Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 61


__ADS_3

"An, kata Mang Udin didekat sini ada bidan. Kalau cuma mau mastiin kamu hamil atau nggak katanya suruh ke sana aja, jalan kaki juga nggak sampai lima menit," ucap Sasya yang baru kembali dari mengembalikan piring kotor ke tukang nasgor itu. Gayung tak memberi respon, entah apa yang tengah ia baca sampai ekspresinya kalut seperti itu.


"Baca apa sih, An?" Sasya mendekat dan merangkul pundak sahabatnya itu.


"Novel." Gayung menutup ponsel itu kedadanya, tak ingin sahabatnya mengetahui novel apa yang tengah ia baca.


"Ih, liat dong," rengek Sasya penasaran.


"Janganlah, Kak, malu ada adegan dewasanya." Gayung meringis malu.


"Ya elah ... kalau pengen mending minta aja sama suami, udah punya ini." Sasya terkikik geli.


"Aku bukan mau baca adegan dewasanyanya, Kak," jawab Gayung dengan wajah sendu.


"Terus?"


"Aku kalau baca ini serasa jadi tokoh utamanya gitu, sakkitt banget rasanya." Wanita berambut ikal itu tiba-tiba berurai air mata sembari menepuk-nepuk dadanya.


"Ya Allah, mendalami banget sih, An. Itu kan cuma novel, astaga ...." Sasya menggeleng keheranan.


"Penulisnya hebat berarti ... rasanya kaya berasa aku yang diselingkuhi, Kak ...."


"Oh, novel perselingkuhan?"


"Iya, cowoknya awalnya terpaksa menikah lagi eh lama-lama keenakan gak mau lepasin dua-duanya, br*ngsek emang," ucap Gayung penuh emosi. Apalagi pas cerita si laki-laki meminta nafkah batin kepada istri kedua yang disembunyikan. Gayung jadi membayangkan wajah suaminya yang tengah ******* dengan Tiara sebagai tokoh wanitanya. Dadanya langsung sesak bagai kekurangan oksigen untuk bernafas. Ia sungguh tidak rela jika hal itu benar terjadi.


"Nggak, aku nggak mau dimadu ..." Gayung menggelengkan kepalanya tanpa sadar sambil meracau, air matanya mengalir semakin deras membasahi pipinya.


"Dimadu? Siapa yang mau dimadu, An?" Sasya membelalak kaget mendengar racauan sahabatnya itu.


"Mbak Tiara ...."


"Mbak Tiara? Maksudnya?" Sasya tak puas dengan jawaban Gayung.


"Mbak Tiara lagi hamil, Kak."


"Hamill? Sama siapa? Sama Pak Bos?" Sasya melonjak histeris membuat Gayung menarik tangannya untuk mendengarkan cerita lengkapnya.


"Bukan!"


"Terus?"


"Tapi Kak Sasya janji jaga rahasia ini, ya. Jangan cerita sama Mbak Safa dulu, nanti seluruh kantor tahu aku nggak enak nanti dibilang biang gosip." Gayung bukannya tak mempercayai Safa, hanya saja Safa tipe orang yang sering kelepasan kalau bicara. Meski sebenarnya ia orang yang baik.


"Sipp. Aku bakal jaga mulut aku, suerr!" janji Sasya dengan tangan membentuk PIS.


Gayung pun akhirnya menceritakan semua percakapannya di Rumah Sakit tadi dengan Tiara.


"What???" Sasya menutup mulutnya setelah Gayung selesai bercerita. "Gila gila gila! Sakit jiwa deh tuh orang kayanya ... harusnya dia kan minta pertanggung jawaban sama Pak Jay bukan sama Pak Bos. Kalau sampai Pak Bos setuju, aku nggak bakalan tinggal diam!" ucap Sasya berapi-api.


"Kak Sasya mau ngapain? Memangnya Kak Sasya berani sama Kak Galas?" tanya Gayung melihat respon sahabatnya itu.

__ADS_1


"Nggak, sih, aku nggak berani," lirih Sasya dengan nyali menciut. Gayung geli juga melihat kekonyolan Sasya.


