Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Katakan!


__ADS_3

Luke langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan syuting begitu syuting dinyatakan selesai. Model cantik nan seksi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung turun dari panggung pemotretan dan berlari kencang menyusul Luke Donovan. Saat model itu berhasil menyusul Luke dan mensejajari langkah Luke yang tergesa-gesa, Luke langsung berbelok arah. Luke tidak jadi menuju ke lift khusus CEO. Dia berbelok ke lift umum, karena ia tidak mau wanita asing masuk ke lift khusus CEO.


Model cantik dan seksi itu bertanya, "Bagaimana penampilan saya, Tuan? Apa Anda suka?"


Luke menoleh ke Rendy dan memberikan kode ke Rendy agar Rendy menjawab pertanyaan itu.


"Suka. Penampilan kamu sangat bagus" Sahut Rendy dengan senyum ramah.


Model itu ikut masuk ke lift sambil berkata, "Saya butuh Tuan Luke yang menjawabnya"


"Hmm" Sahut Luke.


"Maksudnya, Hmm, apa, Tuan?"


Luke menggeram kesal, lalu memilih diam seribu bahasa dan mengabaikan model itu.


Rendy langsung berkata, "Kalau kamu masih ingin lanjut menjadi model di proyek baru kami? Jangan bertanya lagi!"


Model itu langsung mengunci mulutnya.


Daniel, mamanya dan istrinya, muncul di ruang kerjanya Maria Donovan.


Daniel langsung menghampiri neneknya untuk memeluk neneknya dan berkata, "Maafkan Daniel kalau menginap di hotel terlalu lama. Apa Nenek merindukan aku? Maaf juga kalau aku menikah dadakan dan langsung pergi ke hotel untuk berbulan madu tanpa mengenalkan Istriku ke Nenek"


Maria menarik diri dari pelukan Daniel sambil berkata, "Badan kamu berat"


"Ah, maaf" Daniel mengecup pipi neneknya lalu berjalan keluar dari balik meja neneknya untuk memeluk pinggang istrinya dan berkata, "Ini Soraya Danuro. Putri tunggal Grup Danuro. Aku pandai memilih Istri, kan, Nek"


Wanita muda yang cantik dan ramping itu langsung membungkukkan badan di depan Maria Donovan sembari berkata, "Senang bertemu dengan Nyonya besar"


"Hmm. Selamat untuk pernikahan kalian" Sahut Maria.


"Aku pilih dia, karena dia punya nama yang sama dengan Mama. Cuma kalau Mama di belakangnya ada Donovan" Daniel menekankan kata Donovan untuk mempertegas status mamanya yang adalah menantu satu-satunya keluarga Donovan yang masih hidup.


Mamanya Daniel tersenyum dan setelah mengelus pipi putranya, Soraya meletakkan di paper bag di meja kerjanya Maria Donovan sambil berkata, "Ini oleh-oleh dari saya dan menantu saya, Ma. Semoga Mama suka"


"Hmm" Maria menyahut singkat. Lalu, wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan enerjik itu berkata, "Kalian pulang dan beristirahatlah! Maaf kalau di rumah nggak ada apa-apa. Aku kira kalian pulangnya masih besok"


"Daniel bilang dia kangen sama Nenek dan Kakaknya. Jadi, dia ingin segera pulang dan dia ingin segera mengenalkan istri cantik dan pintarnya ini ke Nenek dan Kakaknya"


"Hmm. Kita lanjutan perkenalan kita nanti pas makan malam"

__ADS_1


"Baiklah, Ma. Kami permisi"


"Emm, satu lagi, Nek. Nenek manggil Mamaku Sora, kan? Untuk membedakan nama biar nggak bingung, kita panggil Istriku, Raya. Oke?" Daniel tersenyum lebar ke neneknya.


Maria tersenyum dan berkata, "Oke"


Setelah Daniel dan duo Soraya meninggalkan ruang kerjanya, Maria menghela napas panjang dan sambil menyandarkan bahu ke sofa ia bergumam, "Kenapa aku belum bisa menyayangi Danie sepenuhnya seperti aku menyayangi Luke. Padahal Danie anaknya lebih ceria dan lebih sering memeluk aku daripada Luke.Aku juga nggak ada ikatan batin sama Daniel. Kalau sama Luke, setiap kali Luke kena masalah besar, aku langsung bisa merasakannya. Bahkan waktu Luke masih kecil, setiap kali Luke sakit demam, aku pasti buruan pengen cepet pulang kalau pas aku ada di luar kota. Tapi,kenapa sama Daniel aku tidak bisa merasakan semua itu?"


Dona masuk ke dalam ruang kerjanya Maria dan berkata, "Maaf Nyonya saya langsung masuk tanpa permisi"


Maria Donovan langung menegakkan badannya dan bertanya, "Ada apa?"


"Pas saya hendak menuju ke lift, saya melihat Nyonya Soraya masuk ke dalam toilet dengan panik dan ponsel terus menempel di telinganya. Saya diam-diam mengikutinya dan masuk ke bilik kosong yang bersebelahan dengan Nyonya Soraya.


"Apa yang kau dengar?"


"Nyonya Soraya berkata dengan ada yang sangat lirih. Tapi, kuping saya berhasil menangkap kata, jangan muncul sekarang! Daniel masih belum mendapatkan apa-apa. Nenek tua itu belum percaya seratus persen kalau Daniel adalah cucunya"


Maria Donovan langsung mengerucutkan bibirnya dan menautkan kedua alisnya.


"Setelah itu, Nyonya Soraya keluar dan pergi. Saya keluar sepuluh menit kemudian" Ucap Dona dengan wajah serius dan penuh dengan tanda tanya.


