
Beberapa menit berikutnya, Luke dan Embun pamit secara bersamaan, "Ma, kami pamit"
Luke kemudian menggandeng Embun masuk kembali ke dalam mobil.
Pria tampan itu meminta Rendy yang menyetir mobilnya, karena Rendy yang mengetahui lokasi restoran yang akan menjadi tempat istimewa bagi Luke Donovan untuk menyatakan cinta yang pertama kalinya kepada seorang wanita.
Beberapa menit kemudian, Rendy memarkirkan mobil Luke di sebuah pelataran parkir yang sangat luas di sebuah restoran berkonsep barat dan Luke langsung menyukai restoran itu. Restoran tersebut memiliki aura keromantisan yang sangat kental.
Luke mengayunkan tangannya memangil Mona.
Luke mencium pucuk kepalanya Embun, lalu berkata ke Mona, "Ajak Istriku masuk ke dalam dulu! Aku ingin membahas sesuatu dulu sama Rendy. Nomer mejanya nomer berapa?" Luke menoleh ke Rendy.
"Ah! Nomer 8. Itu adalah nomer kesukaan Tuan Luke dan nomer itu adalah nomer keberuntungan" Rendy tersenyum lebar ke Embun dan Mona.
"Baiklah. Kami permisi" Sahut Mona.
Setelah Mona dan Embun masuk ke dalam restoran, Luke langsung menoleh tajam ke Rendy, "Bagaimana penampilanku?"
"Anda tampan dan keren seperti biasanya"
"Aku tahu kalau aku ini tampan.Tapi, kali ini aku pakai warna hijau. Aku khusus beli kaos berwarna hijau saat aku tahu dari Ibunya Embun kalau Embun sangat menyukai warna hijau. Kamu tahu, kan, aku nggak pernah pakai warna hijau. Apa aku pantas pakai warna hijau? Apa aku ganti aja, ya?"
"Ah! Iya benar. Kenapa saya nggak ngeh. Anda, kan, nggak suka warna hijau. Tapi, Anda tampak sangat tampan dan keren banget pakai warna hijau. Nggak usah ganti, Tuan. Oke, kok!" Rendy mengacungkan ibu jarinya ke Luke dengan senyum cerah.
Luke menunduk untuk melihat kaos bermerk yang ia pakai sembari berkata, "Aku nggak suka warna hijau karena aku pernah diculik dan berputar-putar di dalam hutan bersama seorang gadis cilik. Sejak itulah aku benci warna hijau. Kalau lihat warna hijau entah kenapa aku tiba-tiba merasa pusing dan sedikit mual"
"Lalu kenapa Anda memaksa diri memakai warna hijau, Tuan? Anda baik-baik saja, kan, saat ini? Nggak pusing dan mual?"
Luke mengangkat wajahnya untuk berkata, "Nggak. Aku baik-baik saja. Nggak pusing dan nggak mual. Mungkin karena ini warna kesukaannya Embun. Jadi, aku merasa baik-baik saja. Aku nggak keberatan memakai warna hijau, warna kesukaannya"
Rendy tersenyum lebar di depan tuan mudanya sambil berkata di dalam hati, Anda sudah benar-benar jatuh cinta pada Nyonya Embun, Tuan. Saya ikut bahagia.
"Ada belek nggak di mataku?"
"Nggak ada, Tuan"
"Kaosnya enaknya gimana, nih, aku masukkan kayak gini atau aku keluarkan saja?"
"Nyonya komentar nggak soal penampilan Anda yang kayak gini?"
Luke menggeleng.
"Kalau gitu jangan diubah! Biarkan seperti itu"
"Lalu, apa konsep kamu?"
"Nanti, kalau Tuan menggaruk kepala, pemain biola akan mendekat ke meja Anda dan memainkan lagu romantis. Saat itulah saat yang tepat bagi Tuan untuk berjongkok dan langsung berikan kalung yang sudah Anda siapkan dan nyatakan cinta Anda saat itu juga, Tuan"
"Begitu saja?"
"Iya" Rendy mengangguk dengan wajah serius.
"Simple banget"
"Lagian kenapa Anda segugup ini, Tuan? Apa Anda tidak pernah nembak Non Chika dulu?"
"Chika yang nembak aku. Karena dia cantik, seksi, dan dia bisa nempel terus sama aku, maka aku terima"
"Anda tidak segugup ini waktu itu?"
Luke menggeleng.
"Jadi, Anda baru pertama kali ini merasa gugup seperti ini perkara mau nembak seorang cewek?"
