
Gayung meringkuk diatas karpet bulu didepan ruang TV sembari menonton drama korea dari smartphonenya. Rasanya membosankan menghabiskan hari liburnya hanya untuk bermalas-malasan seperti ini. Padahal ia ingin ikut jalan-jalan bersama rekan satu divisinya dulu, namun suaminya tak mengijinkannya karena takut ia kelelahan dan membahayakan kandungannya nanti. Sedangkan Galas sendiri, sedari tadi sibuk bersama dengan Jay diruang kerjanya.
"Kamu nonton apa?" Hembusan nafas hangat membelai pipinya. Gayung menoleh dan mendapati suaminya membungkuk memberikan banyak ciuman disisi wajahnya. Gayung mengarahkan ponselnya ke arah suaminya supaya terlihat olehnya apa yang sedang ditontonnya.
"Astaga, kamu tidak bosan setiap hari nonton dia terus?" Siapa lagi kalau bukan si psikopat paling tampan sejagad drama, menurut istrinya.
"Memangnya dia tidak punya drama lain selain itu?" tanya Galas, karena selalu drama itu yang ditonton istrinya.
"Banyak, tapi aku nggak suka."
"Kenapa?"
"Karena ada adegan ciumannya. Aku nggak rela dia ciuman sama lawan mainnya," jawab Gayung dengan polosnya.
"Astaga Sayang, kamu mengidolakan sampai sebegitunya. Kalau aku yang ciuman sama wanita lain gimana?" candha Galas membuat Gayung mendelik kesal.
"Siap-siap aja." Gayung memberengut.
"Siap-siap apa?" Galas mulai membaui aroma tubuh istrinya dengan menciumi lehernya.
"Siap-siap jadi DUDA," ancam Gayung tak main-main dengan menekankan kata "duda" dikalimatnya. Galas terkekeh mendengar ancaman istrinya.
"Kak Galas jangan begitulah, memangnya Pak Jay sudah pulang?" Gayung menjauhkan wajah suaminya yang terus mendaratkan ciuman ke wajah dan lehernya.
"Biarkan saja, salah sendiri tidak mau pergi, padahal aku sudah mengusirnya." Galas ikut merebahkan dirinya disamping istrinya dengan kedua lengannya menjadi bantalan. Gayung menggeleng pelan, ia tahu meski suaminya sering berkata sesuka hati kepada sahabatnya itu, tapi sebenarnya dalam hatinya begitu perhatian dan peduli.
"Sekarang dimana orangnya?"
"Tidak tahu," jawab Galas malas.
"Kak, aku boleh ke tempat Kak Sasya?" Galas menatap curiga istrinya.
"Kamu suka sekali main ke kosan Sasya?" Meskipun kenyataannya istrinya tidak pernah kesana sejak terakhir kali ia menjemputnya saat istrinya marah. Karena ia tak pernah mengijinkannya.
"Kapan aku kesana? Kak Galas aja nggak pernah ngijinin," sungut Gayung.
"Memangnya mau apa kesana, Sayang? Mau ketemu fans kamu," sindir Galas.
"Memangnya aku artis punya fans ...," ucap Gayung geli.
"Aku tidak suka kamu kesana." Kali ini tangannya melingkari perut istrinya yang sedikit membuncit, seolah menahannya untuk pergi.
"Aku ke sana cuma mau ketemu Kak Sasya. Barusan dia wa katanya lagi bosan dikosan nggak ada temannya."
"Katanya teman-teman kamu lagi ke Dufan?" Istrinya sempat merengek ingin ikut tadi tapi lagi-lagi tak diijinkannya. Memangnya mau apa ibu hamil ke sana? Pikirnya.
"Kak Sasya nggak ikut, soalnya yang lain berpasang-pasangan. Dia nggak punya pasangan sendiri, tadinya kalau ada aku dia mau ikut, tapi karena aku nggak ikut dia juga nggak ikut pergi," jelas Gayung.
__ADS_1
"Tapi kan kamu juga punya pasangan, Sayang?"
"Memangnya Kak Galas mau ikut kalau aku ajak?" Ledek Gayung, ia yakin seratus persen suaminya pasti menolaknya. Di ajak jalan ke Mall saja, suaminya sudah mengeluh ini itu apalagi jika mengajaknya ke Dufan.
"Mendingan tidur dirumah," jawabnya malas. "Suruh saja Sasya ke sini."
"Tapi dia malu sama kamu kalau mau kesini, Kak. Kan kita mau curhat hehe ...."
"Kenapa harus malu, Sayang?" tanya Galas tak peka. Tentu saja karena dia adalah seorang Bos, yang selama bertahun-tahun lamanya karyawannya itu mengenal dirinya sebagai sosok yang tegas, dingin dan jarang berekspresi didepan anak buahnya. Sebelum akhirnya mengenal cinta dan lebih banyak tersenyum seperti sekarang. Andai Sasya tahu seperti apa dirinya jika sudah bersama istri tercintanya.
"Karena kamu itu Boslah, Kak. Apalagi kamu itu kalau dikantor mukanya serius banget."
"Kalau dirumah?"
"Aku nggak tahu, setahu aku kamu tuh manisnya sama aku doang haha ...." Gayung tersenyum geli, mendengar kenarsisan dari kata-katanya sendiri. Tapi sejauh yang ia perhatikan memang seperti itu. Galas pun ikut terkekeh mendengarnya, namun pada kenyataannya memang hanya kepada istrinyalah ia menjadi sosok yang suka bermanja-manja dan banyak tersenyum juga tertawa.
"Eh, tapi aku nggak tahu sih, kamu kalau lagi sama Mbak Tiara gimana," ucap Gayung lagi penuh sindiran.
