
Mendengar suara ribut di depan Ibunya Embun berlari dari arah dapur dan langsung berkata ke pria yang memeluk ibu mertuanya,
"Nak, tolong bawa Nyonya Sanjaya ke kamarnya. Saya akan tunjukkan jalannya"
Pria yang memeluk neneknya Embun langsung membopong wanita paruh baya itu dan mengikuti langkah wanita yang terlihat seumuran dengan mamanya.
Luke menahan paha Embun saat ia merasakan Embun ingin bangkit berdiri.
Embun menoleh ke Luke, "Kenapa Anda menahan saya?"
"Aku nggak ingin kamu diserang lagi oleh Nenek sihir itu"
Maria Donovan menoleh ke Luke untuk berkata, "Luke, jangan ngatain orang tua kayak gitu! Nggak baik. Ingat, anak kamu bisa mendengarnya"
"Maaf, Nek" Luke lalu mengelus perut ratanya Embun sambil berbisik di telinganya Embun, "Maafkan aku anakku"
Embun tersenyum senang dan saat ia menoleh ke Luke, suaminya itu tengah tersenyum penuh cinta kepadanya. Pasangan itu kemudian hanya bersitatap dalam diam, namun terus saling melempar senyum dengan rona merah di wajah mereka.
Luke mengecup punggung tangan Embun, kemudian pria tampan itu menatap neneknya untuk bertanya, "Terus, gimana nih, Nek? Kita tunggu atau kita pulang dulu dan balik lagi besok pagi?"
"Masalah ini harus kelar malam ini Kita tunggu sampai Nenek Embun sadar lagi. Nenek rasa nggak akan lama, neneknya Embun akan sadar dan balik lagi ke sini" Sahut Maria.
"Oke, baiklah" Luke kembali mengecup punggung tangannya Embun.
Embun terus tersipu malu saat ia kembali bersitatap dengan suami tampannya.
Mama dari pria yang bernama John, masih duduk di depan Luke, Embun, dan Maria. Namun, wanita itu tidak berani membuka suara saat ia tahu kalau orang yang duduk di depannya adalah pemilik Grup Donovan. Dia hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatinya apa maksud kata anak yang terlontar dari wanita paruh baya yang cantik dan elegan yang bernama Maria Donovan. Wanita yang bernama Rosa itu juga hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatinya ketika ia melihat Luke dan Embun bersitatap dan saling melempar senyum.
Beberapa menit kemudian, pria yang bernama John kembali ke ruang depan bersama dengan ibunya Embun dan neneknya Embun. John bisa melihat dari tempatnya berdiri, jasnya Luke Donovan terpasang di atas pahanya Embun. John sontak menghela napas panjang dan langsung berkata di dalam hatinya, aku terlanjur menyukai gadis yang bernama Embun ini. Tapi, kenapa aku harus bersaing dengan Tuan Luke Donovan?
Mentari muncul di depan pintu pas ketika neneknya duduk di atas kursi tamu. Mentari menoleh ke kanan dan dengan terlonjak kaget ia berkata, "Tuan Luke, Nyonya Maria, kenapa Anda semua ada di sini?"
"Ambil kursi dan cepat kembali ke sini!" Perintah neneknya Embun.
Mentari langsung berlari ke belakang dan kembali ke ruang depan dengan membawa sebuah kursi kayu. Dia langsung duduk di kursi itu masih dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Seketika itu, Mentari dapat melihat jas Luke ada di atas pahanya Embun dan tangan Luke menggenggam tangan Embun di atas jas itu.
Ada hubungan apa antara Tuan Luke dan Embun? Batin Mentari.
__ADS_1
Melihat ibunya Embun masih berdiri, karena tidak mendapatkan tempat duduk, Luke langsung bangkit berdiri dan berkata dengan sikap yang sangat sopan, "Ibu, silakan duduk di sini"
Ibunya Embun melirik mama mertuanya dan saat ia melihat mama mertuanya menggelengkan kepala, Ibunya Embun langsung berkata ke pria tampan yang menawarinya duduk, "Saya berdiri saja, Nak. Terima kasih, Nak"
Luke yang juga melihat gelengan kepala neneknya Embun, langsung berkata dengan nada tegas, "Anda nggak usah takut dengan siapapun yang ada di sini saat ini! Saya akan tindak tegas siapapun yang berani melarang Anda untuk duduk di sebelah Putri Anda" Luke berkata dengan tatapan tajam tertancap di wajah neneknya Embun.
