Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Hampir


__ADS_3

"Kabar ibu mertuaku gimana?" Luke bertanya ke Theo, sahabatnya yang menjadi dokter dan masuk ke dalam tim dokter yang menangani penyakit kanker yang bersarang di jantung Ibunya Embun.


Theo menjawab, "Ada perkembangan bagus. Yeeaahhh, walaupun tidak besar perubahannya"


"Perubahan apa?" Luke bertanya sembari memajukan tubuhnya ke depan.


Rendy yang tengah menyetir sontak menoleh ke samping kirinya, karena kaget.


"Ibu Lastri, Ibu mertua kamu, sudah bisa makan bubur tawar sebanyak lima sendok tanpa mual dan muntah" Sahut Theo.


"Syukurlah. Tolong jaga beliau dengan baik. Aku akan ke sana dengan Istriku setelah jam makan siang"


"Tentu saja tanpa kamu perintah, aku akan ajak dengan baik pasienku. Jangan khawatir!"


"Thank you" Dan klik. Luke mematikan begitu saja telepon genggamnya.


Rendy bertanya tanpa menoleh, "Ada apa Tuan?"


"Ibu mertuaku sudah bisa makan"


"Syukurlah. Saya ikut senang, Tuan" Sahut Rendy.


Luke mengirim pesan text ke telepon genggamnya Embun dan Embun langsung membuka dan membaca pesan text itu dengan bergumam lirih, "Ibu sudah bisa makan tanpa mual dan muntah. Semoga kamu cocok dengan teman-teman kamu. Belajar yang rajin. Aku tunggu di kantor pas jam makan siang"


"Dari siapa?"


Embun terkejut dan sontak menoleh ke temannya, lalu ia mengulas senyum dan berkata, "Dari seseorang yang sangat penting bagiku, hehehehe"


"Wah! kamu sudah punya pacar, ya?"


Embun hanya mengulas senyum lebar dan berkata di dalam hatinya, ah! aku ingin sekali mengatakan kalau aku dapat pesan text dari suamiku. Tapi, mereka pasti akan melontarkan banyak pertanyaan dengan pandangan aneh dan aku malas untuk meladeni pertanyaan apapun saat ini. Aku sangat lelah saat ini.


"Mister Luke Donovan cakep banget, ya?" Ucap Mira, nama salah satu teman di kelompoknya Embun.


"Iya, benar. Aku senang dapat Vitamin A pagi ini. Udara di kelas langsung berasa sejuk" Sahut teman satu kelompoknya Embun yang bernama Niken.


"Dia cucu dari pemilik kampus ini. Neneknya aja sangat cantik, kabarnya Mamanya adalah wanita tercantik di kampus ini, dulu. Pantes aja kalau Mister Luke Donovan sangat tampan" Ucap teman Embun yang satunya lagi yang bernama Ratih.


Embun yang tengah membaca novel pendek bertajuk, Roman Tales, semakin menundukkan wajahnya dan berkata di dalam hatinya, kenapa para cewek ini malah membahas Mas Luke?


"Kabarnya dia belum punya Istri. Tapi, dia punya kekasih. Kekasihnya seorang model dan penari balet dan kekasihnya Mister Luke itu sangat cantik" Teman satu kelompoknya Embun yang bernama Rosa tidak mau kalah untuk ikut berkomentar tentang pesonanya Luke Donovan.


"Tapi, kabarnya model dan penari balet itu kini ada di luar negeri. Dan kabarnya lagi, Mister Luke Donovan itu playboy. Bayangkan aja orang setampan Mister Luke ditinggal pergi ke luar negeri untuk waktu yang sangat lama, apa yang akan terjadi Guys?" Sahut Ratih.


"Selingkuh!" Sahut Niken, Mira, dan Rosa secara bersamaan.


"Aku akan mencoba menggodanya. Selama janur belum melengkung, Mister Luke masih bisa diperebutkan" Sahut Ratih.


"Aku juga mau mencoba menggodanya" Sahut Mira.


Teman Embun yang bernama Niken langsung tersenyum lebar dan berkata, "Oke. Deal! Kita akan mencoba menggodanya. Tapi, harus fair lho, nggak boleh saling tikung dan.............."


Bruukkkkk! Tanpa Embun sadari, dia menjatuhkan buku novel dan buku kamus yang tengah ia baca ke lantai perpustakaan.


Niken tersentak kaget dan langsung membantu Embun mengambilkan buku novel dan buku kamus tersebut sembari bertanya, "Kenapa kamu nggak berkomentar sama sekali tentang Mister Luke?"


Embun hanya tersenyum canggung, menggeleng dan kembali membuka halaman buku novel bertajuk, Roman Tales, yang tadi ia baca.


