
Satu bulan kemudian.
Pak Ming kembali datang, mengobatinya seperti biasa dan memberi Tiara semangat untuk sembuh.
"Apa saya masih bisa sembuh, Pak?" Hal pertama yang selalu Tiara tanyakan pada pria paruh baya itu.
"Bisa. Sudah, jangan banyak pikiran, makan yang banyak biar bayinya sehat ... jangan pesimis, percaya sama Gusti Allah." Kata-kata itu, meski diulang-ulang diucapkan Pak Ming padanya. Tetap selalu dapat membangkitkan optimismenya untuk sembuh.
"Tapi kok belum ada perubahan, Pak?" Pertanyaan kedua yang selalu ia tanyakan kemudian. Ini sudah hampir dua bulan, sebentar lagi menurut perkiraan dokter ia akan melahirkan. Ketakutan itu nyata adanya, apakah ia kuat? Apakah ia akan sanggup? Bukankah melahirkan itu katanya sakitnya luar biasa, sedang tubuhnya sekarang pun sudah merasakan sakit yang tak kuasa ia tahan rasanya.
"Coba setelah ini kita lihat perubahannya, ya Mbak ...," jawab Pak Ming santai. "Perkiraan melahirkannya kapan?" tanya Pak Ming.
"Sekitar dua mingguan lagi, Pak," jawab Gayung, karena Tiara menyerahkan semua urusannya pada pasangan suami istri itu.
"Nanti semingguan lagi Bapak kesini kalau begitu."
"Ini mau langsung pergi lagi, Pak?" tanya Galas.
"Iya .... Sebenarnya Bapak mau nginep beberapa hari, tapi tadi dapat kabar tetangga depan rumah kita meninggal, ndak enak kalau ndak pulang."
"Siapa yang meninggal, Pak?" tanya Gayung penasaran.
"Mbah Minah, yang waktu kecil ikut momong kamu ...."
"Innalilahi wa innalilahi roji'un," ucap Galas dan Gayung bersamaan. Sementara Tiara diam merenung, mendengar kabar kematian selalu membuatnya ketakutan. Setiap harinya pun ia selalu dihantui "satu kata" itu. Sangat takut!
***
Pagi itu, Tiara menyambut paginya dengan senyuman. Dibelakangnya Galas mendorong kursi rodanya, membawanya menuju teras, menikmati taman serta rumput yang menghijau didepan rumah.
__ADS_1
"Gayung kemana, Las?" tanya Tiara. Galas menghela nafas panjang. Sahabatnya itu sekarang benar-benar tidak bisa jauh-jauh dari istrinya. Jika tak melihat batang hidung istrinya sebentar saja, selalu dicarinya. Bahkan setiap malam, ia harus rela tidur sendirian dan sesekali menculik istrinya, seperti yang ia lakukan semalam.
"Gayung masih tidur," jawab Galas jujur.
"Tumben jam segini masih tidur, biasanya dia selalu bangun pagi terus jalan-jalan ke depan ...."
"Ehm ... mungkin dia kecapekan," jawab Galas dengan seringainya. Untungnya Tiara menghadap ke depan dan tak melihat senyum kepuasan diwajah sahabatnya itu.
"Ehmm ... maaf ya, Las. Pasti dia kecapekan ngurusin aku setiap hari." Tiara merasa bersalah. Padahal sebenarnya bukan dia yang membuat Gayung lelah melainkan suaminya sendiri.
"Makanya, mulai sekarang kamu jangan apa-apa harus selalu sama Gayung. Istriku kan, juga sedang hamil besar, Tiara. Sama Bi Hanah apa bedanya, apalagi dia juga harus mengurus pekerjaannya dari kantor." Galas menggunakan kesempatan bagus itu, untuk sedikit melepas ketergantungan Tiara pada istrinya.
Mungkin ini bisa dikatakan lucu .... Dulu, istrinya yang cemburu setengah mati pada kedekatannya dengan Tiara dan sekarang justru kebalikannya, ia mencemburui istrinya yang waktunya lebih banyak disita untuk mengurus Tiara. Apa ini karma? Batin Galas geli sendiri dengan pikirannya.
