
Tak terasa satu bulan berlalu begitu saja. Rumah tangga mereka berjalan baik dengan keterbukaan dari keduanya. Terutama Galas yang selalu berusaha jujur tentang Tiara atau pekerjaan juga bisnis yang tengah ia rintis bersama Jay. Gayung sangat menghargai usaha dan kejujuran suaminya itu. Ia mencoba tidak bersikap kekanakan dengan mencemburui perhatian suaminya terhadap sahabat wanitanya itu. Karena Galas pun melakukan hal yang sama pada Jay. Bahkan Galas kembali mengundur bulan madu mereka demi membantu Jay mengurus usaha baru mereka dan Gayung pun tak mempermasalahkan hal itu.
"Ya, ampun, Ibu. Pagi-pagi udah ngantuk ... habis dihajar berapa ronde semalam sama Pak Bos." Suara Safa yang cablak memang lebih mujarab dari kopi atau permen dalam menghilangkan rasa kantuk yang menderanya.
"Apa, sih, Mba Safa...." Gayung memukul pantat besar Safa dengan wajah malu-malu. Karena tebakan Safa tidaklah meleset. Sejak selesai haid sebulan lalu sampai sekarang, Galas tidak pernah absen meminta jatah kepadanya. Jika sudah dikamar tidur berdua, tangannya sudah pasti menelusup kemana-mana, menggodanya dimana-mana dan sudah bisa dipastikan akan berakhir seperti apa.
"Udah, sih, nggak usah malu-malu begitu. Aku juga pernah jadi pengantin baru, hahay ...."
"Wadidaw mantap jiwa ... pagi-pagi udah ngomongin ronda-ronde." Sasya meniup kopi hitam instannya yang begitu menggoda. Kantung matanya terlihat menebal, entah begadang untuk apa anak perawan satu ini.
"Anak kecil dilarang ikut-ikutan!" Safa mencubit pipi Sasya gemas.
"Enak aja anak kecil, aku sama Andara tuaan aku loh." Sasya tak terima.
"Tuaan lo tapi pengalaman die," sahut Safa lagi.
"Oke-oke, yang muda ngalah," jawab Sasya penuh kemenangan. Ia selalu bahagia jika berhasil meledek Safa dari segi usia.
"Biar tua yang penting laku." Safa mengeluarkan jurus andalannya. Jika sudah begitu Sasya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Okelah Mbak-Mbak yang udah pengalaman. Mumpung belum bel, aku mau sharing-sharing, nih sama klean-klean," ucap Sasya dengan gayanya yang sok muda.
"Sharing apaan, Sya? Aku ikutlah." Jio yang mulanya sibuk dengan ponsel kantornya, ikut mendekat rumpi bersama.
"Ini, aku ,kan sekarang nulis novel lagi ...."
"Oh, sekarang kamu nulis lagi?" tanya Safa.
"Iya, lumayanlah, nih daripada novel pertamaku yang nggak laku itu," ucapnya songong.
"Terus mau sharing apa?" tanya Jio penasaran.
"Itu aku mau nulis adegan vanas-vanas gitu, cuma aku, kan masih perawan gitu lohhh," bangganya. "Jadi, aku mau tanya sama nih mbak-mbak berdua yang udah tahu rasanya hihihi ...."
"Idih idih ... kok aku jadi merinding, ya." Jio memeluk tubuhnya sendiri yang meremang dengan senyum konyolnya.
"Sok iyes, nih Jio. Udah pernah ini padahal," ledek Safa.
"Ih, belum pernah, Mbak Safa. Astagfirullah, amit-amit ...."
"Ih, Jio diem, deh, brisik ... jadi gimana rasanya?" sela Sasya. Jio mengkerut menutup mulutnya, entah siapa sebenarnya yang menjadi kepala divisi disini. Pada kenyataannya, malah ia yang sering kena omel dari anak buahnya.
"Rasanya geli-geli nikmat gitu, deh," jawab Safa blak-blakan, tanpa malu. Justru Gayung yang memerah wajahnya mendengar pengakuan Safa yang tanpa tedeng aling-aling itu.
__ADS_1
"Ya Allah, Mbak Safa ... jangan keras-keras gitu kali ngomongnya." Jio pun ikut risih mendengarnya. Namun Ibu-ibu itu malah tertawa dengan cueknya.
"Hahay ... lihat, deh, Andara mukanya merah begitu." Sasya merangkul pundak sahabatnya yang terlihat malu sampai tak bisa berkata apa-apa itu.
"Mendingan Kak Sasya cari referensi dari novel lain, deh," usul Gayung. Ia tak mau menjawab masalah yang terlalu vulgar seperti itu.
"Udah, dong semalem. Di aplikasi sebelah ... uwuu ... no sensor-sensor ... hareudang, hareudang, panas panas panas ...." Sasya malah menyanyi dengan gayanya yang seperti cacing kepanasan.
"Lah, terus ngapain masih nanya ke kita-kita?" Safa mengambil kopi Sasya dan meminumnya dengan hati-hati.
"Kan, aku pengen denger langsung dari yang pengalaman gitu, lohhh ... wkwkwk."