Neneknya Embun lalu berkata ke ibunya Embun sambil mengibaskan tangannya, "Ya, ya, sana duduk dekat Putri kamu, sana!"
Luke lalu berdiri di sebelah Embun dan meletakkan tangannya di atas pundak Embun, karena ia masih ingin menempel ke istrinya.
Mentari yang melihat semua itu, langsung cemberut dan spontan bertanya, "Mbun, apa yang sudah kamu lakukan?"
Luke dan semua yang ada di ruangan tersebut, sontak menoleh ke Mentari.
Luke langsung bertanya dengan wajah dingin, "Apa maksud pertanyaan kamu?"
"Saya lihat, Embun menggoda Anda sendiri tadi. Saya lihat ia menggenggam tangan Anda dan sekarang ia memberi kode ke Anda untuk memeluk bahunya. Dasar wanita hina tidak tahu malu, cih! Kau itu........."
"Diam! Jangan fitnah Embun! Embun nggak menggoda aku. Aku yang menggenggam tangan Embun. Aku yang tidak tahu malu di sini karena ingin terus menempel sama Istriku. Apa itu salah?" Luke sontak mendelik ke Mentari.
"Is......istri?!" Neneknya Embun, Rosa, John, Mentari, dan Ibunya Embun, meneriakkan kata itu secara bersamaan dibarengi dengan ekspresi kaget.
Ibunya Embun langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangan.
Neneknya Embun langsung berteriak, "Tidak bisa! Aku sudah menerima lamarannya Nyonya Rosa. Embun harus menikah dengan Nak John Nak John sudah kasih aku, mas kawin sebanyak seratus juta rupiah dan sebuah rumah mewah di kawasan elit"
Luke menyipitkan kedua matanya dan langsung berteriak dengan wajah merah padam penuh amarah, "Kau buta atau apa, hah?! Sudah ada surat nikah aku dan Embun di atas meja. Mana bisa Embun menikah dengan Pria itu. Embun adalah Istriku! Selamanya adalah Istriku!"
"Mana bisa begitu. Kalau mas kawin kalian nggak sebanyak yang diberikan oleh Nyonya Rosa, maka aku bisa membatalkan pernikahan kalian. Aku berhak karena Embun, ada di bawah tanggung jawabku. Lagian, pernikahan kalian tidak ada persetujuan dari keluarganya Embun, kan? Pernikahan macam itu masih bisa dibatalkan"
Dada Luke mulai naik turun dan wajahnya semakin memerah penuh amarah, dia lalu menyemburkan, "Kau! Dasar wanita Iblis, kau.........!!!!!"
Embun langsung mengelus dada suaminya dan berkata, "Mas, tenanglah! Nenek memang seperti itu. Jangan terpancing emosi, Mas!"
"Luke, tenang dulu!" Maria Donovan langsung menyahut.
Luke langsung diam membisu dan dengan mengepalkan kedua tinjunya dia masih menghunus tatapan tajamnya ke neneknya Embun.
Melihat cucunya sudah mulai tenang, Maria langsung menoleh ke ibunya Embun untuk berkata, "Maafkan cucu saya" Maria Donovan tersenyum manis ke ibunya Embun.
__ADS_1
Ibunya Embun hanya menganggukkan kepala sekali dan tersenyum canggung ke Maria Donovan.
Luke lalu mengarahkan tatapan tajamnya ke pria yang bernama John dan sebelum Luke membuka mulutnya, John langsung bangkit berdiri sambil menarik tangan mamanya.
Wanita yang bernama Rosa sontak kaget dan sambil bangkit berdiri dia mendelik ke anaknya, "Kenapa menarik Mama?"
"Kita pulang, Ma. Kita batalkan lamaran kita. Aku nggak sanggup melawan Tuan Luke Donovan, Ma. Aku mundur saja" John terlihat panik dan ketakutan.