Dona menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


"Aku juga sama. Apa maksud ucapannya Sora? Lalu, siapa yang menelpon Sora?"


"Apa yang perlu saya lakukan selanjutnya, Nyonya?"


"Aku akan ambil sample rambut atau sikat giginya Daniel secara diam-diam. Aku akan lakukan tes DNA. Kenapa aku bodoh sekali waktu putraku masih hidup, aku tidak kepikiran melakukan tes DNA"


"Baik, Nyonya. Mengenai kasus Nyonya Joana, ada titik terang"


"Apa itu?"


"Saya akhirnya berhasil menemukan rekaman CCTV peristiwa itu. Dari rekaman CCTV yang ada di dashboard mobil yang parkir hari itu, terlihat jelas kalau Nyonya Joana dibunuh. Sayangnya, pembunuhnya memakai jaket Hoodie dan lampu taman saat itu mati. Tapi, ada seroang anak perempuan di sana"


Maria Donovan langsung bangkit berdiri dan berkata dengan senyum semringah, "Berarti ada saksi mata?"


"Iya, Nyonya. Tapi, sayangnya anak itu masih kecil dan setelah Nyonya Joana jatuh tersungkur di atas tanah, anak itu jatuh pingsan"


"Apa wajah anak itu terlihat jelas?"

__ADS_1


"Iya, Nyonya. Wajah anak itu terlihat jelas. Saya sudah mencetak wajah anak kecil itu. Ini Nyonya" Dona meletakan gambar wajah anak perempuan yang sangat manis.


"Peristiwanya udah belasan tahun silam. Anak ini pasti udah berumur sekitar dua puluh tahun. Lalu, kita bisa tahu wajah anak ini sekarang bagaimana caranya? Kita juga tidak tahu nama dan rumah anak ini" Maria Donovan kembali duduk di kursinya dengan lemas.


"Saya akan terus berjuang menggali informasi soal anak itu, Nyonya"


"Aku juga akan terus mencari tahu keberadaan anak ini" Sahut Maria Donovan.


Mentari mendorong Embun keluar dari ruangannya sembari berteriak, "Keluar dan pergi sana! Jangan ganggu aku! Aku lagi kerja"


Saat Embun menahan pintu yang hendak ditutup oleh Mentari, Mentari membuka lebar-lebar pintunya sambil berteriak, "Pergi sana! Kenapa masih berdiri di sini?"


"Aku akan pergi setelah aku tahu kebenarannya"


"Kebenaran apa?" Mentari mendelik ke Embun.


Salah seorang karyawati Grup Donovan yang melintas seketika menghentikan langkahnya dan langsung bersembunyi di balik tembok saat ia mendengar ada keributan di depan ruangannya Mentari. Dengan iseng, karyawati itu, lalu merekam keributan antara Mentari dengan seorang gadis muda, dari balik tembok tempat ia bersembunyi.


"Kakak, kan, yang mencuri satu set perhiasan berliannya Nenek?"


"Kalau, iya, memangnya kenapa? Kau bisa apa kalau memang aku yang mencurinya? Nenek nggak bakalan percaya dengan omongan kamu. Toh Nenek juga nggak mencari keberadaan perhiasannya sampai sekarang" Mentari berkacak pinggang di depan Embun dengan wajah pongah.


"Itu karena, Nenek menuduh Ibukku yang mencurinya, Kak"


"Yeaaahhh, itu urusan Ibu kamu dan Nenek" Mentari tersenyum mengejek.


Embun mulai menatap kakak tirinya dengan pandangan tidak percaya. Dia mulai menitikkan air mata dan bertanya Kemabli dengan suara gemetar menahan tangis, "Lalu, kalung emas dengan liontin giok kura-kura hadiah yang diberikan Papa padaku pas aku ulang tahun? Apa Kakak juga yang mengambilnya?"


"Kalau iya, kenapa? Semua milik Papa adalah milikku. Kamu nggak punya hak apa-apa. Termasuk kalung emas berliontin giok kura-kura itu. Itu adalah milikku. Salah kamu sendiri kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumahku dan merebut perhatian Papa dariku" Mentari mendelik ke Embun.


"Kenapa Kakak setega itu? Padahal aku sangat tulus menyayangi Kakak. Aku tidak pernah protes Kakak dapat semua kasih sayang Nenek dan Kakek. Aku hanya minta Kakak mengaku ke Nenek kalau Kakak yang mencuri satu set perhiasan berliannya Nenek agar nama Ibukku bersih kembali dari tuduhan Nenek"


"Ogah banget Nenek toh tidak bertanya soal perhiasannya itu dan ...."


"Itu karena aku, sudah berikan cek ke Nenek. Tapi, Nenek masih menganggap Ibukku pencurinya. Tolong Kakak mengaku dan bersihkan nama Ibukku. Aku tidak minta ganti cek yang sudah aku berikan ke Nenek. Lalu, kembalikan kalung emas berliontin kura-kura itu. Aku mohon, kak. Hanya itu kenangan yang aku punya dari Papa. Kakak, kan, udah dapatkan lebih banyak dari Papa pas Kakak ulang tahun" Embun mulai terisak menangis.


Rendy menepuk pundak karyawati yang masih merekam adegan adu mulut di depan ruangannya Mentari.


Karyawati itu tersentak kaget dan langsung menundukkan kepala saat ia melihat Rendy dan Luke Donovan berdiri di depannya.


Luke memerintahkan Rendy, "Minta rekamannya!" Lalu ia melangkah lebar menuju ke Embun dan Mentari dengan wajah mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2