Luke mengangguk.
"Wah! Saya ikutan nervous, nih, Tuan. Tapi, saya lihat kalau Nyonya muda juga peduli sama Anda. Saya yakin tembakan Anda nggak akan meleset"
"Kau yakin kalau Embun akan menerima cintaku?"
"Saya yakin, Tuan. Sekarang cepat masuk. Kasihan Nyonya muda kalau menunggu terlalu lama"
"Oke. Aku masuk. Doakan aku berhasil, ya"
"Good luck, Tuan" Teriak Rendy sembari mengacungkan ibu jarinya.
Luke akhirnya duduk di meja yang sudah dipesan khusus oleh Rendy untuk tuan mudanya.
__ADS_1
Luke nampak canggung duduk di depan Embun dan untuk mengusir rasa canggungnya, Luke bertanya, "Apa kamu lihat ada yang berubah di diriku saat ini?" Luke memegang kerah kaos bermerk-nya dengan kedua tangan sambil tersenyum lebar.
Embun menatap dalam wajah pria berparas sangat tampan itu dengan sangat dalam. Kemudian, ia mengarahkan pandangannya ke rambut hingga kancing ketiga kaos berkerah yang Luke kenakan di petang itu sambil bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa Mas Luke nanya gitu, ya? Celaka! Aku nggak tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Gimana, nih? Aku lihat, sih, nggak ada yang berubah di diri Mas Luke. Dia tetap tampan seperti biasanya, tapi kenapa dia nanya begitu? Aku harus jawab apa? Lagian kenapa nanya gitu sekarang ini? Kenapa nggak nanya pas kita masih ada di rumah?
Luke berdeham untuk mengusir kegelisahannya sambil berkata di dalam hatinya, sial! Apa aku menanyakan pertanyaan yang sulit? Pertanyaanku biasa aja, tapi Kenapa dia malah diam begitu? Lama betul dia berpikir? Apa aku tampak aneh pakai kaos ini? Tanpa Luke sadari ia menyisir kasar rambutnya untuk mengusir aliran halus keringatnya yang mulai menjalar di pucuk kepalanya.
Pemain biola langsung datang mendekat dan memainkan lagu, akhirnya ku menemukanmu.
Embun tampak kebingungan saat ia melihat tiba-tiba ada seorang pemain biola mendekat ke meja.
Luke sontak menoleh tajam ke pemain biola itu dan mengusirnya sambil berbisik, "Belum saatnya"
Pemain biola itu langsung menghentikan permainan biolanya dan kembali ke tempatnya.
"Mas berbisik apa ke pemain biola tadi?"
Luke hanya menggelengkan kepala dan langsung menyesap gelas berisi air mineral murni untuk membasahi kerongkongannya yang seketika itu terasa sangat kering. Sewaktu ia meletakkan kembali gelas berisi air mineral murni itu di atas meja, ia berkata, "Lupakan saja pertanyaanku tadi. Nggak penting juga" Luke menatap gelas sambil memainkan jari telunjuk di bibir gelas itu.
Melihat suaminya tampak kecewa karena ia belum juga menjawab pertanyaan sederhana dari suaminya, tapi sulit baginya untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat, Embun seketika itu merasa nggak enak hati dan untuk itulah ia langsung berkata, "Nggak ada, Mas. Nggak ada yang berubah. Karena Mas pakai apapun, tetap terlihat sangat tampan" Embun kemudian tersenyum lebar.
Semoga dia puas dengan jawabanku. Batin Embun.
Luke tersentak kaget mendengar jawabannya Embun. Pria tampan itu langsung mengarahkan pandangannya ke Embun untuk bertanya, "Apa kau sungguh-sungguh berkata seperti itu?"
Embun melebarkan senyumannya dan menganggukan kepala dengan cepat.
Luke langsung tersenyum lebar dan tanpa ia sadari ia kembali menyugar kasar rambutnya.
Pemain biola Kembali mendekati mejanya sembari memainkan lagu, akhirnya ku menemukanmu.
Luke menoleh tajam ke pemain biola itu dan sambil mendelik kesal ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pemain biola itu seketika menghentikan permainannya dan kembali lagi ke tempatnya dengan wajah yang sedikit kesal.
Embun mengikuti arah perginya pemain biola itu, lalu kembali menatap Luke untuk bertanya, "Kenapa pemain biola itu selalu datang ke meja kita? Apa karena kita nggak kasih dia uang? Aku baru tahu kalau ternyata di restoran semewah ini ada tukang ngamen juga. Apa kita harus kasih uang ke dia?"