Ratih menyentuh bahu Embun dan berkata, "Kamu jangan sepolos ini. Kalau kamu juga mau menggoda Mister Luke, kami nggak keberatan, kok. Kami justru akan membantu kamu. Mister Luke belum menikah, jadi nggak ada salahnya kalau kita berharap mendapatkannya, kan?"


"Setuju!" Sahut Mira.


Embun sontak tersedak air liurnya sendiri dan terbatuk-batuk dan hanya bisa berdeham dan tersenyum canggung dengan menyimpan kata di hati, hei! Dia sudah menikah dan aku adalah Istrinya. Jangan goda Suamiku!

__ADS_1


Embun ingin meneriakkan semua kata di hatinya itu, namun dia tidak punya bukti dan dia baru saja berteman dengan Ratih, Niken, Mira, dan Rosa, para cewek terpopuler di kampus Bina Bangsa. Embun tidak ingin dicap aneh dan dijauhi teman-teman barunya itu, jika ia berteriak, aku adalah istrinya Luke Donovan tanpa bukti.


Embun merasa hatinya seperti ditimpa sebongkah batu dan terasa sesak saat ia mendengar secara terus menerus, teman-teman satu kelompoknya tidak ada hentinya membicarakan pesona dari suaminya. Akhirnya Embun memilih memasang headset dan meneruskan tulisannya di atas kertas putih bergaris-garis hitam dengan cemberut dan hati dongkol.


Luke beberapa kali menatap layar ponselnya sembari melangkah masuk ke dalam lift.


Rendy melirik tingkah bosnya dan memberanikan diri untuk bertanya, "Anda menunggu kabar dari siapa, Tuan? Kok liatin layar ponsel terus?"


"Embun. Dia, kok nggak balas pesan text dariku. Padahal udah dia baca pesan textnya" Sahut Luke dengan masih menatap dalam layar ponselnya yang gelap


"Nyonya muda pasti sedang sibuk saat ini dan tengah asyik mengerjakan tugas dari Anda tadi bersama dengan teman-teman barunya"


"Ah! Iya, kamu benar. Dia pasti lagi asyik bersendau gurau dengan teman-teman barunya" Luke berucap sembari memasukkan telepon genggam super .ajalnya ke dalam saku jasnya.


Ting! Pintu lift terbuka. Luke melangkah keluar dan Rendy sontak mengekor tuan mudanya sambil berkata, "Mister James Border jauh-jauh datang dari Inggris dan langsung ke sini, lho Tuan. Dia ingin bertemu secara langsung dengan Tuan"


Luke menghentikan langkahnya dan menoleh ke Rendy untuk berkata, "Kalau gitu, aku tunggu beliau di ruanganku saja. Sekalian minta sekeretaris kita untuk menyiapkan camilan dan kopi"


"Baik, Tuan"


Dia setengah jam kemudian, suara Luke menggelegar di ruangannya, "Terima kasih Anda akhirnya bersedia menandatangani kontrak kerja sama kita ini Mister James Border" Luke berkata sembari menjabat tangan pria gagah berumur empat puluh tahunan itu


Pria yang dipanggil James Border itu, tersenyum lebar dan berkata dengan masih menggoyang tangannya Luke, "Sama-sama. Saya yang justru merasa tersanjung bisa bertemu secara langsung dengan Anda, Mister Luke Donovan"


Luke menarik tangannya dan berkata dengan senyum ceria, "Semoga setelah proyek ini selesai, kita bisa meneruskan kerja sama kita ini, Mister James.


"Siap. Saya senang bisa bekerja sama dengan pria muda dan cerdas seperti Anda ,Mister Luke Donovan. Saya memiliki seorang Putri. Dia masih berumur dua puluh tiga tahun, cerdas dan cantik. Kalau Anda berkenan, kita bisa makan malam dan saya akan kenalkan Anda dengan Putri saya yang ........."


"Maaf, saya tidak boleh berkenalan dengan seorang gadis"


"Kenapa tidak boleh?"


Luke memamerkan cincin pernikahannya sambil berkata, "Saya sudah menikah dan Istri saya sudah hamil"


"Tidak apa-apa. Anda tidak mengetahuinya. Jadi, tidak apa-apa"


"Saya ikut bahagia dengan pernikahan Anda dan kehamilan Istri Anda, Tuan Luke"


"Terima kasih. Saya sangat mencintai Istri saya dan anak saya yang ada di dalam kandungannya. Istri saya itu, unik. Dia mungil, tinggi badannya hanya seratus enam puluh lima centil, tapi itu justru menjadi kelebihannya. Dia awet imut dan menggemaskan. Sedangkan Anak saya adalah anak yang manis. Anak saya tidak doyan makan kalau tidak makan bersama dengan saya. Manis banget, kan, Istri dan anak saya, itu?"


