Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Teman


__ADS_3

Alex Norman sampai di kediaman mewah milik papanya dan langsung dipeluk oleh adik perempuannya. Alex tertawa renyah dan sambil membalas pelukan adik perempuannya, ia berucap, "Kamu udah gede kok masih main peluk aja"


"Kakak balik dari Jepang kenapa nggak nelpon aku?"


"Alice, Abang kamu pasti capek. Biar Abang kamu masuk kamar dan istirahat dulu. Ngobrolnya besok aja" Sahut papanya Alex dan Alice yang memiliki nama Abram Norman.


Alice melepaskan pelukannya dengan cemberut, lalu ia berbalik badan dan pergi ke kamarnya.


Alex terkekeh geli melihat tingkah kekanak-kanakannya Alice Norman.


"Papa senang kamu sampai di sini dengan selamat. Lho, teman-teman kamu mana? Katanya kamu balik dengan teman-teman kamu"


"Mereka menginap di hotel, Pa. Ini sudah larut malam, mereka sungkan kalau ke sini beramai-ramai. Besok mereka baru menginap di sini dan Minggu depan mereka balik lagi ke Jepang" Ucap Alex sembari menarik koper menuju ke kamarnya.


"Kamu juga balik ke Jepang?" Abram bertanya sembari mengekor putranya.


"Sepetinya nggak. Aku naksir seorang gadis saat ini. Aku baru bertemu dengannya dan langsung merasa malas untuk balik lagi ke Jepang. Aku ingin mendekati gadis itu dan ingin menikahinya"


"Serius?" Abram duduk di tepi ranjangnya Alex dengan ekspresi kaget.


"Hmm" Alex tersenyum lebar di depan papanya.


"Syukurlah kalau anak Papa akhirnya bisa jatuh cinta lagi"


"Iya. Sejak Liza meninggal dunia karena kecelakaan, aku kira aku tidak akan bisa tertarik pada cewek lagi. Tapi, ternyata hari ini aku menemukan kembali seorang cewek yang mampu menghidupkan kembali getaran di hatiku yang sudah lama padam"


"Oke. Papa tunggu kamu bawa gadis itu ke rumah ini untuk kamu kenalkan ke Papa. Sekarang tidurlah! Eh, tapi sebentar. Besok siang, Luke Donovan mengundang kita rapat di kantornya untuk pemilihan model parfum Pure Heart.


"Nggak perlu Pa, aku sudah dapatkan model yang cocok. Aku yakin Papa juga pasti suka dengan model yang aku pilih saat ini. Besok aku sudah mulai ajak model pilihanku ini melakukan pemotretan dan syuting"


"Hah?! Lalu, rapat dengan Luke Donovan gimana?"


"Aku akan mengunjungi Luke setelah pemotretan dan syuting edisi pertama selesai. Aku akan melepas kerinduanku sama Luke sekalian memberikan oleh-oleh dengan datang secara langsung ke kantornya. Walaupun Luke benci dengan kejutan, aku akan tetap memberinya kejutan, Pa"


Abram terkekeh geli lalu beruap, "Baiklah. Papa percaya dengan pilihan kamu dan keputusan kamu. Papa akan ikut lihat proses pemotretan dan syuting besok dan semoga kejutan kamu untuk Luke Donovan sukses"


"Siap, Pa. Selamat tidur" Sahut Alex Norman.


"Istriku di mana? Apa Istriku baik-baik saja?" Luke bertanya dengan ekspresi panik saat ia melihat Mona berdiri di depannya dengan wajah penuh lebam dan Mona sesekali mendesis menahan sakit.


"Nyonya muda baik-baik saja, Tuan"


Luke langsung berlari ke kamarnya untuk memastikan sendiri bahwa istri kesayangannya benar-benar dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Apa yang sudah terjadi? Kenapa wajah kamu penuh lebam? Kamu juga berdiri dengan tidak stabil dan terus mendesis seperti itu?" Tanya Rendy.


"Aku dan Nyonya muda dihadang sekawanan bandit dan mereka sepertinya dikirim oleh seseorang untuk mencelakai Nyonya muda"


"Memangnya kamu lewat jalan mana?"


"Tentu saja jalan pintas. Malam sudah semakin larut dan aku lihat Nyonya muda tampak kelelahan. Jadi, aku pikir akan lebih cepat sampai kalau aku lewat jalan pintas"


"Tapi, pas aku lewat di jalan pintas itu nggak ada apapun"


"Mereka pasti sudah pergi pas mereka semua sadar dari pingsan" Sahut Mona.


"Aku akan menyelidiki soal ini lebih lanjut" Rendy kemudian berbalik badan meninggalkan Mona.


