Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 52


__ADS_3

Galas sampai dirumahnya hampir tengah malam. Ia pulang dalam keadaan kusut dan lelah yang kentara menghias wajah rupawannya. Suasana sepi menyambut, hanya ada Pak Ato yang baru saja membukakan pintu gerbang untuknya. Galas memutuskan untuk naik ke atas dan ia mendapati suasana temaram saat melangkahkan kaki memasuki kamarnya. Setelah menutup pintu dengan perlahan, penuh kehati-hatian ia mendekati ranjang tempat istrinya tengah tertidur dengan memeluk boneka beruang besar yang mungkin baru dibelinya saat ia pergi beberapa hari yang lalu.


Pelan-pelan ia mendudukkan dirinya disisi ranjang. Senyum tipis terukir dibibirnya saat memandang wajah damai istrinya yang tengah tertidur pulas disana. Ia memang sengaja tak mengabari istrinya bahwa akan pulang malam ini. Namun ia memberitahu Sasya, sehingga malam ini sahabat istrinya itu tak lagi menginap dirumahnya.


Cukup lama ia terdiam memandang wajah istrinya, sementara tangannya terulur membenahi rambut ikal istrinya yang menutupi wajah cantiknya.


"I love you, istriku," ucapnya dengan seulas senyum dibibirnya setelah memberikan sebuah kecupan didahi istrinya. Kemudian Galas beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lelah sepulang dari perjalanan ke luar kota tempat keluarga Tiara tinggal.


***


Pagi harinya, Gayung merasakan sebuah tangan besar tengah memeluknya erat. Gayung yang belum sepenuhnya sadar menolehkan kepalanya kebelakang, ia menemukan suaminya telah kembali pulang dan tertidur dengan begitu damainya.


Gayung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya. Dirasakannya suaminya itu mengeratkan pelukan dipinggang rampingnya dan menenggelamkan wajahnya pada perpotongan lehernya. Hembusan nafas hangatnya mengalirkan desiran-desiran aneh pada dirinya. Tangannya bergerak membelai rambut tebal suaminya, sementara hidungnya sibuk membaui aroma shampo suaminya yang menjadi favoritnya kini.


Cukup lama ia melakukan itu, sebelum akhirnya ia memilih turun dari ranjang mereka menuju kamar mandi untuk mandi dan solat subuh. Karena haidnya sudah bersih.


Setelah selesai ia mencoba membangunkan suaminya, karena Galas belum solat subuh. Namun sepertinya suaminya terlalu lelah, hingga Gayung kesulitan membangunkannya.


"Kak ... ayo bangun, solat subuh dulu." Gayung tak menyerah, ditepuknya pelan pipi suaminya itu berulang-ulang sampai akhirnya Galas merespon dengan menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan.


"Jam berapa, Sayang?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Hampir jam lima, Kak Galas solat subuh dulu, ya ....," ucap Gayung lembut.


"Hemm," jawab Galas sambil menguap lebar.


"Ya, udah ayo bangun, nanti kesiangan." Dengan sabar Gayung menunggu suaminya sadar seratus persen.


"Cium dulu," ucapnya manja dengan mata yang masih belum terbuka sempurna. Namun senyum khasnya terpampang begitu nyata dibibirnya. Tak menunggu lama, Gayung mengabulkan permintaan suaminya itu. Mencium seluruh wajah tampan suaminya, mulai dari kening, mata, hidung, pipi sampai bibir ia berikan kecupan semua tanpa terlewati.


"Sudah." Dan Galas langsung terbangun dengan posisi tegak setelah mendapatkan apa yang dia mau.


"Makasih, Sayang." Galas gantian mencium sisi wajah istrinya.


"Ya, sudah, ayo buruan solat, Kak ... udah siang lho."


"Iyaaa." Galas bangkit, menggeser tubuhnya ke sisi ranjang untuk mengambil sandal rumahnya dan berdiri gontai menuju kamar mandi.


"Kak Galas, kamu mau sarapan apa?" tanya Gayung sebelum Galas menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Kamu mau masak?" Galas menoleh kembali kebelakang.


"Iya, aku mau belajar jadi istri yang baik," jawab Gayung malu-malu membuat Galas tersenyum tipis karenanya.


"Ehmm ... nasi goreng, boleh," jawabnya.


"Oke, Bos." Gayung langsung berlari kecil meninggalkan kamar mereka. Kehadiran Galas selalu membuatnya lebih bersemangat menyambut hari.