Pria yang bernama James itu tersenyum canggung dengan mengangguk-angguk.


Rendy berdeham lalu membungkuk untuk berbsisik, "Tuan, jangan berlebihan memuji Istri dan Anak Nada. Tuan James merasa canggung, tuh"


Luke sontak menoleh ke Rendy dan melotot kesal. Lalu, ia menoleh ke pria yang bernama James untuk bertanya, "Apa Anda merasa canggung saat saya menceritakan tentang Istri dan Anak saya?"


Pria yang bernama James memperlebar senyumannya dan berkata, "Tentu saja tidak. Saya justru emang melihat Anda sangat mencintai Istri Anda"


Luke menoleh ke Rendy, "Tuh, nggak papa kok. Beliau nggak canggung juga"


Rendy sontak menatap Mister James Border dan tersenyum malu sambil berkata di dalam hatinya, ya tentu saja kalau ditanya langsung kayak tadi, beliau jawabnya nggak-nggak aja, Tuan. Iiihhh!!!! Lama-lama pengen Gue jitak juga nih kepalanya Tuan Luke Donovan yang terhormat.


Mister James Border langsung mengulum bibir menahan geli saat ia melihat ekspresi aneh di wajah asisten pribadinya Luke Donovan itu.


Pintu lift terbuka dan Embun keluar dari dalam lift bersama dengan Mona.


Luke sontak bangkit berdiri dan dengan wajah semringah ia berkata, "Dia Istri saya" Luke kemudian melangkah lebar untuk memeluk Embun.


Dan James Border langsung bangkit berdiri, melangkah mendekati Luke dan Embun untuk berucap, "Wah, ternyata benar kata Anda. Istri Anda sangat mungil dan sangat cantik. Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya Luke Donovan"


"Nama saya Embun Sanjaya dan saya senang berkenalan dengan Anda" Sahut Embun dengan senyum ramah dan anggukkan kepala.


"Wow! Istri Anda sangat ramah dan sopan" Ucap James Border seraya menoleh ke Luke Donovan.

__ADS_1


Embun tersipu malu dan Luke tersenyum lebar. Setelah presdir muda itu mendaratkan kecupan di kening Embun, dia mengajak James Border, Mona dan Rendy untuk makan siang bersama.


James Border terus menatap Luke dan istrinya dengan senyum senang saat ia melihat Luke menyuapi istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang sampai-sampai Embun merona malu, menunduk dan berkata, "Mas, aku bisa makan sendiri"


Luke menoleh ke kliennya untuk berkata, "Istri saya akan mual dan muntah kalau tidak saya suapi"


"Ah! Iya. Teruskan saja nggak usah sungkan" Sahut James Border dengan senyum tulus.


Satu setengah jam kemudian, James Border pamit dan Rendy bergegas mengantarkan James Border ke lantai paling bawah.


Tinggallah Luke dan Embun berdua di ruang kerja Luke Donovan. Cucu kesayangan Maria Donova itu, menggeser duduknya untuk bisa menempelkan bahu kirinya dengan bahu kanannya Embun, lalu mencubit dagu Embun untuk bertanya, "Kenapa kau tidak balas pesan text dariku?"


"Mas, Aku sangat berterima kasih Mas udah carikan teman untuk aku Aku menyukainya dan itu sangat berarti bagiku Tapi, kalau bisa jangan ke kelasku lagi, ya, Mas?!"


Luke mengusap pipi Embun sambil bertanya lembut, "Kenapa tidak boleh?"


"Semua kaum hawa di kelasku mengagumi kamu dan hampir semuanya ingin menggoda kamu. Karena mereka tahunya, kamu masih single dan punya pacar seorang penari balet dan model yang sangat cantik yang sekarang ada di luar negeri. Mengetahui pacar kamu di luar negeri, hampir semua mahasiswi yang ada di kelasku tadi, ingin mencoba menggoda kamu dan........."


"Buahahahahaha, apa kamu sedang cemburu saat ini?" Luke mencium kening Embun lalu menatap wajah Embun dengan senyum geli.


Embun diam membisu. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya karena ia belum mengerti apa itu cemburu


"Kok diam? Jadi, kamu nggak balas pesan text dariku karena alasan itu? Kamu cemburu?" Luke kembali mengulum bibir menahan geli.


Embun menghela napas panjang lalu berkata, "Aku tidak tahu apa itu cemburu, Mas. Tapi, pas dengar hampir semua mahasiswi di kelasku tadi berkata ingin mencoba menggoda Mas, hatiku terasa seperti ditimpa batu dan........"