Luke sontak tertawa canggung, "Hahahahahaha, Uhuk-uhuk! Dia bukan pengamen dan jangan kasih dia uang!"" Lalu, Luke segera mengeluarkan kata-kata untuk menutupi rasa canggungnya, "Aku pakai apapun kamu menyukainya? Aku tidak terlihat berbeda malam ini, karena kamu selalu menyukai aku apa adanya, benar begitu?" Luke menatap Embun dengan wajah semringah.
Aku nggak paham lagi maksud ucapannya kali ini. Tapi, aku senyum dan mengangguk saja lah. Batin Embun.
"Syukurlah. Aku lega sekarang. Dari tadi aku tegang. Aku pikir aku tidak akan tampak oke di depan kamu karena memakai warna hijau"
"Kenapa begitu?"
"Aku nggak pernah pakai warna hijau. Sejak aku diculik dan ditemukan pingsan di pinggir jalan besar di antara pohon jati yang sangat besar, aku benci warna hijau"
"Lalu, kenapa Mas memakai warna hijau?"
"Karena ini warna kesukaan kamu. Apapun yang kamu sukai, aku juga akan menyukainya"
Hati Embun seketika itu berdesir hangat.
Ketika wanita berwajah tirus dan imut itu mengulas senyum bahagia. Luke kembali berdeham karena, seringkali kehadiran Embun dan senyuman yang terlukis di wajah Embun, menciptakan degupan kencang di jantungnya, rasa ngilu di dadanya atau banyak kupu-kupu menggelitik di perutnya sehingga otaknya berhenti bekerja. Alhasil, pria tampan itu semakin menunjukkan sikap canggung, menjadi diam membisu dan menggerakkan kembali tangannya untuk menyugar rambutnya.
Pemain biola menghela napas panjang dan kembali memainkan biolanya mendekat ke mejanya Luke.
Embun kembali kebingungan.
Luke akhirnya menghela napas panjang dan memutuskan untuk mengeluarkan kotak berisi kalung berlian milik almarhum mamanya, karena ia merasa nggak enak hati jika harus mengusir pemain biola itu untuk yang ketiga kalinya.
Melihat Embun masih memperhatikan pemain biola itu, Luke memanggil Embun, "Mbun"
Embun menoleh ke suaminya dan bertanya, "Ada apa Mas?"
"Aku ingin..........."
"Melamarmu! Dengan cincin berlian ini, aku ingin melamarmu!!!!" Seseorang dari meja seberang tiba-tiba berteriak sangat kencang.
Luke dan Embun terkejut setengah mati dan sontak mengarahkan pandangan mereka secara bersamaan ke meja seberang.
Pria yang ada di meja seberang, menoleh ke Luke dan berteriak dari tempat ia berjongkok, "Melamar seseorang itu harus pakai cincin berlian kayak gini! Langsung diterima, kan?!" Pria itu kemudian bangkit berdiri untuk mengajak kekasihnya berciuman.
Embun menutup mulutnya yang ternganga sambil berkata, "Ah! Mereka sweet banget!"
Luke langsung memasukkan kembali kotak berisi kalung berlian ke dalam saku jasnya. Dan berkata di dalam hatinya, sombong banget pria itu. Sial! Kenapa aku nggak bawa cincin? Kenapa malah bawa kalung? Emang iya, ya, kalau nembak cewek itu harus pakai cincin?
Embun menoleh ke suaminya untuk bertanya, "Mas, mau ngomong apa tadi?"
__ADS_1
Luke menghirup napas dalam-dalam untuk kembali berkata, "Aku ingin......."
"Ah!!!!!!! Terima kasih udah mau menerimaku!!!!"
Luke dan Embun tersentak kaget dan spontan menoleh ke meja yang berada di sisi kanan meja mereka. Luke dan Embun melihat seorang wanita berdiri malu-malu di depan seorang pria. Wanita bertubuh sedikit tambun itu memeluk buket bunga mawar merah yang cukup besar dengan wajah semringah.
"Wah! Mereka juga sweet banget. Bunganya cantik banget kayak cewek itu" Embun berucap dengan senyum ceria dan mata berpijar senang.
Luke mengumpat di dalam hatinya, sial! Kenapa aku lupa bawa bunga?
Embun kemudian menoleh kembali ke suaminya untuk berkata, "Mas mau ngomong apa tadi?"
Luke meraup wajah tampannya dan dengan masih diiringi alunan musik biola, Luke berkata, "Aku ingin ........."
