
Gadis cantik itu memandang keluar jendela mobil milik suami Nabila yang akan membawanya menuju kampung halaman. Headset terpasang pada kedua lubang telinganya, sementara terkadang bibirnya bersenandung lirih menirukan lagu yang sedang diperdengarkannya.
"Camilan, Yung." Nabila mencolek lengan Gayung, karena beberapa kali ia memanggil namun gadis itu tak bergeming juga. Setelah ia perhatikan seksama, ternyata benda putih kecil yang bertengger ditelinganyalah yang menjadi penghalang suaranya.
"Iya, Mbak?" tanya Gayung sembari melepas salah satu headsetnya.
"Camilan, nih." Nabila menyodorkan seplastik keripik singkong kepada Gayung.
"Iya, nanti saja, Mba. Gayung masih kenyang." Alasan sebenarnya adalah hatinya sedikit gelisah menunggu kabar dari Galas yang belum membalas pesannya sejak tadi pagi. Ia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu mengingat kondisinya semalam yang tengah sakit. Andaikan ia memiliki nomor telepon Bi Hanah, ia bisa menghubunginya untuk mengetahui kondisi Galas saat ini
"Lagi galau, ya, jauh dari Ayang," goda Nabila. Ia sudah mengetahui jika Gayung menjalin hubungan dengan mantan Bosnya.
"Enggaklah, Mba," elaknya malu-malu. Memang terlalu kelihatan, ya, batinnya sembari melakukan sedikit senam wajah, untuk menghilangkan ketegangan diwajahnya.
"Udah, tenang aja. Nanti Bos ganteng pasti nyusul," ucap Nabila lagi. Namun Gayung hanya menanggapi ledekan Nabila dengan senyum kecutnya. Sejak menjalin hubungan dengan Galas, moodnya sangat bergantung dengan laki-laki itu. Jika Galas memperlakukannya dengan sayang, maka otomatis moodnya akan baik, begitupun sebaliknya jika Galas mengabaikannya atau membuatnya khawatir, moodnya pun akan memburuk dengan sendirinya.
"Mbak Nabila, memang yang mau menikah saudara Mbak yang mana?" ÀàhGayung mencoba membuka obrolan, agar pikirannya tidak suntuk.
"Saudara jauh, Yung," jawab Nabila santai sembari memakan keripik, ia juga menawari suami dan anaknya yang duduk dikursi depan.
Selama perjalanan, Nabila terus bercerita mengenai pengalaman kerjanya selama ikut Galas selama tujuh tahun lamanya. Pertama kali bekerja ditempat Galas, saat itu Galas belum memiliki kantor seperti sekarang melainkan hanya sebuah toko kecil nan sempit. Bahkan saat itu Bos tampannya itu pulang pergi bekerja masih menggunakan motor.
Saat itu ia baru memiliki beberapa karyawan saja, sehingga hubungan Bos dan anak buah cukup dekat. Beberapa tahun kemudian barulah Galas mampu menyewa sebuah ruko tua empat lantai yang kondisinya lumayan memprihatinkan. Ruang Bos dan ruang karyawan hanya bersekat kaca transparan. Sehingga semua bisa melihat dengan jelas apa yang Bos mereka lakukan di dalam sana. Jay, Tiara dan beberapa karyawan lainnya masih menjadi satu ruangan dengan Bos, saking tidak ada ruangan lagi yang bisa ditempati. Pelan namun pasti, usahanya semakin maju dan karyawannya semakin bertambah banyak. Sehingga Galas akhirnya membeli tiga ruko, yang menjadi kantornya kini. Berbeda dengan dahulu, sekarang setiap bagian memiliki ruangan dan kenyamanannya sendiri. Namun tentu saja beban kerja juga semakin besar.
Mendengar cerita Nabila, membuat Gayung sedikit bisa membayangkan bagaimana perjuangan Galas dalam membangun usahanya. Semua tidak serta merta dan berproses step by step. Mungkin karena kesibukannya itu, sehingga dulu Galas jarang mengunjungi kampung halamannya.
***
"Ji, pagi-pagi begini kepala toko sama wakilnya dipanggil ke kantor, ada masalah apa, ya?" tanya Safa pada Jio yang mejanya persis disebelahnya.
"Mana saya tempe, Mbak," jawab Jio dengan lawaknya.
"Hih, dasar Cungkring," dengus Safa.
"Ya, aku beneran nggak tahu, Mbak Safa yang endut." Jio balik meledek.
"Biasanya kamu selalu dapat informasi dari Pak Jay."
__ADS_1
"Nggak, Pak Jay aja hari ini nggak masuk," jawab Jio lagi sembari menyesap kopinya yang aroma wanginya memenuhi ruangan.