***


Siangnya di kantor, terjadi keributan masalah ditoilet.


"Eh, gila! Toilet lantai tiga mampet lagi, padahal baru kemarin dibenerin, kacau euy ...," ucap Sasya yang baru turun dari mushola dilantai paling atas bersama Gayung.


"Huuu ... Sasya, sih, buang pembalut sembarangan," canda Jio.


"Enak aja, aku tuh udah siapin plastik hitam nih, buat buang ke tong sampah." Sasya tak mau dituduh dan menunjukkan banyak plastik hitam yang disimpan dilaci meja kerjanya.


"Ih, aku juga sebel. Siapa, sih yang suka buang pembalut di closet? Kemarin pas dibenerin ketemu banyak banget, loh katanya." Safa tak mau ketinggalan bersuara.


"Aku kemarin dapet, tapi aku selalu bawa plastik, kok, kalau ganti." Gayung tidak mau jadi tersangka utama. Karena ia memang tidak melakukannya.


"Kayaknya anak baru, deh. Gemes jadinya pengen kasih tahu tutorial cara membuang pembalut yang baik dan benar," cuap Safa lagi.


"Adalah ... Nih, gue kasih tahu. Pertama dibuka, dikasih air, diperes sampai bersih baru masukin kedalam plastik, dikunci rapet-rapet baru dibuang di tong sampah yang ada didalam kamar mandi. Ngerti? Ntar praktekin!," ucapnya songong ke arah Jio yang sontak melotot. Karena mana mungkin dia mempraktekkannya secara dia laki-laki yang tidak mungkin mengalami menstruasi.


"Sembarangan Mbak Safa kalau ngomong." Jio bergidik ngeri.


"Hahaha ... lagian siapa suruh kepo," sahut Safa lagi. "Dasar cungkring!"


"Dasar endut!" balas Jio.


"Eh, gue tuh bukan endut tapi bahenol!" Safa menekankan kata bahenol dengan gaya khas cablaknya.


"Idih, PD!"


"Emberrr...." jawab Safa cuek.


"Mbak Safa, kemarin kamu dibilang gajah bengkak lho sama Sasya," usil Bimo. Sasya langsung melayangkan drama bogem mentah ke perut gembul Bimo.

__ADS_1


"Kurang ajar lu yee." Safa pura-pura berapi-api.


"Nggak, nggak bener itu, Bu. Bimo yang aku katain bukan Mbak Safa."


"Ya, kan aku sama Mbak Safa sama ... sama-sama endut."


"Tapi yang aku katain itu elu, Bambang!"


"Udah, udah, mulai sekarang garis bawahi,ya ... aku tuh bukan gendut tapi bahenol, ngerti semua?" seru Safa dengan rasa percaya dirinya yang memang top banget.


"Siap, Mak," jawab beberapa anak buah Safa geli melihat kelakuan kepala divisi mereka.


"Iya, aja deh, Mba, biar kamu senang," ucap Jio pasrah.


"Harus, dong. Sekate-kate lo semua ngatain gue gendut, suami gue aja bilang kalau gue tuh sexy, bohay ...."


"Bohay dari Hongkong," gumam Bimo lirih sembari cekikikan.


"Eh, gue denger Bimo. Gue sunatin juga lo biar abis sekalian!"


"Ampun, Mak, ampun." Bimo pura-pura takut. "Belum juga kawin, udah dibabat, kasihanlah nanti yang jadi istriku."


"Bodo amat! Jaga tuh, mulut lo!" Safa sepertinya tersulut emosi beneran. Jio yang melihat itu segera melerai sebelum terjadi perdebatan panjang yang cukup jauh.


"Udah, udah, kerja lagi, ngomongin pembalut kok sampai ke sunatan segala," lerainya.


Untungnya pekerjaan yang menumpuk membuat mereka memilih menurut apa kata kepala divisi yang cerewet itu. Sehingga Jio bisa bernafas lega dan ikut melanjutkan pekerjaannya.


***


Sorry ... author mau curhat lagi. Jangan bosan, ya, aku selalu kasih part Safa, Sasya cs ...


ok, fix, sudah seribu kata 😁😁😁. Waktunya author berhenti cuap-cuap.


Jangan lupa


like


komen

__ADS_1


vote


Tararengkiyuuuu ... 😊😊😊


__ADS_2