"Itu namanya cemburu, Mbun. Aku senang akhirnya kamu bisa cemburu. Kau tahu? Aku sangat senang saat ini"


Embun menatap suaminya dengan rona merah di wajah.


Presdir muda nan tampan itu langsung berkata, "Kau tahu, kau selalu tampak sangat menggemaskan pas merona malu seperti itu" Luke Kemudian merangkul bahu istri mungilnya. Pria tampan idola para kaum Hawa itu, mengangkat tangan untuk mengelus elus rambut Embun. Lalu, kepalanya menunduk untuk mencium pucuk kepalanya Embun, lalu kening Embun. Di saat Embun menoleh dan mendongak untuk memandang wajah tampan suaminya, Luke tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia mengatakan bibirnya ke kedua mata Embun, lalu menyusurkan hidungnya di atas hidung Embun, kemudian beralih ke kedua pipi Embun. Tidak lama kemudian, bibirnya mendarat di bibir ranum istri mungilnya itu.


Luke memagut bibir Embun dengan penuh gairah, tidak selembut biasanya sampai Embun menarik diri sejenak untuk mengambil napas. Embun tanpa ia sadari, merangkul leher suaminya dengan kedua lengan sambil memejamkan matanya dan membuka sedikit bibirnya.


Luke tersenyum penuh arti sambil menatap Lila sebentar. Lalu, pria berparas sangat tampan itu, menarik tengkuk istri mungilnya dan kembali memagut bibir ranum Embun dengan sedikit lebih liar dari biasanya.


Luke mencoba berekspresi dengan memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir Embun dengan hati-hati dan lembut. Di saat Embun membuka bibirnya, pria tampan itu langsung memasukkan lidahnya dan lidah itu menari nari bebas menjelajahi mulut Lila. Hingga tanpa mereka sadari, mereka akhirnya saling memagut penuh gairah.


Pelan pelan Luke merebahkan tubuh Embun di sofa. Pria itu, menarik lepas ciumannya dan duduk di tepi sofa untuk menatap dalam wajah Embun. Kedua tangan Embun masih merangkul leher Luke dan Embun masih memejamkan matanya.


Luke tersenyum penuh cinta kemudian pria tampan itu kembali mencium kedua kelopak mata Embun kembali, lalu kedua telinga Embun. Kemudian pria berparas tampan itu, membisikkan kata kangen sambil terus menciumi telinga Embun, membuat Embun sontak membelai kepala suami tampannya sambil memekik lirih, melenguh dan beberapa kali menghela napas panjang.


Jantung keduanya saling berpacu dengan sangat cepat dan hati keduanya berdesir hangat.


Luke kemudian kembali mencium bibir Embun. Mereguk kembali bibir semanis madu itu dengan tangan mulai menyelinap masuk ke dalam kaos merah muda berkerah yang dipakai Embun siang itu untuk pergi ke kampus. Luke mulai bermain main di atas pakaian dalamnya Embun, lalu membelai dan meremas dada istri mungilnya pelan pelan, sambil terus mengajak lidah Embun berdansa.


Tiba-tiba terdengar bunyi, tok, tok, tok, berulangkali dan cukup keras bunyinya.


"Mas" Embun mendorong dada bidang suami tampannya dengan pelan dan menatap Luke dengan kabut gairah di kedua bola matanya.


Luke langsung menarik tangannya keluar dari dalam kaosnya Embun sembari mengumpat kesal, "Sial! Aku hampir saja kehilangan kendali. Maafkan aku, Mbun"" ucap Luke sembari bangkit berdiri untuk merapikan kaos dan rambutnya Embun. Setelah ia mengecup kening Embun, dia merapikan sendiri kemejanya sambil berteriak, "Masuk!"


Embun sontak bangun dan duduk di tepi sofa.


Rendy melangkah masuk dan berkata, "Tuan, Anda ditunggu klien di ruang rapat"


Luke menoleh ke Embun dan berkata, "Tunggu aku di sini lalu kita pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu setelah ini"


"Berapa lama?" Tanya Embun.


Luke menoleh ke Rendy dan Rendy langsung menyahut, "Agak lama Nyonya. Setelah ini, Tuan muda harus meninjau lokasi pembangunan pabrik baru. Hmm, sekitar empat jam paling cepat"


Luke kembali menoleh ke Embun, menunduk untuk mencium kening Embun dan berkata, "Aku usahakan cepat balik lagi ke sini. Tidurlah dulu sana!"

__ADS_1


Embun mengangguk dan tersenyum dan sepeninggalnya Luke, Embun berlari masuk ke dalam lift sambil menelepon Mona. Mereka bertemu di lobi bawah dan langsung meluncur ke lokasi pemotretan di mana Alex Norman tengah menunggunya.


__ADS_2