Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 10


__ADS_3

Sabtu sore, hari ini hujan meliburkan dirinya. Memberikan kesempatan kepada mereka-mereka yang jenuh dengan rutinitas kerja, untuk menikmati weekend yang menyenangkan di outdoor.


Gayung membereskan meja kerjanya. Suasana sudah sepi, karena rekan-rekan kerjanya telah meninggalkan ruangan. Hanya menyisakan Jio dan Tiara yang tengah asyik mengobrol berdua. Sesekali Gayung melirik wanita berkulit putih bersih itu, kecantikannya sungguh mengalihkan dunia. Ia saja yang sesama wanita bisa jatuh cinta, apalagi pria? Hemm ...


"Andara, ikut yuk," ajak Jio, menghentikan kalimat pamit yang hampir lolos dari bibir Gayung.


"Kemana, Mas?"


"Nontooon," ucap Jio seperti biasa dengan wajahnya yang konyol.


"Iya, An. Ayo ikut." Tiara ikut menawari. Ia memang belum akrab dengan Gayung, namun wanita itu memang selalu ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan hampir sebagian besar karyawan di kantor mengenal akrab dirinya.


"Memang boleh ikut?" Gayung tersenyum canggung.


"Boleh dong ... Pak Jay yang traktir." Jio memang cukup dekat dengan Jay. Ia semacam bawahan yang bisa diandalkan. Sehingga dijadikan orang kepercayaan untuk membantunya mengurus beberapa pekerjaan.


"Udah, ikut aja biar ramai." Tiara menyelempangkan tasnya saat matanya menangkap sosok yang ditunggu baru saja keluar dari ruangan kaca tak jauh dari mereka.


"Yuk, cabut!" ucap Jay penuh semangat.


"Siappp," sambut Jio begitu antusias, sementara Gayung terlihat canggung karena merasa belum terlalu akrab dengan para seniornya.


" Pak, aku bawa teman, boleh yah?" Jio memberi kode berupa kedipan mata ke arah Jay.


"Baru lagi, Boy." Jay menepuk-nepuk bahu anak buah kesayangannya itu. Sementara Jio hanya cengar-cengir seraya menyisir jambulnya.


"Andara, terima ya ... kasihan ditolak terus." Jay melemparkan senyum jahil ke Gayung. Gadis itu hanya tersenyum tipis masih dengan kecanggungannya.


"Kalian belum pulang?" Sebuah suara mengalihkan pandangan mereka.


"Ikut yuk, Las," seru Tiara penuh semangat. "Kita mau nonton."


"Jangan ajak dia, percuma ... nggak bakalan mau," sela Jay mengejek sahabatnya yang berdiri dengan menahan pintu kaca itu.


Galas tak bergeming hanya matanya yang terlihat menyapu satu demi satu wajah-wajah yang terlihat menunggu jawabannya.


"Oke. Aku ikut," ucapnya kemudian.


" Wah, sejarah baru ... ." Jay menyeringai senang.


"Kalau begitu ayo, tunggu apa lagi," ujarnya.


Ada tujuh orang yang ikut acara nonton bersama ini. Jay, Jio, Galas, Tiara, Gayung, Santos dan Liana, istrinya. Jio dan Gayung ikut satu mobil bersama Jay, sementara Tiara ikut Galas, Santos tentu saja berdua dengan istrinya.


Sesampainya di sebuah Mall tujuan, mereka segera menuju ke lantai atas tempat gedung bioskop berada. Jay dan Tiara memutuskan memilih menonton sebuah film horor barat yang tengah booming saat ini, ssmentara yang lain menyetujui saja. Kecuali Gayung yang tampak enggan namun tak berani mengutarakan keberatannya dan Galas yang acuh karena ia punya alasan tersendiri mengikuti mereka disini.

__ADS_1


Mata Galas dan Gayung tak sengaja bertemu. Gadis itu seperti biasa melemparkan senyum kecilnya namun tak mendapatkan respon selain tatapan tak terbaca dari laki-laki itu. Gayung mengalihkan pandangnya salah tingkah. Disampingnya Jio terus menempel padanya sambil terus berceloteh ria. Entah siapa disini yang wanita. Seperti biasa, Jio lebih banyak bicara dibandingkan dirinya yang seorang wanita.


Sekembalinya Santos dan Liana dari membeli beberapa camilan dan minuman. Jay memimpin yang lain untuk memasuki gedung bioskop. Gayung dan Galas nampak berada di barisan terakhir, karena Jay menarik tangan Jio untuk sejajar dengan dirinya.


Galas dan Gayung mengisi kursi yang tersisa. Gayung mempersilahkan Galas mengisi kursi tepat di samping Tiara. Sementara ia sendiri memilih duduk paling pinggir. Ia seperti sedang mempersiapkan dirinya untuk kabur nanti.


Gayung sangat penakut, dan ia benci film horor. Melihat iklan film horor di tv saja sudah membuatnya kalang kabut mengganti chanel apalagi harus menontonnya lebih dari 60 menit, bisa gila dia. Pernah semingguan ia tidak bisa tidur nyenyak dan tidak berani kemana-mana sendirian setelah menonton film horor. Itu sebabnya ia merencanakan misi untuk kabur jika film telah dimulai. Ia tak akan menyiksa dirinya dalam ketakutan dan kegelisahan dikamar kosnya nanti. Apalagi ia tidur sendirian.


