Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 69


__ADS_3

Gayung melirik sepatu Flat warna putih itu sekali lagi. Kemudian beralih ke suaminya yang sedang mengemudikan mobilnya menuju kantor siang itu. Ya, mereka terbiasa berangkat jam sebelas siang dari rumah sekarang.


"Kak, kemarin kamu kemana sama Pak Jay?" tanya Gayung.


"Makan diluar," jawab Galas santai.


"Oh ...." Gayung memandang keluar jendela. Ada sesak kembali didadanya. Ia sebenarnya ingin bertanya langsung. Namun ia ingin menunggu kejujuran suaminya.


"Kenapa?" tanya Galas, menoleh pada istrinya itu.


"Nggak, kamunya lama keluarnya." Ia memilih berbohong.


"Karena dirumah ada Sasya. Kamu bilang dia malu kalau ada aku dirumah, makanya aku keluarnya lama," jelas Galas. Gayung tak menjawab lagi, sibuk dengan pikirannya.


Sesampainya dikantor, ia lebih banyak diam. Menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Karena memang banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Galas tak menaruh curiga, karena ia sendiripun sibuk dengan beberapa klien yang menghubunginya.


"Aku mau makan diatas," ucap Gayung saat jam istirahat siang. Setelah menyiapkan makan siang untuk suaminya.


Sekali lagi Galas tak menaruh curiga sedikitpun, karena disibukkan dengan komplain dari salah satu customer yang bermasalah dengan masalah pembayaran.


"Iya, jangan lari-lari, Sayang," pesannya selalu jika istrinya ingin makan diatas. Gayung tak menjawab, hanya berlalu begitu saja. Menghampiri Sasya diruangannya dan bersama-sama menuju ruang makan.


"Kamu duduk bareng aku ya, Kak," ucap Gayung dan diangguki dengan senang hati oleh Sasya. Kapan lagi bisa mengagumi dari dekat dengan ciptaan sempurna Sang Pencipta. Rio Wijaya.


"Tumben makan diatas?" tanya Rio pada Gayung, atasannya tentu saja. Sebenarnya Rio sendiri juga seorang Bos. Entah kenapa, ia mengambil peran double seperti ini. Padahal ia punya bisnis sendiri.


"Bayinya lagi pengen," jawab Gayung beralasan.


Ekor matanya menangkap sahabatnya itu mencuri pandang pada laki-laki bermata sipit itu.


"Pak Rio ada jual laptop, ya?" tanya Sasya memberanikan diri bertanya. Demi bisa bicara dengan Rio, ia rela mengeluarkan uang banyak demi sebuah laptop. Padahal sebenarnya ia sudah memilikinya.


"Iya, kamu mau?"


"Iya, kalau ada yang sama persis sama laptop yang saya pakai kerja dibawah," ucap Sasya bersemangat. Gayung menahan senyum gelinya. Demi cinta seseorang bisa melakukan apa saja.


"Oke, nanti saya cek ke meja kamu," jawabnya.


"Iya ..." Hati Sasya langsung bermekaran bunga-bunga. Kakinya menyenggol kaki Gayung, dengan senyum yang coba ia tahan sekuat tenaga. Ia tidak ingin Rio atau siapapun mengetahui isi hatinya. Seperti ini saja cukup, meski ia tahu tak mungkin memiliki.


"Harganya kira-kira berapa?" tanya Sasya dengan kalemnya, saat Rio memenuhi janjinya untuk mengecek laptop kerjanya.


"Sekitar enam jutaan, dibawah tujuh lah," jawabnya.


Glekk!


Sasya menelan salivanya. Tidak masalah! Demi bisa berbicara dengan Rio, ia rela mengeluarkan uang sekian juta. Lagipula, nanti laptop lamanya bisa ia jual juga.


"Kalau keberatan bisa dicicil juga." Sasya menatap malu pada Rio yang sepertinya tahu apa yang dipikirkannya.


Kalau dicicil itu artinya ia bisa punya kesempatan lagi untuk berbicara dengan laki-laki itu?


"Memang boleh?" tanyanya malu-malu.

__ADS_1


"Bisa tapi harganya tambah sedikit," jelasnya.


"Ehm ... kas aja deh," jawab Sasya setelah memikirkannya sejenak.


"Sipp, besok saya bawa barangnya." Rio meninggalkan ruangan Sasya menuju ruangannya. Mata Sasya tak berkedip memandang punggung itu sampai menghilang dibalik pintu.


"Woy, kamu suka sama Pak Rio?" bisik Safa, yang memperhatikan Sasya sedari tadi. Untung saja, ibu-ibu satu ini tidak lepas kontrol dan berkoar-koar mempermalukan diri Sasya.


"Jangan ember, pleaseee ...," bisik Sasya balik.


