
Gayung menatap kalender pada ponselnya. Sudah lewat tanggalnya, seharusnya dia sudah menstruasi sekarang atau mungkin mundur dari jadwal. Biasanya ia mengabaikan hal seperti ini, namun setelah menikah. Ia mulai memikirkan tentang kehadiran nyawa baru dalam perutnya mengingat mereka melakukannya hampir setiap malam.
Sudah hampir maghrib, namun suaminya belum juga datang menjemputnya. Biasanya Galas selalu memberinya kabar jika tidak bisa datang, tapi kali ini pesannya sejak setengah jam yang lalu pun tidak mendapat balasan.
"Mungkin Kak Galas sibuk," gumamnya sendiri. Ia memilih berjalan kaki alih-alih menghubungi Pak Ato, menapaki jalan yang biasa ia lalui sebelum menjadi istri seorang Bos. Jalan yang tiba-tiba ia rindukan.
Sebuah apotik dipinggir jalan menghentikan langkahnya. Tidak ada salahnya mencoba untuk mengeceknya bukan? Begitu pikirnya. Bukan ia terlalu mengharapkan, melainkan hanya penasaran saja dan ingin memastikan.
"Andara?" Seseorang memanggil namanya dari arah belakang, saat ia tengah menunggu barang yang diinginkannya.
"Mas Aven?" Gayung menoleh ke belakang.
"Ini, Mbak." Gayung menerima dua tespeck berbeda merk dari tangan Mbak-Mbak yang menjaga apotik itu dan memasukkannya ke dalam tas setelah membayarnya.
"Kamu hamil?" tanya Aven. Ia tidak terkejut, karena Sasya sempat mengatakan bahwa gadis pujaan hatinya itu telah menikah belum lama ini.
"Belum tahu," jawab Gayung dengan senyum manisnya.
"Berarti sudah ada tanda-tanda pasti."
"Ehm ... nggak tahu juga, sih." Tanpa sadar Gayung mengusap perut datarnya.
"Kamu nggak pernah main ke tempat Sasya. Jadi sibuk, ya setelah menikah?" Aven membuka percakapan lagi setelah diam beberapa saat. "Koci kangen, tuh, sama kamu ...."
Sasya memang pindah menempati bekas kamar kosannya, semenjak menikah.
"Masak, sih? Aku juga kangen sama dia," ucap Gayung antusias. Rencana menjemput Koci selalu gagal, karena Galas selalu beralasan jika diajak mampir ke kosan lamanya saat perjalanan pulang.
"Kalau sama aku, nggak kangen?" tanya Aven yang langsung diprotes mata sipit Gayung.
"Jangan menggoda istri orang." Gayung melirik pura-pura marah.
"Becanda, kok." Aven tersenyum tipis melihat wajah memberengut wanita berambut ikal disampingnya. Marah aja tetap cantik, batinnya. Matanya tak bisa lepas dari Gayung yang sekarang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Kamu mau pulang?"
"Iya," jawab Gayung singkat tanpa menoleh. Ia memilih memesan aplikasi ojek online untuk mengantarnya pulang.
"Mau aku antar?"
"Nggak usah, nanti merepotkan. Aku sudah pesan ojek online."
Obrolan ringan pun berlanjut sampai tak lama kemudian mata sipitnya menangkap sosok wanita berhijab yang berjalan mendekat ke arah mereka. Ia melempar senyum kepada Gayung yang refleks membalas dengan senyum tipisnya sambil melirik pada Aven sekilas. Karena ia merasa tidak mengenal perempuan tersebut. Mungkin kenalannya Aven, begitu pikirnya.
"Aku sudah selesai," ucap gadis itu pada Aven yang terlihat sedikit salah tingkah, menurut penglihatan Gayung.
"Oke. Oh, iya, kenalin ini tetangga kosan aku dulu, dan ini tunangan aku." Aven memperkenalkan keduanya yang langsung berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Ada sedikit keterkejutan dalam hati Gayung, ia melirik Aven sebal, mengingat sikapnya yang sering merayunya itu padahal sudah memiliki tunangan.
