
Wanita cantik dan seksi itu kemudian berkata, "Saya percaya dengan Anda, Presdir Luke Donovan. Saya sudah tandatangani semua berkas. Saya rasa sebagai imbalannya, Anda harus mengajak saya jalan-jalan di kota kecil yang sangat indah dan sejuk ini" Wanita cantik dan seksi itu kemudian bangkit berdiri, melenggak-lenggok cantik ke arahnya Luke dan saat ia menyentuh pundaknya Luke, Luke langsung bangkit berdiri dan melangkah mundur.
"Kenapa? Anda takut dengan saya? Kenapa harus takut? Anda masih lajang, kan?"
Luke mengumpat di dalam hatinya saat tanpa ia perintahkan, kedua matanya bergerak ke kerah berbentuk V di blus wanita cantik dan seksi itu.
Kerah berbentuk V itu memperlihatkan belahan seksi sebuah dada yang menonjol sempurna membuat sorot mata Luke membeku di sana.
"Anda lajang, kan?" Wanita itu mengulangi pertanyaannya.
Alih-alih menjawab pertanyaan wanita cantik dan seksi itu, Luke justru berdeham dan tanpa pamit, ia bergegas balik badan untuk berlari meninggalkan wanita itu
Rendy seperti mengalami dejavu. Dia melongo ke punggung Luke lalu menoleh ke wanita seksi dan cantik itu dengan senyum canggung.
"Apa yang salah di diri saya? Kenapa Tuan Luke berlari pergi begitu saja meninggalkan saya tanpa permisi?"
Rendy langsung menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sebenarnya, lalu segera berucap, "Emm, Tidak ada yang salah di diri Anda. Maafkan Tuan Luke. Beliau ketinggalan barang yang sangat penting di kamarnya. Emm, begini saja, saya akan reservasi sebuah tempat wisata paling bagus di .........."
"Saya ingin pergi ke Bromo. Bromo dekat, kan, dari sini"
"Ah, iya, dekat"
"Kalau begitu, saya akan tunggu kedatangan Anda dan Tuan Luke di Vila Yovi, lalu kita berangkat bareng ke Bromo"
"Oke. Jam berapa?"
"Jam tiga sore. Kita bisa berjalan-jalan dulu, lalu menikmati sunset"
"Oke siap" Sahut Rendy.
"Ke....kenapa Nenek berterima kasih?" Embun bertanya dengan wajah kebingungan.
Maria menoleh ke dokter Christin, "Tolong tinggalkan kami berdua!"
"Baik, Nyonya" Sahut dokter Christin sembari bangkit berdiri lalu melangkah meninggalkan ruang prakteknya.
Maria lalu melepaskan pelukannya dan langsung menangkup pipi Embun untuk berkata, "Nenek adalah Neneknya pria yang merenggut kegadisan kamu. Cucunya Nenek adalah Papa dari janin yang ada di dalam perut kamu ini, Nak"
Karena syok, tubuh Embun seketika lemas dan dia jatuh pingsan di dalam pelukannya Maria. Maria membawa pulang Embun dengan menggunakan mobil ambulans.
Beberapa jam kemudian, Maria duduk di tepi ranjang dan setelah puas mengelus rambut Embun, ia bangkit berdiri dan berkata ke Dona, "Oke. Kita ke ruang kerjaku sekarang dan laporkan semua informasi yang kami dapatkan!"
__ADS_1
"Baik, Nyonya"
Gilang mengusap kasar wajah tampan lokalnya dan terus bergumam, "Kenapa Embun belum juga bisa aku hubungi?" Gilang lalu berlari keluar dari ruang praktek untuk menemui dosen pembimbingnya dan berkata, "Pak, apakah saya boleh balik ke Indonesia sekarang?"
"Ada apa emangnya?"
"Emm, ada urusan keluarga yang sangat penting, Pak"
"Tapi, kamu harus selsaikan dulu proyek kamu. Setelah proyek kamu selesai, aku akan carikan ijin cuti untuk kamu supaya kamu bisa balik ke Indonesia, tapi nggak sekarang"
"Baiklah, Pak. Satu Minggu saya usahakan proyek saya udah selesai" Sahut Gilang.
"Embun diusir dari rumah keluarga Sanjaya karena ada seseorang, yang mengirimkan video Tuan muda dan Embun di private room itu, Nyonya"
"Kok bisa? Rekaman CCTV udah aku amankan semuanya. Video itu nggak mungkin beredar di luaran sana. Kenapa bisa ada orang yang memiliki video itu?"
"Saya akan menyelidikinya lebih lanjut, Nyonya"
"Baiklah. Selidiki terus tanpa lelah begitu juga kasusnya menantuku. Kita harus selidiki terus tanpa lelah sampai kita menemukan pembunuhnya Joana"
"Baik, Nyonya. Emm, Neneknya Embun juga baru saja mencairkan cek sebesar dua ratus juta rupiah dan cek itu ada tanda tangannya Tuan muda"
"Apa? Kok bisa?"