Kriiinggggg!!!!!! Ponsel Embun tiba-tiba berbunyi cukup nyaring.
Embun menatap suaminya dan bertanya, "Aku terima dulu teleponnya, boleh? Ini dari Nenek Maria"
Luke hanya bisa mengangguk lemas. Pria tampan itu hampir saja berteriak kencang sekencang-kencangnya karena frustasi. Niatnya untuk menyatakan cinta tidak semulus bayangannya. Eksekusi di lapangan ternyata mengalami banyak gangguan dan rintangan yang benar-benar membuatnya stres.
Embun tiba-tiba bangkit berdiri dengan wajah panik.
Luke bangkit berdiri sambil menyuruh pemain biola untuk pergi dan langsung bertanya, "Ada apa?"
"Ibu masuk rumah sakit, Mas"
"Apa kata Nenek?"
"Nenek nggak menjelaskan apa-apa. Nenek cuma bilang kalau Ibu masuk rumah sakit"
"Ya, sudah kita ke sana"
"Tapi, Mas belum makan dan Mas pengen ngomong sesuatu, kan tadi? Mas mau ngomong apa tadi?"
"Biar makanannya dibawa sama Rendy ke rumah sakit. Soal apa yang akan aku omongkan tadi, masih bisa aku omongkan besok-besok lagi. Kita ke rumah sakit sekarang"
Dan gagal lah rencana yang sudah Rendy siapkan matang-matang. Semua akhirnya bergegas menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Embun tertegun melihat ibunya telah terbaring lemas tak sadarkan diri di ruang ICU. Embun hanya diijinkan menatap ibunya dari balik kaca transparan.
Luke terus memeluk bahu Embun yang bergetar karena tangisan.
"Dokter pengen ketemu sama kamu" Sahut Maria sambil mengusap air mata di pipi Embun.
"Aku akan menemanimu" Sahut Luke.
Embun dan Luke duduk di depan meja dokter yang menangani ibunya Embun.
Dokter tersebut berkata dengan wajah prihatin, "Jantung Ibu Anda terkena kanker stadium akhir"
"Tidak, tidak, tidak, tidak" Embun terus menggumamkan kata itu sembari terus menggelengkan kepala dan tangisannya semakin kencang.
Luke langsung memeluk erat istrinya dan dia menoleh ke dokter tersebut, "Apa tidak bisa diupayakan kesembuhannya? Kita harus melakukan apa agar Ibu mertuaku sembuh, Dok?"
"Ada sistem pengobatan baru. Namun, itu sangat mahal. Biayanya mencapai seratus juta rupiah untuk satu Minggu pengobatan. Tapi, belum bisa kita jamin kesembuhannya setelah kita lakukan pengobatan baru itu. Cuma banyak juga yang terbebas dari kanker setelah menjalani pengobatan ini"
"Berapa peluangnya?"
"Fifty-Fifty" Sahut dokter tersebut.
"Mbun, gimana? Apa kamu setuju kalau Ibu kamu menjalani pengobatan itu?" Luke menangkup wajah Embun dan menatap Embun dengan penuh cinta.
Embun menoleh ke dokter yang menangani ibunya, "Saya mau. Tapi, biayanya sangat mahal. Saya nggak punya uang sebanyak itu, Dok"
Luke yang masih menangkup wajah Embun, mengarahkan wajah istrinya dengan pelan ke arahnya sembari berkata, "Aku ini suami kamu. Aku akan biayai semuanya. Sekarang tinggal persetujuan dari kamu"
Embun menatap ragu dan kembali bergumam, "Tapi, itu uang yang sangat banyak"
Luke mencium kening Embun dan berkata di sana, "Aku akan tanggung semuanya. Aku ini suami kamu"
"Baiklah" Sahut Embun dengan nada lemas.
Luke kemudian memeluk erat Embun dan sambil mengelus punggung istrinya ia berkata, "Ada aku di sini. Jangan khawatirkan apapun! Aku akan terus menemani dan mendukung kamu sampai Ibu kamu sembuh"
Embun memeluk erat tubuh kekar suaminya dan menangis sesenggukkan di sana. Embun bertekad di dalam hatinya untuk mencari uang sendiri. Karena, ia berpikir yang sakit adalah ibunya, jadi biaya rumah sakit dia juga yang harus menanggungnya sendiri. Dia tidak ingin merepotkan suaminya.
Aku nggak mau merepotkan Mas Luke. Tapi, bagaimana caranya aku cari uang sebanyak itu? Batin Embun.
__ADS_1