Music seram menggema memenuhi ruangan yang semakin menggelap itu. Gayung mulai gelisah, Galas bisa melihatnya meski kurangnya pencahayaan.


"Pak, saya mau ke toilet dulu," pamit Gayung pada Galas. Laki-laki itu mengangguk dan mengira kegelisahan gadis berambut ikal itu mungkin karena panggilan alam.


Gayung menuruni tangga berkarpet merah itu dan berlari setengah membungkuk saat melewati layar besar itu. Sesampainya diluar ia menghembuskan nafasnya, merasakan kelegaan karena berhasil keluar dari situasi yang mencekam. Ia berniat menunggu di kursi panjang tak jauh dari pintu keluar namun sebuah tangan menariknya kuat, membuatnya melonjak kaget dan mengikuti langkah lebar laki-laki itu membawa dirinya.


"Pak Galas?" ucap Gayung kaget.


"Jangan panggil aku Pak." Galas berdecak tak suka.


"Kak Galas ... ingat sama aku?" tanyanya ragu, Gayung memanggilnya seperti dulu.


"Siapa yang bisa lupa sama bocah jelek sepertimu?" Galas menyeringai melirik Gayung yang langsung mengerucutkan bibirnya mendengar Galas menyematkan lagi sebutan "bocah jelek" dalam panggilannya.


"Sekarang aku masih jelek?" Entah apa yang membuat Gayung merajuk seperti sekarang.


"Kamu merasa cantik?" Galas malah menggodanya.


"Kenapa kabur? Takut?" Galas bertanya sambil terus melangkahkan kakinya, entah kemana tujuannya.


"Hmm," jawab Gayung, pandangannya masih tertuju pada tangannya yang begitu hangat dalam kekuasaan Galas. Ada sesuatu yang berdebar didalam sana. Jadi begini rasanya digandeng pria tampan, batinnya.


Sadar diri Gayung, Galas bersikap begini karena kamu adalah teman kecilnya dulu.


"Aneh kamu, padahal setiap hari bapak kamu berurusan dengan setan."


"Itu kan Bapak, bukan aku." Gayung mencebikkan bibirnya. "Kenapa Kak Galas ikut keluar?"


"Hei, aku tidak mengikutimu, aku tidak suka filmnya," elaknya keras.


"Aku juga nggak bilang begitu," desis Gayung.


Galas menyamakan langkahnya dengan Gayung.


"Ada film yang ingin kamu tonton?" tanyanya membuat Gayung keheranan.


"Cepat pilih filmnya, mumpung baru dimulai," ucapnya lagi.

__ADS_1


Gayung menyebutkan cepat film animasi yang menarik perhatiannya tadi dan Galas langsung menuju loket untuk membeli tiket untuk mereka berdua.


Gayung masih terpaku menatap punggung indah di depan sana. Ada semacam dentaman aneh dalam dadanya yang tak bisa ia kendalikan. Ia tersadarkan saat tangan kekar itu menariknya menuju gedung bioskop yang memutar film animasi tersebut.


Film sudah dimulai tentu saja, Galas mencari nomor kursi mereka dan duduk manis disana.


Mereka saling diam, bukan menikmati filmnya melainkan disibukkan dengan pikiran masing-masing.


"Kak Galas, kalau mereka mencari kita bagaimana?" bisik Gayung.


"Biar saja," jawab Galas santai. Matanya menatap intens pada gadis yang kini duduk manis disampingnya dan terlihat salah tingkah.


"Kenapa?" Gayung yang merasa diperhatikan memberanikan diri bertanya malu-malu. "Ada yang aneh?"


"Iya," jawabnya. "Perasaan kemarin kamu masih bocah ingusan yang suka main layangan," ledeknya dengan seringai diwajahnya. Bayangkan saja sedekat apa mereka saat ini untuk saling bisa berbicara dan mendengarkan satu sama lain.


Gayung menyikut pelan lengan yang tak berjarak dengannya itu.


"Kemarin apanya, itu sudah sepuluh tahun yang lalu." Gayung mencebikkan bibirnya lagi.


"Buatku itu kemarin," ucap Galas tak terbantah. Karena baginya seperti itulah yang dirasakannya.


"Mau makan?" tanya Galas saat film telah usai, ternyata durasi filmnya begitu singkat. Bahkan Gayung merasa belum puas dengan ending ceritanya.


"Boleh, tapi apa kita nggak bareng aja sama yang lain?" Gayung merasa tak enak hati belum pamit dengan yang lain tadi.


"Buat apa? Aku tidak suka jalan ramai-ramai," jawabnya enteng.


"Kalau nggak suka ramai-ramai, kenapa ikut ...." Sebuah pertanyaan yang lebih mirip sebuah gumaman yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


"Ayo, aku akan menemanimu jalan-jalan hari ini," ucap Galas lagi.


"Dibayarin nggak?" Cengir Gayung.


"Beli apapun yang kamu mau, uangku tidak akan habis hanya untuk membelanjakanmu," ujarnya.


"Beneran?" Gayung meyakinkan.


"Tentu saja. Hari ini aku akan menjadi pacarmu, seperti dulu ...." Galas menggodanya dengan kenangan masa lalu mereka, Gayung menunduk malu mengingat tingkah konyolnya dahulu. Namun sekarang ia telah dewasa, mendengar seseorang mengatakan hal itu padanya membuat perasaannya berdebar tak karuan.


Sadar Gayung, hanya hari ini, hanya permainan.


Gayung menepis perasaannya.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE


__ADS_2