"Ternyata Embun tinggal di tengah keluarga yang tidak menyayanginya. Kenapa nasibnya mirip dengan Joana sebelum Joana aku angkat jadi anak dan aku nikahkan dengan Jordan. Aku jadi semakin sayang sama Embun"
"Ada lagi, Nyonya. Saya pergi ke kampus Bina Bangsa lagi untuk menemukan rekaman CCTV pertemuan Tuan muda dan Non Embun. Pak Reyhan berkata kalau beliau pernah menemukan Embun duduk lemas di dalam hutan buatan Kampus Bina Bangsa, Nyonya. Saya lalu mengecek rekaman CCTV di area itu dan di rekaman CCTV itu, terlihat kalau Non Embun sebenarnya tidak mau menerima cek dari Tuan muda, tapi Tuan muda memaksanya"
"Aku akan telpon Luke sekarang juga! Sambungkan aku ke telepon genggamnya Luke!"
"Baik, nyonya" Beberapa detik kemudian, Dona berkata, "Maaf, Nyonya. Telepon genggamnya Tuan muda tidak aktif saat ini. Kemungkinan besar, Tuan muda masih meeting dengan kliennya"
"Oke. Aku akan hubungi dia lagi nanti. Sekarang siapkan berkas untuk pernikahannya Luke dan Embun. Setelah Luke pulang dari Malang, aku akan langsung nikahkan dia dengan Embun"
"Baik, Nyonya. Saya juga sudah berinisiatif meminta semua kartu identitasnya Embun ke Ibunya dengan alasan, perekrutan Embun menjadi karyawan di perusahaan Donovan dan harus tinggal di rumah dinas milik Grup Donovan. Maafkan saya, kalau saya lancang, Nyonya"
"Nggak perlu minta maaf. Justru bagus tindakan kamu itu. Makasih, Dona"
"Sama-sama Nyonya"
"Kenapa Anda lari dari klien kita, Tuan? Untung saja ia tidak tersinggung dan membatalkan kerjasama kita. Kalau sampai itu terjadi, kita akan kehilangan keuntungan senilai sepuluh milyar, Tuan"
__ADS_1
"Aku takut kena guna-guna cewek tadi"
"Hah?! Guna-guna?"
"Iya. Aku rasa cewek tadi pakai susuk. Susuk itu aku yakin ia tanam di dadanya karena dadanya, bikin aku membeku tak berdaya beberapa detik tadi"
Rendy langsung menunduk dan membatin kesal, itu bukan persoalan ia pasang susuk, Tuan. Tapi, otak Anda yang mesum.
"Anda harus ke Bromo jam tiga, Tuan. Nona Alice Norman menunggu Anda di vila Yovi. Nona Alice Norman ingin menikmati sunset bersama dengan Anda"
"Nggak mau. Kamu aja yang pergi"
"Kalau Anda nggak mau, Nona Alice Norman akan marah besar kali ini dan Anda akan kehilangan proyek dengan keuntungan sepuluh milyar, Tuan"
"Kamu harus ikut kalau gitu"
"Siap, Tuan"
Beberapa jam kemudian, Luke duduk di tepi tebing bersama dengan Alice Norman. Bersama dengan Alice Norman selama beberapa jam, membuat Luke teringat kembali akan Chika. Beberapa hal di diri Alice Norman mirip dengan Chika. Sehingga di saat Alice memajukan bibirnya ke bibir Luke, Luke mematung. Dia menunggu bibir merah ranum itu mendarat manis di bibirnya.
Sewaktu bibir dia dan bibir Alice hanya berjarak nol koma lima centimeter, telepon genggamnya Luke berbunyi sangat nyaring. Karena kaget, Luke dan Alice sontak menegakkan kembali kepala mereka secara bersamaan.
"Halo, ada apa Nek?"
"Pulang sekarang juga!"
"Tapi, aku masih meeting dengan klien, Nek"
"Meeting apa di petang hari begini? Kata Rendy urusan kamu dengan klien kamu udah beres"
"Ini istilahnya meeting lanjutan, Nek. Untuk me........."
"Nenek nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus pulang sekarang juga, titik!" Klik! Maria langsung mematikan teleponnya.
Luke langsung bangkit berdiri dan setelah memasukkan kembali telepon genggamnya ke saku celana santainya, ia berkata, "Maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Nenekku yang sangat aku cintai tengah merindu berat padaku"
Alice tersenyum geli dan berkata dan sambil membetulkan letak kerah kaos bermerk-nya Luke, ia berkata, "Pulanglah dan tunggu aku di sana! Aku akan mengunjungi kantor kamu secepatnya"
Luke bergegas berbalik badan lalu pergi meninggalkan wanita itu.
Penerbangan dengan private jet, membuat Luke dengan cepat sampai di bandara, lalu segera melesat pulang karena neneknya terus meneleponnya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang dengan rumah neneknya, Luke terlonjak kaget dan spontan melompat ke belakang sambil berteriak, "Kamu?! Kenapa ada bayangan kamu di sini? Kenapa bayangan kamu ada di mana-mana dan terus menganggu aku, hiks, hiks, hiks"
Embun pun kaget dan sontak ia menaikan kedua alisnya ke atas dan melongo sewaktu ia bersitatap dengan pria yang sangat ia benci.