Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 42


__ADS_3

"Kak Galas, kita beneran mau nikah?" bisik Gayung lagi sepulang dari mengurus semuanya. Mereka kini sedang dimobil dalam perjalanan pulang.


Karena Galas merasa belum terlalu sehat, ia meminta seorang tetangga Gayung untuk mengambil alih kemudi mobil. Sementara ia duduk dibelakang bersama Gayung dan calon ibu mertuanya. Pak Ming duduk di depan, disamping sopir. Sedangkan Ayah Gayung sendiri, tidak ikut, karena ikut memancing di tempat pemancingan dekat dengan rumah.


"Iya. Kamu tidak senang?" Galas balas berbisik sembari menatap ekspresi Gayung.


"Senang," jawab Gayung malu-malu. "Memang surat-suratnya sudah lengkap?"


"Sudah, kamu lihat sendiri, kan tadi sudah di cek semuanya?"


"Iya, sih," jawabnya sembari menghela nafas. Hal itu membuat Galas sedikit bertanya-tanya. Sebelum ia sempat berbicara, calon ibu mertuanya sudah melontarkan pertanyaan yang mewakili isi hatinya.


"Kamu kenapa, sih, Yung. Kok kayanya nggak senang begitu mau nikah. Kalau kamu belum siap, dibatalin aja gimana?"


"Jangaan!" potongnya. "Gayung bukannya tidak senang, cumaaa ...."


"Cuma apa?" tanya Galas penasaran. Ia sedikit terganggu dengan helaan nafas berat kekasihnya itu. Bukankah seharusnya seorang wanita akan berbahagia jika kekasihnya mengajaknya menikah? Bukankah mereka akan sangat bahagia ketika hubungannya akhirnya mendapat kepastian? Untuk itulah Galas merencanakan begitu matang kejutan hari ini. Bahkan sakitnya pun tak ia pedulikan.


"Cuma ...." Gayung ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Kalau kamu belum siap, aku akan menundanya." Galas tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.


"Bukan!" Sela Gayung, sembari meraih lengan Galas lalu memeluknya. Ditatapnya calon suaminya itu, ia dapat menangkap kekecewaan diwajah tampan itu. Hal itu membuatnya merasa bersalah, dan ia baru sadar kalau Galas sedikit pucat hari ini.


"Eh, Kak Galas masih sakit, ya?" Gayung menangkup wajah Galas dengan kedua tangannya. Namun Galas menggelengkan kepalanya dan berusaha menunjukkan kalau ia baik-baik saja.


"Tidak, cuma kecapekan saja," jawabnya.


"Mending kita ke dokter saja, Ibu juga merasa kalau kamu sebenarnya tidak sehat, Las. Jangan dipaksakan nanti malah kenapa-kenapa bagaimana. Masak pengantin baru sakit."


"Tidak usah, Bu. Obat yang kemarin masih ada," tolak Galas, membuat Gayung semakin mengkhawatirkannya. Ia tiba-tiba terpikirkan sesuatu.


"Bapak," panggil Gayung.


"Bapak kamu tidur, Yung." Pak Sowi yang menjawab, karena ternyata Pak Ming tertidur dengan lelap dikursi depan. Waktu tidur Pak Ming memang setelah solat subuh, dan malamnya biasanya ia gunakan untuk solat juga berdoa untuk pasien-pasiennya. Karena sedang ada tamu dirumahnya, ia bangun lebih pagi dan menemani Ayah tiri Gayung dengan para tetangga yang datang ke rumahnya.


"Kak Galas, istirahat dirumahku dulu, ya. Jangan langsung pulang, nanti biar diobatin Bapak juga." Galas hanya mengangguk. Sebenarnya hatinya masih bertanya-tanya tentang alasan Gayung menghela nafas tadi. Ia takut jika gadis itu memang belum siap untuk menikah saat ini. Mengingat memang usianya masih sangat muda, yakni 20 tahun, selisih sepuluh tahun darinya.

__ADS_1


***


Setelah mendapat pengobatan dari Pak Ming. Juga meminum obat dari Dokter, Gayung membawa Galas ke kamarnya untuk beristirahat. Galas menurut, karena ia merasakan tubuhnya semakin lemah dan tak bertenaga sama sekali. Menurut yang ia dengar dari Inge dulu, memang seperti itulah efek yang akan dirasakan tubuh setelah mendapatkan penanganan dari Pak Ming.


"Kak Galas istirahat aja, biasanya lemasnya sampai besok pagi. Tapi setelah itu biasanya enteng, kok badannya," ucap Gayung lembut sembari menyelimuti tubuh calon suaminya itu.


"Cie ... cie ...." Ledek Fauzan yang baru pulang dari memancing. Ia melongok sebentar ke dalam kamar sebelum berjalan menuju ke dapur, tangan besarnya membawa seplastik ikan hasil tangkapan yang nantinya akan ia bagi-bagikan ke tetangga. Karena ia hanya suka memancing tapi tidak mau memakan ikan hasil pancingannya sendiri. Selama di Indonesia pun ia hanya makan satu kali sehari dan yang ia makan pun hanya nasi padang, tidak mau makanan yang lain.


