
Gayung sibuk mengaduk susu kehamilannya, saat sebuah tangan melingkari perutnya dan memeluknya dari belakang. Gayung menoleh sekilas, siapa lagi kalau bukan suaminya yang baru saja pulang. Semalam ini?
Gayung tak dapat menyembunyikan kekesalannya lagi.
Setelah menguntit suaminya tadi, Gayung memang memutuskan pulang, mengabari suaminya dan menunggu kepulangannya dengan menyibukkan diri menelfon kedua orang tuanya, baik bapak maupun ibunya. Namun setelah obrolannya yang sudah berjam-jam, suaminya tak kunjung pulang juga dan tak membalas pesan singkat yang dikirimkannya. Pikirannya sudah campur aduk, curiga, cemburu, gelisah, marah, khawatir menjadi satu.
"Baru pulang?" tanyanya dingin. Ia tidak bisa bermanis-manis lagi sekarang setelah pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan hubungan gelap seperti drama korea yang pernah ditontonnya.
"Iya, tadi sempat ada masalah dengan mobilnya Dara. Jadi aku mengantar dia dulu sama mampir sebentar," jelasnya. Tanpa tahu bahwa penjelasannya menyakiti perasaan istrinya.
Gayung yang tengah meminum susunya sampai tersedak mendengar pengakuan suaminya. Mampir?!
"Hati-hati minumnya, Sayang." Galas menepuk-nepuk punggung istrinya.
"Ka-kamu mampir dirumahnya?" tanya Gayung dengan wajah memerah.
"Iya, cuma sebentar. Kar ...."
"Dirumahnya ada siapa aja?" potongnya cepat dengan genangan air yang hampir tumpah dipelupuk matanya. Galas terkejut melihat respon istrinya.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Galas berusaha mengusap air mata yang terjun bebas tanpa bisa Gayung bendung lagi.
"Dirumahnya ada siapa aja?" tanya Gayung lagi dengan bibir bergetar.
"Hei, Sayang. Aku hanya mengantarkannya tidak seperti yang kamu pikirkan." Galas berusaha menenangkan istrinya.
"Kenapa harus kamu yang nganterin, ada Pak Jay juga kan ...?"
"Jay tadi membawa istri dan anaknya, Sayang ...." Galas menggenggam tangan istrinya, menenangkannya.
Apa? Jay membawa istri dan anaknya. Sementara ia tak diajak oleh suaminya.
"Kenapa kamu nggak ngajak aku juga?"
"Kamu kan bilang mau ke tempat Sasya, makanya aku tidak jadi mengajak kamu."
Masuk akal! Tapi ...
"Kamu kan bisa tanya aku dulu, mau ikut apa nggak ...?" Gayung masih dikuasai emosi.
"Kamu kenapa, sih? Aku disana cuma bahas pekerjaan bukan sedang berselingkuh ." Galas mulai terbawa emosi, karena kecurigaan istrinya yang menurutnya berlebihan.
"Sampai malam begini?" sinis Gayung.
"Ya karena ada anak-anak sekalian menghibur mereka apa salahnya?"
"Kamu mikirin perasaan aku nggak sih, Kak? Aku nungguin kamu dari tadi, pesan aku juga nggak kamu balas ...." Gayung melipat bibirnya meredam emosinya yang meluap bersamaan dengan air matanya yang berjatuhan tanpa bisa ia tahan lagi.
"Mungkin tadi aku sibuk sama Zian, jadi tidak sempat membuka pesan kamu," jelasnya.
"Sibuk sama Zian apa ibunya?" tanyanya dengan nada meninggi. Ini untuk pertama kalinya ia berbicara seperti ini pada suaminya.
__ADS_1
"Astaga, aku sama Dara itu sudah lama berteman. Aku juga pernah cerita ke kamu kan?"
"Iya, Kak Galas pernah suka kan sama dia?" Rasa cemburu begitu menguasai Gayung.
"Itu masa lalu ...." Galas mulai frustasi menghadapi kecemburuan istrinya. "Sekarang kamu maunya bagaimana? Aku di rumah, kerja, kemana-mana harus selalu bersama kamu ...?" Galas mulai tersulut emosinya, membuat Gayung membeliak terkesiap, yang ia harapkan hanya kata maaf dan penjelasan dari suaminya bukan pertengkaran seperti sekarang.
"Jadi kamu bosan bareng terus sama aku?"
"Aku bukannya bosan, tapi ini masalah pekerjaan ...."
"Aku cuma mau kamu jujur ...."
"Memangnya kurang jujur apalagi? Aku tadi jujur bilang kalau sedang bersama Dara juga Zian."
"Kemarin? Kemarin kamu ketemu sama siapa?"
Galas mulai jengah dengan pertanyaan istrinya.