Embun yang tengah berbaring miring mengarah ke pintu masuk, sontak kedua matanya terbuka lebar dan mulut menganga saat ia melihat suaminya menutup pintu cukup keras dan berjalan lebar sambil berteriak, "Mbun, apa kamu baik-baik saja?!"


Embun lalu bangun dan duduk di tepi ranjang, menunggu suaminya muncul dari balik tembok.


Luke muncul dari balik tembok dan langsung belok kanan sambil berlari. Pria tampan itu kemudian berjongkok di depan Embun untuk memeriksa rambut, wajah, leher, kedua lengan dan tangan Embun, perut sampai ke ujung kaki. Luke kemudian menengadah untuk melihat wajah Embun. Luke menengadah dengan kedua alis miring ke atas dan cemberut, lalu luke bertanya dengan nada yang sangat lembut, "Ada luka tidak di tubuh kamu? Apa ada yang terasa sakit? Mana yang terasa sakit?"


Embun mengusap kepala suaminya lalu menangkup wajah suaminya sambil berkata, "Aku baik-baik saja, Mas"


Luke kemudian memeluk Embun dan mendaratkan bibirnya di perut Embun. Pria tampan itu kemudian mengusap lembut perut Embun sambil berucap di sana, "Syukurlah kamu dan anakku baik-baik saja"


Luke kemudian bangkit berdiri, lalu membungkuk untuk mencium kening Embun dan berkata, "Aku akan ganti baju dan membersihkan diri dulu. Kamu rebahan lagi, gih!" Luke merebahkan Embun dengan perlahan di atas ranjang, lalu ia berbalik badan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian Luke baik ke ranjang dan langsung masuk ke selimut untuk memeluk tubuh ramping istrinya.


Embun memutar badannya untuk tidur miring menghadap ke suaminya.


Luke tersenyum dan setelah mencium bibir istrinya, ia bertanya, "Kenapa belum tidur? Maaf aku pulang karena, tadi perasaanku tiba-tiba nggak enak dan aku langsung kepikiran sama Nenek. Nenek ternyata baik-baik saja. Maka aku langsung mengkhawatirkan kamu. Tapi, aku sudah pasrahkan Ibu kamu ke temanku. Temanku akan nelpon aku kalau Ibu kamu kenapa-kenapa"


"Maafkan aku. Aku sudah membuat Mas khawatir dan terima kasih sudah peduli dengan Ibuku, Mas"


"Tentu saja aku peduli. Ibu kamu adalah Ibuku juga, kan?"


Embun mengangguk dengan senyum bahagia .


"Kamu nggak ada kuliah pagi, besok?" Luke bertanya sembari merapikan poni di kening Embun.


"Ada, Mas. Jam sembilan seperti biasanya"


Luke mengusap pipi Embun sembari bertanya, "Kok belum tidur? Ini sudah jam dua belas lebih lho. Kamu dan anakku butuh istirahat. Buruan bobok, gih"


"Mas, apa aku boleh kerja? Cari uang sendiri untuk biaya pengobatan Ibu?"


Luke menatap intens Istrinya untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, lalu berkata, "Kamu nggak boleh kerja. Biar aku aja yang kerja keras demi keluarga kecil kita. Kamu fokus aja sama kandungan kamu, sama anakku" Luke mengusap perut Embun, kemudian kembali berkata, "Aku yang akan mengurus Ibu mertuaku. Aku akan tutup semua biaya pengobatan Ibu kamu"


"Tapi, Mas udah kasih aku makan dan tempat tinggal semewah ini. Mas juga udah kasih uang bulanan yang sangat banyak, aku merasa nggak enak kalau Mas masih aku bebani biaya pengobatan Ibu. Ibu adalah tanggung jawabku, Mas"


"Kamu adalah tanggung jawabku. Jadi, otomatis semua keluarga kamu juga tanggung jawabku. Aku mampu dan aku bisa membiayai pengobatan Ibu kamu. Untuk itulah sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu bekerja untuk alasan apapun. Aku ini suami kamu. Jadi, kamu nggak usah merasa terbebani dan merasa sungkan. Aku ini suami kamu. Aku akan penuhi semua kebutuhan kamu tanpa kamu minta" Luke kemudian menciumi wajah Embun dengan penuh kasih sayang.


"Tapi, Mas.........."


Luke memeluk erat Embun sambil berkata, "Nggak boleh kerja, ya, nggak boleh kerja, titik nggak pakai koma. Udah sekarang bobok!"


Embun hanya bisa menghela napas panjang di dalam pelukan suaminya.


Keesokan harinya, Luke mengantarkan Embun ke kampus. Namun, ia mengajak serta Rendy di hari itu.


"Ren, keluarlah dulu!"