"Hemm, aku seperti ini cuma sama kamu, Sayang. Sikap aku ke Tiara sama seperti aku ke Jay, kami hanya teman, te-man," tegas Galas sekali lagi.
"Ya ya ya ...." Gayung tidak ingin berdebat.
"Tuh kan ...." Galas mencubit hidung mungil istrinya.
"Iya, aku percaya sama kamu," ucap Gayung akhirnya. "Ya udah aku mau telefon Kak Sasya suruh ke sini. Tapi nanti kamu jangan ikutan ya, Kak nanti Kak Sasya takut ...."
"Jangan pencet-pencet ih!" Gayung memukul pelan tangan suaminya yang malah cekikikan.
***
"Wahhh, indah bangett." Sasya begitu takjub melihat pemandangan dari atas rooftop. Ya, Gayung sengaja mengajak kesana untuk menghibur sahabatnya yang tengah galau itu. Mereka duduk diatas karpet hijau sambil menikmati cemilan yang Gayung bawa dari bawah.
"Pak Bos kemana, An?"
"Lagi keluar sama Pak Jay," jawab Gayung sembari mengelus kucing kecil yang Sasya bawa tadi. Katanya ia menemukannya dijalan saat membeli buah-buahan untuk buah tangan tadi. Karena kasihan Sasya membawanya untuk sahabatnya itu rawat. Ia tahu, Gayung sangat menyukai kucing.
"Ohh ...."
"Eh, kok matanya begini ya, aku baru sadar." Gayung menunjukkan mata kucing kecil itu yang sedikit bergeser dari yang seharusnya.
"Eh, jangan ngomong begitu, An, kamu kan lagi hamil. Kalau orang dikampungku kalau lihat yang nggak wajar bilang amit-amit jabang bayi gitu sambil ngelus perut."
"Aku kan cuma ngomong kenapa begini, bukan menghina kan itu ...." Gayung takut salah bicara.
"Ya udah makanya amit-amit jabang bayi gitu buruan!" desak Sasya, meski bukan ia yang hamil tapi ia takut juga anak sahabatnya lahir kenapa-napa.
"Tapi bukannya kalau ngomong amit-amit jabang bayi itu kedengarannya kita malah menghina, ya?" tanya Gayung setelah dipikir-pikir.
__ADS_1
"Udah itu kata orang tua, An. Ikutin aja ...." Akhirnya Gayung mengikuti saran Sasya. Namun masih terbersit rasa takut jikalau nanti anaknya lahir dengan mata seperti kucing kecil tersebut.
"Ih, aku jadi takut, Kak ... kalau anak aku kenapa-kenapa gimana. Astagfirrullahallazim ... aku nggak bermaksud menghina kamu kok Mpus, beneran ...." Gayung menciumi kucing kecil tersebut.
"Iya, teman Sasya nggak bermaksud menghina kamu ya kucing cantik," ucap Sasya ikut mengelus kepala kucing itu.
"Kucingnya nggak jadi aku rawat deh, Kak ...."
"Kenapa? Karena dia ...."
"Bukan! Cuma kalau ngeliat dia batin aku ngomong yang nggak-nggak. Aku jadi nggak tenang, takut bayi aku lahir gimana-gimana. Ya Allah ... bayi aku pasti sehat sempurna ...," potong Gayung. Wajahnya terlihat resah dan Sasya menjadi merasa bersalah karena telah membawa kucing itu kemari. "Kak Sasya rawat dikosan, ya ... masalah makannya dia aku yang tanggung," imbuhnya.
"Iya iya ... tenang aja, aku yang bakalan rawat dia. Udah kamu jangan kalut gitu, yakin sama yang di Atas," hibur Sasya.
Namun sampai sore dan Sasya telah pulang, pikiran Gayung masih memikirkan kata-katanya ke kucing tadi sampai membuatnya tak bernafsu untuk makan. Galas yang sudah pulang terlihat heran dengan kemuraman di wajah istrinya itu.
"Kamu kenapa, Sayang?" Galas merangkul pundak istrinya yang tengah duduk melamun menikmati gerimis dari balik jendela putih disampingnya.
"Kak ... aku takut. Kalau anak kita gimana-gimana, kamu terima apa nggak?" Saking kalutnya air matanya berhamburan keluar. Galas pun akhirnya meminta istrinya menjelaskan maksud perkataannya dan Gayung pun menceritakan detailnya.
"Oh hanya karena itu?"
"Hemmm, aku takut ...."
"Kenapa harus takut? aku tahu kamu tidak bermaksud menghinanya, Sayang. Allah pasti tahu itu, kamu kan pecinta kucing." Galas menenangkan istrinya. "Sudah, anak kita pasti baik-baik saja, Sayang."
Gayung sedikit tenang mendengar kata-kata suaminya, meski belum sepenuhnya.
"Tapi aku masih kepikiran terus."
"Lebih baik kamu telefon Bapak. Biasanya kamu selalu tenang kalau sudah bicara dengannya." Galas mengambil ponsel miliknya dan menyerahkannya ke istrinya yang tengah menghapus sisa air mata di wajahnya.
Masih dengan memeluk istrinya, Galas mendengarkan pembicaraan istri dan mertuanya itu juga sesekali ikut bicara. Dan seperti dugaannya, Gayung langsung bisa tertawa mendengar penjelasan serta gurauan dari Bapaknya yang menenangkan. Beliau juga menyarankan anak semata wayangnya itu untuk sering membaca beberapa surah-surah yang harus dibaca saat sedang mengandung.
***
Okelah ... sekian
Slowww update ya ...
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
❤❤😁