
Hari minggu ini, Gayung mengajak suaminya berkencan di sebuah Mall besar ibukota. Wajahnya nampak begitu ceria, menggandeng lengan suaminya dari satu outlet ke outlet lainnya membeli bermacam-macam barang branded yang ada disana.
"Sayang, kamu tidak lelah? Biasanya kamu kalau siang suka pusing." Sebenarnya Galas sudah mulai lelah mengikuti langkah istrinya.
"Kak, aku mau tas ini, boleh?" Gayung menunjuk tas mungil cantik dengan merk terkenal tertulis disana. Wajahnya berbinar memohon pada suaminya.
"Terserah kamu saja," jawabnya pasrah.
"Kok kamu kaya nggak ikhlas gitu, sih, Kak?" Gayung memandang sebal ke arah suaminya.
"Bukannya tidak ikhlas. Tas-tas yang aku belikan bulan lalu saja belum kamu pakai ...."
"Aku mau pakai, tapi sayang harganya mahal takut rusak," jawab Gayung dengan wajah polosnya.
"Lalu buat apa dibeli, Sayang kalau tidak dipakai?" Galas tidak habis pikir.
"Ya tapi aku pengeeen, boleh ya, Kak ...." Gayung menghentak-hentakkan kakinya layaknya anak kecil meminta sesuatu pada ibunya. Wajahnya ia pasang sememelas mungkin berharap suaminya mengabulkan permintaannya.
"Ya-sudah ambil saja." Sejak hamil istrinya memang menjadi lebih manja dan selalu merajuk jika tidak dipenuhi permintaannya. Ibunya bilang itu dinamakan ngidam dan ia harus menuruti apapun keinginan istrinya.
"Kok kamu manyun gitu, sih, Kak?" tanyanya setelah mereka keluar dari toko.
"Aku lelah Sayang. Kita sudah berapa jam jalan terus. Lihat, belanjaan kamu sudah banyak." Galas menunjukkan dua tangannya yang penuh dengan tentengan belanjaan istrinya. Apalagi Galas memang tidak terlalu suka berbelanja seperti ini.
"Kamu pasti kesel sama aku, kan?"
"Tidak, Sayang. Kenapa aku harus kesal sama kamu?" Menghadapi istrinya sekarang benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra.
"Aku kan sudah menghambur-hamburkan uang kamu ...," ucapnya sadar diri dan jangan ditanya lagi berapa banyak nominal uang yang harus suaminya keluarkan untuk belanjaannya hari ini. "Kamu pasti nyesel, kan nikah sama aku Kak ...."
"Astaga, Sayang ... bisa tidak jangan bicara yang aneh-aneh lagi."
"Soalnya setelah aku ingat-ingat selebaran calon istri idaman ...."
"Stop, Sayang. Jangan bahas masalah itu, ya ...," potong Galas. Ia merasa sangat malu jika istrinya sudah membahas kekonyolannya dimasa lalu. Gayung tersenyum geli melihat semburat malu diwajah suaminya.
"Kak, aku lapar." Gayung mengelus perutnya yang belum ada perubahan yang mencolok itu.
"Mau makan apa?" Galas menyerahkan pilihan kepada istrinya. Karena semenjak hamil, istrinya tidak bisa memakan sembarang makanan. Bahkan Gayung sangat jarang sekali makan nasi, kalau tidak dipaksa olehnya.
"Ramen, boleh?" Gayung meminta persetujuan suaminya.
"Itu bukan makanan sehat, Sayang."
"Tapi aku mau itu, lagian nggak setiap hari juga, kan Kak?" Keukehnya.
__ADS_1
"Ya, sudah." Galas akhirnya mengalah dan menuruti keinginan istrinya yang langsung terlihat ceria itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Gayung masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Disofa ruang kerjanya juga suaminya itu, Galas juga tengah asyik dengan laptop dipangkuannya.
"Sayang, sudah malam ...." Galas mengingatkan istrinya.
"Sebentar ... tanggung," jawabnya tanpa menoleh.
"Besok lagi, ingat kamu sedang hamil sekarang," ucap Galas lagi.
"Tapi aku belum ngantuk, Kak. Pasti nanti juga belum bisa tidur, lagian besok tanggal satu Kak. Kasihan kalau setiap gajian diundur-undur terus, soalnya aku kan pernah ngerasain jadi karyawan ... jadi aku tahu perasaan mereka bagaimana," jelas Gayung.
"Tapi kan aku membolehkan mereka mengambil uang kasbon dulu."
"Iya memang, sih. Tapi tetap aja beda kalau mendapat gaji utuh sama gaji yang harus dipotong kasbon ...." Gayung kembali teringat curahan hati teman-teman dikantornya.