Thin ... Thin ...
Suara klakson mengalihkan fokus Gayung yang tiba-tiba terfikirkan tentang kesetiaan seorang lelaki. Apakah semua sama seperti itu?
"Kak Galas?" Senyum mengembang dibibirnya.
***
"Kak Galas darimana? Kok baru datang?" tanya Gayung sembari melirik suaminya yang semenjak masuk mobil tadi tak mengajaknya bicara. Tangannya bergerak lincah mencancel ojek online yang dipesannya tadi, tak lupa memberi ganti kerugiannya
"Dari rumah sakit," jawab Galas datar.
"Dari rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Gayung penasaran.
"Tiara," jawab Galas singkat tanpa menoleh sedikitpun.
"Mbak Tiara sakit apa?" Walau sudah mencoba memahami hubungan persahabatan mereka, tetap saja rasa cemburu itu menyeruak dalam hatinya. Meski tak menunjukkannya secara kentara didepan suaminya itu.
Gayung yang tak kunjung mendapat jawaban, sontak menoleh ke suaminya yang tampak diam fokus menyetir.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sih, Kak?" Gayung mulai gemas melihat kediaman suaminya.
"Kenapa tidak menghubungi Pak Ato dan malah jalan kaki?" Akhirnya sebuah pertanyaan meluncur tajam dari bibirnya diikuti dengan lirikan matanya yang sulit diartikan. Kak Galas marah? Karena apa? Karena ia jalan kaki? Batinnya.
"Aku tadi nungguin Kak Galas, karena kelamaan aku jalan kaki sebentar sekalian ada yang mau aku beli," jelasnya.
"Bukan karena kamu ingin bernostalgia dengan laki-laki itu." Gayung melirik jengah mengetahui fakta kediaman suaminya karena kecemburuan yang tidak masuk diakal, menurutnya.
"Bernostalgia apa, sih, Kak, memangnya aku punya kenangan apa sama dia," gumam Gayung tak habis pikir.
"Hemm." Galas malah berdehem, seolah menyindirnya. Lagu romantis dan pesan-pesan manis laki-laki itu diponsel istrinya kembali terbayang mengusiknya. Apalagi melihat keakraban mereka tadi juga senyum dibibir istrinya saat mereka bicara, membuat hatinya dihinggapi rasa cemburu buta.
"Kak Galas cemburu?" lirih Gayung.
Galas tak menjawab, matanya memandang kemacetan luar biasa didepannya. Tapi bukan itu yang menjadi fokus perhatiannya, melainkan sesuatu yang lain, salah satunya tentu saja istrinya.
Sesampainya dirumah, Galas langsung menuju lantai atas, kamar mereka. Gayung mengikutinya dari belakang, namun sesampainya dikamar ia tak menemukan suaminya disana dan suara gemericik air dari dalam kamar mandi menjawab pertanyaannya.
Dihempaskannya tubuhnya yang lelah ke atas sofa kamar mereka. Kenapa harus marah hanya karena dirinya berbicara dengan pria lain. Lagipula pembicaraannya dengan Aven tadi hanya sekedar basa-basi saja. Meski laki-laki itu selalu mengucap gombalan-gombalan yang menurutnya hanya sekedar canda biasa. Entahlah ... lalu apa kabar dengan dirimu Kak Galas? Yang setiap hari bekerja bersama cinta pertama kamu dan wanita yang cinta setengah mati padamu itu? Lalu apa kamu tahu bagaimana keadaan hatiku ...?
"Hufft ...."
Gayung membuang nafas kasar. Ia tak bisa terlalu lama dengan situasi seperti ini. Kakinya melangkah mengambil baju ganti lalu ke ruangan lain untuk mandi lalu solat. Setelah itu ia akan berbicara dengan suaminya, supaya tidak marah lagi.
***
Jangan lupa ...π
Like
Komen
Voteπ
__ADS_1
ππ