Cucu kesayangan Maria Donovan itu, kemudian menarik tubuh Embun sehingga tubuh itu begitu erat menempel di tubuhnya.


Luke tak bisa menahan diri lagi ketika gejolak asmara menggebu-nggebu di hati. Bahkan, Luke sudah tak mampu lagi menyeimbangkan antara perasaan dan pikiran. Jantung berdegup semakin kencang, darah berdesir cepat dari ujung kepala ke ujung kaki, dan tubuhnya bergetar hebat ketika seluruh indranya kembali merasakan seluruh pesonanya Embun. Wangi lembutnya Embun, wajah manisnya Embun, dan bibir ranum yang tengah merekah manis di depannya.


"Mas? Apa yang Mas inginkan? Aku harus segera masuk ke kelas, Mas" Embun menatap lekat wajah suami tampannya.


Luke mencubit dagu Embun dan alih-alih menjawab pertanyaannya Embun, ia mencium bibir ranum istri mungilnya itu. Luke memulai memuaskan rasa sayang dan cintanya dengan memberikan ciuman sensual di bibir istri mungilnya, kemudian ia mencium kedua pipi Embun, lalu menyusupkan wajahnya ke leher dan kembali lagi ke bibir Embun. Saat Luke kembali mencium bibirnya Embun, ia mencium dengan penuh gairah. Tetapi, ia memastikan bahwa ia melakukannya dengan perlahan, karena semakin pelan, maka ciuman itu akan semakin terasa seksi dan menggoda.


Embun melemas mengikuti ritme godaan dan ciuman yang dimainkan oleh Luke. Luke kemudian melepaskan bibir Embun dan memeluk erat tubuh ramping istrinya yang seolah tidak ingin terpisahkan.


"Mas, aku harus segera masuk ke kelas" Embun berucap di dalam pelukan hangat suaminya


"Sebentar lagi. Aku masih ingin memeluk kamu dan anakku, lima menit lagi. Aku malas berpisah denganmu dan anakku dan aku butuh mengisi penuh batereku"


"Batere apa?"


"Batere di sekujur tubuhku. Energiku akan cepat habis kalau aku kurang mencium dan memeluk kamu. Kalau udah mencium dan memeluk kamu, batereku langsung terisi penuh"


Embun sontak tertawa geli, lalu berkata, "Tadi pagi, aku, kan udah kasih ciuman selamat pagi sama Mas"


"Masih kurang" Sahut Luke dengan nada bicara yang polos tanpa dosa.


Embun menghela napas panjang dan berkata, "Nanti siang, kita masih bisa bertemu, kan, Mas untuk makan siang bareng di ruangannya Mas?"


"Siang itu masih sangat lama bagiku. Tunggu sebentar lagi dan........Oke! Aku rasa batereku sudah terisi penuh. Aku bisa bekerja dengan energi penuh hari ini" Luke berkata sembari melepaskan pelukannya.


Luke mengelus pipi Embun dan berkata, "Cepatlah turun dan masuk ke kelas sebelum aku mencium dan memeluk kamu lagi, lalu kamu nggak akan aku lepaskan lagi"


Embun bergegas turun dari mobil dan langsung berbalik badan menuju ke dalam gedung.


Luke ikut turun dari mobil dan menatap punggung Embun sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari. Senyum penuh arti terus terlukis di wajah tampan pria berdarah campuran Italia itu.


Rendy mendekat untuk bertanya, "Kenapa Tuan turun dari mobil? Bukankah kita harus segera ke kantor?"

__ADS_1


Luke menoleh ke Rendy dengan senyum lebar, lalu berkata, "Siapa bilang kita harus cepat pergi ke kantor?"


"Lho, kalau nggak buruan ke kantor, ngapain saya diajak mengantar Nyonya muda ke kampus?"


"Kau akan aku jadikan asisten dosen hari ini"


"Hah?! Asisten dosen? Dosen apa, eh, siapa?" Rendy menatap Luke dengan ekspresi kaget berbalut heran.


"Aku. Aku akan jadi dosen di kelas Embun pagi ini. Ayo kita masuk ke dalam kelasnya Embun" Luke berjalan mendahului Rendy.


Rendy tersentak kaget dan segera berlari kecil menyusul tuan mudanya untuk bertanya, "Dosen apa, Tuan? Kenapa Anda mendadak jadi dosen di sini? Dan kenapa saya mendadak bukan Dangdut, menjadi asisten dosen di sini?"


Luke berucap tanpa menghentikan langkahnya, "Aku mengajar peleburan kata Bahasa Indonesia di Bahasa asing khususnya Bahasa Italia"


"Kenapa Anda tiba-tiba ingin mengajar di kelasnya Nyonya muda, Tuan?"