"Nah, gitu dong senyum ...." Sasya mencubit pipi Gayung gemas. "Udah, percaya sama Pak Bos. Aku yakin dia laki-laki yang setia, buktinya Pak Bos melarang keras perselingkuhan, bahkan sanksinya pemecatan loh ... Eh, tapi kalau Pak Bos sendiri yang selingkuh, yang mau mecat dia siapa ...?" tanya Sasya bingung.


"Aku!" Gayung menunjuk dirinya sendiri dengan angkuhnya.


"Wkwkwk ... baru jadi atasan sehari udah songong lu, An." Tawa keduanya memenuhi kamar.


"Maksudnya pecat jadi suamilah, Kak. Siapalah aku dikantor ... Kak Galas bangunnya, kan susah payah sama Mbak Tiara juga Pak Jay. Aku itu cuma orang yang datang ketika Kak Galas sudah sukses, nggak ngerasain proses susahnya kaya apa ...." Gayung merebahkan dirinya, mengawang langit-langit kamar kosan. Seperti itulah yang Gayung tangkap dari perkataan Tiara.


"Justru kamu itu datang menyempurnakan kesuksesan Pak bos. Dulu dia cuma uang, sekarang dia punya istri yang cantik dan sebentar lagi bakalan punya baby yang ucuu ucuuu gemess." Sasya memeluk gemas peluk datar Gayung membuat sang empunya tertawa kegelian.


"Geli ah, Kak Sasya ...."


"Ya ampun, biasanya juga digrepe-***** sama Pak Bos wkwkwk ...."


"Apa, sih Kak Sasya ... sotoy deh."


"Kalau nggak digrepe-*****, lalu dari mana baby ini berasal?," Sasya kembali mengelus perut datar sahabatnya itu. "Eh, katanya kamu mau cek, buruan sekarang keburu tutup loh ...." Sasya baru teringat karena keasyikan mendengarkan curhat Gayung.


"Aku ngantuk, Kak. Besok aja deh." Gayung menutup mulutnya yang menguap lebar, lalu meringkuk seperti bayi.


"Ya udah, deh. Terserah kamu aja. Tapi kamu beneran mau tidur disini? Pak Bos gimana?"


"Kalau dia ingat punya istri, nanti juga dicariin," jawab Gayung dengan mata tertutup.


"Kalau Pak Bos nggak nyariin gimana?"


"PD lu, An ... hihi ... kalau nggak nyariin, suruh Bapak kamu santet dia wkwkwkw ... " Sasya terkikik geli sembari melempar selimut tipis menutupi tubuh sahabatnya itu. Setelahnya ia berniat ke toilet karena sedari tadi menahan pipis, namun ...


"Astagfirrulahalazim." Sasya tersentak kaget memegang dadanya, melihat Bosnya berdiri bersandar pada tembok depan kamarnya. Galas meletakkan jari telunjuknya tepat ditengah bibirnya, mengisyaratkan Sasya untuk tidak bersuara. Ia tahu bahwa istrinya sudah tidur didalam.


Sasya mengangguk pelan, dalam diam ia mengingat-ingat apakah ada dari ucapannya tadi yang bisa menyinggung Bosnya itu. Oh my God, tadi aku bilang digrepe-***** sama suruh nyantet! Please Bosque aku cuma becandaa ...!!!


***


Esoknya.


"Hoekk ...." Galas terbangun dari tidurnya mendengar suara istrinya sepertinya seperti tengah muntah dikamar mandi. Ia mendekat kepintu kamar mandi dengan wajah khawatir.


"Sayang!" Galas membuka kenop pintu kamar mandi yang ternyata tak dikunci. "Kamu kenapa?" Galas merangkul bahu istrinya yang sepertinya baru selesai membasuh mulutnya.


"Habis sikat gigi, rasanya enek banget pengen muntah." Gayung bergidik membayangkan rasanya.


"Biasanya juga pakai pasta gigi ini, kan? Apa mau diganti?" Galas menatap istrinya, pikirannya mengarah ke sebuah kemungkinan. Apalagi mendengar percakapan istrinya semalam dengan Sasya.


