belas tahun silam. Mamanya Mas Luke. Putri menantu Anda, dibunuh dan saya menyaksikan siapa pembunuhnya. Kemudian saya jatuh pingsan dan maaf, saat saya sadar, saya lupa semuanya"
"Dan kamu ingat sekarang? Apa benar kamu tahu siapa pembunuh itu? Siapa yang telah membunuh Joana, kamu benar-benar melihatnya?"
"Iya, Nek"
"Siapa?" Tanya Luke sambil menggenggam erat kucir rambut yang masih ada di genggamannya.
"Saya melihatnya di rapat pemilihan Presdir baru. Saya ketakutan dan gemetar saat menatap dia. Tapi, saya tidak tahu alasannya kenapa saya gemetar dan ketakutan saat itu. Sekarang saya ingat dan saya tahu alasannya kenapa saya gemetar saat itu. Orang uang membunuh Mamanya Mas Luke adalah Mamanya Mas Daniel Donovan. Nyonya Soraya Donovan"
"Hah?!" Luke berteriak kaget dan langsung melompat turun dari atas ranjang.
Maria berhasil bangkit dan menahan lengan Luke, "Kau mau ke mana?"
"Tentu saja menghajar wanita Iblis itu"
"Kita tidak boleh mengambil tindakan gegabah. Kita tidak boleh membahayakan Embun. Jadi, tenanglah dulu! Naik lagi ke ranjang!"
Luke menuruti perintah neneknya dengan wajah dan hati yang meradang penuh dendam dan amarah.
"Terima kasih kamu sudah ingat semuanya. Nenek akan cari cara untuk menjebloskan wanita iblis itu ke penjara"
Rendy menatap ketiga orang yang bersimpuh di depannya dengan mematung.
__ADS_1
Neneknya Embun terus menangis dan memohon, "Biarkan kamu tetap memasok cokelat dan kopi ke Grup Donovan. Kalau kalian hentikan kerjasama ini, kami mau makan apa ke depannya?"
"Itu akibatnya kalau Anda jahat sama orang apalagi sama Cucu kandung dan menantu Anda sendiri. Saya permisi" Sahut Rendy.