"Udah buruan kawin sonolah pada. Biar tahu rasanya," ucap Safa.
"Tapi katanya kalau pertama sakit, emang iya, An?" tanya Sasya. Gayung diam tak menjawab dan malah mengalihkan ke Safa untuk menjawab pertanyaan Sasya.
"Kak Sasya tanya ke Mbak Safa aja, deh."
"Rasanya kaya ditusuk kayu gitu, deh," jawab Safa santai.
"Masak, sih, Mbak. Kok, aku jadi takut ... katanya enak ... ditusuk kayu mana enak, yang ada sakit iya." Sasya ngeri, sementara Jio mendengarkan sambil membayangkan yang tidak-tidak.
"Pertamanya doang sakitnya mah ... kalau nggak enak, mana mungkin Andara mau ditusuk-tusuk sama Pak Bos setiap hari." Safa benar-benar mengucapkannya tanpa sensor sama sekali. Malah tawanya membahana memenuhi ruangan.
"Aduh, Aku ke toilet dulu, ya." Gayung memilih kabur daripada mendengarkan obrolan unfaedah teman-teman somplaknya itu.
"Hareudang, hareudang, hareudang ... panas panas panas." Sasya dan Safa malah kompak bernyanyi.
"Ngomong-ngomong hareudang itu artinya apa, sih?" Jio malah fokus dengan kata yang tak dimengertinya itu.
"Aku juga nggak tahu, tanya aja sama authornya wkwkwk," ucap Sasya dengan gaya tengilnya.
***
Siang itu, saat jam istirahat makan siang, Galas yang baru saja tiba dikantor langsung menuju ke ruangan istrinya. Karena saat itu ruangannya sedang ada perbaikan cctv.
"Sayang, kamu makan siang disini saja, ya," pintanya saat istrinya hendak ke ruang makan bersama teman-temannya. Galas memang memperlakukan istrinya sama, baik dirumah maupun dikantor. Ia selalu menunjukkan kemesraannya dan tak menutup-nutupi dari karyawannya. Sehingga pemandangan manis seperti ini selalu membuat iri siapa saja yang menyaksikannya.
"Kak Galas baru datang?" tanya Gayung yang kembali duduk dikursi putarnya. Galas sudah tak mempermasalahkan lagi panggilan istrinya yang begitu sulit diubah. Ia memaklumi, sifat malu istrinya mungkin memang sudah bawaan sedari orok. Yang penting untuk masalah "yang lain" istrinya sangat memahami keinginannya.
"Iya, ada perlu sebentar diluar," jawabnya sembari menarik kursi plastik merah yang tersembunyi dibawah meja Sasya. Sehingga kini ia bisa duduk sambil memandangi istri cantiknya yang tengah menyantap makanannya.
"Sama?" tanya Gayung menyelidik.
__ADS_1
"Dara, Tiara ...," jawab Galas. Tangannya merangkul bahu istrinya yang seketika menoleh kepadanya, seolah meminta penjelasan.
"Urusan pekerjaan, Sayang." Kecupan berulang mendarat dipipi Gayung yang sibuk mengunyah makanannya.
"Kak Galas, ini dikantor ih ...," protes Gayung namun tak berusaha menghindar.
"Astaga, tidak ada orang ini, Sayang."
"Mas Ryan biasanya makan siang diruangannya lho, Kak. Disana ada cctvnya juga, kan ..."
"Biar saja," jawab Galas acuh. Lalu membuka mulutnya minta disuapi. Gayung segera menyendokkan nasi juga lauk dan menyuapi suaminya yang suka sekali bermanja-manja padanya itu.
"Kak Galas belum makan siang?"
"Sudah tadi dengan mereka." Gayung tak bertanya siapa lagi. Hatinya masih saja berdenyut nyeri jika mendengar nama Tiara disebut. Lalu kini ditambah nama Dara .... oke, itu cinta pertama suaminya dan hanya masa lalu, batinnya.
"Setelah ini, aku harus pergi lagi." Gayung mengangguk lalu menyuapi suaminya lagi. Akhir-akhir ini suaminya itu memang jarang stay dikantor, karena sedang mengurus bisnisnya diluar. Ia hanya datang sesekali untuk menemaninya makan siang, seperti sekarang atau kadang menjemputnya pulang disore hari.
"Sudah, nanti kamu tidak kenyang, Sayang. Kamu, kan makannya banyak," sindir Galas dengan senyum jahil. Gayung melirik gemas suaminya, yang selalu mengoloknya tentang masa kecilnya yang doyan makan.
"Isshh ... Kalau aku makannya banyak ntar gendut, kamu nggak suka lagi sama aku gimana ...."
Galas terkekeh mendengar ocehan istrinya. Wajahnya ia benamkan pada pundak Gayung, bahkan sekarang mulai menciumi ketek istrinya itu.
"Kak Galas jorok, ih ...."
"Kamu jadi gendut atau kurus, aku akan tetap suka sama kamu, kok Sayang," rayunya. "Bau ketek kamu aja aku suka ...."
***
Ok ... cukup.
Sorry gaje ...
Jangan lupa ...
Like
Komen
Vote
Thanksss ...
__ADS_1