
Dua minggu kemudian, Pak Ming kembali menilik ke Jakarta. Seperti sebelumnya, ia hanya datang sebentar karena masih memiliki pasien lain yang menunggunya.
"Tenang aja .... Pasti sembuh, percaya sama Gusti Allah ...." Pak Ming memberi Tiara semangat. Tiara mengangguk dengan senyum tipis menghias bibir pucatnya.
"Perempuan ...," ucap Pak Ming kemudian, membuat Tiara menatap pria paruh baya itu penuh tanya.
"Yang mengirimkannya perempuan, Mbak," ucap Pak Ming lagi. "Cantik, tinggi ... mau dibalikin ke orangnya ndak?" gurau Pak Ming. Tiara hanya diam tak menjawab, memikirkan kemungkinan perempuan mana yang kira-kira memiliki permasalahan dengan dirinya dan lagi-lagi, prasangkanya mengarah pada orang yang sama.
"Nggak usahlah Pak." Gayung yang menjawab. Karena menurutnya, jika kita membalikkan ke orang yang mengirimkannya, berarti mereka akan sama berdosanya. Lebih baik membiarkan Allah yang membalasnya.
"Becanda, Nduk ... jangan lupa solat wajibnya, solat malamnya, sering-sering baca salawat, istigfar dalam hati," wejang Pak Ming.
"Iya, Pak ... tapi kok belum ada perubahan, ya, Pak?" tanya Tiara lemah.
"Sabar ... sedang proses. Pasti sembuh, yakin! Setiap malam selalu saya kirimi doa. Nanti sebulan lagi saya kesini."
"Makasih, Pak."
"Semangat!" Pak Ming mengangkat tinggi tangan kanannya yang mengepal.
"Besok, Bapak langsung ke kota C ...."
"Terserah Bapak aja, jangan capek-capek terus, istirahat ...," pesan Gayung.
"Iya, tenang saja, Nduk ...."
__ADS_1
Gayung mengerti dan tak mencoba menahannya.
Setidaknya kedatangan Bapaknya selalu membawa antusiasme Tiara untuk sembuh meski kondisinya sampai kini tak kunjung membaik. Ia seringkali mengeluh, menyerah, bahkan menangis putus asa merasakan sakit yang menderanya. Dan Gayung yang selalu setia menemaninya, mendengar keluh kesahnya, memberinya semangat untuk berjuang melawan sakitnya. Sementara Galas, lebih sering hanya diam, mendampingi istrinya mengurus sahabatnya itu. Sejujurnya ia sungguh tidak tega menyaksikan kondisi Tiara, apalagi jika sudah mendengar rintihan juga tangisannya. Ia benar-benar kagum dengan istrinya, yang begitu sabar dan telaten merawat Tiara.
Selama dua minggu ini, Tiara tinggal dirumah mereka. Karena Tiara tidak bisa jauh dari Gayung, ia selalu merasa ketakutan jika Gayung tidak ada disampingnya. Walau sebenarnya Galas sedikit keberatan, ia takut istrinya tidak nyaman dan kelelahan. Apalagi dengan perutnya yang semakin membesar. Namun nyatanya, Gayung merelakan dirinya untuk direpotkan oleh Tiara. Bahkan ia sendiri memohon pada suaminya untuk ikut mengurus Tiara. Galas akhirnya mengalah, ia pun memilih bekerja dari rumah sembari memantau istrinya juga sang sahabat.
Di sepertiga malam ...
Alarm berbunyi. Gayung mengerjapkan matanya, mematikan alarm dan bangkit dari tidurnya. Melihat sekelilingnya yang begitu sepi, suaminya tidur diatas sofa dan Tiara masih terlelap disampingnya. Perlahan, ia membangunkan wanita itu, mengajaknya untuk solat malam. Bapaknya juga meninggalkan selebaran kertas berisi doa-doa yang harus Tiara baca setelahnya.
"Solat, yuk," ucap Gayung lirih, begitu melihat Tiara membuka matanya. Wanita itu mengusap wajahnya perlahan sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Gayung membantunya duduk di kursi roda, mengantarnya berwudhu begitupun dengan dirinya.
Dua rakaat telah mereka jalani. Gayung merapikan kembali sajadahnya. Sedangkan Tiara melanjutkan membaca beberapa surah yang dicatatkan oleh Pak Ming.
***
"Bagaimana kondisi kamu, Tiara?" tanya Jay kala berkunjung siang itu. Ada Galas beserta Gayung juga disana.
"Baik," jawab Tiara singkat. Masih tersisa sedikit amarah dalam dada, meski Tiara berusaha untuk ikhlas menerima takdir hidupnya. Sejujurnya ia mengakui, bahwa ia juga bersalah disini. Mabuk juga adalah sebuah dosa, minuman laknat itu jelas diharamkan untuk meminumnya. Seharusnya ia datang kepada Allah, untuk menceritakan kesedihannya bukan malah datang ke hingar bingar club malam dan berakhir melakukan zina dengan suami dari wanita lain.
Mungkin Tuhan sedang menghukumnya kini. Jalan satu-satunya selain menyesalinya adalah dengan bertaubat, taubat nasuha. Disaat, Tuhan masih memberinya nafas, belum terlambat bukan?
"Aku ingin bertemu dengan Wina," ucap Tiara kemudian. Bukan karena ia berburuk sangka. Tapi sudah selayaknya ia meminta maaf atas kesalahannya.
Jay menatap Tiara dalam, meyakinkan pendengarannya. Wina sangat membenci Tiara, meskipun ia sudah menjelaskan kepada istrinya bahwa dialah yang paling bersalah disini.
__ADS_1
"Aku ingin meminta maaf secara langsung sama Wina ...."
"Aku yang salah, Tiara ...."
"Aku juga bersalah," potong Tiara cepat.
Hening sesaat.
"Aku setuju dengan Tiara. Ada baiknya kalian bertemu dan membicarakan masalah ini." Galas buka suara. "Ada darah daging kamu dalam perut Tiara ...."
Mata Jay terpaku pada perut Tiara yang membesar, lalu beralih pada tubuhnya yang kurus, dan terakhir pada wajahnya yang pucat. Perasaan bersalah semakin menghantuinya, setelah mengetahui bahwa sakit yang menimpa Tiara bukanlah penyakit medis melainkan kiriman dari seseorang. Bukan bermaksud berburuk sangka pada sang istri. Hanya saja, ia mengenal bagaimana ibu mertuanya ... meski berusaha menyangkalnya.
"Besok, aku akan membawa Wina datang ke sini ...," putusnya kemudian.
"Terima kasih." Tiara tersenyum tipis. Antara berjuang dan menyerah, dua-duanya menyatu dalam dirinya. Hanya saja, jika memang hidupnya tak lama lagi. Ia ingin pergi dengan tenang.
***
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1