
Jay nampak menyesap kopi yang dipesannya. Penampilannya sedikit kacau berbeda dengan biasanya. Dihadapannya Galas memperhatikannya dalam diam dengan tangannya yang ia sedekapkan didada.
"Selamat ya, Bos atas pernikahannya. Sorry, nggak bisa datang," ucapnya tak berani menatap lama mata elang Galas yang seolah siap menerkamnya.
"Aku bukan bosmu lagi," ucap Galas datar tanpa ekspresi. "Apa rencanamu?" tanya Galas tanpa basa-basi.
"Aku bingung, Las," ucap Jay frustasi. Mengacak rambutnya yang sebelumnya sudah kusut. "Wina menangis setiap hari, ...." Jay mendesah panjang.
"Itu karena kesalahanmu sendiri!" ucap Galas tajam.
"Aku bingung, Wina sedang hamil muda. Sekarang dia dirawat di Rumah sakit karena stres dan mual muntah parah." Jay mengusap wajahnya kasar. "Bantu aku, Las ...."
"Aku sudah membantumu dengan menampung Tiara dirumahku." Galas menghela nafas panjang. "Gara-gara ulahmu dia hampir saja bunuh diri ...."
Jay semakin terlihat frustasi. Sejak kejadian malam itu, Tiara sering menghindarinya, bahkan tak pernah membalas pesan maupun menerima panggilan telepon darinya. Ia sangat tahu, Tiara begitu mencintai Galas. Ia menjaga dirinya demi laki-laki yang ia yakini suatu saat nanti akan melihat kepadanya. Namun karena kekhilafannya, menggunakan kesempatan saat sahabatnya itu mabuk setelah Galas mengatakan akan menikahi Gayung. Ia kehilangan kesuciannya dan menganggap dirinya sangat kotor. Lalu, entah darimana Wina mengetahui itu semua dan melabraknya dengan mengatakan ia wanita murahan. Hal itu membuat Tiara cukup depresi dan uring-uringan. Hingga sempat terfikir jalan pintas mengakhiri hidupnya.
"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Jay dengan perasaan bersalah yang terus menggerogoti hatinya.
"Sekarang cukup baik. Bi Hanah mengawasinya ... tapi ...."
"Tapi apa, Las?" Jay mengeryitkan dahinya.
"Bagaimana kalau Tiara hamil?" Tatapan Galas mendelik penuh intimidasi. Jay tercenung dengan pikirannya. Ia memang sudah memikirkan kemungkinan itu terjadi. Namun ia tak menemukan solusi atas masalahnya. Sekarang saja, Wina sudah sangat tertekan karena dirinya. Ia tak mungkin menikahi Tiara yang berbeda keyakinan darinya. Dan Tiara memang tak meminta pertanggung jawaban darinya. Bahkan wanita cantik itu nampak memandangnya penuh kebencian dan rasa jijik.
"Aku akan bertanggung jawab," ucap Jay.
"Dengan cara?"
Jay terdiam, ia sendiri bingung bagaimana caranya mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apa cukup dengan menafkahinya?
"Aku ingin bertemu Tiara," pintanya memohon.
Galas menyesap kopinya, ia sudah cukup lelah dengan urusan di kantornya. Sekarang, ia juga disibukkan dengan masalah rumit kedua sahabatnya. Galas mengintip jam tangannya. Seharian ini ia belum menghubungi Gayung, karena kesibukannya. Istrinya pasti tengah galau sekarang, ia jadi merasa bersalah sekarang.
__ADS_1
"Aku harus pulang sekarang. Nanti aku akan bicara dengan Tiara," ucap Galas sembari mengambil kunci mobil serta ponselnya di atas meja. Jay hanya bisa mengangguk pasrah dan memandang kepergian sahabatnya itu.
Ia tidak menyangka semua akan menjadi rumit seperti ini.
***
"Kamu belum tidur?" Galas baru saja tiba dirumahnya. Ia menemukan Tiara sedang meringkuk disofa, menonton TV diruang tengah dengan ponsel ditangannya.
"Jam segini baru pulang, Las?" Tiara bangun dari posisi rebahannya. Menatap sosok tampan yang berjalan mendekatinya dan mendudukan diri disampingnya.
"Aku bertemu Jay," jawab Galas. Ia melirik reaksi Tiara yang terlihat terganggu dengan jawabannya.