"Hemm ... terserah kamu kalau begitu. Yang penting jangan memaksakan diri, kalau sudah capek, harus istirahat. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan anak kita."
"Iyaa ... memangnya, kenapa sih, Kak, kamu kalau ngasih gaji mundur terus? Mana mundurnya nggak tanggung-tanggung lagi, seminggu ... huu ...." Apa dia tidak tahu kalau setiap awal bulan karyawan yang ngontrak harus bayar sewa bulanan. Kalau ibu kosnya pengertian mungkin tidak masalah. Tapi pada kenyataannya tidak semuanya mau mengerti.
"Aku sibuk mengurus yang lain, Sayang." Galas membela diri.
"Hemm ...." Gayung tak menyahut lagi dan sibuk melanjutkan pekerjaannya. Sampai satu jam tak terasa berlalu begitu saja.
"Iya, ... kamu juga udahan." Gayung merapikan pekerjaannya, begitupun Galas yang segera menutup laptopnya. Mereka berjalan bergandengan meninggalkan ruang kerja mereka setelah mematikan lampu.
"Kak, kok aku nggak ngidam, ya?" tanya Gayung seraya bergelayut manja pada suaminya. Galas yang mendengar keluh kesah aneh dari istrinya sontak membelalakkan matanya. What?! Lalu permintaan aneh-anehnya saban hari itu apa?
"Bukannya setiap hari kamu ngidam, minta ini itu?" tanya Galas geli.
"Kapan?"
"Kamu pernah minta makan nasi anget sama timun?"
"Itu bukan ngidam, Kak. Aku cuma lagi nostalgia sama masalalu. Dulu aku sering makan itu waktu kecil," elak Gayung.
"Masak? Memang enak?"
"Enak," jawab Gayung dengan senyumnya.
"Kamu pernah minta dimasakin dadar gulung malam-malam juga, kan ...."
"Itu aku lapar bukan ngidam, karena siang cuma bisa makan buah-buahan."
__ADS_1
"Kamu tiap hari minta minum air kelapa juga bukan ngidam?" tanya Galas geli melihat istrinya yang pinter ngeles itu.
"Itu juga bukan ngidam, aku minum air kelapa karena aku nggak bisa minum air putih, rasanya pahit ...."
"Kamu tiap hari pagi siang sore malam, makan keripik tempe juga bukan ngidam?"
"Bukan. Karena itu yang bisa diterima perut aku makanya aku makan ...."
"Oh ya ..., terserah kamulah, Sayang," ucap Galas pasrah.
"Ngidam itu bukannya kalau kita pengeeen banget sama sesuatu dan itu susah dicari, makanya aku pengen sekali-kali ngidam yang bikin kamu susahhh." Gayung melirik suaminya dengan senyum jahil.
"Memangnya tadi siang belum termasuk ngidam yang bikin suami susah?" Galas mengingatkan kegilaan istrinya yang memborong banyak barang branded sampai berjam-jam lamanya. Membuat kedua kakinya rasanya mau copot saking lelahnya.
"Itu bukan ngidam, aku cuma pengen sekali-sekali merasakan belanja ala-ala orang-orang kaya, kan suami aku kayaaa ... apa jangan-jangan kamu nggak ikhlas ya, Kak?" Gayung melirik suaminya.
"Astaga ... aku ikhlas Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu." Galas tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, membuat Gayung sedikit kaget dibuatnya.
"Jadi kalau aku minta apa pun, kamu pasti kasih?" Gayung mengalungkan tangannya pada leher suaminya.
"Selama aku masih mampu," jawab Galas.
"Kalau begitu, ayo kita ajak karyawan dikantor piknik," ucapnya penuh pengharapan.
"Piknik? Satu kantor?" Galas menghentikan langkahnya demi mendengar permintaan istrinya.
"He-eh. Oh, mungkin aku lagi ngidam deh ini ...." Gayung begitu bahagia, seolah keinginannya untuk ngidam terkabul juga.
"Tapi kandungan kamu masih rawan Sayang." Galas tak ingin terjadi sesuatu dengan kehamilan istrinya. "Tadi siang saja kamu langsung lemes setelah jalan-jalan."
"Ya pikniknya jangan yang jauh-jauh, Kak ... yang penting judulnya piknik satu kantor."
"Ya, sudah nanti aku pikirkan." Galas tak ingin berdebat dengan istrinya malam-malam begini. Ia sudah begitu lelah dan mengantuk setelah aktivitas mereka seharian ini.
***
Sorry ... slow update ya ...
Idenya mulai slow ...
Oke ... jangan lupa
Like
Komen
__ADS_1
Vote