Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 72


__ADS_3

Sejak pertengkaran mereka semalam, belum ada salah satu dari mereka yang mengalah atau meminta maaf lebih dulu. Mereka bicara seperlunya, berangkat bekerja masih tetap bersama walau hening dalam perjalanan ataupun saat sudah bekerja diruangan mereka.


Sebenarnya Gayung tidak nyaman dengan suasana ini. Namun begitu sulit bibirnya untuk ia ajak berdamai dengan suaminya. Pikirannya terbagi, antara pekerjaan dan masalah rumah tangganya. Ia bahkan tak berani sekedar melirik suaminya yang tengah sibuk berkomunikasi dengan klien-kliennya.


"Ada yang melamar kerja," ucap Galas datar pada istrinya yang entah sedang melamun ataukah bekerja disampingnya itu.


Gayung menoleh pada suaminya sekilas lalu mengambil map dan berjalan ke ruang interview tanpa menjawab perkataan suaminya itu.


Gayung membuka pintu kaca diruang interview sedikit kasar, ia kesal. Kesal setengah mati! Jangan salahkan jika nanti ia tak bisa berwajah ramah saat sedang melakukan interview. Salahkan saja suaminya!


Gayung mendengus kesal, melangkah masuk sembari melirik pada laki-laki berkemeja putih khas pencari kerja yang duduk di kursi lipat tepat di kursi yang nantinya akan ia duduki.


Degg!


Mata Gayung menyipit, menatap tajam pelamar kerja yang sama terkejutnya seperti dirinya. Ia tidak akan pernah melupakan wajah itu. Wajah yang mengoloknya, mengejeknya, merendahkannya seolah ia sampah yang menjijikkan.


Seumur hidupnya, hal yang paling tidak diinginkannya adalah berjumpa lagi dengan laki-laki dihadapannya kini. Namun sepertinya takdir berkata lain, dunia begitu sempit hingga mempertemukan mereka kembali, disini.


Mereka saling menatap cukup lama. Yang satu tatapan kebencian sementara yang satunya lagi tatapan, entah mungkin malu. Walaupun Gayung telah banyak berubah, tapi tentu saja ia masih mengingat dengan jelas wajah yang sering menunduk saat dikelasnya dulu. Karena hampir semua anak sekelas membulinya, setelah ia mengatakan kepada teman dekatnya bahwa Gayung diam-diam sering memperhatikannya. Ya, si cupu yang telah berubah menjadi seorang yang cantik jelita. Adi memang sempat bertemu secara tidak sengaja beberapa kali dengan gadis yang merubah penampilannya saat sudah SMA. Meski tidak ada saling sapa diantara mereka, karena memang mereka tidak mengenal dekat meski pernah satu kelas dulu.


"Hemm." Gayung berdehem, entah kenapa serasa ada yang tersekat ditenggorokannya. Ia kemudian duduk dihadapan Adi dengan gaya se-elegan mungkin. Setidaknya disini, ia lebih memiliki kuasa dihadapan laki-laki itu. Entah keberuntungan atau bukan, apapun itu ia sungguh tidak ingin bertemu laki-laki ini lagi.


Gayung membuka surat lamaran kerja yang disodorkan laki-laki itu kepadanya. Membuka dan membacanya.


"Adi Hendrawan...," ucapnya datar dengan gaya se-elegan mungkin. Biasanya Gayung selalu ramah dan friendly saat melakukan wawancara kerja. Tapi kali ini tentu saja berbeda ...


"Kamu baru lulus kuliah? Belum pernah bekerja sebelumnya ...?" Gayung melihat riwayat hidup Adi, belum memiliki pengalaman kerja.


"Iya," jawabnya, meneguk salivanya susah payah.


"Tahu disini lowongan pekerjaan darimana?" Gayung tetap pada ekspresi datarnya.


"Dari salah satu karyawan disini." Gayung dapat melihat wajah laki-laki itu sedikit memucat.


"Namanya?" Tatapannya tajam mengarah pada Adi.


"Dina."


"Oh ...." Gayung menarik salah satu sudut bibirnya. "Kalian masih bersahabat dekat ya sampai sekarang rupanya ...." Ia tidak ingin berpura-pura tidak mengenal laki-laki itu lagi sekarang. Seberapapun ia berubah, ia yakin Adi masih mengenalinya. Karena ia bukan melakukan operasi plastik dan merombak wajahnya menjadi berbeda tapi hanya kulit dan cara berpakaiannya lah yang berubah.


Adi memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"Apa kamu membenciku?" Gayung menatap tak percaya, Adi akan memberikan pertanyaan itu dan ia memilih untuk berkata jujur.


"Iya," jawabnya.


"Ehm ... Apa itu artinya, aku tidak akan diterima bekerja disini?" Sepertinya laki-laki itu pasrah, karena menyadari kesalahannya dimasa lalu.


