Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Putus


__ADS_3

"Emang Nenek, tuh, lebih sayang sama kamu daripada sama aku" Luke langsung mengerucutkan bibirnya.


Embun sontak tertawa renyah. Kemudian wanita itu tiba-tiba menghentikan tawa renyahnya dan menatap dalam kedua bola mata suaminya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Luke tersenyum ke Embun sembari menyuapkan puding mangga ke Embun.


Embun mengunyah puding mangga itu, kemudian berkata, "Mas ternyata bisa tahu, ya, kalau aku ingin menanyakan sesuatu"


"Aku ini suami kamu. Aku sudah hapal semua gerak-gerik kamu dan aku juga sudah hapal semua titik sensitif kamu" Luke mengedipkan sebelah mata diiringi senyum jahil.


Embun langsung tersipu malu dan Luke langsung menggelegarkan tawanya. Kemudian pria tampan itu berkata, "Katakan apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Pacar Mas, kan, belum Mas putus. Kata Mas, akan Mas putus kalau udah pulang ke sini. lalu, kapan pacar Mas balik dari luar negeri?" Embun bertanya sambil memainkan potongan buah mangga di atas piring.


"Dia pulangnya masih lama. Dua tahun lagi. Aku sama sekali nggak ada rasa lagi sama dia. Setelah dia balik ke sini dan menemuiku, aku akan langsung memutuskannya. Kau percaya, kan, sama aku? Ponsel yang dari dia aja udah aku kasih ke kamu, kan? Dan jangan katakan kalau dia pacarku. Dia hanya masa lalu bagiku. Dia bukan lagi pacarku"


"Iya. Aku percaya sama kamu, Mas. Ponsel dari cewek itu, aku kasih ke Mbak Mona. Sama Mbak Mona ponsel itu dikasihkan lagi ke temennya, hehehehehe"


"Baguslah. Sejak kita menikah, aku bahkan udah nggak pernah nelpon cewek itu dan aku udah nggak ada hubungan lagi sama cewek itu. Karena, aku nggak pernah mau menghapal nomer ponsel. Pikiranku udah terlalu penuh, jadi untuk sekadar menghapal nomer ponsel, aku malas. Kalau ponsel dari cewek itu udah lepas dariku, otomatis aku terbebas dari dia. Merdeka dari gangguannya. Karena ponselnya sudah kamu kasihkan ke Mona"


"Mas nggak hapal nomer ponselnya?"


"Menghapal nomer ponsel siapa pun, aku malas"


"Tepi, Mas hapal nomer ponselku"


"Karena, kamu sangat spesial bagiku. Dan di hatiku hanya ada satu wanita saat ini dan itu adalah kamu" Luke memandang wajah cantik istri mungilnya dari sebrang meja dengan sorot mata penuh cinta.


Rendy yang tengah makan siang dengan pacarnya yang baru jadian semalam, tersentak kaget saat bunyi telepon genggam milik Luke Donovan yang dipakai khusus untuk urusan bisnis dan kantor, berdering sangat kencang.


"Ada apa?" Tanya Rendy ke kepala HRD yang meneleponnya siang itu.


"Ada seorang cewek yang nekat ingin bertemu dengan Presdir. Dia bikin kekacauan di sini dan kami tidak bisa menanganinya"


"Kenapa nggak diusir saja? Kalau dia masih ngeyel, kalian bisa suruh satpam untuk menyeretnya keluar"


"Masalahnya tidak segampang itu, Pak Rendy"


"Lho kenapa, kok, tidak segampang itu?" Rendy mulai mengerutkan keningnya.


"Cewek ini adalah model terkenal dan penari balet tingkat Internasional. Dia baru pulang dari luar negeri dengan membawa medali emas. Kalau kami lakukan kekerasan padanya, maka kami akan kena damprat para netizen dan kena damprat Menteri HAM, dan Menteri-menteri lainnya. Bahkan bisa kena damprat Bapak Presiden. Karena, cewek ini, kan, duta bangsa di bidang seni dan olahraga"


"Sial! Aku tahu siapa dia. Kenapa dia sudah balik? Oke! Aku ke kantor sekarang" Klik! Rendy memutuskan sambungan telepon. itu, laku menatap wajah cantik kekasihnya untuk berkata, "Maaf! Kau harus aku tinggal untuk melanjutkan makan siang sendirian. Di kantornya Bosku, ada tamu tak diundang yang jauh lebih berbahaya daripada Jailangkung"


Monalisa terkekeh geli, lalu berkata, "Oke! Pergilah! Tapi, nanti malam kita bisa bertemu, kan?"


