
Gayung beringsut menjauh dari ruang kerja suaminya setelah mendengarnya telah selesai berbicara dengan seseorang melalui sambungan telefon. Ya, seseorang yang bisa dengan mudah ia tebak hanya dengan mendengarkan percakapan mereka. Niatnya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan ia urungkan dan memilih kembali ke kamarnya. Salahkah jika ia masih menyimpan rasa cemburu, sementara suaminya sudah berusaha sebisa mungkin meminimalisir pertemuannya dengan wanita itu bahkan sering mengajaknya ikut serta saat membahas pekerjaan dengan Tiara.
Sejak malam itu, Galas tak pernah sedikitpun memberi celah cemburu bagi dirinya. Meyakinkannya selalu bahwa semua yang istrinya takutkan tidak akan pernah terjadi. Namun sejujurnya, terselip rasa iba dihatinya saat terakhir bertemu wanita itu. Tubuhnya sedikit kurus dan pucat, tapi masih harus terus bekerja. Pasti itu terasa sangat berat, apalagi ia tak memiliki seorang suami yang mendampingi, seperti dirinya. Tapi ia juga tak rela jika harus berbagi perhatian suaminya dengan wanita itu. Apakah aku terlihat jahat? Batinnya.
Sesampainya dikamar, ia mengganti lampu menjadi lampu tidur. Sebelum kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuknya sembari memainkan ponselnya. Kebiasaan ini memang tidak baik untuk kesehatan matanya. Namun ia menyukai ini, suasana temaram yang menenangkan.
Gayung membaca pesan masuk dari Sasya.
Sasya :
[ An, udah tidur? ]
Gayung :
[ Belum. Kenapa Kak? ]
Sasya :
[ An, please ... comblangin gue sama Oppa kecil!!! ]
Gayung :
[ Oppa kecil siapa Kak? ]
Sasya :
[ Asistennya Pak Ryan, hehe ... ]
Gayung :
[ Caranya??? ]
Sasya :
[ Oh my God! Suruh Bapak kamu kirim pelet ke dia, bisa??? ... wkwkwk ]
Gayung :
[ Hemmm, emangnya Bapakku tukang pelet. Somplak! [
Sasya :
[ Ya kali bisa, An. Haha ... kalau nggak minta nomornya kek, ada kan pasti datanya .... ]
Gayung :
[ Emangnya berani kirim pesan duluan? Hihi ]
Sasya :
[ Ehm, enggak hihihi ....]
Gayung :
[ Lha terus ...?]
Sasya :
[ Yah siapa tahu bisa dipelet online wkwkwk ]
__ADS_1
Gayung :
[ Sehat Bu?]
Sasya :
[ Enggak hehe ... please deh An, coba cari tahu ke Pak Bos, Pak Rio udah punya pasangan apa belum, jadi aku nggak salah langkah nih. ]
"Sayang?" Bisik Galas.
Gayung terlonjak kaget mendapati suaminya tengah berjongkok disamping tempat tidur dan memandangnya sambil tergelak.
"Ih, ngagetin sih Kak." Gayung memegang dadanya yang berdegup kencang efek dari rasa kagetnya.
"Maaf, Sayang. Kamu asyik kirim pesan dengan siapa sampai tidak menyusulku?" Galas duduk disamping istrinya sembari memeluknya penuh kehangatan.
"Kak Sasya." Gayung menatap wajah suaminya, tatapannya fokus pada bibir suaminya. Entah kenapa, ada perasaan yang menggodanya untuk merasakan kelembaban bibir itu. Namun berusaha diredamnya, karena ia belum berani seagresif itu meski sudah beberapa bulan menikah dan tentu saja sudah sering melakukannya. Segera dialihkannya pandangannya ke bawah sebelum suaminya berhasil membaca pikirannya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Galas dengan seringai diwajahnya, menggoda istrinya yang tampak malu itu.
"Ehm, kamu nggak pergi?" Gayung berusaha menghindar dari rasa malunya dengan menanyakan hal lain. Karena sepertinya suaminya sudah bisa membaca apa yang diinginkannya.
"Pergi kemana?" Galas mengeryitkan dahinya.
"Tadi ada yang telfon kamu, kan?"
"Ohh, jadi karena itu kamu tidak ke ruang kerja kita ...." Galas menghirup aroma wangi dileher jenjang istrinya, yang reflek mendongak memberi jalan suaminya agar lebih leluasa bermain disana.
"Hemm." Gayung menjawab singkat, menahan nafasnya yang memburu. Karena tangan dan bibir suaminya mulai bermain didadanya.