"Kemarin apalagi?"
"Ada sepatu wanita di mobil kamu ...." Sekalian saja ia bahas. Tidak peduli suaminya sudah ikut memerah menahan kemarahannya. Kenapa jadi dia yang marah? Gayung semakin kesal saja.
"Itu sepatu Tiar ...."
"Jadi kemarin kamu ketemu dia lagi?" potongnya. Mendengar nama itu, hati Gayung makin memanas.
"Aku dan Jay tidak sengaja bertemu, dia hampir saja pingsan ... lalu aku sebagai teman, tidak mungkin membiarkan saja kan ...."
"Tapi kamu nggak cerita sama aku ...."
"Justru aku akan marah, kalau kamu nggak jujur sama aku."
"Ashhh ... sudahlah aku lelah, aku mau istirahat." Galas mengabaikan isakan tangis istrinya dan berlalu begitu saja dengan ekspresi kesal.
Air mata Gayung semakin membanjir, ini pertengkaran panjang pertama mereka sejak mereka menikah. Galas tidak pernah semarah ini padanya, begitupun dirinya tak pernah merasa secemburu ini kepada suaminya.
Memikirkan bayi dalam kandungannya, Gayung menghela nafas panjang. Ia tidak boleh terlalu bersedih. Karena tentu saja akan berpengaruh pada bayinya. Susu yang masih tersisa separuh ia paksakan dirinya untuk menghabiskannya.
Harus tenang! Sabar dan sabar ...
***
"Heh perawan!" Safa mengagetkan Sasya yang tengah menaruh tasnya ke dalam loker.
"Ishh ... apa sih ibu-ibu gila?" sungut Sasya yang hampir copot jantungnya, karena ulah iseng Safa.
"Semangat banget cuy?" Safa membuka kunci lokernya.
"Ya donggg ...," jawab Sasya tengil.
"Laptop baru kamu itu?" tanya Safa yang melihat gadis kurus itu menenteng sebuah laptop.
__ADS_1
"Bukan, ini laptop lama aku."
"Kenapa dibawa-bawa? Tar diomelin Pak Bos, dikiranya kamu mau membocorkan rahasia perusahaan." Safa mengingatkan. "Tuh bawa OTG lagi ...."
"Ya elah ... Sasya sehebat apa sih, bisa membocorkan rahasia perusahaan. Ini juga OTG isinya drama korea semua kelesss ...."
"Ya kali aja Neng. Ada bokepnya nggak tuh?" tanya Safa koplak, iseng.
"Ishhh dasar ibu-ibu gila! Gue nggak nonton bokep ... najiss!" ujar Sasya ngeri.
"Wkwkek ... sok iyes lu. Itu tuh buat belajar ... nanti kalau udah merried mau pake gaya kambing, gaya kucing nungging kan udah ada bayangan hhohoho ...." Predikat ibu-ibu gila memang cocok buat Safa, batin Sasya.
"Ya salammm ... bisa ya aku akrab sama ibu-ibu mesum begini," gumam Sasya prihatin pada dirinya sendiri.
"Heh, gue denger. Kampret lu ...." Safa merangkul tubuh cungkring Sasya. "Eh aku serius nanya nih , kenapa tuh laptop dibawa-bawa? Pernah lho dulu, ada yang bawa laptop apa USB gitu, diomelin sama Pak Bos ...."
"Udah, tenang aja. Aku sama Pak Bos itu prend forever, sobat kental." Sasya membusungkan dadanya, menyombongkan diri.
"Songong lu." Safa menempeleng pelan kepala Sasya.
"Emang iye. IRI ... bilang Boss! Wkwkwk ...."
"Boleh muntah nggak?" Safa pura-pura mual.
"Boleh, tuh dimukanya Bimo. Biar tambah ancur tuh muka hahaha ...."
Bimo yang tengah menyantap sarapannya spontan menoleh.
"Apa sih? Dateng-dateng udah ghibah aja ...," sungut Bimo.
"Emberr ... muka lo emang cocok dighibahin," jawab Sasya tega.
"Asyem! Tumben Sya. Pagi-pagi udah semangat, kemarin-kemarin manyun terus." Bimo penasaran.
"Iya, nih. Laptop gue rusak...." Sasya senyum-senyum. Sengaja gue rusakin, sih! Batin Sasya.
"Aneh lu! Laptop rusak malah seneng." Udah gila kali tuh orang kelamaan jomblo, Bimo membatin.
Yaa ... karena dengan begitu gue ada alasan buat ketemu Rio Wijaya yang paling ganteng sedunia buat servis nih laptop. Pinter kan gue?! Hihihi ..., sorak sorai batin Sasya.
***
Maaf ya ...
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
UDAH GITU AJA
MUAKUASUIH!!! ❤❤❤