"Iya, sih ... aku cuma mau kasih kabar bagus sama Gayung. Hari ini, rasa sakitnya sudah berkurang. Aku mau ngucapin terima kasih sama dia ... aku pikir aku nggak bakalan bisa ngerasain badan aku sehat lagi seperti sekarang ...." Tiara meneteskan air matanya. Bahagia, itu yang dirasakannya kini. Bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik istri sahabatnya itu. Padahal, kalau mengingat sikap ketusnya pada Gayung dulu. Ia tak menyangka, wanita berambut ikal itu masih mau memaafkannnya, bahkan mengurusnya dengan begitu sabar setiap hari. Mendengarkan keluh kesahnya yang itu-itu saja tanpa bosan. Mungkin juga bosan, tapi Gayung tetap setia mendengarkannya.
"Syukurlah kalau begitu," ujar Galas ikut senang. Ia pun sangat pesimis jika mengingat bagaimana kondisi Tiara selama dua bulanan ini.
"Takut apa?" Galas mengerutkan dahinya.
"Katanya melahirkan itu kan sakit, sementara aku belum sembuh sepenuhnya kan?"
"Sudah, kamu tenang saja. Pak Ming juga sudah berjanji akan membantu kamu nanti kan ...."
"Iya, sih." Mengingat janji Pak Ming membuatnya sedikit tenang. "Keren, ya Bapaknya Gayung. Padahal awalnya aku meragukan kemampuannya, Las ... apalagi setelah lama nggak ada perubahan, aku sempat mau berhenti. Tapi istri kamu selalu semangatin aku ... kayanya aku jatuh cinta sama istri kamu, Las." Tiara tertawa, melihat wajah tak rela sahabatnya itu.
"Hei ... jangan membuatku cemburu, Tiara." Galas mendelik, pura-pura marah. Tiara terkekeh lirih.
"Ah, Tiara ... sudah ada Bi Hanah. Aku ke atas dulu, ya." Tiba-tiba ia merindukan istrinya. Tiara mengangguk dan melanjutkan menikmati paginya bersama wanita tua itu.
__ADS_1
Galas berlari kecil menaiki tangga dengan semangat. Sesampainya dikamar, ia mendapati istrinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya.
"Mau sarapan, Sayang?" Galas mendekat dan mengecup keningnya singkat.
"Mbak Tiara sudah bangun?" Galas memutar bola matanya malas. Ia bertanya apa, istrinya malah menanyakan siapa?
Gayung terkekeh kecil melihat ekspresi kesal suaminya, yang akhir-akhir ini sering merajuk meminta perhatian darinya. Apalagi kalau malam, seringkali suaminya memintanya untuk tidur diatas saja. Dengan alasan, ia susah tidur jika tidak ada istrinya disampingnya yang bisa ia peluk dengan erat.
"Aw ...." Tiba-tiba Gayung memekik, merasakan gerakan yang cukup kuat dari dalam perutnya.
"Kenapa, Sayang?" Galas ikut memegang perut istrinya dan untuk pertama kalinya ia bisa merasakan gerakan disana. Biasanya saat Galas membelai perut istrinya, ingin merasakan keberadaan anak mereka. Selalu saja, gerakan bayi mereka terhenti saat dia sudah mendekat dan mulai bergerak kembali setelah tangannya menjauh. Aneh bukan?
Galas menekuk lutut menyejajarkan dengan perut istrinya dan membelainya dengan penuh kasih.
"Dia bergerak terus, Sayang," ucap Galas senang. "Kamu tidak sakit, kalau dia bergerak?
"Nggak." Gayung menggeleng. "Tapi ...
"Tapi apa?" tanya Galas mendongak, menatap wajah istrinya.
"Tapi ... aku mau pipis lagi." Gayung meringis dan berangsur menuju ke kamar mandi. Galas tersenyum geli, sekaligus kasihan. Meski dokter mengatakan itu hal yang wajar terjadi, seiring bertumbuhnya janin dan bertambahnya usia kehamilan. Membesarnya ukuran rahim akan memberi tekanan pada kandung kemih dan sehingga menyebabkan ibu hamil sering ingin buang air kecil. Seperti yang terjadi pada istrinya sekarang.
***
Jangan lupa
Like
Komen
__ADS_1
Vote
❤❤❤