Gayung terdiam sejenak, ia sendiri bingung dengan keputusannya sendiri nanti. Namun ia begitu apik menyembunyikan kekalutannya dalam balutan wajah dingin yang ia tunjukkan.


"Gaji pertama yang akan kamu terima jika diterima disini sekian juta." Gayung menunjukkan map dihadapannya kepada Adi yang kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Kenaikan gaji setiap tiga bulan sekali, besarannya masing-masing karyawan tidaklah sama. Tergantung kinerja mereka ...."


Gayung memilih bersikap profesional dan menjelaskan keseluruhan peraturan dikantor seperti yang ia lakukan pada pelamar kerja lainnya.


"Pendidikan memang penting, tapi disini yang paling diutamakan adalah kejujuran," imbuh Gayung lagi dengan tatapan dinginnya.


"Ada yang tidak dimengerti dan perlu ditanyakan atau keberatan dengan peraturan disini?"


"Tidak ada."


"Kalau diterima, kapan kamu siap bekerja?"


"Sekarang," jawabnya yakin.


"Oke, kamu diterima. Siap bekerja sekarang?" Hatinya begitu sulit untuk ia ajak balas dendam. Sudahlah, tidak ada salahnya memberi kesempatan. Ia akan melihat perkembangannya nanti.


"Siap," jawab Adi.


Gayung menekan tombol, menghubungi Ryan. Dialah yang mengatur penempatan karyawan baru dikantor ini.


"Nanti ada yang datang, mengantarkan ke ruangan kerja kamu." Gayung beranjak dari duduknya. Ia dapat melihat Adi yang memperhatikan perutnya yang mulai membuncit.


Dan entah punya keberanian darimana, laki-laki itu menahan tangannya. Meski hanya sebentar dan melepaskannya setelah Gayung menatapnya horor.


"Maaf."


"Ada yang ingin dibicarakan lagi?"


"Aku mau minta maaf, atas sikapku ke kamu dulu," ucapnya, terdengar tulus. Tapi tak jua memudarkan rasa benci yang terlanjur tertanam dihati Gayung.


"Sudah saya maafkan," jawab Gayung berbohong. Ia meninggalkan ruangan begitu saja tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


Menghela nafas panjang, setelah keluar dari ruangan interview. Bersikap angkuh dan elegan ternyata melelahkan, karena itu sama sekali bukan dirinya.


Tatapan dingin menyambutnya kala Gayung memasuki ruangannya kembali. Galas masih marah, itu yang dipikirkannya. Ia tak berkata apapun dan kembali ke kursinya. Bersamaan dengan suaminya yang tiba-tiba berdiri dan meninggalkan ruangan dengan sedikit gerakan kasar.


Tak terasa sebutir air mata lolos dari pelupuk matanya. Belum ada sehari mereka berdiam-diaman seperti ini. Tapi rasanya Gayung sudah tidak kuat, ia tidak terbiasa dengan sikap cuek suaminya yang seperti ini. Ia rindu Galas yang hangat dan selalu perhatian kepadanya.


***


Galas menatap karyawan baru yang baru melakukan wawancara dengan istrinya tadi. Saat menatap cctv di sudut ruangannya ia tak sengaja melihat laki-laki itu menahan tangan istrinya dan itu menimbukan rasa cemburu juga penasaran akan siapa laki-laki itu sebenarnya.


Ia kini diruangan Ryan, duduk pada sofa disana mendengarkan Ryan menjelaskan beberapa hal kepada Adi.


"Rio," panggil Ryan ke asistennya itu. "Antar ke lantai dua, ya ... ruangannya Santos."


"Siapp." Rio meminta Adi mengikutinya. Ia menganggukkan kepalanya sopan pada Galas yang menunjukkan wajah dinginnya.


"Namanya siapa?" tanya Galas saat Rio dan Adi sudah keluar.


"Adi ... Hendrawan." Ryan menatap surat lamaran kerja Adi yang masih terbuka dihadapannya. Galas mendekat dan mengambil cv lamaran kerja milik Adi dari meja Ryan.


Asal dan alamat laki-laki itu sama atau dekat dengan daerah asalnya juga istrinya. Dari situ Galas menyimpulkan pasti laki-laki itu teman sekolah atau mungkin seseorang dimasa lalu istrinya. Terlihat kegusaran diwajahnya.


"Awasi kinerjanya," ucap Galas pada Ryan yang diangguki oleh managernya itu.


Setelah itu Galas memilih keluar ruangan. Meninggalkan lantai dasar dan mengecek langsung pekerjaan karyawannya diatas. Sesuatu yang ia lakukan sesekali dan pasti berhasil membuat karyawannya kalang kabut karena kehadirannya. Suasana hatinya sedang tidak bagus untuk kembali ke ruangannya.


***


Oke ...


Jangan bosan ya ...


Padahal aku yang bosan nulis ini ...


Jangan lupa


Like


Komen


Vote

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2