"Bisa. Nanti aku akan telepon kamu" Rendy langsung berbalik badan dan berlari setelah mengucapkan kata-kata itu.


Monalisa menatap punggung Rendy dengan menghela napas panjang dan bergumam, "Yeaaahhh, dia itu asisten pribadinya Luke Donovan. Jadi, kau harus bisa memahami dan menerima kesibukannya"


Sesampainya di kantor HRD, Rendy langsung berkata, "Kenapa kau sudah pulang dan ada di sini?"


Chika menoleh ke Rendy dengan sorot mata kaget dan bertanya, "Kau sudah nggak memanggilku Nona lagi? Dan kau berani berbicara denganku dengan bahasa tidak formal?"


"Karena kau, bukan siapa-siapa lagi bagi Tuan Luke Donovan"


"Bohong! Luke nggak mungkin melupakan. aku begitu saja. Lagian, aku dan Luke belum putus. Luke belum memutuskan aku"


"Kenapa kau bisa ada di sini?" Rendy berucap sembari menyuruh pimpinan HRD keluar dari ruangan itu.


"Karena kartu akses masuk milikku, sudah tidak bisa dipakai masuk ke kantornya Luke. Password masuk ke lift pribadinya pun sudah diganti. Jadi, aku juga tidak bisa masuk ke kantornya Luke lewat lift pribadinya. Makanya aku pergi ke kantor kepala HRD agar dia menghubungi Luke. Tapi, kenapa malah kamu yang datang?" Monalisa berdiri di depan Rendy dengan bersedekap dnw memasang wajah angkuh bercampur kesal


"Itu kau tahu. Kartu kamu sudah nggak bisa dipakai masuk dan password lift diganti. Itu buktinya kalau kamu sudah tidak berarti di hidupnya Tuan Like Donovan. Jadi, untuk apa aku masih memanggilmu Nona. Kau bukan siapa-siapa lagi bagi Tuan Luke Donovan. Jadi, pergilah sebelum kamu merasa malu!"


"Kenapa aku harus merasa malu? Aku hanya ingin mendapatkan hak sebagai pacarnya Luke. Aku belum putus sama Luke. Jadi, aku masih pacarnya dan aku berhak bertemu dan berbicara dengannya. Suruh dia menemuiku sekarang juga!. Pokoknya aku nggak akan pergi sebelum bertemu dan bicara dengan Luke" Monalisa mendelik ke Rendy.


"Oke. Baiklah kalau itu yang kau minta. Walaupun sebenarnya uan Luke ingin memutuskan kamu setelah kamu balik ke sini. Aku akan nelpon Tuan dulu kalau gitu. Biar dia segera datang untuk mengucapkan kata putus dan kau bisa pergi selamanya dari kehidupan Tuan Luke" Sahut Rendy.


Luke mengangkat kedua bahunya karena kaget saat telepon genggamnya berdering sangat nyaring. "Dari Rendy" Luke memperlihatkan layar telepon genggamnya ke Embun sebelum ia mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Kenapa, Ren? Bukankah semua schedule meeting diundur setelah jam makan siang? Apa dia keadaan darurat yang........"

__ADS_1


"Iya, Tuan. Ada keadaan darurat. Anda harus segera balik ke kantor" Rendy berkata dengan nada panik.


"Ada apa?"


"Anda balik kantor dulu, aja, Tuan"


Klik! Luke menutup panggilan dari Rendy itu, lalu berkata ke Embun sambil bangkit berdiri, "Kamu ikut ke kantor apa pulang?"


"Memangnya di kantor ada apa, Mas?" Embun bertanya saat Luke sudah menggamit pinggangnya.


Luke mengajak Embun melangkah sambil berkata, "Rendy nggak bilang masalahnya apa. Tapi, anak itu terdengar sangat panik"


"Aku nggak ikut ke kantor, boleh?"


Luke mencium perut buncitnya Embun, lalu mencium keningnya Embun di depan pintu mobil sambil berkata di sana, "Tentu saja boleh"


Embun memeluk pinggang suaminya, lalu ia terkekeh dan berkata, "Lihat, Mas! Perut buncitku udah nabrak perut kamu, Mas dan aku nggak bisa meluk pinggang kamu sampai belakang"


Luke sontak menggelegarkan tawa renyahnya, lalu berkata di atas belahan rambut Embun, "Kalau kamu nggak bisa meluk aku sampai belakang, aku akan menggantinya dengan ciuman"


Embun langsung merona malu dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya untuk berkata di sana, "Kalau aku ingin ajak Mbak Mona pergi beli salad buah di mall, boleh?"


