
Setelah lima hari tidak diperbolehkan masuk kerja oleh Galas, akhirnya hari ini Gayung bisa kembali melakukan aktivitasnya lagi seperti biasa. Sebenarnya ia sudah merasa sehat sejak dua hari yang lalu, tapi Galas begitu cerewet dan berlebihan memperlakukannya. Sampai-sampai ia merasa malu sendiri, harus berpura-pura sakit saat rekan kerjanya datang menjenguknya. Padahal ia sudah merasa sangat sehat sekali.
"Sudah sehat, An?" sapa Tiara ramah saat melewatinya menuju ruangannya Pak Jay.
"Sudah, Mba," jawab Gayung ramah dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Sakit apa? Lama banget liburnya." Nadanya penuh dengan sindiran. Gayung yang sedang fokus menghitung menggunakan kalkulatornya mendongakkan kepalanya lagi, menatap wanita cantik yang sepertinya begitu menunggu jawabannya.
"Sakit--biasa, masuk angin." Gayung menjawab jujur.
"Cuma masuk angin, bisa off selama itu ya, enak banget ...." Tiara mengucapkannya sambil lalu dengan nada mencela yang begitu kentara. Gayung terdiam, sedikit menoleh pada sosok sexy yang semakin menjauh dari jangkauannya. Inilah yang ditakutkannya, ia sendiri mengakui bahwa off lima hari itu terlalu berlebihan.
"Sabar, Buk, sabar ... anggap saja Mak Lampir lagi cemburu," cicit Sasya dengan muka tengilnya.
"Kak Sasya jangan jahat, mana ada Mak Lampir secantik itu?" Gayung tak ingin menanamkan kebencian dalam dirinya. Ia memilih mempercayai Galas dan mencoba memahami kegalauan Tiara yang telah memendam rasa pada Galas dalam kurun waktu yang sangat lama. Butuh waktu bagi wanita cantik itu untuk menerima semua.
"Adalah ..., itu yang di TV aslinya pemeran Mak Lampir itu cantik-cantik lho. Tinggal dandanin aja tuh Mbak Tiara, jadi deh ...." Sasya terkikik sendiri sambil sibuk mengunyah cilok goreng pedas bumbu kacang dagangan anak lantai dua.
"Kak, mauu ...."
"Ambil aja, Say." Sasya menyodorkan cilok pedas itu ke Gayung.
"Bimo nggak mau?" Sasya menawari.
"Maulah kalau ditawari mah." Gayung mengoper cilok kepada Bimo.
"Biasanya juga langsung serobot," ejek Sasya.
"Bimbiiiim," panggil Jio dengan manisnya.
"Kenapa Pak ketua? Mau ke kamar mandi?" tanya Bimo tertawa geli sambil mulutnya sibuk mengunyah.
"Hehe ... ayolah, serem Bim." Jio bergidik ngeri mengingat insiden kesurupan masal kemarin di lantai dasar.
__ADS_1
"Yey ... dasar! Masa jadi laki penakut gitu," cela Sasya.
"Laki-laki juga manusia, Sasya sayang." Jio membela diri. "Ayolah, Bim." Jio yang sudah tidak tahan menahan kencing menarik lengan gempal Bimo untuk mengikutinya, tak peduli Bimo masih asyik menusuk satu bulatan cilok dari dalam plastik.
"Kak, nanti kalau aku mau ke wc, temenin juga ya." Sifat penakut Gayung kambuh lagi, mendengar cerita-cerita seram dari teman-teman seruangannya.
"Gantian ya ... wkwkwk, sama aku juga takut." Sasya ternyata takut juga.
***
Sesaat sebelum istirahat siang, Galas memberitahu Gayung bahwa ia tidak bisa makan siang bersama di ruang makan. Karena sedang ada tamu, teman semasa kuliahnya dulu sekaligus rekan bisnisnya. Gayung mengiyakan dan pergi ku ruang makan bersama teman-teman yang lain. Kali ini Jio tak menunggunya, tadi pagi ia sempat curhat padanya bahwa ada anak baru dilantai dua yang menarik perhatiannya. Gayung justru senang mendengar hal itu, karena ternyata Jio mudah sekali move on dan berpindah ke lain hati. Sehingga rasa bersalahnya pun cepat menghilang.
"Halo, selamat siang semuanya," sapa Tiara yang tampak menggendong seorang anak laki-laki tampan bersamanya. Kemudian mendudukannya di kursi dltepat didepan Gayung.