"Kamu mau aku pergi?" tanya Galas disela kegiatannya. Gayung menggigit bibir bawahnya, menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara desahan. Ia tak menghiraukan pertanyaan suaminya, karena terlalu sibuk dengan perasaan meledak didadanya.
Untuk sesaat mereka saling pandang dalam diam. Sebelum akhirnya Gayung berinisiatif menangkup wajah suaminya dan meraup bibir yang sedari tadi menggodanya. Senyum Galas terselip disela ciuman mereka yang semakin memanas.
"Kalau kamu menginginkannya, bilang saja Sayang. Aku tidak akan menolaknya," bisik Galas menjeda ciuman mereka. Kemudian ia meraup lagi bibir manis istrinya.
Ciuman itu semakin hebat, deritan ranjang mereka menjadi saksi dua anak manusia yang sibuk mendayung dilautan yang mengombang-ambingkan hasrat mereka untuk mencapai pulau tempat dimana mereka akan bermuara nantinya yaitu pulau kenikmatan.
***
"Kak, asisten Pak Ryan itu namanya siapa ya?" tanya Gayung dalam dekapan suaminya, setelah permainan panas mereka beberapa menit yang lalu.
"Kenapa memangnya?" tanya Galas mengeryit tidak suka. Bagaimana bisa istrinya sudah menanyakan laki-laki lain setelah sesi bercinta mereka? Bahkan keringat yang menempel ditubuh mereka saja belum mengering.
"Imut," jawab Gayung sengaja menjahili suaminya.
"Apa?" Galas mengurai pelukannya pada tubuh polos istrinya.
"Hahaha ... becanda, Kak. Tadi Kak Sasya nanyain." Gayung menarik tangan suaminya lagi mendekap padanya.
"Hahh ... lebih baik suruh Sasya mencari laki-laki lain saja, Sayang."
"Kenapa memangnya?"
"Sia-sia," jawab Galas malas membahas masalah orang lain.
"Maksudnya?" tanya Gayung tak mengerti.
"Dia tidak akan menikah."
__ADS_1
"Karena?"
"Karena dia sudah bersiap untuk menjadi biksu nantinya."
"Biksu?" Gayung membeliakkan matanya. Oh my God ... belum mulai sudah kandas lagi cintamu, Kak Sasya!
"Hemm ... Sayang aku lapar," bisik Galas.
"Sama. Ayo temenin, aku yang masak." Gayung bangkit dari posisinya, lalu mulai mengambil pakaiannya sendiri serta pakaian suaminya.
"Kamu mau masak apa?" tanya Galas dalam perjalanan mereka menuruni tangga.
"Ehmm ... mie instan, boleh ya?" Gayung memeluk lengan kekar suaminya, mengguncangnya manja. Galas berdecak tak menyetujui.
"Tidak. Itu bukan makanan sehat, Sayang. Kamu sering makan mie, nanti anak kita kebanyakan micin jadinya," ucapnya tak rela.
"Tapi kata iklan yang aku tonton, katanya micin itu nggak bikin bodoh ...."
"Iya, tapi kalau kebanyakan bisa jadi penyakit, Sayang," ucap Galas lagi melirik seram, tanda tak menerima bantahan dan Gayung sangat paham akan hal itu.
"Kamu bikin nasi goreng saja, ya," usul Galas.
"Hemm," jawab Gayung menurut.
"Kamu belum minum susu?"
"Belum." Gayung hampir saja melupakannya.
"Ya, sudah, kamu masak ... aku akan membuat susu untuk kamu dan anak kita." Galas mengelus perut istrinya sekilas.
"Siap Bos." Gayung bersemangat bersiap meracik bumbu untuk nasi gorengnya.
"Jangan terlalu pedas, Sayang. Kasihan anak kita...." Galas mengurangi jumlah cabai yang disiapkan istrinya.
"Selama pedasnya wajar kata Dokter katanya boleh-boleh aja." Gayung membela diri. "Tambah satu, ya ...."
"Ya sudah." Galas mengalah dan mulai menyendokkan bubuk susu ke dalam gelas yang telah berisi air hangat. Mengaduknya perlahan sampai semuanya larut dan tidak mengental dibawah. Rasa penasaran membuatnya mencicip sedikit susu kehamilan rasa coklat itu.
"Enak?" tanya Gayung geli.
"Enak," jawab Galas lalu mencicip lagi.
"Kalau gitu buat Kak Galas aja." Gayung terkekeh.
"Anaknya diperut kamu, Sayang bukan diperutku."
***
Jangan lupa
Like
Komen
And
Vote
❤❤❤
__ADS_1