Luke mengelus rambut Embun dengan penuh cinta dan berkata, "Boleh. Tapi, setelah beli salad buah langsung pulang, ya?! Kamu pasti capek habis senam hamil dan jalan-jalan sama aku tadi"


"Iya, Mas" Embun menengadahkan wajahnya dan Luke langsung memagut bibir Embun. Suami istri itu berciuman sejenak, kemudian Luke membantu Embun masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Mona. Sebelum Luke menutup pintu mobil itu, ia berkata, "Jaga baik-baik anak dan Istriku" Luke berucap sembari mengelus perut buncitnya Embun.


"Baik, Tuan muda" Sahut Mona.


Luke melambaikan tangan ke mobil yang dikendarai oleh Mona sampai mobil itu lenyap dari pandangannya. Barulah Presdir muda yang berparas sangat tampan itu masuk ke mobilnya dan langsung melajukan mobilnya ke kantor.


"Bukankah kau akan balik ke sini setelah dua tahun? Kenapa baru empat bulan lebih beberapa Minggu, kamu udah balik ke sini?"


"Setelah memenangkan lomba kemarin dan menyabet medali emas, aku dijemput pulang oleh utusan dari pihak kedutaan. Aku diberi penghargaan oleh Bapak Presiden tadi pagi. Kau tidak lihat TV, ya?"


"Aku sibuk" Sahut Rendy dengan nada dan wajah kesal.


"Aku diberi cuti oleh manajerku dan klienku, selama tiga bulan. Aku rasa waktu tiga bulan, cukup untuk menggelar pesta pernikahanku dengan Luke"


Satu jam kemudian, pewaris tunggal Grup Donovan itu sampai di kantornya. Luke Donovan langsung menuju ke ruang kerjanya lewat lift pribadi dan setelah menempelkan pantatnya ke kursi kerja kesayangannya, dia menelepon Rendy, "Kamu di mana?"


"Saya ada di kantor HRD, Tuan. Anda di mana?"


"Aku di ruang kerjaku. Oke. Aku susul kamu ke sana" Luke beranjak berdiri untuk melangkah ke kantor HRD.


"Mbak, aku pengen ke restoran iga sapi langganannya Mas Like" Ucap Embun setelah berhasil membeli salad buah"


"Baik, Nyonya. Saya akan antarkan"


"Setelah makan di sana, barulah kita pulang. Maklum ibu hamil bawaannya laper terus, Mbak"


"Iya, Nyonya. Waktu saya hamil dulu juga gitu. Dikit-dikit laper, eh, tahu-tahu badan membengkak jadi kayak gajah, hehehehe"


"Eh, benar juga, kalau aku nanti membengkak, Mas Luke masih mau menatapku, tidak, ya?"


"Past masih mau, Nyonya. Tuan muda sangat mencintai Anda, Nyonya"


"Sebentar, aku akan nelpon Mas Luke dulu untuk nanya soal ini"


Luke menghentikan langkahnya di ujung Selasar sebelum ia berbelok ke kanan ke ruang HRD saat ia mendengar telepon genggamnya berbunyi sangat nyaring dan Presdir muda nan tampan itu langsung semringah, "Halo, ada apa Sayang? Baru saja pisah, udah kangen, ya?"


"Iya, udah kangen"


Luke tertawa senang, "Aku juga udah kangen. Kamu masih di Mall?"


"Aku udah keluar dari Mall, Mas. Ini mau cari makan. Aku bawaannya laper terus, Mas"


"Ya, udah, makan aja, Sayangku! Jangan ditahan-tahan!"


"Tapi, kalau tiba-tiba badanku jadi bengkak kayak gajah, apa Mas masih mau menatapku?"


Luke sontak menggelegarkan tawanya lalu berkata, "Aku mencintaimu apa adanya. Mau kamu kurus, bengkak, atau setengah bengkak, aku akan tetap mau menatap kamu"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu saja benar. Aku nggak pernah bohong, kan, sama kamu"


"Baiklah, aku akan makan kalau gitu. Mas mau dibungkuskan apa?"


"Terserah kamu. Aku ngikut aja. Makanan apapun kalau itu kamu yang sediakan, akan aku makan"


"Telur puyuh sekalipun?"


"Telur puyuh sekalipun" Sahut Luke dengan kekehan geli.