"Dia ingin bertemu denganmu," lanjut Galas lagi. "Kalian harus membicarakan masalah kalian ...."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," tukasnya cepat. Ia selalu merasa risih jika membicarakan tentang Jay. Mengingat bagaimana ia bangun sudah dalam keadaan tanpa sehelai benang pun dengan laki-laki itu disampingnya. Ia tidak ingat, sama sekali tidak mengingat apapun yang telah terjadi padanya malam itu. Sebelum Jay menjelaskan semua yang terjadi kepadanya.
"Aku tidak ingat apapun, aku tidak bersalah ... tapi Wina membenciku ...." Tiara menghentikan kalimatnya, air matanya merembes keluar membasahi wajah cantiknya.
"Aku akan bicara dengan Wina," ucap Galas menenangkan.
"Kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang akan menerimamu apa adanya." Galas menepuk pundak Tiara, mencoba menguatkan sahabatnya itu.
"Dari dulu kamu selalu bilang begitu, tapi nyatanya aku selalu sendiri sampai sekarang." Tiara semakin terisak. Kepalanya ia sandarkan pada Galas yang duduk disampingnya.
"Itu karena kamu yang tidak mau membuka hati." Galas bergerak gelisah, ia tahu tidak boleh sedekat ini dengan wanita lain. Apalagi sekarang ia sudah menikah. Ia tak mau pernikahan yang baru saja ia jalani bermasalah karena salah paham.
"Eh, Tiara, aku ingin mandi dulu." Galas menjauhkan kepala Tiara darinya. Ia berdiri untuk ke atas tetapi Tiara menahan tangannya.
"Kenapa?" Galas melepaskan tangan Tiara darinya.
"Setelah mandi kamu turun lagi, ya ... aku kesepian nggak ada teman bicara," ucapnya memohon. Galas mengusap tengkuknya dengan raut wajah dilema. Ia berniat menghubungi istrinya setelah selesai mandi nanti. Tapi ia sedikit tidak tega juga membiarkan Tiara seorang diri. Bagaimana pun Tiara sudah banyak membantunya selama ini.
"Hemm," jawabnya akhirnya. Entah apa artinya, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1
Galas melangkah menaiki tangga menuju kamar pribadinya. Ia mulai dilema, apa keputusannya membawa Tiara ke rumahnya benar atau tidak? Apa istrinya tidak akan salah paham atau terganggu nantinya? Mengingat mereka tidak seakrab itu dan Tiara sering bersikap sinis karena merasa cemburu dengan kehadiran Gayung dikehidupannya.
Galas melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya. Melemparkan pada keranjang baju kotor kemudian membawa tubuhnya ke bawah shower, menyegarkan dan mendinginkan tubuh serta pikirannya.
Ia melakukannya kilat. Karena ia sudah begitu merindukan istrinya. Ya, istrinya adalah yang utama dan prioritasnya sekarang bukan orang lain.
"Halo. Belum tidur?" Galas melakukan videocall sambil mengeringkan rambutnya ya ng basah. Senyum terkembang dibibirnya melihat istrinya disana yang tengah sibuk memakan coklat, makanan kesukaannya.
"Belum. Lagi makan coklat," jawabnya sembari menunjukkan bulatan coklat berwadah kertas keemasan ditangannya.
"Hari ini kemana?" tanya Galas lagi.
"Ke sawah sama Ayah, nyari keong," jawabnya dengan kekehan kecil. "Kak Galas kemana? Jam segini baru ingat istri," sungutnya. Karena seharian suaminya itu bahkan tak membalas pesan darinya.
"Maaf, hari ini aku sibuk, Sayang." Galas menjadi merasa bersalah.
"Sampai nggak bisa balas pesan?" protesnya.
"Maaf," ucap Galas lagi sembari berjanji dalam hati tak akan lagi mengabaikan pesan dari istrinya.
"Jangan suka bikin galau, sih, Kak."
"Iya, maaf, Sayang. Lain kali tidak lagi-lagi." Galas merubah posisinya menjadi berbaring di atas ranjangnya yang nyaman. "Kangen kamu." Galas memperhatikan detail wajah istrinya yang tergambar pada layar ponselnya.
"Kangen tapi seharian nggak kasih kabar sama sekali," sindir Gayung.
Galas ingin mengucapkan kata maaf lagi. Namun ketukan di pintu kamarnya menghentikan kalimatnya.
"Galas." Terdengar suara wanita yang sangat dikenalinya. Galas bangkit gelisah, ia harus bagaimana agar istrinya tidak salah paham dengan keadaan ini.
"Siapa?" tanya Gayung curiga.
***
__ADS_1
Jangan lupa like & komen serta vote ...