"Pak Jay nggak masuk?"
"Nggak, Mbak Safa yang sexy." Lagi-lagi Jio meledeknya. "Sudahlah, aku mau kerja, nih. Mbak Safa jangan berisik, ya ...."
"Ih, dasar, sok sibuk."
"Emberrr haha...." Jio tertawa bahagia.
"Kamu sudah dengar gosip belum, Ji?" Safa masih saja mengajak Jio mengobrol namun tangannya tetap sibuk membalas pesan dari para customer yang masuk di ponsel kantornya.
"Dih, malah ngajakin ngerumpi." Jio tertawa geli. "Emang aku emak-emak haha ...."
"Kamu memang bukan emak-emak tapi mulutnya kaya emak-emak," ceplos Safa tega sembari terkikik.
"Astagfirrullah, ....." Jio mengelus dadanya, seolah sakit hati mendengar tuduhan wanita beranak satu itu. Meski sebenarnya ia tidak merasa sakit hati sama sekali, karena sudah begitu kebal dengan sifat Safa yang seperti itu.
"Emang iya," cibir Safa.
"Iya ajalah, yang penting Mbak Safa senang." Jio akhirnya mengalah.
"Gosip apa, sih, Mba?" Jio tak terlalu berminat saat mengatakannya. Tapi demi meladeni Safa, ia mencoba terlihat antusias.
"Gosip Pak Jay sama Mbak Tiara." Safa sedikit memelankan suaranya.
"Memangnya mereka kenapa?" Kali ini Jio mulai penasaran.
"Mereka katanya sering jalan bareng ...."
"Ya elah, mereka, kan emang sahabatan lama Mbak Safa," tukas Jio.
"Yee ... tapi, kan Pak Jay udah punya istri. Kalau aku yang jadi istrinya udah aku bejek-bejek tuh Mbak Tiara. Mana ada istri yang mengikhlaskan suaminya setiap hari jalan sama wanita lain, meskipun katanya itu sahabatnya sekalipun."
"Kalau Mbak Safa mah emang dasarnya Istri yang kejam," ledek Jio lagi. Ia tidak mempercayai gosip yang beredar tersebut.
"Eh, kampret. Kamu tanya wanita di seluruh dunia kalau perlu, pasti mereka jawabannya sama kaya aku. Kalau mereka masih waras," ujar Safa menggebu-gebu.
__ADS_1
"Ya Allah ... kampretnya itu lho." Jio nyengir kuda.
"Lagian Cungkring, bikin emosi jiwa aja," sungut Safa.
"Bukannya gitu, Mba. Setahu aku mereka memang sudah sahabatan lama, sama Pak Galas juga. Lagian aku juga sering jalan sama Mbak Tiara, tapi kok nggak ada yang nggosipin ya." Jio mengelus jambulnya dengan mukanya yang super konyol itu.
"Ya Elah ... kalau kamu yang jalan sama Mbak Tiara, nggak bakal ada yang mikir kamu pacarnya, yang ada kamu malah dikira jongosnya wkwkwk."
"Astagfirrullah, Mbak Safa mah kalau ngomong emang suka benar, sih. Tapi setidaknya dikasih saringan dikit gitu. Kan, sakit hati saya ...." Jio bukannya sakit hati malah ikut ketawa-ketiwi mendengarnya.
"Saringannya rusak," jawab Safa asal.
"Hah, udahlah. Mbak Safa mah ngajak ngerumpi, kerjaan lagi banyak juga," sungut Jio yang tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, karena Safa terus saja mengajaknya berbicara.
Trililit ... Trililit ...
"Hah, Pak Galas?" Jio seketika pias mengetahui siapa yang meneleponnya.
"******! Ngobrol terus sih kerjanya." Safa tertawa lepas tanpa dosa dan malah membalikkan keadaan, padahal sedari tadi ia yang mengajak Jio bergosip.
"Diem Mak-Mak gendut. Halo, Pak. Iya. Iya."
Jio menaruh kembali gagang telepon pada tempatnya. Wajahnya semakin tegang saja membuat Safa penasaran.
"Kenapa, Ji?"
"Aku dipanggil ke ruangan Bos. Ada masalah apa, ya, Mba?"
"Jangan-jangan kamu mau dipecat." Safa tertawa puas, melihat Jio yang semakin memucat. Jio memang sering curhat kepadanya, kalau ia takut dipecat karena dekat dengan Gayung.
"Ya ampun Mbak Safa, kamu tuh memang "bedebah"!"
***
Jangan lupa like & komen ...
Biar saya semakin bersemangat nulisnya ...
__ADS_1
Arigatone ...😊😊😊