"Nasi padang dah, buat tutup mulut," candanya. Sasya memberengut kesal. Ia sudah kehilangan sekian juta hanya untuk bisa bicara dengan pujaan hatinya. Sekarang, ia harus dipalak lagi oleh ibu-ibu gila.


"Hahaha ... nggak, nggak." Safa menggusak rambut panjang Sasya. "Eh, tapi katanya dia itu nggak bakalan nikah lho ...."


Mereka masih berbisik-bisik.


"Iya, udah tahu."


"Terus, masih lanjut?" tanya Safa keheranan.


"Anggap aja aku fans beratnya, hehe ...."


"Gila, udah umur berapa kamu. Jangan main-main terus, cari yang serius ... ntar jadi perawan tua kaya Mak Lampir, mau? Hahaha ...." Safa terkekeh.


"Doain ajalah biar cepat laku."


"Emang lu dagangan, laku ... somplak lu."


"Udah, sono balik Ibu-Ibu Gila. Aku mau kerja buat bayar laptop, nih ...."


"Apa lo?" galaknya.


"Idih, galak banget sih, Sya sekarang?" ucap Bimo.


"Bodo."


"Amat," timpal Bimo sengaja mengajak Sasya bercanda.


"Berisik lu gendut," sungut Sasya.


"Kamu lagi cari jodoh ya?" Bimo sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka tadi.


"Nggak, tuh." Sasya malas meladeni ledekan Bimo nanti. Jika mengetahui yang sebenarnya.


"Serius? Adik aku lagi cari jodoh tuh. Comblangin mau nggak?" tawar Bimo.


"Kalau gendutnya sama kaya lo, gua nggak mau," ucap Sasya blak-blakan. Bimo bukannya tersinggung malah tertawa.


"Adikku langsing, Sya, cuma ...." Bimo melirik Sasya yang juga meliriknya.


"Cuma apa?" tanya Sasya penasaran.


"Cuma adik gue masih SD. Mau? wkwkwkwk ...."

__ADS_1


"Gendut si*lan!"


Brukk!!!


Map biru itu mendarat mulus dikepala Bimo.


***


"Sayang, kok kamu daritadi diam saja?" Akhirnya Galas menyadari juga kediaman istrinya.


"Bawaan bayi," jawab Gayung asal. Ia benar-benar menunggu kejujuran suaminya, namun sepertinya Galas tak berniat untuk mengakuinya.


"Kamu mau makan sesuatu?"


"Iya, aku pengen banget makan kamu," jawab Gayung datar. Tapi lagi-lagi Galas sungguh tak peka dan malah mengira istrinya mengajaknya bercandha.


"Nanti malam, Sayang. Ini masih sore," kekehnya. Gayung diam tak bergeming, fokus pada pekerjaannya.


"Nanti aku mau main ke kosan Kak Sasya," terang Gayung. Bukan meminta ijin, tapi lebih menjelaskan.


"Ya sudah, nanti malam aku jemput." Gayung melirik suaminya. Tak biasanya Galas memberikan ijin untuk berkunjung ke kosan Sasya. Ia selalu takut istrinya bertemu dengan penggemar beratnya disana. Tapi kali ini suaminya begitu saja membiarkannya ... kenapa?


"Tumben? Kamu biasanya cerewet?" Gayung semakin kesal saja melihat sikap suaminya.


"Sekali sekali aku pikir pikir, tidak masalah, Sayang. Apalagi kita sama-sama terus, aku takutnya kamu bosan ...."


"Kamu bosan bareng terus sama aku?" tanya Gayung cepat. Raut wajahnya jangan ditanya lagi. Murka. Sayangnya Galas bisa tidak peka.


"Aku tidak pernah bosan dengan kamu, Sayang. Kamu kan sedang hamil, mungkin butuh hiburan dengan teman kamu ...," jelas Galas.


"Ya udah," jawab Gayung akhirnya. Liat aja nanti! Batin Gayung.


"Aku juga ada urusan sebentar nanti dengan Jay. Daripada nanti kamu bosan dirumah."


Terserah! Batin Gayung murka. Cih! Urusan dengan Jay atau dengan wanita lain?


Gayung berlari kecil ke toilet diruangan itu. Menenangkan diri, menarik nafas panjang agar air matanya tidak jatuh.


Niatnya bulat! Ia akan membuntuti suaminya nanti. Hatinya memanas ingin mengetahui apa yang sedang coba disembunyikan suaminya darinya. Apa ia masih berhubungan dengan Tiara, jika iya atau jika ia ingin membantunya kenapa harus sembunyi-sembunyi dan membohonginya.


Gayung tidak mengerti. Hatinya sakit! Itu saja yang ia tahu sekarang.


***


Maaf ya ...


Slowww update ....


Jangan lupa


Like


Komen

__ADS_1


Vote


❤❤❤


__ADS_2