"Apa, sih Ayah." Gayung mencebikkan bibirnya mendengar ledekan Ayah tirinya itu.


"Gayung, biarin Galas istirahat. Mesra-mesraannya besok aja kalau sudah sah." Kali ini Bapak yang menggodanya dengan senyum usilnya.


"Iya, Bapak," jawab Gayung. Namun ia masih didalam kamar dan enggan meninggalkan Galas seorang diri.


"Kamu temani aku disini, ya," pinta Galas dengan suaranya yang lemah. Tangannya menggenggam erat tangan Gayung, seolah takut ditinggal sendirian.


"Hemm." Gayung menganggukkan kepalanya sembari menyunggingkan senyum tulus dari bibirnya. "Kak Galas, istirahat. Kalau besok masih sakit. Pernikahan kita bagaimana?"


Galas terdiam sebentar, mencoba membaca ekspresi diwajah ayu yang esok akan menjadi miliknya seutuhnya itu.


"Kamu benar, mau menikah denganku?" tanya Galas memastikan.


"Bukan karena terpaksa?"


Gayung menggeleng, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Bukan karena bersedih melainkan ia terlalu bahagia dengan kejutan yang Galas berikan padanya.


"Kenapa kamu menangis?" Galas masih mengira, Gayung belum siap untuk menjadi seorang istri.


"Aku masih belum percaya aja, Kak Galas. Waktu kecil, kan kamu galak banget ke aku. Terus setelah sepuluh tahun, kita ketemu lagi. Pacaran sebentar, terus tiba-tiba besok kita akan menikah. Rasanya masih seperti mimpi ...." Air mata Gayung semakin mengalir deras. Galas yang masih salah paham, semakin merasa bersalah. Ia mencoba bangun dari posisi berbaringnya.


"Kak Galas mau kemana?" Gayung mengira Galas ingin ke belakang.


"Kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu siap menikah denganku."


"Aku siap, Kak Galas. Kenapa daritadi pertanyaannya itu terus, sih?" Gayung menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Kamu, kan masih muda. Aku takut kamu belum siap. Di mobil tadi ...." Gayung yang mengerti kesalahpahaman Galas segera menjelaskannya.

__ADS_1


"Aku bukannya belum siap, Kak Galas." Gayung mengucapkannya dengan suaranya yang lembut, tak lupa menampilkan senyum manisnya. Ia merasa senang, melihat ekspresi kecewa Galas yang mengira ia belum siap untuk menempuh hidup baru bersamanya.


"Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku lakukan sebelum menikah." Gayung terlihat ragu untuk menceritakannya.


"Apa itu? Siapa tahu aku bisa mewujudkannya." Tangan Galas terulur menghapus sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipi Gayung.


"Aku ... pengen ... ganti nama." Gayung menundukkan wajahnya, merasa malu keinginannya sendiri.


"Ganti nama?" Senyum terulas dibibir Galas mendengar pengakuan Gayung. Ia lega, karena ternyata dugaannya tadi salah. "Kenapa harus ganti nama, Sayang? Nama kamu itu sudah bagus dan ... unik.'


"Bohong ... kamu pernah bilang aku nenek Gayung." Gayung mengerucutkan bibirnya mengingat saat ciuman pertama mereka.


"Aku cuma bercanda, Sayang. Aku minta maaf ... aku janji tidak akan menggodamu seperti itu lagi."


"Kak Galas nggak malu punya istri namanya gayung?"


"Buat apa malu? Buat aku, nama kamu nama paling bagus sedunia," rayu Galas.


"Pretlah ... hahaha ...." Gayung tertawa geli mendengar gombalan Galas.


"Serius, Sayang. Jadi tidak usah ganti nama, ya," bujuk Galas.


"Hemm ... iya. Tapi aku panggil kamu Gelas, ya hahaha." Galas ikut tertawa mendengar gurauan calon istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Aku aja panggil kamu Sayang, masa kamu panggil aku Gelas," protesnya. "Kamu sudah janji, kan mau belajar panggil Sayang," tagih Galas lagi.


"Iya, nanti. Sekarang Kak Galas istirahat dulu, biar cepat sembuh." Gayung berusaha mencari alasan.


"Hei, Yung ... biarin calon suaminya istirahat dulu. Kalau besok belum sehat juga, bisa-bisa malam pertamanya di undur lho." Dian cekikikan didepan pintu.


"Apa, sih Ibu."


Galas dan Gayung saling melemparkan pandangan dengan kikuknya mendengar ledekan Dian yang begitu blak-blakan. Setelahnya, mereka saling mengalihkan pandangan. Galas memilih kembali berbaring. Sementara Gayung keluar mengambil minuman dari dalam kulkas.


***


Jangan lupa like & komen ...

__ADS_1


Sorry ... bahasanya ancuerrr ...😁😁😁


__ADS_2