"Karena, aku ingin mencarikan teman yang banyak untuk Embun" Sahut Luke dengan santainya.


"Apa hubungannya mencarikan teman dan mengajar di sini, Tuan?" Rendy mensejajari langkah tuan mudanya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kau akan tahu nanti" Luke mengentikan langkahnya di depan pintu kelas untuk berkata, "Aku sudah suruh Reyhan memasang alat pengajar di depan dan tugasmu duduk di depan laptop dan menggerakkan Mouse, ya?!"


"Baik, Tuan"


Luke mengangguk senang, lalu ia membuka pintu dan melangkah masuk ke kelasnya Embun.


Seisi kelas sontak memekik kaget dan langsung berteriak histeris saat mereka melihat dosen baru yang akan mengajar di kelas mereka, sangat tampan dan memiliki postur tubuh yang sangat ideal.


Embun sontak mengangkat kedua alisnya ke atas dan menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan kedua telapak tangannya saat ia melihat suaminya yang di beberapa menit yang lalu menciumnya dengan penuh gairah, kini berdiri tegap di depan kelas.


Alex Norman mematut diri di depan cermin.



Alice Norman masuk ke kamar Kakak laki-laki tersayangnya sambil meledek, "Wah! Si rambut gondrong yang suka malas sisiran kenapa tiba-tiba senewen di depan cermin? Kakak naksir cewek, ya, saat ini?"


Alex meneruskan mengucir kuda rambut gondrongnya sembari menganggukkan kepala.


"Wah! Beneran naksir cewek? Cewek mana? Cewek Jepang, Korea, Hongkong, Thailand, apa cewek Indonesia?"


"Cewek Indonesia, dong. Aku kan cinta produk lokal" Alex berucap sembari mengacak-acak rambut di pucuk kepalanya Alice.


Alice menepis tangan Alex dengan wajah kesal dan berkata, "jangan acak-acak rambutku! Ah! Jadi kusut lagi, nih, rambutku"


"Bodo amat" Alex menjulurkan lidahnya.


"Eh! Kakak mau ke mana?"


"Meninjau lokasi pemotretan dan syuting parfum Pure Heart sama Papa. Kau mau ikut?"


"Nggak! Aku masih malas ketemu sama Luke Donovan"


"Hahahahaha. Dia ternyata masih suka membuat sebal para kaum Hawa, ya? Oke! Aku tinggal dulu. Baik-baik jaga rumah!" Alex melambaikan tangannya ke adik perempuan satu-satunya.


Pesona Luke membuat semua mahasiswi di Kelasnya Embun tidak bisa berkonsentrasi penuh mengikuti mata kuliah yang Luke ajarkan di hari itu. Namun, Luke tidak menyadari hal itu. Dia tetap fokus mengajar dan tatapannya terus tertuju ke Embun.


Luke menutup mata kuliah yang ia bawakan di hari itu dengan memberikan tugas, "Terjemahkan novel pendek berbahasa Italia yang berjudul Roma Tales dan buat skenario pendeknya! Untuk proyek ini, saya akan bentuk menjadi lima kelompok. Saya lihat ada dua puluh lima mahasiswi di sini, jadi tiap kelompok harus diisi lima orang. Tugas dikumpulkan Bulan depan"


"Apa Anda akan hadir lagi di kelas ini, besok Mister Luke Donovan?" Seorang mahasiswi bertanya ke Luke.


"Tidak" Luke menjawab pertanyaan mahasiswi itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Embun.


"Lho, kok tidak? Lalu, kalau kami butuh tanya-tanya, kamu harus menemui siapa terkait proyek yang Anda berikan ini, Mister Luke?"


"Saya hanya bisa hadir di kelas ini dua Minggu lagi. Dan saya harap, kalian benar-benar solid di kelompok kalian dan bisa bekerja sama dengan baik dan berteman dengan baik dengan orang-orang di kelompok kalian. Sampai jumpa dua mInggu lagi" Luke kemudian bergegas berlari keluar dari kelasnya Embun saat Rendy berbisik ada tamu penting menunggunya di kantor.


Beberapa mahasiswi yang ingin berkenalan dengan Luke Donovan, dosen baru mereka harus menelan kekecewaan karena dosen baru nan tampan itu, sudah menghilang dari depan kelas mereka.


Embun menatap arah pergi suaminya dengan senyum hangat dan diiringi desir hangat di hatinya dia bergumam di dalam hatinya, Terima kasih, Mas. Berkat Mas, mendadak aku punya lima orang teman yang mau tersenyum ramah ke aku dan mau ngobrol denganku. Yeeeaahhh walaupun obrolannya seputar proyek yang Mas berikan, tapi ini sungguh berarti buatku.

__ADS_1


__ADS_2