Wanita yang bernama Rosa semakin mendelik ke putra tunggalnya dan langsung berkata, "Mama suka sama Embun. Kamu juga suka sama Embun, kan, jadi ........."
"Berani benar kau menyukai Istriku!!!!!" Suara Luke menggelegar keras melebihi suara guntur di luaran sana dan tatapannya menancap rajam ke wajah pria yang bernama John.
Semua sontak terlonjak kaget dan mamanya John langsung menoleh ke Luke dan dengan sorot mata tajam ia berkata, "Anda memang Bos. Konglomerat. Tapi, soal cinta harus bersaing dengan adil dong. Saya suka sama Embun. Anak saya juga suka sama Embun. Kami juga sudah berikan hantaran lamaran lebih dulu ke keluarga Sanjaya. Lalu, di mana letak kesalahannya?"
Luke melangkah maju dengan wajah memerah dan Embun langsung menahan lengan Luke sambil berkata, "Mas, tenang!"
John langsung membekap mulut mamanya dan berkata, ke Luke dengan nada panik, "Maafkan Mama saya! Saya mundur, Tuan. Maafkan saya telah lancang melamar wanita Anda,eh,Istri Anda maksud saya" Dan dengan masih membekap mulut mamanya, dia menyeret mamanya keluar dari dalam rumah keluarga Sanjaya sambil berucap ke neneknya Embun, "Saya tarik kembali semua lamaran saya, Nek. Maaf. Kami permisi pulang, Nek"
"Hei! Mana bisa begitu! Kembali ke sini!" Neneknya Embun berteriak ke John.
Luke memeluk bahu Embun dan langsung berkata sambil mengarahkan pandangannya ke neneknya Embun, "Aku akan berikan dua rumah. Satu untuk kamu dan satu lagi untuk Ibunya Embun. Lalu, aku juga akan berikan koper itu" Luke menunjuk dua koper kecil yang bertumpuk di atas meja.
"Apa isi koper itu?" Neneknya Embun mulai menatap Luke dengan wajah semringah.
"Satu koper berisi uang cash sebanyak dua ratus lima puluh juta rupiah. Satu koper untuk kamu dan satu lagi untuk Ibunya Embun. Aku juga bawakan dua mobil baru. Satu untuk kamu dan satu lagi untuk ibunya Embun. Masih kurang?"
"Nggak! Nggak kurang. Kalau gitu, kan, enak. Kenapa nggak dari tadi bilang gitu. Kalau kau bilang gitu dari tadi, aku udah tendang si John dari tadi, hehehehehe"
Mentari yang sedari tadi diam membisu, langsung terhenyak lemas di kursinya saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pria pujaan hatinya sudah menjadi suaminya Embun.
Luke menatap tajam neneknya Embun sembari menggeram kesal dan bergumam lirih, "Dasar wanita Iblis, mata duitan"
Neneknya Luke langsung merangkul bahu ibunya Embun dan berkata, "Biarkan cucu saya dan Embun sungkem di bawah kaki Anda untuk meminta restu Anda. Karena lusa, keluarga Donovan akan menggelar pesta resepsi pernikahannya Luke dan Embun"
Ibunya Embun menoleh pelan ke Maria Donovan dan dengan menitikkan air mata haru, ibunya Embun menggelengkan kepala sambil berkata, "Saya hanyalah seorang pembantu. Saya nggak pantas membiarkan Tuan muda Luke Donovan bersimpuh di kaki saya dan........"
Luke dan Embun langsung bersimpuh di depan kaki Ibunya Embun untuk berkata, "Ibu, restui kami berdua"
Ibunya Embun tersentak kaget dan langsung mengarahkan pandangannya ke depan. Wanita yang bernama Lastri itu, sontak mengeluarkan air mata haru dan sambil menopangkan tangan di atas kepala Luke dan Embun, ia berkata, "Tentu saja Ibu akan merestui kalian berdua. Semoga resepsi pernikahan kalian besok berjalan lancar dan pernikahan kalian langgeng, penuh damai sejahtera, dan diberkati untuk bisa memiliki keturunan yang hebat"
__ADS_1
"Amin, terima kasih, Bu" Sahut Luke dan Embun secara bersamaan.