"Nggak usah, Kak ... biasanya juga aku selalu pakai itu," tolak Gayung enggan menatap mata suaminya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Galas menahan tangan istrinya yang ingin berbalik. "Kenapa semalam pergi tidak pamit dulu?"


Semalam ia membawa pulang istrinya dalam keadaan tidur dari kosan Sasya. Sampai dirumah pun istrinya tak terjaga sama sekali.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan suaminya, Gayung mendadak melow, air matanya bercucuran tak terbendung bahkan isakannya pun keluar tanpa bisa ia tahan lagi. Galas menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya dan berusaha menenangkannya.


"Aku tidak akan menikah lagi," bisiknya lembut. "Istriku hanya satu dan itu kamu Sayang," bisiknya lagi sembari mengeratkan pelukannya kepada sang istri yang terisak. Galas memang sudah beberapa kali menolak permintaan Tiara untuk menikahinya sementara. Tapi ia tak menyangka sahabatnya itu akan nekat berbicara dengan istrinya dan menjadi salah paham seperti ini. Tidak pernah ada dalam pikirannya, menikahi dua orang wanita apalagi dalam kurun waktu sedekat ini. Semua kepeduliaannya pada Tiara murni pertemanan dan tidak lebih dari itu.


"Sudah, jangan menangis lagi." Galas menghapus deraian air mata yang terus mengalir dipipi istrinya. "Suamimu ini hanya mencintaimu, tenang saja ...," ucap Galas dengan kekehan kecilnya.


"Benar?" Gayung mendongak dengan matanya yang masih basah. Ada sedikit rasa tenang mendengar ucapan suaminya.


"Iya," jawab Galas yakin. Mata mereka saling bertemu dan menatap dengan masing-masing senyuman tersemat dibibir mereka. Sedetik kemudian, wajah mereka saling mendekat seolah ada magnet yang menarik mereka.


"Eh, jangan ...." Gayung mendorong mundur wajahnya sembari menutup mulutnya.


"Kenapa?" Galas berusaha melepas tangan mungil itu.


"Aku habis muntah tadi," jelas Gayung.


Galas terdiam mencerna keadaan, lalu tiba-tiba ia duduk berjongkok membelai perut istrinya dari balik piyama tidurnya. Ia mendengar semua pembicaraan istrinya tentang bayi.


"Apa disini ada anak kita?" Binar bahagia tergambar jelas diwajahnya. Ia berjongkok demi mensejajarkan diri dengan perut istrinya yang masih datar itu.


"Ehm ... mungkin." Gayung tak bisa menyembunyikan lagi kabar itu, senyumnya mengembang seiring pancaran bahagia diwajah suaminya.


"Ayo kita periksa pagi ini, Sayang," ucap Galas penuh semangat.


"Nanti sore saja, Kak. Kita, kan harus kerja."


"Kita itu Bos Sayang, aku Bos pria kamu Bos wanita. Terserah kita mau datang jam berapa, bekerja dari rumah juga tidak masalah." Galas mengingatkan sambil menciumi perut istrinya.


"Ih Kak Galas, jangan diciumin dulu kalau aku nggak hamil gimana." Gayung takut suaminya kecewa.


"Kalau nggak hamil kita usaha lagi," Galas melempar senyum jahilnya.


"Ishh ... maunya ...." Gayung memencet hidung mancung suaminya.


"Kamu juga mau ini kan, kemarin kamu yang ngajakin duluan lho, Sayang." Gayung sengaja menggoda istrinya yang langsung bersemu merah pipinya.


"Itu karena Kak Galas suka cemburuan tapi nggak peka kalau sendirinya suka bikin istrinya cemburu," sindir Gayung tak mau kalah dan itu mengena ke dalam hati Galas.


"Maaf." Galas merengkuh kembali istrinya dalam pelukannya. "Lain kali aku tidak akan begitu lagi."


***


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


😁😁😁👌👌

__ADS_1


__ADS_2