"Halo, Zian." Gayung menoleh pada Jio, yang sepertinya mengenal balita tampan itu.
"Makin mirip sama Galas, yah," ucap Tiara sengaja membuat Gayung bertanya-tanya dalam hati. Dan itu berhasil.
"Iya ya ... jangan-jangan memang anaknya lagi," jawab Jio sekenanya. Gayung memperhatikan anak tampan itu mencari letak kemiripannya dengan Galas. Dan harus diakui memang--sedikit mirip.
"Hehe ... Halo Zian sudah makan belum?" tanya Jio.
"Belum," jawabnya imut sekali. "Aku mau makannya besok aja di Hongkong ...," lanjutnya begitu polos.
"Mau makan apa di Hongkong, Zian?" kali ini Tiara yang menanggapi.
"Makan Kfc...." Jawaban polos dari Zian membuat jiwa missqueen para karyawan terhenyak.
"Horanggg kayahh," timpal Tiara gemas.
"Hahaha ... makan Kfc aja pakai ke Hongkong, di sini juga ada," timpal Jio.
"Aku maunya yang di Hongkooong," kekeuh Zian.
__ADS_1
"Iya, iya ... Zian kesananya sama siapa?" Jio mengalah. Ia tahu, meskipun terdengar seperti hanya omongan anak kecil yang tak serius tapi apa yang dimau anak itu pasti akan menjadi kenyataan besok.
"Sama Mama."
"Papa nggak ikut?" tanya Jio lagi. Dia memang suka sekali dengan anak kecil.
"Nggak, kata Mama, Papa sudah punya mama baru," jawabnya membuat yang menyaksikan gemas pengen cubit.
"Wahh, Memangnya sudah cerai, Mbak?" Jio penasaran. Gayung hanya mendengarkan saja, tak tahu harus berbicara apa. Apalagi melihat tatapan tak suka dari Tiara membuatnya memilih bungkam.
"Sudah, belum lama ini."
"Wahh, jangan-jangan ini memang jalan jodohnya Pak Galas. Disaat sedang mencari calon istri, cinta lama yang belum sempat dimiliki datang, statusnya sudah single lagi." Jio cengengesan mendengar celotehannya sendiri. Ia mendengar cerita cinta Pak Galas dari Jay, dulu.
Tiara melirik pada Gayung, ia ingin melihat bagaimana raut wajah wanita yang dianggapnya kampungan itu mendengar Galas saat ini sedang bersama cinta pertamanya dulu, meskipun mereka belum sampai menjalin hubungan. Namun sayangnya perkataan Jio tak memberi pengaruh apapun pada gadis itu.
"Bisa jadi, dulu pas kuliah Galas tuh baik dan perhatian banget sama Dara."
"Duh, kalau mereka benar jadi, bakal kaya apa ya anak-anak mereka, pasti ganteng-ganteng dan cantik-cantik." Jio terus saja memuji keserasian mereka tanpa tahu hati Gayung sakit saat mendengarnya.
"Pastinya, ini sudah ada contohnya." Tiara mengelus sayang rambut Zian. "Aku harap sih, kalau sudah merasa nggak selevel mending tahu diri saja," lanjutnya menyorot tajam pada Gayung.
Gayung yang merasa kalimat itu ditujukan padanya membalas tatapan wanita yang dulu begitu dikagumi kecantikannya itu. Ingin rasanya ia membalas perkataannya, tapi Gayung tak memiliki keberanian untuk itu.
"Selevel apa, Mbak?" tanya Jio dengan muka bodohnya.
"Nggak, bukan apa-apa."
"Kalau Pak Galas sama itu ... Mbak Tiara gimana?" Jio baru ingat, kalau wanita didepannya juga menaruh hati ke Bosnya.
"Aku ikhlas kok, selama wanita itu memang kelasnya diatas aku, tapi kalau dibawah yaa ... gimana yah ... nggak bangetlah ...," sinisnya tanpa menoleh pada yang dia maksudkan.
Gayung menunduk dalam, bertanya pada dirinya. Apakah dirinya sebegitu tidak pantasnya untuk Galas? Ia yang sudah berubah seperti ini saja, masih dikatai ini itu. Bagaimana kalau sampai Tiara tahu betapa culunnya dirinya dulu. Mungkin wanita itu akan semakin menghinanya sampai ke dalam jurang.
__ADS_1
***