Embun ikutan tekekeh geli lalu berucap, "Baiklah Mas. Aku cinta kamu" Embun berkata dengan tersipu malu.


"Aku juga sangat mencintaimu.Makan yang banyak. Kamu udah aman, kan, makan tanpa aku suapi?"


"Iya, Mas*


"Oke. Makan yang banyak dan setelah makan, langsung ke sini ya?"


"Iya, Mas"


"Aku matikan, ya, telponnya. Ada urusan penting dan Rendy masih menungguku di kantor HRD"


"Oke, Mas"


Klik! Luke mematikan sambungan telepon itu lalu sambil memasukkan telepon genggam ke dalam saku kemejanya, ia meneruskan langkahnya menuju ke kantor HRD.


Luke tersentak kaget saat ia membuka pintu kantor kepala HRD dan seketika itu pria tampan itu mematung untuk sepersekian detik.


"Luke! Aku sangat merindukanmu!" Chika berucap sembari berlari untuk memeluk tubuh pria yang masih berstatus pacarnya itu. Namun, Luke langsung mundur ke belakang beberapa langkah sambil berteriak, "Jangan dekati aku!"


Chika menahan laju larinya dan menatap Luke dengan wajah heran. Lalu, gadis cantik itu bertanya, "Kenapa di saat aku ingin memeluk kamu, kamu malah mundur ke belakang Luke? Dan kenapa aku tidak boleh mendekati kamu?"


"Aku akan katakan semuanya. Tapi, tidak di sini. Ren, ajak dia ke ruang kerjaku" Luke berbalik badan dan melangkah lebar meninggalkan ruang HRD untuk melangkah kembali ke ruang kerjanya lewat lift pribadi.


Sedangkan Rendy membawa Chika ke ruang kerjanya Luke Donovan lewat lift umum dengan memakai kartu akses masuknya Rendy.


Chika menoleh ke Rendy untuk bertanya, "Di mana Luke? Kenapa dia tidak naik lift ini bareng sama kita?"


"Karena, tuan muda sudah tidak mengganggapmu penting lagi" Sahut Rendy tanpa menoleh ke Chika.


Sesampainya di ruang kerjanya Luke, Rendy menyuruh Chika duduk di sofa. Luke yang masih berdiri akhirnya duduk di sofa single. Agak jauh dari tempat Chika.


Chika sontak menoleh ke Luke dan bertanya, "Kenapa kau tidak duduk di sampingku, Luke? Kau tidak kangen sama aku? Dan kenapa dia masih di sini?" Chika menunjuk Rendy.


"Dia akan jadi saksi di sini"


"Saksi?* Tanya Chika.


"Iya. Saksi percakapan kita. Aku suruh Rendy merekam kita saat ini"


"Tapi, untuk apa?"


"Untuk bukti kalau aku memutuskan hubungan kita detik ini juga. Aku sudah tidak punya rasa apa pun sama kamu. Jadi, mulai detik ini, kita putus. Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai Istriku"


"Bohong! Kamu nggak mungkin menikah dengan cewek lain Kau hanya mencintai aku, Luke! Nggak! Aku nggak mau putus sama kamu, Luke! Bukankah kamu janji, kalau aku pulang, kamu akan nikahi aku"


"Itu sebelum aku tahu kalau kamu ternyata tukang selingkuh. Suka gonta-ganti cowok dan kamu egois. Kamu tinggalkan aku tanpa pamit. Kamu hanya tinggalkan secarik kertas untukku waktu itu. Dan sekarang, aku sudah menikah dan aku sangat mencintai Istriku"


"Nggak! Aku akan bunuh diri kalau kamu putuskan aku!"


"Bunuh diri aja! Tapi, jangan di sini!" Sahut Luke acuh tak acuh.


Tanpa Luke dan Rendy duga, Chika nekat bangkit berdiri dan langsung melompat ke pangkuannya Luke dan wanita itu memagut bibir Luke dengan mencengkeram erat tengkuknya Luke.


Ting! Pintu lift terbuka dan Embun menutup kembali pintu lift saat ia melihat ada wanita di atas pangkuan suaminya dan berciuman dengan suaminya.


Rendy sontak berteriak, "Tuan muda! Nyonya muda.........."


Luke sontak mendorong keras tubuh Chika hingga wanita itu jatuh dengan cukup keras di atas lantai. Presdir tampan itu langsung melesat ke lift. Pria muda itumemencet tombol lift dengan tidak sabar..........

__ADS_1


__ADS_2